Che sewaktu masih muda

Che sewaktu masih muda

Wajahnya pasti sudah tak  asing lagi bagi Anda. Hampir semua anak muda di dunia termasuk Indonesia, pernah menggunakan kaos bergambar dirinya. Sejak kematiannya Ernesto “Che” Guevara telah menjadi ikon dan figur dengan citra sangat terkenal di dunia. Gambar Che terpampang di mana-mana. Poster, buku, topi, pin, kotak rokok, sampul kaset, dan yang paling banyak, T-shirt. Tapi kenyataannya, banyak orang yang memakai kaos bergambar Che tidak mengetahui siapa sebenarnya Che Guevara. Ada yang mengatakan ia seorang pahlawan amerika latin, ada yang mengatakan ia sahabat dari Fidel Castro-tokoh karismatik Kuba , malah ada yang mengira  dia itu artis. Mungkin coretan ringkas  ini dapat membantu Anda untuk mengenal sosok Che dan mengapa ia begitu melegenda.

Menilik dari perannya yang fenomenal bagi revolusi Kuba, orang tentu akan beranggapan ia adalah asli orang Kuba. Pendapat itu salah..! Lelaki yang mempunyai nama asli Ernesto Guevara Lynch de La Serna adalah orang Argentina. Sedangkan julukan Che berasal dari bahasa Italia yang berarti teman dekat atau sahabat. Arnesto dilahirkan di Rosario, Argentina, dari keluarga berdarah campuran Irlandia, Basque dan Spanyol. Tanggal lahir yang ditulis pada akta kelahirannya yakni 14 Juni 1928, namun yang sebenarnya adalah 14 Mei 1928.

Pada usianya yang begitu muda, Che Guevara telah menjadi seorang pembaca yang lahap. Ia rajin membaca literatur tentang Karl Marx, Engels dan Sigmund Freud yang ada di perpustakaan ayahnya. Memasuki sekolah menegah pertama (1941) di Colegio Nacional Deán Funes (Córdoba). Di sekolah ini dia menjadi yang terbaik di bidang sastra dan olahraga. Di rumahnya, Che Guevara tergerak hatinya oleh para pengungsi perang saudara Spanyol, juga oleh rentetan krisis politik yang parah di Argentina.

Berbagai peristiwa tertanam kuat dalam diri Guevara, ia melihat sebuah penghinaan dalam pantomim yang dilakonkan di Parlemen dengan demokrasinya. Maka muncul pulalah kebenciannya akan politisi militer beserta kaum kapitalis dan terutama kepada dolar Amerika Serikat ,yang dianggap sebagai lambang kapitalisme. Meski demikian dia sama sekali tidak ikut dalam gerakan pelajar revolusioner. Ia hanya menunjukkan sedikit minat dalam bidang politik di Universitas Buenos Aires, (1947), tempat ia belajar ilmu kedokteran.

Motorcycle Diaries

The Revolutioner

The Revolutioner

Pada tahun 1949 dan 1951 ia melakukan perjalanan panjangnya dengan seorang teman menjelajahi amerika latin hanya dengan bersepeda motor. Itulah untuk pertama kalinya ia bersentuhan langsung dengan orang miskin dan sisa suku Indian. Ia mengunjungi Amerika Selatan, Chili di mana dia bertemu Salvador Allende, dan di Peru ia bekerja sama selama beberapa minggu di Leprasorium (rehabilitasi penderita kusta) San Pablo. Che Guevara mengisahkan perjalanannya dalam buku harian yang kemudian diterbitkan dalam sebuah buku dengan judul Buku Harian Sepeda Motor (The Motorcycle Diaries), yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan kemudian difilmkan dengan judul yang sama (2004).

Perjalanan Ernesto dengan sepeda motornya, sedikit banyak memberikan perubahan besar dalam dirinya sehingga ketika ia kembali ke daerah asalnya ia berkeyakinan bulat ia harus merubah dunia meskipun itu artinya perang. Kemudian Ia melanjutkan perjalanan ke Guatemala dan mencukupi kebutuhan hidupnya dengan menulis artikel arkeologi tentang reruntuhan Indian Maya dan Inca.

