Oleh: triy | Juli 20, 2009

Champ : Monster Penghuni Danau Champlain

Penampakan Cham

Penampakan Cham

Orang awam tentu sudah akrab dengan legenda “Nessie”, sosok  mahluk misterius penghuni Danau Loch Ness di Skotlandia. Tanda tanya besar seputar keberadaan mahluk ini telah mendongkrak kunjungan wisata ke danau itu. Namun ternyata kisah monster danau seperti Nessie bukan hanya terdapat di Skotlandia. Awal Juni lalu, hasil rekaman seorang turis di Danau Champlain Amerika, kembali menghidupkan legenda mahluk penghuni danau Champlain yang biasa di sebut Champ. Apakah mahluk ini nyata..? atau sekedar fenomena ciptaan yang diharap  mampu menarik wisatawan..?

Danau Champlain (Bahasa Perancis: lac Champlain) adalah danau air tawar alami di Amerika Utara yang berbatasan dengan Kanada. Danau Champlain terletak di lembah Champlain di antara pegunungan Hijau di Vermont dan pegunungan Adirondack di New York, di serap ke utara oleh sungai Richelieu ke sungai St. Lawrence di dekat Montreal. Di danau inilah rumor tentang monster bernama Champ berkembang.

Champ bagi para penduduk lokal di sekitar Danau Champlain adalah kebanggaan tersendiri. Walaupun monster ini tidak sepopuler Nessie di Skotlandia, namun misteri Champ juga menarik banyak para pemburu monster dari seluruh dunia.

Awal Juni 2009 yang lalu, Eric Olsen (37) seorang penduduk Kota Burlington secara tidak sengaja mengabadikan sesosok mahluk yang bergerak diatas permukaan Danau Champlain dekat Oakledge Park. Hasil rekaman berdurasi hampir dua menit itu memicu diskusi baru mengenai monster danau Champlain yang legendaris itu.

Di beberapa bagian dalam rekaman itu, objek itu kelihatannya seperti mengangkat kepalanya di atas permukaan air. Di bagian lain, apa yang sepertinya bagian badan makhluk itu sepanjang beberapa kaki juga dapat terlihat.

”Aku hanya sedang merekam situasi danau ketika disudut mataku aku melihat sesuatu yang sedang bergerak. Aku segera mengalihkan kameraku kepadanya. Anda dapat melihat makhluk itu bergerak secara horizontal dan vertikal, naik turun permukaan air. Terlihat ia memiliki tubuh yang panjang”, kata Olsen, yang bekerja sebagai seorang Web Developer dan musisi.

Olsen lalu memposting videonya di Youtube. Tidak berani memastikan bahwa yang direkamnya adalah Champ, ia hanya memberi judul videonya ”Strange Sighting on Lake Champlain.”

Loren Coleman, seorang ahli kriptozologi (bidang ilmu yang mempelajari mahluk yang seharusnya tidak ada atau mahluk-mahluk legenda) terkenal yang bermarkas di Portland, Maine, mengatakan bahwa rekaman Olsen adalah salah satu bukti terbaik sampai hari ini mengenai Champ. “Kita harus segera mencari tahu apa yang terlihat disitu. Film itu harus diteliti dengan serius,”kata Coleman.

Sebelum rekaman Eric Olsen, foto Champ yang terbaik adalah sebuah foto yang diambil tahun 1977 oleh Sandra Mancy dari Bristol ketika ia sedang berpiknik di danau itu dengan keluarganya. Foto itu diteliti dan dinyatakan asli hingga ditampilkan oleh majalah Time dan harian The New York Times.

Mancy yang sekarang 66 tahun saat menyaksikan video Olsen mengatakan bahwa ada beberapa kesamaan dan juga perbedaan antara apa yang dilihatnya pada tahun 1977 dengan apa yang terekam oleh Olsen.

”Aku memang melihat kesamaan bentuk kepala,” Katanya sambil membandingkan fotonya dan video Olsen. ”Satu hal yang berbeda adalah ukuran panjang leher. Di rekaman itu, ukuran lehernya kurang panjang. Namun apapun yang dilihat Olsen, paling tidak ada hubungan dengan apa yang kulihat,” tuturnya.

Scott Mardis dari Winooski, seorang ahli kriptozologi yang lain yang telah menghabiskan banyak waktu untuk meneliti legenda Champ mengatakan bahwa rekaman Olsen sangat meyakinkan dan terlihat asli.

”Rekaman itu tidak terlihat seperti direkayasa objek di dalam rekaman itu memiliki tekstur yang sama dalam semua frame. Tidak terlihat seperti hasil rekayasa komputer,” Kata Mardis. Mardis dan Coleman mengatakan bahwa gerakan objek itu menunjukkan bahwa makhluk itu bukan berang-berang, rusa besar atau mamalia umum lainnya. Keduanya berpendapat bahwa makhluk itu kemungkinan seekor spesies anjing laut yang baru dengan leher panjang. Sementara selama ini sebagian ahli berpendapat bahwa Champ adalah seekor berang-berang. ”Memang banyak kemungkinan, namun apabila makhluk itu adalah anjing laut yang salah habitat, pasti akan menarik,”kata Coleman.

Ellen Marsden, seorang profesor biologi di Universitas Vermont memberikan pendapatnya bahwa makhluk itu kemungkinan seekor rusa besar yang sedang stress, bukan berang-berang.”Ikan atau makhluk air lainnya jarang bergerak selambat itu di air. Makhluk itu sepertinya tidak nyaman di dalam air. Ia berenang seakan-akan ada sesuatu yang salah,” kata Marsden. Ia juga berkata bahwa anjing laut tidak berenang dengan punggungnya keluar dari air.

Si perekam Eric Olsen mengatakan bahwa, ia belum pernah melihat objek itu sepenuhnya keluar dari danau. Ia berhenti merekam setelah dua menit karena terbatasnya memori ponselnya dan ia takut apa yang direkamnya akan hilang.

Selain rekaman rekaman Olsen, ABC News baru-baru ini juga mendapatkan sebuah video ekslusif yang menunjukkan seekor makhluk bergerak di dalam danau Champlain. Video itu diambil oleh dua orang nelayan dengan kamera digital pada musim panas yang lalu. Sebelumnya kedua nelayan tersebut tidak percaya bahwa Champ benar-benar ada.

“Kami 100 persen yakin dengan apa yang kami lihat, namun kami tidak yakin 100 persen makhluk apa itu.” kata Peter Bodette, salah seorang dari nelayan tersebut. Sementara nelayan satunya lagi yang bernama Dick Affolter mengatakan, “Makhluk itu membuat aku merinding, aku belum pernah melihat makhluk seperti itu sebelumnya. Kami tidak melihat keseluruhan tubuhnya, namun kadang-kadang kami melihat beberapa bagian tubuhnya muncul ke permukaan” Sampai sejauh ini, sudah ada ratusan laporan penampakan Champ. “

Orang-orang melaporkan melihat sesuatu yang tidak biasa di danau, sesuatu yang seharusnya tidak ada di danau Champlain. Kemungkinan makhluk itu adalah makhluk purba yang seharusnya sudah punah.” Tulis Lohr McKinstry, reporter Press Republican yang telah menulis tentang Champ selama lebih dari 20 tahun.

Sesungguhnya Fenomena Champ telah dimulai sejak 1880 ketika PT Barnum, seorang pemilik sirkus terkenal menawarkan $50.000 bagi siapa saja yang dapat menangkap Champ, hidup atau mati. Para pemburu dan nelayan berlomba-lomba menangkap makhluk itu, namun tidak ada seorangpun yang berhasil.

Ikan Paus Purba

Sang Monster

Sang Monster

Danau Chaplaine memiliki berbagai macam spesies kehidupan, ribuan tahun sebelum manusia datang untuk mengganggu mereka. Kisah sebenarnya dari danau ini terkubur jauh dari memori manusia. Ahli geologi dari Universitas Vermont, yang dipimpin oleh Dr. Rob Young bertekad untuk mengungkap sejarah tersebut.

Dengan menggunakan peralatan hidrolik, mereka mengobor tanah dipinggiran rawa danau untuk mengambil sempel sedimen tanah. Hasilnya usia danau ini lebih tua dari yang banyak diprediksikan. 10.000 tahun yang lalu, danau air asin ini adalah laut. Disepanjang tepi danau Champlaine, ditemukan penemuan-penemuan luar biasa. Kerangka hewan misterius yang berenang menuju danau dan terdampar. Peristiwa itu terjadi pada masa danau terbuka menuju laut di zaman es 12.000 tahun yang lalu. Dan hewan misterius itu diperkirakan jenis ikan paus prasejarah.

Pernyataan itu didukung oleh ahli zoologi Richard Smith yang telah meneliti fenomena Champ selama beberapa tahun. “Dalam skala waktu geologis, danau mengalami perubahan kataklismik. 12.000 tahun yang lalu, zaman es berakhir. Glester tarakhir mencair, lalu laut membanjir. Danau Champlaine terhubung langsung ke laut selama 1500 juta tahun, sampai daratan naik kembali. Itu sebabnya di tepi danau penuh fosil hewan sungai yang terdampar, bahkan dengan mata telanjang kita dapat melihatnya,” jelasnya

Ada kisah-kisah monster dari ratusan danau di seluruh dunia, dari Loch Ness sampai ke negara tetangga kita, Papua New Guinea. Namun Richard Smith yakin bahwa monster Champ yang ini berbeda. Bagi mamalia pemangsa besar, untuk dapat bertahan hidup, habitatnya harus lulus dari ujian penting dimasa depan. Dan Smith percaya Champlain lulus dari ujian itu. Ia percaya, air berlimpah dengan tumbuhan dan hewan-hewan kecil menyokong kehidupan pemangsa besar seperti Champ.

Pada akhirnya kita tentu berharap, apa yang dikatakan Richard dan ilmuwan lainnya nyata adanya. Banyak kisah monster danau dapat di jelaskan dari kebutuhan manusia untuk menyebarkan ketakutan atau mencari keuntungan semata. Tapi paling tidak kisah Champ menawarkan bukti fisik yang menarik.(Sumber:harian global)

Luwak

Luwak

Kalau Anda salah seorang penggemar kopi, aneh rasanya kalau belum pernah mendengar kopi luwak. Jenis kopi asli Indonesia ini,  konon merupakan jenis kopi termahal di dunia, bahkan sampai masuk ke Guiness Book of Records. Tidak heran,di pasaran dunia untuk sekilo kopi Luwak, orang harus membayar sekitar 13 juta rupiah. Sadis bukan..? Padahal kalau mendengar tentang proses “pengolahan” kopi Luwak, malah membuat orang jadi berpikir ulang untuk mengkonsumsinya.

Kopi Luwak adalah jenis kopi dari biji kopi yang telah dimakan dan melewati saluran pencernaan binatang sejenis musang bernama Luwak (Paradoxurus Hermaphrodirus). Kemasyhuran kopi ini telah terkenal sampai luar negeri. Dengan harga yang tentunya selangit. Saat diterbitkannya artikel ini harga kopi luwak telah mencapai 5 kali lipat dari kopi termahal sebelumnya yaitu kopi dengan brand Blue Mountain dari Jamaica.

Di Amerika Serikat, terdapat kafe atau kedai yang menjual kopi luwak (Civet Coffee) dengan harga yang sangat mahal. Kopi yang dikais dari kotoran luwak ini bisa mencapai harga AS$100 per 450 gram di Amerika. Di Hongkong secangkir kopi luwak dapat dibeli dengan harga 300-400 ribu rupiah. Sedangkan di Kota Medan dapat dibeli dalam kemasan 4 ons dengan harga 1,5 juta rupiah. Hanya saja kebenaran kopi yang dijual adalah benar-benar kopi luwak atau bukan, masih dipertentangkan. Khususnya bagi mereka yang mengkonsimsinya di luar Indonesia.