Guatemala saat itu diperintah oleh Presiden Jacobo Arbenz Guzman yang seorang sosialis. Meskipun Che telah menjadi penganut paham marxisme dan ahli sosial Lenin ia tak mau bergabung dalam Partai Komunis. Hal ini mengakibatkan hilangnya kesempatan baginya untuk menjadi tenaga medis pemerintah, oleh karena itu ia menjadi miskin. Ia tinggal bersama Hilda Gadea, penganut paham Marxis keturunan Indian lulusan pendidikan politik. Orang inilah yang memperkenalkannya kepada Nico Lopez, salah satu Letnan Fidel Castro. Guevara kagum pada Raúl Castro dan Fidel Castro juga para emigran politik dan ia menyadari bahwa Fidel-lah pemimpin yang ia cari.

Bergabung dengan Fidel Castro

Che dan Fidel

Che dan Fidel

Arnesto bergabung dengan pengikut Castro di rumah-rumah petani tempat para pejuang revolusi Kuba dilatih perang gerilya secara keras dan profesional oleh kapten tentara Republik Spanyol Alberto Bayo, seorang pengarang “Ciento cincuenta preguntas a un guerilleo” (Seratus lima puluh pertanyaan kepada seorang gerilyawan) di Havana, tahun 1959. Bayo tidak hanya mengajarkan pengalaman pribadinya tetapi juga ajaran Mao Ze Dong dan Che menjadi murid kesayangannya.

Pada bulan Juni 1956 ketika mereka menyerbu Kuba, Che pergi bersama mereka, pada awalnya sebagai dokter namun kemudian sebagai komandan tentara revolusioner Barbutos. Ia yang paling agresif dan pandai dan paling berhasil dari semua pemimpin gerilya dan yang paling bersungguh-sungguh memberikan ajaran Mao Ze Dong  kepada anak buahnya. Ia juga seorang yang berdisiplin kejam yang tidak sungkan-sungkan menembak orang yang melakukan kesalahan. Di sinilah ia mendapatkan reputasi atas kekejamannya yang berdarah dingin.

Pada saat revolusi dimenangkan, Guevara merupakan orang kedua setelah Fidel Castro dalam pemerintahan baru Kuba dan dianggap yang bertanggung jawab menggiring Castro ke dalam komunisme yang menuju komunisme merdeka bukan komunisme ortodoks ala Moskwa yang dianut beberapa teman kuliahnya. Che mengorganisasi dan memimpin “Instituto Nacional de la forma Agraria”, yang menyusun hukum agraria yang isinya menyita tanah-tanah milik kaum feodal (tuan tanah) dan menggusur orang orang komunis dari pos-pos strategis. Dia mengantarkan perekonomian Kuba begitu cepat ke komunisme total, menggandakan panen dan mendiversifikasikan produksi yang ia hancurkan secara temporer.

Pada tahun 1959, Guevara menikahi Aledia March, kemudian berdua mengunjungi Mesir, India, Jepang, Indonesia yang juga hadir pada Konfrensi Asia Afrika, Pakistan dan Yugoslavia. Sekembalinya ke Kuba ia diangkat sebagai Menteri Perindustrian, menandatangani pakta perdagangan (Februari 1960) dengan Uni Soviet yang melepaskan industri gula Kuba pada ketergantungan pasar Amerika.

Penentangan resminya terhadap komunis Uni Soviet mulai tampak ketika dalam organisasi Solidaritas Asia Afrika di Aljazair (Februari 1965) menuduh Uni Soviet sebagai kaki tangan imperialisme dengan berdagang tak hanya dengan negara-negara blok komunis dan memberikan bantuan pada negara berkembang sosialis atas pertimbangan pengembaliannya. Guevara mengadakan konferensi Tiga Benua untuk merealisasikan program revolusioner, pemberontakan, kerjasama gerilya dari Afrika, Asia dan Amerika Selatan. Ia ingin merubah dunia..!