Kemasyhuran kopi ini diyakini karena mitos pada masa lalu, ketika perkebunan kopi dibuka besar-besaran di Indonesia pada masa pemerintahan Hindia Belanda sampai dekade 1950-an, di mana saat itu masih banyak terdapat binatang luwak sejenis musang. Binatang luwak senang sekali mencari buah buahan yang cukup baik termasuk buah kopi sebagai makanannya. Biji kopi dari buah kopi yang terbaik yang sangat digemari luwak, setelah dimakan dibuang beserta kotorannya, yang sebelumnya difermentasikan dalam perut luwak.

Habitat Luwak

Luwak yang suka di kopi

Luwak yang suka di kopi

Biji kopi seperti ini, pada masa lalu sering diburu para petani kopi, karena diyakini berasal dari biji kopi terbaik dan difermentasikan secara alami. Dan menurut keyakinan, rasa kopi luwak ini memang benar benar berbeda dan spesial di kalangan para penggemar dan penikmat kopi.

Beberapa  spesies luwak terdapat di Asia Tenggara, tetapi yang menghasilkan kopi dengan aroma terbaik adalah Luwak Indonesia (Paradoxurus Hermaphrodirus). Species ini berhabitat di Pulau Sumatra dan Jawa.

Secara tradisional petani memungut kotoran luwak di sepanjang Bukit  Barisan dari Padang sampai Lampung , dan dari pegunungan Gayo (Aceh) sampai dengan Bukit Tinggi , serta di lereng Gunung Ijen di Jawa Timur. Di lokasi-lokasi itulah terdapat perkebunan  kopi yang menjadi habitat luwak.

Produksi kopi luwak dari tahun ke tahun semakin merosot , dikarenakan luwak dianggap sebagai hama, atau binatang perusak, karena selain buah kopi,  luwak juga pintar mengkonsumsi buah- buahan yang siap dipanen, seperti : Pisang, Coklat, Pepaya, dan buah segar lainnya. Perilaku yang demikian menjadikan luwak sebagai binatang yang diburu petani.

Pemeliharaan
Harganya yang tinggi membuat orang-orang di Indonesia berusaha mengembangkan usaha kopi luwak dengan cara berternak luwak sekaligus menanam kopi. Hasilnya, timbullah beberapa tempat atau produsen kopi luwak di Sumatera dan Jawa.

Memang tidak gampang dalam memelihara dan mengembangbiakkan binatang luwak tersebut. Dengan pengamatan dan pengalaman dari serangkaian proses percobaan yang panjang, akhirnya binatang tersebut bisa dipelihara dan dikembangbiakkan.

Binatang luwak / musang ( Paradoxurus Hermaphrodirus) termasuk binatang buas (Carnivora ) pemakan daging. Selain itu binatang ini juga menyukai buah – buahan seperti pisang , pepaya , jambu  dan buah kopi.  Karena pemakan daging, binatang ini cenderung berperilaku kanibal bila dikumpulkan dengan luwak yang lebih kecil, karenanya kandang dibuat satu per satu.

Seminggu sekali untuk menambah protein diberi daging ayam dan selama tidak ada buah kopi Luwak diberi makan buah-buahan.  Pada musim kopi , binatang luwak dapat menghabiskan  0,88  -  1,15 Kg kopi glondong per hari.  Buah kopi yang diberikan adalah buah kopi yang masak dan segar. Biji kopi yang dimakan mengalami  proses fermentasi selama +/-12 jam dalam perut luwak yang mengandung berbagai macam enzim. Biji tersebut kemudian keluar bersama kotoran pada proses ekskresi.

Luwak adalah binatang yang suka tinggal di tempat yang bersih. Bahkan ketika membuang kotoranpun luwak memilih tempat yang bersih, misalnya di tanah yang kering, di atas bebatuan, dan di atas batang pohon yang tumbang.  Karenanya, kandang pemeliharaan luwak harus dijaga kebersihannya setiap hari.

Luwak memakan buah kopi  (Cherries). Pada buah kopi yang matang terdapat sejenis aroma yang sangat khas , wangi seperti buah anggur atau buah lechi sehingga disukai oleh luwak. Secara naluri luwak hanya memakan buah kopi yang benar-benar matang  , dan punya aroma khusus.

Buah kopi yang dimakan oleh luwak, diproses melalui sistem pencernaan  dan kemudian dikeluarkan  dalam bentuk kotoran berupa gumpalan memanjang biji kopi yang bercampur lendir.  Kotoran tersebut kemudian diambil biji kopinya, dibersihkan dengan dengan cara mencuci sehingga tersisa biji kopi yang masih utuh. Proses selanjutnya adalah dikeringkan dengan sinar matahari  sehingga menjadi biji kopi luwak.

Proses pengolahan kopi luwak sama dengan pengolahan kopi umumnya. Perbedaannya hanya pada proses giling yang digantikan oleh luwak.  Fermentasi  terjadi di dalam perut luwak. Biji kopi tercampur dengan  enzim – enzim yang ada dalam perut luwak. Suhu dalam perut  yang mencapai >  26O C  membantu proses  fermentasi sempurna.  Kedua keistimewaan  ini menghasilkan aroma dan cita rasa  kopi  luwak   yang enak dan khas  disamping  kelebihan – kelebihan yang lain.

Namun biar bagaimanapun baiknya pengolahan kopi luwak hasil pengembangbiakan, tetap saja orang beranggapan kopi luwak dari hasil fermentasi luwak liar lebih nikmat rasanya. Hingga dipasaran orang cenderung mencari kopi luwak bukan dari peternakan. Meskipun tak jelas kebenarannya.

Kopi luwak telah berulang kali diperlihatkan dalam beberapa film. Misalnya sebuah sinetron hongkong yang menceritakan, perjalanan seseorang dari Indonesia dengan membawa pulang kopi luwak sebagai oleh-oleh bagi rekan kerjanya. Lalu film-film produksi Hollywood yang dibintangi oleh aktor sekelas Jack Nicholson juga pernah mempertontonkan sang aktor meminum kopi luwak.

Hebatnya lagi, kepopuleran kopi asli Indonesia ini sempat menarik minat presenter kelas dunia Oprah Winfrey hingga pada tahun 2003, ia memperkenalkan dan memperagakan cara menyeduh kopi luwak dalam acara reality shownya yang sangat terkenal The Oprah Winfrey Show. Wow,..sebuah prestasi tinggi untuk setumpuk kopi yang keluar dalam bentuk kotoran seekor luwak.
(Sumber:Harian Global)

Che sewaktu masih muda

Che sewaktu masih muda

Wajahnya pasti sudah tak  asing lagi bagi Anda. Hampir semua anak muda di dunia termasuk Indonesia, pernah menggunakan kaos bergambar dirinya. Sejak kematiannya Ernesto “Che” Guevara telah menjadi ikon dan figur dengan citra sangat terkenal di dunia. Gambar Che terpampang di mana-mana. Poster, buku, topi, pin, kotak rokok, sampul kaset, dan yang paling banyak, T-shirt. Tapi kenyataannya, banyak orang yang memakai kaos bergambar Che tidak mengetahui siapa sebenarnya Che Guevara. Ada yang mengatakan ia seorang pahlawan amerika latin, ada yang mengatakan ia sahabat dari Fidel Castro-tokoh karismatik Kuba , malah ada yang mengira  dia itu artis. Mungkin coretan ringkas  ini dapat membantu Anda untuk mengenal sosok Che dan mengapa ia begitu melegenda.

Menilik dari perannya yang fenomenal bagi revolusi Kuba, orang tentu akan beranggapan ia adalah asli orang Kuba. Pendapat itu salah..! Lelaki yang mempunyai nama asli Ernesto Guevara Lynch de La Serna adalah orang Argentina. Sedangkan julukan Che berasal dari bahasa Italia yang berarti teman dekat atau sahabat. Arnesto dilahirkan di Rosario, Argentina, dari keluarga berdarah campuran Irlandia, Basque dan Spanyol. Tanggal lahir yang ditulis pada akta kelahirannya yakni 14 Juni 1928, namun yang sebenarnya adalah 14 Mei 1928.

Pada usianya yang begitu muda, Che Guevara telah menjadi seorang pembaca yang lahap. Ia rajin membaca literatur tentang Karl Marx, Engels dan Sigmund Freud yang ada di perpustakaan ayahnya. Memasuki sekolah menegah pertama (1941) di Colegio Nacional Deán Funes (Córdoba). Di sekolah ini dia menjadi yang terbaik di bidang sastra dan olahraga. Di rumahnya, Che Guevara tergerak hatinya oleh para pengungsi perang saudara Spanyol, juga oleh rentetan krisis politik yang parah di Argentina.

Berbagai peristiwa tertanam kuat dalam diri Guevara, ia melihat sebuah penghinaan dalam pantomim yang dilakonkan di Parlemen dengan demokrasinya. Maka muncul pulalah kebenciannya akan politisi militer beserta kaum kapitalis dan terutama kepada dolar Amerika Serikat ,yang dianggap sebagai lambang kapitalisme. Meski demikian dia sama sekali tidak ikut dalam gerakan pelajar revolusioner. Ia hanya menunjukkan sedikit minat dalam bidang politik di Universitas Buenos Aires, (1947), tempat ia belajar ilmu kedokteran.

Motorcycle Diaries

The Revolutioner

The Revolutioner

Pada tahun 1949 dan 1951 ia melakukan perjalanan panjangnya dengan seorang teman menjelajahi amerika latin hanya dengan bersepeda motor. Itulah untuk pertama kalinya ia bersentuhan langsung dengan orang miskin dan sisa suku Indian. Ia mengunjungi Amerika Selatan, Chili di mana dia bertemu Salvador Allende, dan di Peru ia bekerja sama selama beberapa minggu di Leprasorium (rehabilitasi penderita kusta) San Pablo. Che Guevara mengisahkan perjalanannya dalam buku harian yang kemudian diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul Buku Harian Sepeda Motor (The Motorcycle Diaries), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan kemudian difilmkan dengan judul yang sama (2004).

Perjalanan Ernesto dengan sepeda motornya, sedikit banyak memberikan perubahan besar dalam dirinya sehingga ketika ia kembali ke daerah asalnya ia berkeyakinan bulat ia harus merubah dunia meskipun itu artinya perang. Kemudian Ia melanjutkan perjalanan ke Guatemala dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan menulis artikel arkeologi tentang reruntuhan Indian Maya dan Inca.

Guatemala saat itu diperintah oleh Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang seorang sosialis. Meskipun Che telah menjadi penganut paham marxisme dan ahli sosial Lenin ia tak mau bergabung dalam Partai Komunis. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan baginya untuk menjadi tenaga medis pemerintah, oleh karena itu ia menjadi miskin. Ia tinggal bersama Hilda Gadea, penganut paham Marxis keturunan Indian lulusan pendidikan politik. Orang inilah yang memperkenalkannya kepada Nico Lopez, salah satu Letnan Fidel Castro. Guevara kagum pada Raúl Castro dan Fidel Castro juga para emigran politik dan ia menyadari bahwa Fidel-lah pemimpin yang ia cari.

Bergabung dengan Fidel Castro

Che dan Fidel

Che dan Fidel

Arnesto bergabung dengan pengikut Castro di rumah-rumah petani tempat para pejuang revolusi Kuba dilatih perang gerilya secara keras dan profesional oleh kapten tentara Republik Spanyol Alberto Bayo, seorang pengarang “Ciento cincuenta preguntas a un guerilleo” (Seratus lima puluh pertanyaan kepada seorang gerilyawan) di Havana, tahun 1959. Bayo tidak hanya mengajarkan pengalaman pribadinya tetapi juga ajaran Mao Ze Dong dan Che menjadi murid kesayangannya.