Kematian Che

Che Guevara sebelum dan sesudah eksekusi

Che Guevara sebelum dan sesudah eksekusi

Sikap Che yang tidak kenal kompromi pada dua negara kapitalis mendorong negara komunis untuk memaksa Castro memberhentikan Che (1965) bukan secara resmi tetapi secara nyata. Ia kemudian berada di berbagai Negara Afrika terutama Kongo di mana dia mengadakan survei akan kemungkinan mengubah pemberontakan Kinshasa menjadi sebuah revolusi komunis dengan taktik gerilya Kuba. Mereka sia-sia saja melawan kekejaman Belgia dan Che meminta Castro untuk menarik mundur saja bantuan Kuba.

Petualangan revolusioner terakhir Che adalah di Bolivia, karena ia salah memperkirakan potensi negara itu yang mengakibatkan konsekuensi yang buruk. Tertangkapnya Che oleh tentara Bolivia pada 8 Oktober 1967 adalah akhir dari segala usahanya dan hukuman tembak dijatuhkan sehari setelah itu. Pada tanggal 12 Juli 1997 jenazahnya dikuburkan kembali dengan upacara kemiliteran di Santa Clara, di provinsi Las Villas, di mana Guevara mengalami kemenangan dalam pertempuran ketika revolusi Kuba.

Che menjadi legenda. Ia dikenang karena keganasannya, penampilannya yang romantis, gayanya yang menarik, sikapnya yang tak kenal kompromi dan penolakan atas penghormatan berlebihan atas semua reformasi murni dan pengabdiannya untuk kekejaman dan sikapnya yang flamboyan. Ia juga idola para pejuang revolusi dan bahkan kaum muda generasi tahun 1960-1970 atas tindakan revolusi yang berani yang tampak oleh jutaan orang muda sebagai satu-satunya harapan dalam perombakan lingkup borjuis kapitalisme, industri dan komunisme.

Berbagai tokoh sastra, musik dan seni telah mempersembahkan komposisinya kepada Che Guevara. Penyair Chili Pablo Neruda mempersembahkan kepadanya puisi Tristeza en la muerte de un héroe (Kesedihan karena kematian seorang pahlawan) dalam karyanya pada tahun 1969. Pengarang Uruguay, Mario Benedetti menerbitkan (1967) serangkaian puisi yang dipersembahkan kepadanya dengan judul “Pada tingkat impian”.

Penyanyi Carlos Puebla mempersembahkan sebuah lagu Hasta siempre comandante Che Guevara (Untuk selamanya komandan Che Guevara) dan sebagainya. Saat ini, film yang menceritakan tentang kehidupan Che di produksi untuk kesekian kalinya dan dibintangi actor peraih oscar Benechio Del Toro. Meskipun ia telah tiada, Che telah memberitahukan dunia isi kepalanya.(Sumber:Harian Global)

Iklan
Oleh: triy | Juni 9, 2009

Dracula : Legenda Pangeran Pengisap Darah

Pangeran Vampir

Pangeran Vampir

Mendengar nama Dracula, sontak yang terlintas di benak kita sosok vampir yang selalu haus akan darah manusia. Gambaran itu telah merasuk dalam pikiran kita sejak era Bram Stroker dengan novelnya yang berjudul Dracula (1897). Novel legendaris yang mengadopsi kisah nyata seorang pangeran Wallachia (Rumania) bernama Vlad Tapes “Dracula” yang bertarung melawan serbuan kesultanan Ottonam atas wilayahnya (menjelang periode akhir Perang Salib). Inilah kisahnya…

Vlad Tapes “Dracula” (1431-1476) adalah putra dari Vlad II (Vlad Dracul) yang diangkat menjadi anggota Orde Naga oleh Kaisar Romawi. Vlad Dracul adalah orang yang gigih melawan serbuan kesultanan Ottonam atas wilayahnya. Sementara Vlad Tapes Dracula sebaliknya menjadi sosok yang dibenci baik oleh musuhnya maupun oleh rakyatnya sendiri karena kekejamannya. Dracula dilahirkan di Transylvania, Rumania atau dikenal dengan Wallachia Nama Dracula sendiri berarti anak laki-laki Dracul -anak laki-laki naga- (Drac = naga. ull=anak), nama ini merupakan gelar yang diperolehnya karena keanggotaan ayahnya di Orde Naga.