Pada bulan Juni 1956 ketika mereka menyerbu Kuba, Che pergi bersama mereka, pada awalnya sebagai dokter namun kemudian sebagai komandan tentara revolusioner Barbutos. Ia yang paling agresif dan pandai dan paling berhasil dari semua pemimpin gerilya dan yang paling bersungguh-sungguh memberikan ajaran Mao Ze Dong  kepada anak buahnya. Ia juga seorang yang berdisiplin kejam yang tidak sungkan-sungkan menembak orang yang melakukan kesalahan. Di sinilah ia mendapatkan reputasi atas kekejamannya yang berdarah dingin.

Pada saat revolusi dimenangkan, Guevara merupakan orang kedua setelah Fidel Castro dalam pemerintahan baru Kuba dan dianggap yang bertanggung jawab menggiring Castro ke dalam komunisme yang menuju komunisme merdeka bukan komunisme ortodoks ala Moskwa yang dianut beberapa teman kuliahnya. Che mengorganisasi dan memimpin “Instituto Nacional de la forma Agraria”, yang menyusun hukum agraria yang isinya menyita tanah-tanah milik kaum feodal (tuan tanah) dan menggusur orang orang komunis dari pos-pos strategis. Dia mengantarkan perekonomian Kuba begitu cepat ke komunisme total, menggandakan panen dan mendiversifikasikan produksi yang ia hancurkan secara temporer.

Pada tahun 1959, Guevara menikahi Aledia March, kemudian berdua mengunjungi Mesir, India, Jepang, Indonesia yang juga hadir pada Konfrensi Asia Afrika, Pakistan dan Yugoslavia. Sekembalinya ke Kuba ia diangkat sebagai Menteri Perindustrian, menandatangani pakta perdagangan (Februari 1960) dengan Uni Soviet yang melepaskan industri gula Kuba pada ketergantungan pasar Amerika.

Penentangan resminya terhadap komunis Uni Soviet mulai tampak ketika dalam organisasi Solidaritas Asia Afrika di Aljazair (Februari 1965) menuduh Uni Soviet sebagai kaki tangan imperialisme dengan berdagang tak hanya dengan negara-negara blok komunis dan memberikan bantuan pada negara berkembang sosialis atas pertimbangan pengembaliannya. Guevara mengadakan konferensi Tiga Benua untuk merealisasikan program revolusioner, pemberontakan, kerjasama gerilya dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Ia ingin merubah dunia..!

Kematian Che

Che Guevara sebelum dan sesudah eksekusi

Che Guevara sebelum dan sesudah eksekusi

Sikap Che yang tidak kenal kompromi pada dua negara kapitalis mendorong negara komunis untuk memaksa Castro memberhentikan Che (1965) bukan secara resmi tetapi secara nyata. Ia kemudian berada di berbagai Negara Afrika terutama Kongo di mana dia mengadakan survei akan kemungkinan mengubah pemberontakan Kinshasa menjadi sebuah revolusi komunis dengan taktik gerilya Kuba. Mereka sia-sia saja melawan kekejaman Belgia dan Che meminta Castro untuk menarik mundur saja bantuan Kuba.

Petualangan revolusioner terakhir Che adalah di Bolivia, karena ia salah memperkirakan potensi negara itu yang mengakibatkan konsekuensi yang buruk. Tertangkapnya Che oleh tentara Bolivia pada 8 Oktober 1967 adalah akhir dari segala usahanya dan hukuman tembak dijatuhkan sehari setelah itu. Pada tanggal 12 Juli 1997 jenazahnya dikuburkan kembali dengan upacara kemiliteran di Santa Clara, di provinsi Las Villas, di mana Guevara mengalami kemenangan dalam pertempuran ketika revolusi Kuba.

Che menjadi legenda. Ia dikenang karena keganasannya, penampilannya yang romantis, gayanya yang menarik, sikapnya yang tak kenal kompromi dan penolakan atas penghormatan berlebihan atas semua reformasi murni dan pengabdiannya untuk kekejaman dan sikapnya yang flamboyan. Ia juga idola para pejuang revolusi dan bahkan kaum muda generasi tahun 1960-1970 atas tindakan revolusi yang berani yang tampak oleh jutaan orang muda sebagai satu-satunya harapan dalam perombakan lingkup borjuis kapitalisme, industri dan komunisme.

Berbagai tokoh sastra, musik dan seni telah mempersembahkan komposisinya kepada Che Guevara. Penyair Chili Pablo Neruda mempersembahkan kepadanya puisi Tristeza en la muerte de un héroe (Kesedihan karena kematian seorang pahlawan) dalam karyanya pada tahun 1969. Pengarang Uruguay, Mario Benedetti menerbitkan (1967) serangkaian puisi yang dipersembahkan kepadanya dengan judul “Pada tingkat impian”.

Penyanyi Carlos Puebla mempersembahkan sebuah lagu Hasta siempre comandante Che Guevara (Untuk selamanya komandan Che Guevara) dan sebagainya. Saat ini, film yang menceritakan tentang kehidupan Che di produksi untuk kesekian kalinya dan dibintangi actor peraih oscar Benechio Del Toro. Meskipun ia telah tiada, Che telah memberitahukan dunia isi kepalanya.(Sumber:Harian Global)

Oleh: triy | Juni 9, 2009

Dracula : Legenda Pangeran Pengisap Darah

Pangeran Vampir

Pangeran Vampir

Mendengar nama Dracula, sontak yang terlintas di benak kita sosok vampir yang selalu haus akan darah manusia. Gambaran itu telah merasuk dalam pikiran kita sejak era Bram Stroker dengan novelnya yang berjudul Dracula (1897). Novel legendaris yang mengadopsi kisah nyata seorang pangeran Wallachia (Rumania) bernama Vlad Tapes “Dracula” yang bertarung melawan serbuan kesultanan Ottonam atas wilayahnya (menjelang periode akhir Perang Salib). Inilah kisahnya…

Vlad Tapes “Dracula” (1431-1476) adalah putra dari Vlad II (Vlad Dracul) yang diangkat menjadi anggota Orde Naga oleh Kaisar Romawi. Vlad Dracul adalah orang yang gigih melawan serbuan kesultanan Ottonam atas wilayahnya. Sementara Vlad Tapes Dracula sebaliknya menjadi sosok yang dibenci baik oleh musuhnya maupun oleh rakyatnya sendiri karena kekejamannya. Dracula dilahirkan di Transylvania, Rumania atau dikenal dengan Wallachia Nama Dracula sendiri berarti anak laki-laki Dracul -anak laki-laki naga- (Drac = naga. ull=anak), nama ini merupakan gelar yang diperolehnya karena keanggotaan ayahnya di Orde Naga.

Masa kecil Dracula memang tidak berlangsung lama, diusianya yang ke 11 ia harus menjadi jaminan kesetian ayahnya kepada kesultanan Turki ottoman, ia dan adiknya Randu harus dikirim ke Turki. Setelah perang Verna, terjadi konflik antara Vlad II dan John Hunyadi ( pengganti Sigismund, Raja dari kerajaan Hungaria ) dalam memperebutkan Wallachia, yang berujung pada kematian Vlad II dan Mircea, kakak Dracula. Melihat perubahan politik di Wallachia tersebut, maka sultan Turki ottoman Mehmed II mengirimkan Dracula pulang ke wallachia untuk merebut tahta.

Dracula kembali ke Wallacia dengan di kawal 8000 prajurit Turki ottoman. sesampainya di Tirgoviste ( ibu kota wallachia ) terjadi pertempuran antara pasukan Vlasdisav dengan pasukan Dracula, yang akhirnya di menangkan oleh pasukan Dracula dan menempatkan Dracula sebagai penguasa Wallachia. Setelah berhasil menduduki tahta, Dracula berbalik membantai prajurit Turki ottoman yang tersisa

Selain itu Vlad Tepes juga memiliki sebutan yang menyeramkan Vlad The Impaler  (Vlad si Penyula). Di sebut Penyula karena konon Vlad dikenal sebagai tokoh  yang senang melakukan kekejaman terhadap orang-orang yang tak disukainya. Salah  satu metode penyiksaan yang disukainya adalah dengan menyula (menusuk dari  pantat hingga kepala) hidup-hidup musuh-musuhnya. Diperkirakan ia telah membunuh 40.000 hingga 100.000 orang dengan cara-cara yang kejam.

Keganasan Vlad Tepes yang luarbiasa akhirnya berakhir ketika ia tewas dalam sebuah penyerbuan orang-orang Turki di sebuah kota dekat Buchares. Kepalanya dipisahkan dari  tubuhnya dan dibawa ke Konstantinopel sebagai persembahan kepada Sultan Turki.  Tubuh tanpa kepalanya dikuburkan di Snagov sebuah pulau di Bucharest. Dari sinilah legenda vampire (mahluk penghisap darah) mulai hidup. Konon Vlad Tepes tidak benar-benar mati, ia menjadi mayat hidup, menjadi vampir dan menyebarkan wabah vampir kepada orang-orang yang digigitnya. Kisah ini menjadi legenda. Diceritakan dari generasi ke generasi di kalangan penduduk Balkan yang masih percaya pada takhyul.

Legenda rakyat Balkan itulah yang akhirnya di adopsi oleh Bram Stroker dalam bentuk novel yang berjudul Dracula di tahun 1897. Walau dalam novelnya tak menyebutkan nama Vlad Tepes, namun latar belakang kisah hidup Dracula dalam novelnya mengindikasikan bahwa Vlad Tepes-lah yang diadopsi oleh Stroker untuk menjadi tokoh utama dalam karyanya.

Selain Stroker, buku-buku tentang Dracula terus ditulis orang, mungkin angkanya telah mencapai ribuan buku. Apalagi setelah Hollywod mengkomersilkan lagenda vampir dengan film-filmnya. Konon, hampir 300 film pernah dibuat
berkaitan dengan vampir dan Dracula.

The Historian

Penulis Legendaris Bram Stoker

Penulis Legendaris Bram Stoker

Selain Bram Stroker adapula Elizabeth Kostova yang melakukan riset sejarah mengenai Dracula, dan menuangkan hasil risetnya kedalam sebuah novel sejarah yang dikemas dalam horor-suspense yang memikat, yang diberi judul The Historian (Sang Sejarahwan). Berbeda dengan Darculla-Bram Stoker, Kostova lebih memberikan nuansa sejarah pada novelnya ini, sehingga pembaca tak hanya disuguhkan oleh ketegangan dan kengerian semata, melainkan pembaca juga diajak menyelusuri siapa sebenarnya dibalik sosok Dracula berdasarkan fakta sejarah yang diperoleh Kostova dari risetnya selama 10 tahun.

The Historian ditulis oleh Elizebeth Kostova dengan gaya yang indah dan  Memikat dan menyajikan nuansa yang berbeda. Walau yang menjadi tema utama adalah pencarian sosok Drakula yang menyeramkan, namun tak ada
ketakutan yang berlebihan pada novel ini. Ketegangan dan kemisteriusan menyelimuti seluruh halaman novel ini, dimulai dari ditemukannya buku kosong bergambar naga, kisah kekejaman Vlad Tepes ketika mengeksekusi musuh-musuhnya, vampir yang membuntuti dan menyerang dengan tiba-tiba, hingga sosok drakula dan aktivitasnya yang unik dan tak terduga akan ditemui dalam novel ini.

Selain itu aroma sejarah juga tercium dengan tajam pada novel ini. Dengan  deskripsi sejarah yang diurai secara kronologis dan menarik sehingga tak membosankan, Kostova mengajak pembacanya bertamasya ke abad 15 dimana Dracula pernah hidup dan berjuang melawan serangan tentara Turki dibawah pemerintahan Sultan Mehemd II. Pembaca juga akan diajak berkelana ke tempat-tempat eksotis seperti Oxford, Istanbul, Rumania, Bulgaria, untuk menelusuri buku-buku kuno, mansukrip-manuskrip bersejarah, kisah para santo, puisi kuno, legenda dan
lagu-lagu rakyat yang berkaitan dengan Drakula.