Masa kecil Dracula memang tidak berlangsung lama, diusianya yang ke 11 ia harus menjadi jaminan kesetian ayahnya kepada kesultanan Turki ottoman, ia dan adiknya Randu harus dikirim ke Turki. Setelah perang Verna, terjadi konflik antara Vlad II dan John Hunyadi ( pengganti Sigismund, Raja dari kerajaan Hungaria ) dalam memperebutkan Wallachia, yang berujung pada kematian Vlad II dan Mircea, kakak Dracula. Melihat perubahan politik di Wallachia tersebut, maka sultan Turki ottoman Mehmed II mengirimkan Dracula pulang ke wallachia untuk merebut tahta.

Dracula kembali ke Wallacia dengan di kawal 8000 prajurit Turki ottoman. sesampainya di Tirgoviste ( ibu kota wallachia ) terjadi pertempuran antara pasukan Vlasdisav dengan pasukan Dracula, yang akhirnya di menangkan oleh pasukan Dracula dan menempatkan Dracula sebagai penguasa Wallachia. Setelah berhasil menduduki tahta, Dracula berbalik membantai prajurit Turki ottoman yang tersisa

Selain itu Vlad Tepes juga memiliki sebutan yang menyeramkan Vlad The Impaler  (Vlad si Penyula). Di sebut Penyula karena konon Vlad dikenal sebagai tokoh  yang senang melakukan kekejaman terhadap orang-orang yang tak disukainya. Salah  satu metode penyiksaan yang disukainya adalah dengan menyula (menusuk dari  pantat hingga kepala) hidup-hidup musuh-musuhnya. Diperkirakan ia telah membunuh 40.000 hingga 100.000 orang dengan cara-cara yang kejam.

Keganasan Vlad Tepes yang luarbiasa akhirnya berakhir ketika ia tewas dalam sebuah penyerbuan orang-orang Turki di sebuah kota dekat Buchares. Kepalanya dipisahkan dari  tubuhnya dan dibawa ke Konstantinopel sebagai persembahan kepada Sultan Turki.  Tubuh tanpa kepalanya dikuburkan di Snagov sebuah pulau di Bucharest. Dari sinilah legenda vampire (mahluk penghisap darah) mulai hidup. Konon Vlad Tepes tidak benar-benar mati, ia menjadi mayat hidup, menjadi vampir dan menyebarkan wabah vampir kepada orang-orang yang digigitnya. Kisah ini menjadi legenda. Diceritakan dari generasi ke generasi di kalangan penduduk Balkan yang masih percaya pada takhyul.

Legenda rakyat Balkan itulah yang akhirnya di adopsi oleh Bram Stroker dalam bentuk novel yang berjudul Dracula di tahun 1897. Walau dalam novelnya tak menyebutkan nama Vlad Tepes, namun latar belakang kisah hidup Dracula dalam novelnya mengindikasikan bahwa Vlad Tepes-lah yang diadopsi oleh Stroker untuk menjadi tokoh utama dalam karyanya.

Selain Stroker, buku-buku tentang Dracula terus ditulis orang, mungkin angkanya telah mencapai ribuan buku. Apalagi setelah Hollywod mengkomersilkan lagenda vampir dengan film-filmnya. Konon, hampir 300 film pernah dibuat
berkaitan dengan vampir dan Dracula.