Tengkorak Vampir

Fosil Tengkorak Vampir

Fosil Tengkorak Vampir

Lalu apakah benar setelah kematiannya Vlad Tapes “Dracula” berubah wujud menjadi mahluk penghisap darah..? entahlah. Tetapi paling tidak sebuah peristiwa yang menggemparkan pernah terjadi dan seolah mendukung keberadaan Vlad sebagai mahluk penghisap darah.. Sebuah cerita menjelaskan, Di Venesia (Italia) pada tahun 1576 terjadi satu wabah mematikan yang membuat banyak orang panik. Jutaan orang telah bergelimpangan. Tidak ada satupun orang yang mengetahui apa yang menjadi penyebab wabah mematikan ini. Penjelasan bersifat ”ilmiah” mungkin lebih tepatnya religius pun beredar: bahwa vampir penghisap darah telah menyebarkan wabah epidemi ini.

Dalam literatur terkait peristiwa abad abad ke-16 itu, tepatnya seiring dengan persebaran wabah epidemi tersebut, ada banyak pemakaman massal yang digali untuk mengubur jutaan orang mati yang diduga akibat wabah penyakit yang diduga disebabkan oleh vampir. Karena minimnya lokasi pemakaman, warga kota pun memanfaatkan makam yang sama untuk mengubur jenazah baru secara massal.

Entah benar atau tidak, tetapi baru-baru ini Matteo Borrini, seorang arkeolog dari Universitas Florence di Italia menemukan kerangka seorang perempuan dengan batu bata kecil tersumbat di mulutnya saat menggali sebuah kuburan massal korban wabah penyakit semasa abad pertengahan di Lazzaretto Nuovo Island Venesia.

Borrini menyampaikan temuannya ini dalam sebuah pertemuan America Academy of Forensic Science di Denver Colorado beberapa waktu lalu (Newscientist,9-3-2009). Ia juga mengklaim bahwa temuannya telah diuji secara forensik. Dan ia mempercayai tengkorak  itu mempunyai hubungan dengan penyebaran wabah pada tahun 1576. “Di masa itu, para penggali kubur menyumbat mulut  para vampir dengan batu bata untuk mencegah mereka bisa bangkit dan menghisap darah manusia lagi,”jelas Borrini.

Namun pernyataan Borrini bahwa tengkorak itu adalah bukti pertama di bantah oleh Peer Moore-Jansen dari Universitas Wichita State di Kansas. Peer menyebutkan ia pernah menemukan tengkorak dengan kondisi yang sama dengan temuan Borrini. “ Itu memang cukup menarik, namun apa yang di klaim Borrini sebagai tengkorak vampir pertama adalah lelucon,”kata Peer Moore-Jansen. Borrini sendiri mengatakan, perincian studinya terkait keberadaan kuburan massal ini adalah menunjukkan bukti keberadaan vampire/Dracula. “Tengkorak itu menunjukkan bukti exorcisme (ritual pengusiran setan) vampir secara arkeolog” tutur Borrini.

Jika penuturan Matteo Borrini benar adanya, berarti tengkorak wanita penghisap darah itu adalah salah satu korban wabah vampire yang ditularkan oleh sang pangeran Vlad Tapes Dracula yang melanglang buana hingga ke Italia. Hiii…..

Kastil Dracula
Awal Februari 2007 , situs resmi The Associated Press dalam sebuah kolom beritanya mengabarkan bahwa Puri Bran yang diyakini sebagai tempat kediaman Dracula, dijual seharga 78 juta dolar oleh pewarisnya kepada pemerintah Rumania. Langkah tersebut diambil demi pelestarian tempat legendaris di Transylvania tersebut. Kabarnya lebih dari
400 ribu orang mengunjungi puri itu setiap tahunnya, terutama karena dikaitkan dengan Vlad the Impaler atau Pangeran Dracula.

Vlad bukanlah pemilik puri itu, namun diyakini telah menggunakan tempat itu selama kunjungannya ke Transylvania. Dia juga terkurung di tempat itu selama dua bulan pada tahun 1462 setelah ditangkap olah musuhnya dan dipenggal.(Sumber:Harian Global)

Oleh: triy | Mei 11, 2009

Mokele-Mbembe, Monster dari Kongo

Monster Misterius

Monster Misterius

Selain Nessie dari Danau Loch Ness, ternyata di rimba Kongo ditemukan makhluk sejenis. Penduduk lokal menyebutnya mokele-mbembe. Namun, mirip Nessie, keberadaannya masih misterius. Bukti masih beredar dari “mulut ke telinga”.

Cerita mokele-mbembe penghuni dasar danau ini berawal sejak tahun 1776, ketika sebuah cetakan jejak telapak kaki sepanjang sekitar 1 m ditemukan di permukaan lumpur di tepi sungai. Sebelumnya, ingatan kolektif soal ini sudah beredar di kalangan penduduk pribumi.

Dalam bahasa Lingala (salah satu bahasa di Kongo), mokele-mbembe berarti dia yang dapat menghentikan arus sungai. Dengan bangun tubuh sebesar kuda nil atau gajah afrika sepanjang 5 – 10 m arti tadi tidaklah berlebihan. Sosoknya umum digambarkan mirip sauropoda, yakni dinosaurus terbesar pemakan tumbuhan. Panjang leher hampir sama panjang ekornya, antara 1,6 – 3,3 m. Ada yang menggambarkannya berjumbai di kepalanya, mirip jengger ayam jantan. Bahkan ada yang mengaku melihat sepasang tanduk di kepalanya. Warna tubuhnya antara abu-abu hingga cokelat kemerahan. Kulitnya tebal, licin, dan tidak berambut.

Mokele-mbembe hidup di telaga atau daerah berawa-rawa di dekat sungai. Raksasa ini sering menyeberangi danau saat pindah dari sungai satu ke sungai lain. Seperti sauropoda, mokele memakan tumbuhan rawa. Makanan kesukaannya pohon malombo, yang terdiri atas Landolphia manii dan L. owariensis.

Mokele menjadi misteri karena jarang menampakkan diri. Seperti Nessie, ia lebih suka ngumpet di dalam air danau. Ia muncul saat kelaparan atau pindah ke lain rawa. Karena minim saksi itulah, banyak yang bilang binatang ini tak lebih dari kuda nil. Namun, orang-orang Pigmi penghuni daerah aliran sungai Likouala (Kongo) ngotot itu bukanlah kuda nil.

Jadilah kita terbengong-bengong! Masak orang asli di situ tidak bisa membedakannya dengan kuda nil? Apalagi mereka bilang mokele justru akan membunuh kuda nil yang dijumpainya. Jadi, mokele-mbembe itu benar-benar ada?
Itulah susahnya. Padahal tak kurang dari orang luar Afrika yang memberikan keterangan. Tahun 1913, Freiherr von Stein zu Lausnitz dikirim Pemerintah Jerman untuk mengeksplorasi Kamerun. Di sinilah ia mendengar cerita penduduk tentang mokele-mbembe yang menghuni daerah di sekitar Sungai Ubangi, Sangha, dan Ikelemba (Kongo). Menurut cerita yang sampai ke telinganya, binatang ini sebesar gajah atau kuda nil, tapi berleher panjang. Giginya hanya satu, tapi amat panjang, sampai-sampai orang menganggapnya itu tanduk. Mokele-mbembe juga memiliki ekor seperti buaya. Serunya lagi, von Stein mengaku melihat jejaknya di Sungai Ssombo.

Cuma batang kayu ?

Mokele-Mbembe

Mokele-Mbembe

Dibandingkan dengan Nessie, mokele-mbembe memang kalah populer. Situs google.com, misalnya, memberikan sekitar 136.000 halaman mengenai monster dari Danau Loch Ness itu. Sementara kapling mokele-mbembe cuma 2.020 halaman. Selama ini cerita tentang monster ini hanya berasal dari penduduk di sekitar sungai di pedalaman Kongo. Seiring dengan masuknya pendatang, cerita tentang mokele pun bertambah.

Herman Reguster, seorang penjelajah berkebangsaan Jerman, mengaku berhasil memotret binatang itu di Telaga Tele pada tahun 1980. Sayang, jepretannya tidak bicara banyak. Justru menimbulkan keraguan karena banyak yang melihatnya sebagai punggung buaya. Ngenes-nya lagi, ada yang bilang itu hanyalah batang kayu! Toh Reguster ngotot dengan keyakinannya, sambil menyodorkan bukti tambahan berupa cetakan gips jejak kaki mokele-mbembe.
Sebelum kedatangan Herman Reguster, terhitung sudah puluhan ekspedisi diadakan. Tujuannya menemukan mokele-mbembe atau kerabatnya di jantung Afrika. Amerika, Jerman, Jepang, bahkan Afrika sendiri pun berlomba-lomba menguak “harta karun” kerabat brontosaurus ini. Tapi ya itu tadi, semakin banyak upaya semakin sedikit yang bisa diperoleh.

Ekspedisi paling awal dilakukan oleh Carl Hagenbeck, naturalis berkebangsaan Jerman pada 1909. Hagenbeck kesengsem pada mokele-mbembe setelah mendengarkan cerita dari sohibnya, Hans Schomburg, penjelajah asal Inggris. “Binatang-nya besar, setengah gajah setengah naga. Hidupnya di rawa-rawa Kongo,” begitu cerita yang membangkitkan semangat ingin tahunya Schomburg. Sayang, nafsu besar tak didukung stamina dan persiapan yang matang. Hagenback tidak dapat meneruskan ekspedisinya karena penyakit dan serangan dari penduduk pribumi.
Dua tahun kemudian, Smithsonian Institution di Washington, D.C. pun tertarik menguak binatang “serba setengah” ini. Dikirimkanlah 32 orang anggotanya. Enam hari mengubek-ubek hutan perawan Afrika, yang diperolehnya hanya jejak-jejak raksasa dan suara yang – menurut mereka – tidak serupa dengan suara binatang mana pun yang pernah dikenal.

Sama seperti Hagenback, ekspedisi ini juga kandas di tengah jalan. Penyebabnya, saat menumpang kereta api menuju daerah yang diklaim oleh peduduk lokal sebagai basisnya mokele-mbembe, gerbong kereta terbalik dan menewaskan empat anggota ekspedisi. Enam anggota lainnya menderita luka-luka.

Sepeninggal Smithsonian masih banyak ekspedisi dilakukan. Tahun 1932, Ivan Sanderson melakukan penjelajahan di Afrika dan menemukan jejak raksasa yang mirip jejak kuda nil. Padahal di daerah itu tidak ditemukan kuda nil. Menurut penduduk setempat, jejak itu milik mgbulueM’bembe. Jejak serupa ternyata ditemukan pula oleh James H. Powell, yang dua kali mengadakan ekspedisi (1972 dan 1976). Ketika ia menunjukkan gambar dinosaurus sauropoda, penduduk mengenalinya sebagai mokele-mbembe.

Tahun 1983 Marcellin Agnagna dari Kongo membuat kemajuan yang berarti dalam ekspedisinya. Ia melihat binatang raksasa yang keluar dari danau pada jarak sekitar 275 m. Kepala makhluk itu berwarna kemerahan dan mirip kepala buaya dengan mata lonjong. Ia yakin, binatang itu sejenis reptil, tapi bukan buaya, kura-kura, atau ular raksasa. Tahun 1987, sebuah tim dari Jepang mencoba merekam mokele-mbembe dengan kamera video. Sayangnya, hasil bidikan mereka kurang jelas dan tidak meyakinkan.

Tidak sendirian

Danau Tele

Danau Tele

Mencari mokele-mbembe ibarat menemukan jarum di tumpukan jerami. Kondisi hutan Kongo yang rapat menyulitkan upaya itu. “Panas, peyakit, penduduk pribumi liar, serta takhayul berada di sekeliling mokele-mbembe,” kata Bill Gibbons, penjelajah yang ikut-ikutan mencari mokele. Hampir separuh wilayah Kongo tertutup hutan lebat yang nyaris tidak berubah selama 60 juta tahun lamanya.

Hutannya juga dipenuhi pohon berharga jual tinggi, seperti pohon mahogani dan limba. Jalan dan perkampungan sangat jarang ditemukan. Bahkan pemandu dan penduduk pribumi sering menolak mengantar peneliti masuk hutan meski dibayar mahal. Hutan perawan sepanjang Sungai Kongo adalah yang terganas, terpanas, dan paling jarang dikunjungi penjelajah. Jika memang benar ada, di sinilah tempat yang tepat bagi dinosaurus.

Wajar saja jika dari daerah yang tertutup itu berhembus cerita tentang monster atau makhluk sisa-sisa peradaban masa lampau. Mokele-mbembe tidak sendirian. Penduduk pribumi juga mengenal emelantouka, yang digambarkan sebagai pembunuh gajah atau gajah air. Makhluk ini mirip dinosaurus bertanduk, sosoknya sebesar gajah dan dengan tanduknya bisa membunuh gajah atau badak.

Dalam bukunya Eighteen Years on Lake Bangweulu, C.G. James melaporkan bahwa emelantouka hidup di Danau Bangweulu, Mweru, serta rawa-rawa Kafue di Zambia, juga di D. Tanganyika (Tanzania). Tahun 1933, menurut J.E. Hughes, penduduk Wa-Ushi pernah membunuh makhluk serupa di Sungai Luapula, yang terletak antara Danau Mweru dan Bangwelu di perbatasan Zaire dan Zambia.

Si pembunuh gajah ini ternyata juga dikenal di sekitar Danau Edward wilayah Zaire dan Uganda. Konon, pada tahun 1934, binatang yang dikenal dengan irizima ini terbunuh di Dongou, Kongo Utara. Selain di Dongou, binatang yang digambarkan sebagai kuda nil bertanduk ini sering muncul pula di daerah Epena dan Imfondo, masih di Kongo Utara.
Uniknya, meskipun mirip badak (karena tanduknya mirip cula), culanya tidak berambut seperti cula badak, melainkan mirip gading gajah. Roy P. Machal, ahli cryptozooid (ilmu yang mempelajari binatang misterius), yakin bahwa binatang yang di Kafue dikenal dengan chipekwe, sisa-sisa dinosaurus bertanduk seperti tricerops. Mungkin sejenis monoclonius atau centrosaurus.

Monster lain yang sering disebut-sebut adalah mbielu-mbielu-mbielu. Tampangnya mirip stegosaurus, binatang yang dipercaya memiliki lempengan keras di punggungnya. Dinosaurus ini lebih jarang dikenal karena lebih sering berendam di dalam air sungai. Hanya lempeng di punggungnya yang kelihatan. Ada monster lagi yang bernama nguma monene, piton raksasa. Cuma berbeda dengan ular sejenisnya, di punggung makhluk berpanjang antara 40 – 60 m ini terdapat semacam sisik tegak.

Wah, kalau begitu bukan ular dong! Cocoknya kadal raksasa. Penduduk sekitar biasanya menyamakan nguma monene ini dengan mbielu-mbielu-mbielu. Kedua monster ini hidup di daerah Sungai Dongou-Mataba di Republik Rakyat Kongo.

Menemukan danau baru

Karena minim bukti, banyak orang kemudian tidak yakin apakah monster-monster tadi benar-benar ada. Menurut Redmond O’Hanlon, penulis dan penjelajah Inggris, mungkin saja para saksi yang mengaku melihat binatang ini keliru melihat gajah liar. Robert T. Bakker, paleontolog dan penulis buku The Dinosaur Heresies juga menyangsikan adanya dinosaurus yang masih hidup. “Dinosaurus tidak bakal bertahan hidup sekarang. Mereka kalah bersaing dengan mamalia,” tegasnya.

Toh pencarian mokele-mbembe tetap saja dilakukan. Dampak positifnya, ditemukannya binatang-binatang baru seperti yang dialami William J. Gibbons kala melakukan penyelidikan di Kongo. Ia menemukan sisa-sisa tubuh monyet yang tidak dikenal sebelumnya. Setelah dibawa ke Inggris, para pakar binatang menyimpulkan bahwa monyet itu adalah spesies mangabey jenis baru (Cerocebus galeritus). Gibbon juga menemukan banyak spesies serangga dan ikan yang belum dikenal. Ekspedisi berikutnya, tahun 1992, bahkan menemukan dua danau baru yang sebelumnya tidak masuk peta: Danau Fouloukuo dan Tibeke.

Mereka yang percaya mokele-mbembe benar-benar ada mengacu kepada ditemukannya antelop jenis baru di Vietnam (Dunia yang Hilang di Vu Quang ). “Kemungkinan menemukan binatang besar jenis baru masih terbuka,” ujar Adam Davies dari Manchester. “Jika kami menemukan mokele, kami takkan mengusiknya. Tujuan utama kami adalah mendapatkan deskripsi akurat dan fotonya. Kemudian kami akan mengusulkan perlindungan menyeluruh bagi seluruh areal,” janji Davies.

Davies tergabung dalam Tim Ove Sundberg, sebuah tim gabungan dari Swedia yang ahli meneliti reptilia langka. Tim ini telah meneliti mokele-mbembe sejak tahun 2000. Ketuanya Jan-Ove Sundberg, ahli cryptozoologi yang pernah memburu monster laut di Danau Seljordvatnett di Norwegia.

Kendati diramalkan bakal menemui kegagalan, tim ini tetap optimistis. “Kita sedang menjelajahi sebuah daerah seluas dua kali Belgia yang tidak berubah selama jutaan tahun. Jika kita menemukan makhluk ini, akan menjadi sebuah alasan sangat kuat untuk melindungi seluruh habitatnya dari tekanan ekonomi,” kembali Davies yang pernah memburu orang pendek sumatra berjanji.(Sumber:harian-global)

Segaaarrrrr

Segaaarrrrr

Selama tinggal sekitar 9 tahun lebih di Medan. Belum sekalipun saya mendengar nama danau ini. Kesohoran dan keindahan Danau Toba saja yang ada di benak pikiran saya. Hingga kemudian, seorang kawan di kantor menunjukkan foto-foto eksotis berlatar belakang pemandangan yang menakjubkan.

“Nama danau ini adalah Danau Linting,” sebutnya. Penasaran dengan keindahannya, Saya pun tergoda untuk melihatnya secara langsung danau mungil nan eksotis ini. Berbekal peta singkat, bersama dengan kawan-kawan dari Kampus USU, saya pun sepakat untuk mengunjungi danau ini.

Cuaca panas Kota Medan bukan halangan untuk terus memacu sepedamotor dengan kencang. Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke Danau Linting. Mengambil titik kumpul dari Kampus USU, kami pun bergerak menuju Titi Kuning, melewati Delitua, Patumbak, Desa Siguci, hingga sampai ke Desa Sibunga-bunga Hilir.

Karena ini baru pertama kalinya kami datang kesini. Beberapa kali kami harus bertanya kepada warga sekitar. Ironisnya, beberapa warga di seputaran Delitua justru kurang mengetahui keberadaan danau ini. Padahal daerah ini menjadi salah satu akses jalan masuk menuju Danau Linting. Rasa penasaran untuk mengetahui keindahan Danau Linting sempat memudar dalam khayalanku.

Berhubung keinginan untuk melihat keindahan danau ini begitu menggoda, perjalanan pun kami lanjutkan kembali.”Mau ke danau ya dik. Jalannya ke kiri, kalau ke kanan terus itu jalan menuju objek wisata Si Biru-biru,” ujar salah seorang pengendara sepedamotor yang melihat kami kebingungan mencari jalan menuju rute danau.

Para gadis-gadis narsis..........

Para gadis-gadis narsis..........

Rasa penasaran itu kini mulai terjawab. Yang terbayang dalam benak saya saat itu adalah cepat sampai dan cepat-cepat berendam dalam danau. Namun, hampir 45 menit perjalanan, tempat yang kami tuju tak kunjung sampai.

Yang tak membuat saya bosan, rute antar desa di kawasan ini cukup menyenangkan. Meski di beberapa titik jalan masih terdapat aspal berlubang, namun hamparan hijau pepohonan yang menghiasi sisi jalan ini memberikan suasana segar dan nyaman.

Belum lagi dengan kondisi jalan yang naik-turun, kemudian berkelok tajam menyuguhkan aksi menantang bagi siapa saja yang melewatinya. Bahkan tak jarang adrenalin langsung terpacu untuk mempercepat laju sepedamotor di saat jalanan sepi. Di beberapa rute jalan ini, saya sempat menikmati sejenak menjadi ’Raja Jalanan’. Memacu sepedamotor dengan kencang, sambil sesekali memencet klakson keras-keras, sebelum tikungan kembali menghadang perjalanan kami.

Setelah berjalan hampir 45 menit, akhirnya sampai juga di Desa Tiga Juhar. Desa yang sekaligus menjadi pasar pekanan. Menurut warga di sekitar daerah ini, hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di Danau Linting.

Jalanan setelah pasar ini makin tidak stabil, menurun dan menanjak. Hamparan kebun-kebun penduduk silih berganti dengan hutan-hutan sekunder menjadi pemandangan selama perjalanan.

Lapisan Bukit Barisan yang terbentang makin terlihat jelas di depan. Daerah ini merupakan salah satu kawasan yang dilalui oleh gugusan dataran tinggi yang menyatukan Pulau Sumatera. Meski terbentang dengan kokohnya, sesekali bukit tersebut menghilang ditelan jalan yang berkelok. Karena itulah, klakson kendaraan menjadi hal wajib saat melintasi jalanan ini.

Jalan Menuju Simalungun

Karena berpedoman pada waktu, kami tak menyadari jika perjalanan sudah terlampau jauh. Rasa kaget dan sedikit ”ngeri” langsung menyeruak dalam hati, ketika jalan yang kami lalui tiba-tiba berubah menjadi jalan batuan. Parahnya lagi, di bawah sana terlihat jembatan/titi yang bergoyang-goyang diapit pegunungan. Firasat jika perjalanan ke danau salah jalan, ternyata benar.

”Udah kelewatan dik. Sekitar 10 menit lagi, balik dari sini. Kalau yang di bawah itu jembatan Titi Gantung STM Hulu,” ujar Parlindungan, seorang pengemudi kendaraan pengangkut batu.

Parlindungan menjelaskan, jembatan itu memiliki panjang sekitar 150 meter dan melewati lembah. Dalamnya sekitar 200 meter. Sementara itu di bawahnya terdapat sungai yang mengalir deras dengan batu-batu besar di dalamnya. Jika kita menyeberang jembatan ini kita akan menuju ke arah Simalungun. Jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Sumut yang menghubungkan Deliserdang dan Simalungun.

Kami pun kemudian memutuskan untuk kembali. Akhirnya, setelah kurang dari 10 menit perjalanan, sampai juga saya melihat keeksotisan danau ini. Danau ini terletak di puncak bukit di Desa Sibunga-bunga Hilir, Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.

Danau Linting sendiri hanya berjarak 49 km dari Medan. Konon, jalan ini termasuk dalam proyeksi pelebaran untuk menghubungkan Seribu Dolok dengan Lubukpakam dalam rangka proyek agropolitan di Sumatera Utara.

Menyimpan Misteri

Danau Mungil yang Masih Menyimpan Misteri

Danau Mungil yang Masih Menyimpan Misteri

Jalan tanjakan berjarak sekitar 10 meter menjadi penghubung antara jalan besar dengan danau yang kami tuju. Hm… itulah yang kami cari. Sebuah danau mungil yang ukurannya hanya sekitar satu hektar.