The Historian

Penulis Legendaris Bram Stoker

Penulis Legendaris Bram Stoker

Selain Bram Stroker adapula Elizabeth Kostova yang melakukan riset sejarah mengenai Dracula, dan menuangkan hasil risetnya kedalam sebuah novel sejarah yang dikemas dalam horor-suspense yang memikat, yang diberi judul The Historian (Sang Sejarahwan). Berbeda dengan Darculla-Bram Stoker, Kostova lebih memberikan nuansa sejarah pada novelnya ini, sehingga pembaca tak hanya disuguhkan oleh ketegangan dan kengerian semata, melainkan pembaca juga diajak menyelusuri siapa sebenarnya dibalik sosok Dracula berdasarkan fakta sejarah yang diperoleh Kostova dari risetnya selama 10 tahun.

The Historian ditulis oleh Elizebeth Kostova dengan gaya yang indah dan  Memikat dan menyajikan nuansa yang berbeda. Walau yang menjadi tema utama adalah pencarian sosok Drakula yang menyeramkan, namun tak ada
ketakutan yang berlebihan pada novel ini. Ketegangan dan kemisteriusan menyelimuti seluruh halaman novel ini, dimulai dari ditemukannya buku kosong bergambar naga, kisah kekejaman Vlad Tepes ketika mengeksekusi musuh-musuhnya, vampir yang membuntuti dan menyerang dengan tiba-tiba, hingga sosok drakula dan aktivitasnya yang unik dan tak terduga akan ditemui dalam novel ini.

Selain itu aroma sejarah juga tercium dengan tajam pada novel ini. Dengan  deskripsi sejarah yang diurai secara kronologis dan menarik sehingga tak membosankan, Kostova mengajak pembacanya bertamasya ke abad 15 dimana Dracula pernah hidup dan berjuang melawan serangan tentara Turki dibawah pemerintahan Sultan Mehemd II. Pembaca juga akan diajak berkelana ke tempat-tempat eksotis seperti Oxford, Istanbul, Rumania, Bulgaria, untuk menelusuri buku-buku kuno, mansukrip-manuskrip bersejarah, kisah para santo, puisi kuno, legenda dan
lagu-lagu rakyat yang berkaitan dengan Drakula.

Tengkorak Vampir

Fosil Tengkorak Vampir

Fosil Tengkorak Vampir

Lalu apakah benar setelah kematiannya Vlad Tapes “Dracula” berubah wujud menjadi mahluk penghisap darah..? entahlah. Tetapi paling tidak sebuah peristiwa yang menggemparkan pernah terjadi dan seolah mendukung keberadaan Vlad sebagai mahluk penghisap darah.. Sebuah cerita menjelaskan, Di Venesia (Italia) pada tahun 1576 terjadi satu wabah mematikan yang membuat banyak orang panik. Jutaan orang telah bergelimpangan. Tidak ada satupun orang yang mengetahui apa yang menjadi penyebab wabah mematikan ini. Penjelasan bersifat ”ilmiah” mungkin lebih tepatnya religius pun beredar: bahwa vampir penghisap darah telah menyebarkan wabah epidemi ini.

Dalam literatur terkait peristiwa abad abad ke-16 itu, tepatnya seiring dengan persebaran wabah epidemi tersebut, ada banyak pemakaman massal yang digali untuk mengubur jutaan orang mati yang diduga akibat wabah penyakit yang diduga disebabkan oleh vampir. Karena minimnya lokasi pemakaman, warga kota pun memanfaatkan makam yang sama untuk mengubur jenazah baru secara massal.

Entah benar atau tidak, tetapi baru-baru ini Matteo Borrini, seorang arkeolog dari Universitas Florence di Italia menemukan kerangka seorang perempuan dengan batu bata kecil tersumbat di mulutnya saat menggali sebuah kuburan massal korban wabah penyakit semasa abad pertengahan di Lazzaretto Nuovo Island Venesia.

Borrini menyampaikan temuannya ini dalam sebuah pertemuan America Academy of Forensic Science di Denver Colorado beberapa waktu lalu (Newscientist,9-3-2009). Ia juga mengklaim bahwa temuannya telah diuji secara forensik. Dan ia mempercayai tengkorak  itu mempunyai hubungan dengan penyebaran wabah pada tahun 1576. “Di masa itu, para penggali kubur menyumbat mulut  para vampir dengan batu bata untuk mencegah mereka bisa bangkit dan menghisap darah manusia lagi,”jelas Borrini.