Luarbiasa! Setelah sejenak memandang sebentar, saya mencoba untuk mendekat di bibir danau. Nyanyian burung-burung kecil yang hinggap di pohon beringin, menambah syahdu suasana danau ini.

Itu masih belum seberapa. Saat kaki ini masuk ke dalam air, tidak ada rasa dingin, kendati area ini merupakan kawasan pegunungan. Yang ada justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Kesegarannya benar-benar menjadi obat rasa lelah setelah melakukan perjalanan cukup jauh.

Satu hal yang bisa saya tangkap saat melihat suasana di danau ini adalah nuansa romantis. Ya… dengan keindahan warna airnya yang berwarna biru pekat (berbeda dengan warna air danau lain), plus pegunungan yang menghiasi sisi sebelah kanan-kirinya, tempat ini menawarkan keromantisan bagi para pengunjung yang datang.

Dari puncak bukit di pinggir danau ini, saya bisa leluasa melepaskan pandangan ke berbagai arah. Saya pun tak puas-puas memandangi permukaan Danau Linting ini. Meskipun ukurannya mungil, namun para penduduk di sini belum ada yang berani mengatakan secara pasti berapa kedalaman danau ini.

“Dulu pernah ada yang mengukur kedalaman danau ini, tapi hasilnya nggak bisa ditentukan berapa dalamnya. Sepertinya dalam sekali danau ini,” ujar seorang penduduk, saat dimintai keterangannya.

Karena itulah, warga sekitar selalu mengingatkan para pengunjung yang datang untuk berhati-hati jika berenang di danau ini. Pasalnya, sudah beberapa kali danau ini menelan korban.

Melihat dari karakteristik Danau Linting, sepertinya danau ini dulunya adalah kawah atau juga sebuah retakan dari peristiwa vulkanik. Hal ini melihat dari beberapa hal yang bisa ditemui di danau ini. Seperti kandungan belerangnya yang cukup tinggi, serta kedalamannya yang masih menjadi misteri hingga saat ini.

Matahari yang sudah mulai terbenam, membuat kami memutuskan untuk kembali ke Medan. Selain perjalanan cukup jauh, kami menghindari perjalanan di tengah kegelapan malam. Sebelum kaki ini melangkah pulang, saya sempatkan sekali lagi untuk memandang sekaligus membasuh muka air Danau Linting berwarna biru pekat yang menyegarkan.

Oleh: triy | April 28, 2009

Ada Kuburan Panjang di Pulau Kampai

Kuburan ini memiliki panjang 8 meter

Kuburan ini memiliki panjang 8 meter

Jam baru menunjuk di angka 8 pagi. Namun sengatan matahari sudah menembus kulit. Dengan mengendarai sepedamotor, saya bersama dengan Waristo (Redaktur Global) meluncur kencang di keramaian pagi menuju Kabupaten Langkat.

Butuh waktu sekitar dua jam menuju kabupaten ini. Tujuan kami adalah kuburan panjang di Pulau Kampai. Kuburan yang menyimpan beragam nilai sejarah, misteri dan juga budaya bagi masyarakat Pulau Kampai.

Bagi sebagian masyarakat di Sumatera Utara, Pulau Kampai identik dengan terasi. Ya… Pulau ini adalah salah satu penghasil terasi terbaik di Indonesia. Bahkan, konon terasi Pulau Kampai sudah sampai ke negeri jiran.

Kepopuleran terasi ini jugalah yang mengangkat nama pulau ini. Apakah Pulau Kampai hanya populer karena terasi saja? Ternyata tidak. Pasalnya jika Anda mengunjungi pulau ini, Anda juga akan melihat beberapa peninggalan budaya yang menyimpan beragam nilai sejarah yang masih misterius.

Sampai di Stabat, kami berdua bergabung dengan dua wartawan Global lain yang sudah menunggu, yakni Badruddin dan Arfan. Selanjutnya perjalanan pun dilanjutkan menuju dermaga Pangkalansusu untuk menyeberang ke Pulau Kampai.

Pulau Kampai adalah nama sebuah pulau yang terletak di Kabupaten tingkat II Langkat, Kecamatan Pangkalansusu. Sebelum kaki ini menginjak di tanah Pulau Kampai, kita harus menyeberang lautan dengan menggunakan speed boat. Ongkosnya cukup murah. Sekali naik para penumpang hanya ditarik 8 ribu rupiah. Jika kita membawa sepeda motor dikenakan tambahan biaya 3 ribu rupiah.

”Setiap hari kita melayani rute perjalanan dari dermaga ini ke Pulau Kampai. Ada juga penumpang yang menuju ke Pulau Sembilan,” ujar Buyung salah seorang pemilik boat.

Kuburan “Misterius”

Kuburan Panjang

Kuburan Panjang

Setelah kurang lebih 40 menit menikmati pemandangan lautan. Kami pun akhirnya sampai ke Pulau Kampai. Sambutan hangat penduduk Pulau Kampai membuat kami merasa nyaman. Sebelum melanjutkan petualangan di pulau ini, kami sempatkan bertemu dengan M Buyung Amir, Kepala Desa Pulau Kampai.

Menurut Buyung, masyarakat Pulau Kampai didiami oleh beberapa suku. Di antaranya Jawa, Aceh, Melayu, perantau dari Malaysia dan Karo. Warga Tionghoa juga ada walaupun jumlahnya tidak sebanyak dulu.”Saat ini yang tinggal adalah orangtua dan anak-anak. Kalau yang remaja sudah banyak yang mencari kerja ke luar,” terang Buyung.

Ditemani dengan M Yusuf dan juga Abu Bakar, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kuburan “misterius”. Orang-orang di sini menyebutnya dengan Kuburan Keramat Panjang. Dari dermaga Pulau Kampai, kuburan tersebut hanya berjarak sekitar 300 meter.

Sebuah bangunan berpagar kayu menyergap langkah kami. Rasa penasaran pun langsung menyeruak dalam hati. Apakah betul kuburan itu memiliki ukuran yang berbeda dengan kuburan lain. Ternyata benar, di dalam bangunan berjejer dua buah nisan. Yang satu memiliki ukuran sekitar 6 meter dan yan satunya lagi 8 meter. Di kedua nisan tersebut tidak ada satu pun identitas yang bisa dijadikan bukti kuburan siapa sebenarnya.

Masyarakat di sini percaya jika kuburan ini sudah ada sebelum zaman penjajahan Belanda. Hingga saat ini, kuburan keramat panjang ini masih sering dikunjungi oleh masyarakat untuk berdoa.”Sebagai salah seorang yang sejak kecil tinggal di sin, saya tidak pernah tahu kuburan siapa sebenarnya. Orang tertua di sini saja juga tidak tahu,” ungkap M.Yusuf menjelaskan.

Menurut M Yusuf, kuburan ini sebelumnya pernah diteliti ilmuan dari Belanda. Namun hasilnya nihil. Ukiran di batu nisan yang mirip dengan tulisan China, sempat diyakini masyarakat jika kuburan ini adalah kuburan etnik Tionghoa. Tapi lagi-lagi, teori tersebut masih belum bisa dipercayai seratus persen masyarakat sini.

Kemisteriusan Kuburan Panjang ini bukan hanya ini saja. Pasalnya, kuburan ini menurut warga memiliki penjaga khusus, yakni seekor harimau berwarna putih.”Dulu harimau putih itu sering dilihat oleh warga sini. Selain itu, dulunya di sini juga pernah ada orang yang meninggal, gara-gara memindahkan batu pusara yang ada di atas kuburan ini,” papar Yusuf menambahkan.

Hingga saat ini kuburan ini tetap masih menyimpan misteri. Namun meski begitu, dari beberapa data didapat penjelasan bahwa sesuai dengan namanya, Kuburan Keramat Panjang. Kuburan ini mengacu pada nama Teuku Keramat Panjang dan nama tersebut sudah dilafal sejak dari tiga generasi sebelum mereka. Sebuah nama yang juga memiliki hubungan erat dengan ulama besar dari Langsa.

Nama asli dari Teuku Keramat Panjang adalah Teuku Sulthan Muhammad. Ia berasal dari Pakistan dan seorang ulama besar. Saat tiba di Pulau Kampai, ia berusia 13 tahun dan menetap di Pulau Kampai sampai akhir hayatnya. Di Pulau Kampai ia bekerja menjadi pedagang, seperti jual-beli emas, kain dll.

Di samping sebagai pedagang, ia juga membuka perpustakaan seraya menulis buku-buku agama, bahan-bahannya beliau ambil dari Mesir. Mengingat ilmu agama beliau sangat luas, beliau juga berdakwah di Pulau Kampai.

Teuku Sulthan Muhammad menikah dengan seorang wanita berumur 14 tahun di Pulau Kampai, istri beliau bernama “Siti Bahara Silalahi”. Ayah Siti Bahara Silalahi berasal dari Kabanjahe yang semasa hidupnya ayah Siti Bahara Silalahi juga seorang pedagang Sedangkan ibu Siti Bahara Silalahi, berasal dari tanah Deli.

Kuburan Sang Pendekar Biola

Kuburan Pendekar Biola

Kuburan Pendekar Biola

Selain Kuburan Keramat Panjang, di pulau ini Anda juga bisa melihat kuburan lain yang memiliki nilai budaya. Kuburan tersebut adalah Mas Merah. Bedanya, jika kuburan Keramat Panjang masih menimbulkan “misteri”, kuburan Mas Merah sudah bisa diidentifikasi asalnya.

M Yusuf dan Abu Bakar yang menemani kami selama melakukan perjalanan di Pulau Kampai mengisahkan sejarah kuburan Mas Merah. Menurut mereka, kuburan ini adalah kuburan Salam, lelaki yang tinggal di Serawak Malaysia dan lahir sekitar tahun 1890.

Salam memiliki abang bernama Amran. Pada saat itu, Salam menjalin hubungan diam-diam dengan gadis bernama Rukiah. Hubungan ini tidak diketahui oleh orangtua Salam. Rukiah adalah seorang gadis baik dan berparas cantik, yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan abangnya.

Dinikahkanlah Amran dengan Rukiah. Saat pernikahan mereka, Salam putus asa. Konon Salam melemparkan batu sebanyak tiga buah di tanah Serawak sebelum ia pergi. “Kalau timbul tiga buah batu yang ku lempar di tanah Serawak ini, barulah aku akan pulang,” ujar Abu Bakar menirukan ucapan Salam.

Saat pergi, Salam bertemu dengan Salmah. Salmah adalah kembang di Medan Labuhan-Belawan. Ayah Salmah bernama H Kasim. Ibu Salmah berutang pada seorang keturunan India bernama Tambi. Namun ia tidak mampu membayar utangnya. Oleh orangtuanya, Salmah dikawinkan dengan Tambi.

Di saat acara perkawinan Salmah dengan Tambi.Salam yang dijuluki pendekar biola memainkan biolanya sambil menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Kau adalah Mas Merahku”.Mendengar lag ini, Salmah langsung jatuh pingsan. Masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa Salmah adalah Mas Merah yang disebut Salam dalam lagunya. Salam kembali berputus asa dan kemudian pergi ke laut untuk menjadi nelayan di daerah Brandan.

Singkat cerita, saat ia dan seorang temannya Husein berkelana di lautan. Salam mendengar teriakan seorang wanita.Salam hendak menolong namun dihalangi oleh Husein. Husein berkata pada Salam, “Aku tidak berani kesana. Daerahnya sangat angker. Biasanya orang yang pergi kesana pasti tidak bisa kembali pulang,”.

Ternyata wanita itu adalah Salmah. Terjadilah perkelahian antara Pendekar Nayan dengan Salam. Akhirnya Pendekar Nayan yang menculik Salmah kalah dan bertemulah Salam dengan Salmah.

Mereka pun menikah selama sepuluh tahun dan tidak mempunyai keturunan. Suatu hari keduanya terkena penyakit cacar. Pada tahun 1920 tepatnya pada hari Jumat pukul 05.00 pagi Salam meninggal, dan disusul oleh Salmah pada pukul 06.00 pagi. Sebelum meninggal Salam berpesan kepada Husein, temannya, “Kalau nanti aku meninggal tolong kuburkan aku berdekatan dengan kuburan istriku, dan tanamkan bunga tanjung di atas nisan kuburan kami berdua,”. Bunga tanjung yang ditanam adalah kisah perjalanan cinta Salam sebagai tanda antara Semenanjung Malaysia, Medan Labuhan dan Pulau Kampai.

“Hal itu kemudian diceritakan Husein kepada teman-temannya, dan cerita ini secara turun-temurun dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai sejarah terjadinya Pulau Kampai,” terang Abu Bakar.

Pantai Beraweh

Pantai Beraweh

Pantai Beraweh

Satu tempat lagi yang layak dikunjungi saat ke Pulau Kampai adalah Pantai Beraweh.Pantai yang sering disebut Pantai Pasir Putih ini adalah perbatasan Ujung Tamiang. Wilayahnya terentang sepanjang 5 kilometer. “Biasanya pada hari libur bisa mencapai 300 orang yang datang ke sini,” ujar Abu Bakar.

Pengunjung yang datang tidak hanya masyarakat sekitar. Ada yang berasal dari Pangkalansusu, Brandan dan kebanyakan masyarakat Aceh Timur. Untuk menuju tempat ini digunakan getek sebagai alat transportasi untuk menyeberang.

Sepoi angin laut di malam hari Pantai Beraweh benar-benar menggoda mata untuk melihat ke atas. Gemerlap bintang dengan sinarnya yang terang memberikan rasa tenang dalam hati. Menikmati alam semesta dengan hamparan deburan ombak Pantai Beraweh. Pada hari libur, pantai ini juga sering digunakan untuk acara anak sekolah seperti kegiatan kemah pramuka.

Foto-foto dulu lah...

Foto-foto dulu lah...

Malaysia Tourism Centre menjadi titik awal bagi kami (jurnalis), yang diundang dalam acara Colour of Malaysia 2009 saat akan menikmati indahnya pemandangan Kota Kuala Lumpur (KL). Bersama dengan empat jurnalis lokal dan PR Tourism Malaysia Medan, saya berkesampatan menaiki Hop-On Hop-Off atau lebih dikenal dengan Ho-Ho berkeliling di Kota KL.

Ya… untuk mengitari KL memang tidaklah terlalu sulit. Pemerintah di sini sudah menyiapkan fasilitas lengkap bagi para pelancong. Dengan membayar tiket 38 RM untuk wisatawan asing dan 19 RM untuk lokal, Anda sudah bisa sesuka hati naik turun bus bertingkat ini selama 24 jam.

Di dalam bus ini, Anda bisa menikmati keunikan, keindahan, kebersihan plus kemegahan kota KL. Dengan desainnya yang hanya beratapkan kaca, para penumpang bebas melihat jejeran gedung-gedung raksasa yang menghiasi sisi jalanan KL.

Mengandalkan konsep alam dan bangunan tradisional di sekililingnya, jalanan di sini memang sangat menakjubkan. Selain bersih, rindangnya pepohonan semakin menambah keindahan kota ini.

Setelah menunggu kurang lebih duapuluh menit, bersama dengan tour guide, Ahmad Azam, kami pun bergegas menaiki Ho-Ho. Bus pun selanjutnya meluncur mulus melewati jalanan mulus KL.

Menurut Azam, butuh waktu sekitar dua setengah jam untuk bisa berkeliling dengan Ho-Ho. Namun sayangnya, karena keterbatasan waktu, kami hanya bisa menikmati Ho-Ho sekitar satu jam. Sebagai seorang guide, Azam pun memberikan informasi tentang tempat-tempat yang dilewati oleh Ho-Ho.”Saat ini kita sedang melewati menara kembar Petronas, yang merupakan icon negara Malaysia,” ujar Azam ketika Ho-Ho berada persis di bawah menara kembar ini.

Dua Hal yang Harus Anda Perhatikan

Menjelajahi KL dengan Ho-Ho memang sangat mengasyikkan. Pemerintah setempat sepertinya sudah mendesain sedemikian rupa guna memberikan akses bagi pelancong yang datang untuk menikmati segala kelebihan kota ini. Meski begitu, Anda juga harus menaati peraturan-peraturan di KL, jika tidak ingin menyesal kemudian. So, apa saja yang harus Anda perhatikan saat jalan-jalan di KL.

Pertama, satu yang patut mendapat acungan jempol saat melewati jalanan di KL. Apa itu? Kebersihannya. Ya… jalanan di sini memang sangat bersih. Belum lagi dengan hadirnya pepohonan yang masih tetap dijaga keasriannya, semakin menambah sejuk Kota KL.

Kedua, satu hal lagi yang juga harus Anda perhatikan saat jalan-jalan menikmati jalanan di KL. Jangan sekali-kali membuang sampah dan merokok sembarangan. Karena jika Anda lakukan, dan Anda ketahuan, Anda harus bersiap merogoh kocek sebesar 300 RM atau setara 1 juta rupiah sebagai dendanya.”Merokok boleh saja, asal pada tempatnya,” seru Azam memberitahu.

Lewati Tempat Favorit di KL

Ho-Ho

Ho-Ho

Selama berada di atas Ho-Ho, kami diajak melihat beberapa tempat-tempat favorit di KL.Dari mulai kawasan Bukit Bintang. Sebuah bangunan yang memiliki tinggi sekitar 276 dari jalan raya. Di kawasan ini banyak lokasi wisata, seperti water park, lake garden park, shopping area, museum negara dan objek wisata lainnya.

Twins Tower atau menara kembar Petronas menjadi target selanjutnya. Dari dalam Ho-Ho kami dapat melihat salah bangunan tertinggi di dunia ini. Ketinggian menara Petronas sendiri mencapai 452 meter atau 1.483 kaki. Para pelancong diberi kesempatan selama sepuluh menit untuk mengabadikan dirinya di bawah menara Petronas.

Puas berfoto-foto ria di kawasan ini. Ho-Ho pun melanjutkan perjalanannya kembali. Kali ini tempat yang kami tuju adalah sebuah menara yang bercorak Islami. Menara yang dirancang oleh Cesar Pelli ini memiliki 88 lantai. Kemudian melewati Istana Trengganu, salah satu bangunan megah yang berarsitektur unik dan modern.

Kompleks Kraft, salah satu kawasan yang dijadikan sebagai pusat kerajinan di KL juga tak luput dari Ho-Ho. Kemudian Ho-Ho melaju di Jalan Petailing, atau lebih akrab di kenal dengan sebutan China Town dan Chow Kit. Kawasan ini merupakan area favorit untuk Anda yang suka belanja. Beragam barang-barang murah dapat Anda dapatkan di sini. Dari mulai baju, tas, sepatu, arloji dan juga pernak-pernik aksesori lainnya.

Sebelum menuntaskan perjalanan dengan Ho-Ho, kami sempatkan untuk melewati salah satu tempat wajib bagi pelancong yang datang ke KL. Ya… selain menara kembar Petronas, tempat satu ini merupakan tempat yang selalu menjadi idaman bagi pelancong untuk berfoto-foto. Apalagi lagi kalau bukan Istana Negara.

Dalam setiap perjalanan, Ho-Ho selalu memberikan kesempatan bagi pelancong selama beberapa menit untuk mengabadikan diri dengan berfoto-foto. Seolah tak ingin menghilangkan kesempatan, kami pun memutuskan berhenti sejenak untuk berfoto-foto.

Meski hanya dari luar pagar istana, para pelancong dibebaskan untuk memotret setiap sisi dari istana tersebut. Termasuk berfoto bareng dengan para penjaga istana yang berdiri tegak di pos jaga. Pengunjung di sini juga tak perlu khawatir jika harus berdesakan, tim dari kepolisian bersenjata lengkap siap menjadi pengaman plus disertai oleh tim medis.

Setelah satu jam mengikuti perjalanan Ho-Ho, kami pun bergerak kembali menuju pusat kota. Melewati jalan tol dengan gedung-gedung pencakar langit sebagai penghiasnya. Tak ketinggalan juga melewati monorail serta fly over hingga akhirnya kembali di Hotel Sheraton, hotel tempat kami menginap selama di KL.

Colmar Tropical

Colmar Tropical

Terik matahari membayangi langkah kaki saat memasuki area keberangkatan luar negeri Bandara Polonia Medan pada Jumat sore (20/3) lalu. Bersama rombongan dari empat media cetak lokal Medan, kami mendapat undangan selama empat hari untuk mengikuti acara Colours Of Malaysia dari Tourism Malaysia Medan di Kuala Lumpur.

Raungan Pesawat Malaysia Airlines bersiap-siap mengepakkan sayapnya terbang membawa kami ke angkasa. Hanya butuh waktu sekitar 45 menit dari Medan ke Malaysia. Sekitar jam 5 sore waktu setempat, kami akhirnya sampai di Bandara Kuala Lumpur.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Legend Hotel untuk mengikuti acara konferensi pers bersama Y.B Dato’ Sri Azalina Dato’ Othman Said, Minister of Tourism Malaysia serta makan malam.Selesai mengikuti acara bersama dengan 300 jurnalis dari 38 negara, kami pun menuju Hotel Sheraton, tempat menginap selama di Malaysia

Menikmati Jalanan Kuala Lumpur dengan Hop-On Hop-Off

Pada hari kedua, Malaysia Tourism Centre menjadi titik awal menikmati indahnya pemandangan Kota Kuala Lumpur. Menggunakan Hop-On Hop-Off atau bus bertingkat dua, pengunjung diajak menikmati jalanan kota yang tertata rapi dan bersih.

Mengandalkan konsep alam dan bangunan tradisional di sekililingnya, jalanan di sini memang sangat menakjubkan. Selain bersih, rindangnya pepohonan semakin menambah keindahan kota ini.

Menurut Cik Azam, pemandu rombongan kami selama di Malaysia. Untuk menikmati perjalanan dengan Hop-On Hop-Off para wisawatan lokal hanya dikenakan biaya 19 ringgit, sementara untuk wisatawan asing 38 ringgit. Memakan waktu sekitar dua jam, Hop-On Hop-Off sudah membawa kita melewati menara kembar Petronas, istana Trengganu, kompleks Kraft, Jalan T Ramli yang menjadi icon entertainment dan tentunya area shopping.

“Dengan mengunakan Hop-On Hop-Off ini kita bisa berkeliling sampai dua jam. Hop-On Hop-Off sudah membawa kita melewati jalanan Kuala Lumpur,” ungkap Cik Azam.

Pesta Kembang Api Buka Colours Of Malaysia

Berkumpul dengan 300 Jurnalis dari Seluruh Dunia

Berkumpul dengan 300 Jurnalis dari Seluruh Dunia

Puas menikmati perjalanan Hop-On Hop-Off. Dataran Merdeka menjadi tujuan kami selanjutnya. Tempat yang dijadikan titik nol negara Malaysia ini akan menjadi inti kegiatan pembukaan acara Colours of Malaysia.

Antusiasme masyarakat lokal menyambut acara ini memang sangat luarbiasa. Ribuan masyarakat plus undangan serta 300 jurnalis dari 38 negara berkumpul menyaksikan acara yang dihadiri oleh Ketua Setiausaha Kementeriaan Pelancongan Malaysia, Y.B Timbalan Menteri Pelacongan Malaysia, Y.B Menteri Pelancongan Malaysia, Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong XIII Al-Wathiqu Billah Tuanku Mizan Zainal Abidin Almarhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah dan Seri Paduka Baginda Raja Permaisuri Agong Tuanku Nur Zahirah.