Namun pernyataan Borrini bahwa tengkorak itu adalah bukti pertama di bantah oleh Peer Moore-Jansen dari Universitas Wichita State di Kansas. Peer menyebutkan ia pernah menemukan tengkorak dengan kondisi yang sama dengan temuan Borrini. “ Itu memang cukup menarik, namun apa yang di klaim Borrini sebagai tengkorak vampir pertama adalah lelucon,”kata Peer Moore-Jansen. Borrini sendiri mengatakan, perincian studinya terkait keberadaan kuburan massal ini adalah menunjukkan bukti keberadaan vampire/Dracula. “Tengkorak itu menunjukkan bukti exorcisme (ritual pengusiran setan) vampir secara arkeolog” tutur Borrini.

Jika penuturan Matteo Borrini benar adanya, berarti tengkorak wanita penghisap darah itu adalah salah satu korban wabah vampire yang ditularkan oleh sang pangeran Vlad Tapes Dracula yang melanglang buana hingga ke Italia. Hiii…..

Kastil Dracula
Awal Februari 2007 , situs resmi The Associated Press dalam sebuah kolom beritanya mengabarkan bahwa Puri Bran yang diyakini sebagai tempat kediaman Dracula, dijual seharga 78 juta dolar oleh pewarisnya kepada pemerintah Rumania. Langkah tersebut diambil demi pelestarian tempat legendaris di Transylvania tersebut. Kabarnya lebih dari
400 ribu orang mengunjungi puri itu setiap tahunnya, terutama karena dikaitkan dengan Vlad the Impaler atau Pangeran Dracula.

Vlad bukanlah pemilik puri itu, namun diyakini telah menggunakan tempat itu selama kunjungannya ke Transylvania. Dia juga terkurung di tempat itu selama dua bulan pada tahun 1462 setelah ditangkap olah musuhnya dan dipenggal.(Sumber:Harian Global)

Oleh: triy | Mei 11, 2009

Mokele-Mbembe, Monster dari Kongo

Monster Misterius

Monster Misterius

Selain Nessie dari Danau Loch Ness, ternyata di rimba Kongo ditemukan makhluk sejenis. Penduduk lokal menyebutnya mokele-mbembe. Namun, mirip Nessie, keberadaannya masih misterius. Bukti masih beredar dari “mulut ke telinga”.

Cerita mokele-mbembe penghuni dasar danau ini berawal sejak tahun 1776, ketika sebuah cetakan jejak telapak kaki sepanjang sekitar 1 m ditemukan di permukaan lumpur di tepi sungai. Sebelumnya, ingatan kolektif soal ini sudah beredar di kalangan penduduk pribumi.

Dalam bahasa Lingala (salah satu bahasa di Kongo), mokele-mbembe berarti dia yang dapat menghentikan arus sungai. Dengan bangun tubuh sebesar kuda nil atau gajah afrika sepanjang 5 – 10 m arti tadi tidaklah berlebihan. Sosoknya umum digambarkan mirip sauropoda, yakni dinosaurus terbesar pemakan tumbuhan. Panjang leher hampir sama panjang ekornya, antara 1,6 – 3,3 m. Ada yang menggambarkannya berjumbai di kepalanya, mirip jengger ayam jantan. Bahkan ada yang mengaku melihat sepasang tanduk di kepalanya. Warna tubuhnya antara abu-abu hingga cokelat kemerahan. Kulitnya tebal, licin, dan tidak berambut.

Mokele-mbembe hidup di telaga atau daerah berawa-rawa di dekat sungai. Raksasa ini sering menyeberangi danau saat pindah dari sungai satu ke sungai lain. Seperti sauropoda, mokele memakan tumbuhan rawa. Makanan kesukaannya pohon malombo, yang terdiri atas Landolphia manii dan L. owariensis.