Berbagai pertunjukan budaya tradisional dari berbagai daerah di Malaysia mewarnai acara ini. Dan puncaknya, dentuman kembang api yang menggelegar ke udara dengan kilauan warna menyambut “Malaysia Welcomes The World.”

Dari Prancis Hingga Jepang

Udara sejuk dengan pemandangan hijau menemani perjalanan kami di hari ketiga. Tujuannya adalah Bukit Tinggi, tepatnya di Colmar Tropicale, French-Themed Resort Berjaya Hills, Pahang Malaysia. Butuh waktu sekitar 1,5 jam dari Kuala Lumpur menuju wisata ini.

Bangunan tinggi nan megah berarsitektur Prancis langsung menyergap langkah kami. Desain bangunan abad ke-16 ini mengingatkan kita akan keajaiban yang memikat dengan arsitektur warna-warni khas Prancis. Jembatan besar menjadi penghubung bangunan dengan pelataran. Deretan kafe-kafe semakin menambah suasana Prancis sangat kental.

Macem di Kampung-ku

Macem di Kampung-ku

Colmar Tropicale terletak di Negara Bagian Pahang, Malaysia. Memasuki kawasan ini seperti berada di Prancis. Pemandangan bukit nan hijau menjadi pelengkap yang menakjubkan. Berada di 2.600 kaki di atas permukaan laut, tempat ini memiliki hawa sejuk. So, jika ingin ke Prancis jauh, tempat ini dapat menjadi alternatif.

Nuansa Prancis nan syahdu benar-benar memberikan kesan romantis bagi para pengunjung yang datang. Cocok bagi pengunjung yang sedang merayakan bulan madu. Corak cinta-kasih dengan keheningan dan kesunyiaannya memberikan rasa syahdu dalam hati.

“Colmar Tropicale sangat sesuai dijadikan sebagai tempat untuk berbulan madu bagi pasangan yang baru menikah. Kawasan ini memberikan nuansa yang romantis bagi para pengunjung,” ungkap Chepailing, Humas Colmar Tropicale kepada Global.

Chepailing menambahkan, Fun & Recreation Colmar Tropicale merupakan daerah tujuan liburan yang menawarkan berbagai jenis aktivitas rekreasi. Di antaranya adalah lapangan golf dengan 18 lubang berstandar internasional, Tatami Spa, Taman Kelinci, Keledai, Kuda, Paintball, Kolam Renang, Aerobik, permainan anak-anak, Karaoke, Bowling, Tennis, Squash and Badminton serta live musik dan tari-tarian.

Tak hanya miniatur negara Prancis saja yang menghiasi kawasan Bukit Tinggi, yang juga bersebelahan dengan objek wisata Genting ini. Nuansa Jepang juga menjadi andalan di sini. Japanese Village The Japanese Village di Berjaya Hills merupakan miniatur pertama di luar Jepang yang terletak di lingkungan ini.

Berada di atas ketinggian 3.500 kaki di atas permukaan laut dan di antara 150-juta tumbuhan tropis hutan hujan. Kawasan ini menyuguhkan keheningan dan ketenangan pengunjungnya. Kicauan burung dan kesegaran alam menambah warna di hutan ini.

Beragam kebudayaan Jepang dapat ditemukan di tempat ini. Jalan setapak dengan pohon-pohon tinggi di kanan-kirinya, memberi sensasi ketenangan jiwa yang dalam.Melewati jalan setapak ini, kita bisa melihat dan singgah di Rumah Teh Jepang,Ryo Zan Tei Japanese Restaurant, Kebun Raya, Tatami Spa dan Ume Tatami Suite serta Toko Cenderamata Jepang.

Selain itu, rencananya pihak pengelola di Bukit Tinggi juga akan melengkapinya dengan beberapa miniatur negara-negara lain di dunia.”Saat ini yang sudah kita rencanakan adalah miniatur negara Vatikan (Italia), Jerman dan juga Spanyol. Semuanya berada di kawasan Bukit Tinggi ini,” Jelas Chepailing.

Rasa lelah dan capek menjelajah ‘negara’ Prancis dan Jepang di Bukit Tinggi telah memberikan pengalaman dan sensasi yang mengasyikkan. Keromantisan, nuansa cinta, keheningan dan keramahtamahan menjadi bagian yang tak terlupakan dalam perjalanan ini. Sebelum kembali ke Medan, ku pandang jauh-jauh bukit pegunungan di atas Colmar Tropicale, berharap suatu saat kaki ini bisa kembali kesini.

Dataran "Bisu"

Dataran "Bisu"

Pakistan dengan yakinnya pernah berujar “Karakorum Highway dan Khunjerab Pass adalah keajaiban dunia a dan China ini, dibangun oleh keringat dan darah oleh para pekerja. Saat diselesaikan pada tahun 1979, dipukul rata 1 km untuk satu nyawa. Pekerja jalan tewas karena terkuras tenaga stamina menembus lembah-lembah pegunungan Himalaya yang ketinggiannya mencapai 5000 mdpl (mulai dari permukaan laut)

Karakorum Highway biasa juga disebut dengan nama jalan persahabatan. Arti persahabatan ini terealisasi dalam hubungan antara Pakistan dan China yang cukup erat (meski kadang konflik terjadi). Panjang jalan itu mencapai 1224 km. Bagian jalan yang masuk wilayah Pakistan sepanjang 809 km dan yang masuk wilayah China sekitar 415 km. Nah, titik nol dari panjang jalan itulah letak perbatasan kedua negara yang disebut Khunjerab Pass (perbatasan Khunjerab)

Jalan raya Karakorum berawal dari Kota Islamabad terus melintas Kota Sust, melewati Khunjerab Pass, Tashgergan, daerah otonomi khusus Xin Jiang dan berakhir di Kashgar. Jika diteruskan akan berakhir diwilayah Kyrgyzstan. Namun tidak termasuk dalam ruas jalan Karakorum. Jika menggunakan bus penumpang dari Kashgar menuju Pakistan, bisa ditempuh dalam jangka waktu 2 hari.

Letaknya yang berada diatas pegunungan membuat Karakorum dianggap sebagai salah satu jalan raya terindah di dunia. Puncak-puncak menjulang tinggi tertutup lapisan putih salju memonopoli landscape sepanjang perjalanan. Tak ubahnya seperti Berkendaraan diatas awan. Anda akan dibuat terpesona sekaligus tercekam karena melihat kedalaman jurang di sebelah kanan dan kiri jalan. Apalagi jika melintasinya sambil mendengarkan kisah tentang banyaknya korban jiwa yang jatuh untuk pembuatan jalan itu.

Di lereng pegunungan sepanjang jalan yang diresmikan pada tahun 1986 ini, sering dilihat jalan setapak melipir diantara kemiringan tebing yang menggetarkan hati. Jika diperhatikan dengan seksama, jalan-jalan ini seolah dibuat dengan pahatan atau karya seorang pemahat.

Jalur inilah yang dikenal dengan jalan sutera atau Silk Road. Menurut kisah, Sun Gokong dan gurunya Sam Chong (Tang Sanzang) menggunakan jalan ini untuk melakukan perjalanan merengkuh kesucian ke India sekitar 1400 tahun yang lalu. Sungguh tak terbayang kemampuan orang di masa lalu memahat jalur sutera ini yang lebarnya hanya seekor Keledai saja.

Jika beruntung, di sepanjang jalan Anda mungkin dapat berpapasan dengan binatang-binatang

Jalan tak berujung

Jalan tak berujung

khas dataran tinggi Himalaya seperti kambing Gunung, lembu atau kerbau berambut, macan salju, dan beragam binatang lainnya. Namun Anda pun harus berhati-hati dengan suhu tubuh Anda. Ketinggian dan cuaca yang luar biasa dingin dapat membuat suhu tubuh meningkat secara drastis mencapai lebih dari 40 derajat. Akibatnya pusingpun menyerang dan pendarahan akan terjadi pada bagian hidung. Untuk itu, persediaan baju hangat harus dipersiapkan sebelumnya.

Khunjerab Pass yang merupakan titik perbatasan kedua negara tersebut berupa suatu tempat di mana masing-masing negara (China-Pakistan) mendirikan pos penjagaan. Ditempat itu terdapat sebuah pilar batu yang memiliki 2 sisi. Yang satu menghadap ke China sedangkan yang satu lagi menghadap ke Pakistan.

Pada satu sisi tertulis ”Pakistan” serta tulisan arabjuga lambang negara, sedangkan di sisi lain bertuliskan dalam bahasa China berbunyi Zhong Guo yang artinya China. Pilar inilah titik awal dari kilometer Karakorum Highway.

Pintu perbatasan ini selalu ramai dikunjungi turis mancanegara yang ingin merasakan sensasi berada di perbatasan yang tertinggi didunia. Pada bulan Oktober (musim dingin), pintu perbatasan ditutup untuk turis. Yang boleh melintas hanyalah truk-truk pengangkut barang antara kedua negara. Jika turis sudah terlanjur datang karena tidak tahu tentang aturan itu, mereka diwajibkan menghentikan mobil sejauh kurang lebih 1 km dari perbatasan dan selanjutnya berjalan kaki untuk tiba di perbatasan Khunjerab.

Lembah Sust

Namanya juga daerah terpencil. Sepanjang jalan raya Karakorum terdapat komunitas penduduk asli yang cukup unik misalnya Nothern Areas. Daerah ini adalah wilayah utara Pakistan yang langsung berbatasan dengan China. Daerah paling utara di Pakistan ini adalah titik tertinggi dari Karakorum Highway. Di sini gunung-gunung salju menjulang tinggi menyentuh langit. Di daerah ini terdapat Lembah Sust yang merupakan pemukiman terdekat dengan perbatasan.

Penduduk Asli

Penduduk Asli

Masyarakat di lembah ini cukup bersahabat. Berkenalan dan menginap dirumah salah seorang penduduk akan membawa Anda menemukan sisi lain dari Sust. Tempat ini bukan hanya sebuah perbatasan tempat kendaraan melintas, tetapi juga menyajikan keindahan lembah layaknya sebuah permata yang bersembunyi dibalik lekukan Himalaya. Lucunya, buku-buku panduan wisata yang tersedia hanya menyebutkan pemukiman dekat perbatasan yang tidak memiliki keistimewaaan.

Penduduk Sust seperti umumnya penduduk yang tinggal di sepanjang Karakorum Highway, adalah pemeluk agama Islam aliran Ismaili yang berbeda dengan mayoritas penduduk Pakistan. Aliran Ismaili adalah pecahan dari Islam Shihah yang cukup moderat.

Di tempat ini jarang ditemukan perempuan yang berbalut cadar. Wanita di sini memiliki hak yang sama dengan pria. Khususnya hak dalam mengenyam pendidikan.

Tidak ada mesjid untuk tempat sembayang. Penduduk menganggap sholat adalah suatu hubungan pribadi antara tuhan dan manusia. Posisi mesjid digantikan dengan sebuah balai komunal yang disebut Jamaat Khana. Aga Khan, pimpinan spiritual sekte Ismaili, adalah pujaan semua orang yang tinggal di lembah-lembah Himalaya Pakistan Utara.

Sepanjang jalan Karakorum Highway, barisan gunung-gunung seakan menyanyikan senandung bisu. Sebuah lagu indah yang tak terdengar oleh telinga, namun mengetuk relung-relung hati. Tentang negeri diatas awan yang yang dikarunia mukjizat istimewa. Tempat yang damai dan tentram. Surga bagi semua orang yang ingin kembali pada kekuasaan alam. Semuanya ada disana, di Karakorum Higway. Jalan perbatasan dua negara yang tertinggi di dunia. ( Sumber:Harian Global)

Tulisan Sebelumnya »

Kategori