Mokele menjadi misteri karena jarang menampakkan diri. Seperti Nessie, ia lebih suka ngumpet di dalam air danau. Ia muncul saat kelaparan atau pindah ke lain rawa. Karena minim saksi itulah, banyak yang bilang binatang ini tak lebih dari kuda nil. Namun, orang-orang Pigmi penghuni daerah aliran sungai Likouala (Kongo) ngotot itu bukanlah kuda nil.

Jadilah kita terbengong-bengong! Masak orang asli di situ tidak bisa membedakannya dengan kuda nil? Apalagi mereka bilang mokele justru akan membunuh kuda nil yang dijumpainya. Jadi, mokele-mbembe itu benar-benar ada?
Itulah susahnya. Padahal tak kurang dari orang luar Afrika yang memberikan keterangan. Tahun 1913, Freiherr von Stein zu Lausnitz dikirim Pemerintah Jerman untuk mengeksplorasi Kamerun. Di sinilah ia mendengar cerita penduduk tentang mokele-mbembe yang menghuni daerah di sekitar Sungai Ubangi, Sangha, dan Ikelemba (Kongo). Menurut cerita yang sampai ke telinganya, binatang ini sebesar gajah atau kuda nil, tapi berleher panjang. Giginya hanya satu, tapi amat panjang, sampai-sampai orang menganggapnya itu tanduk. Mokele-mbembe juga memiliki ekor seperti buaya. Serunya lagi, von Stein mengaku melihat jejaknya di Sungai Ssombo.

Cuma batang kayu ?

Mokele-Mbembe

Mokele-Mbembe

Dibandingkan dengan Nessie, mokele-mbembe memang kalah populer. Situs google.com, misalnya, memberikan sekitar 136.000 halaman mengenai monster dari Danau Loch Ness itu. Sementara kapling mokele-mbembe cuma 2.020 halaman. Selama ini cerita tentang monster ini hanya berasal dari penduduk di sekitar sungai di pedalaman Kongo. Seiring dengan masuknya pendatang, cerita tentang mokele pun bertambah.

Herman Reguster, seorang penjelajah berkebangsaan Jerman, mengaku berhasil memotret binatang itu di Telaga Tele pada tahun 1980. Sayang, jepretannya tidak bicara banyak. Justru menimbulkan keraguan karena banyak yang melihatnya sebagai punggung buaya. Ngenes-nya lagi, ada yang bilang itu hanyalah batang kayu! Toh Reguster ngotot dengan keyakinannya, sambil menyodorkan bukti tambahan berupa cetakan gips jejak kaki mokele-mbembe.
Sebelum kedatangan Herman Reguster, terhitung sudah puluhan ekspedisi diadakan. Tujuannya menemukan mokele-mbembe atau kerabatnya di jantung Afrika. Amerika, Jerman, Jepang, bahkan Afrika sendiri pun berlomba-lomba menguak “harta karun” kerabat brontosaurus ini. Tapi ya itu tadi, semakin banyak upaya semakin sedikit yang bisa diperoleh.

Ekspedisi paling awal dilakukan oleh Carl Hagenbeck, naturalis berkebangsaan Jerman pada 1909. Hagenbeck kesengsem pada mokele-mbembe setelah mendengarkan cerita dari sohibnya, Hans Schomburg, penjelajah asal Inggris. “Binatang-nya besar, setengah gajah setengah naga. Hidupnya di rawa-rawa Kongo,” begitu cerita yang membangkitkan semangat ingin tahunya Schomburg. Sayang, nafsu besar tak didukung stamina dan persiapan yang matang. Hagenback tidak dapat meneruskan ekspedisinya karena penyakit dan serangan dari penduduk pribumi.
Dua tahun kemudian, Smithsonian Institution di Washington, D.C. pun tertarik menguak binatang “serba setengah” ini. Dikirimkanlah 32 orang anggotanya. Enam hari mengubek-ubek hutan perawan Afrika, yang diperolehnya hanya jejak-jejak raksasa dan suara yang – menurut mereka – tidak serupa dengan suara binatang mana pun yang pernah dikenal.

Sama seperti Hagenback, ekspedisi ini juga kandas di tengah jalan. Penyebabnya, saat menumpang kereta api menuju daerah yang diklaim oleh peduduk lokal sebagai basisnya mokele-mbembe, gerbong kereta terbalik dan menewaskan empat anggota ekspedisi. Enam anggota lainnya menderita luka-luka.

Sepeninggal Smithsonian masih banyak ekspedisi dilakukan. Tahun 1932, Ivan Sanderson melakukan penjelajahan di Afrika dan menemukan jejak raksasa yang mirip jejak kuda nil. Padahal di daerah itu tidak ditemukan kuda nil. Menurut penduduk setempat, jejak itu milik mgbulueM’bembe. Jejak serupa ternyata ditemukan pula oleh James H. Powell, yang dua kali mengadakan ekspedisi (1972 dan 1976). Ketika ia menunjukkan gambar dinosaurus sauropoda, penduduk mengenalinya sebagai mokele-mbembe.

Tahun 1983 Marcellin Agnagna dari Kongo membuat kemajuan yang berarti dalam ekspedisinya. Ia melihat binatang raksasa yang keluar dari danau pada jarak sekitar 275 m. Kepala makhluk itu berwarna kemerahan dan mirip kepala buaya dengan mata lonjong. Ia yakin, binatang itu sejenis reptil, tapi bukan buaya, kura-kura, atau ular raksasa. Tahun 1987, sebuah tim dari Jepang mencoba merekam mokele-mbembe dengan kamera video. Sayangnya, hasil bidikan mereka kurang jelas dan tidak meyakinkan.

Tidak sendirian

Danau Tele

Danau Tele

Mencari mokele-mbembe ibarat menemukan jarum di tumpukan jerami. Kondisi hutan Kongo yang rapat menyulitkan upaya itu. “Panas, peyakit, penduduk pribumi liar, serta takhayul berada di sekeliling mokele-mbembe,” kata Bill Gibbons, penjelajah yang ikut-ikutan mencari mokele. Hampir separuh wilayah Kongo tertutup hutan lebat yang nyaris tidak berubah selama 60 juta tahun lamanya.

Hutannya juga dipenuhi pohon berharga jual tinggi, seperti pohon mahogani dan limba. Jalan dan perkampungan sangat jarang ditemukan. Bahkan pemandu dan penduduk pribumi sering menolak mengantar peneliti masuk hutan meski dibayar mahal. Hutan perawan sepanjang Sungai Kongo adalah yang terganas, terpanas, dan paling jarang dikunjungi penjelajah. Jika memang benar ada, di sinilah tempat yang tepat bagi dinosaurus.

Wajar saja jika dari daerah yang tertutup itu berhembus cerita tentang monster atau makhluk sisa-sisa peradaban masa lampau. Mokele-mbembe tidak sendirian. Penduduk pribumi juga mengenal emelantouka, yang digambarkan sebagai pembunuh gajah atau gajah air. Makhluk ini mirip dinosaurus bertanduk, sosoknya sebesar gajah dan dengan tanduknya bisa membunuh gajah atau badak.

Dalam bukunya Eighteen Years on Lake Bangweulu, C.G. James melaporkan bahwa emelantouka hidup di Danau Bangweulu, Mweru, serta rawa-rawa Kafue di Zambia, juga di D. Tanganyika (Tanzania). Tahun 1933, menurut J.E. Hughes, penduduk Wa-Ushi pernah membunuh makhluk serupa di Sungai Luapula, yang terletak antara Danau Mweru dan Bangwelu di perbatasan Zaire dan Zambia.

Si pembunuh gajah ini ternyata juga dikenal di sekitar Danau Edward wilayah Zaire dan Uganda. Konon, pada tahun 1934, binatang yang dikenal dengan irizima ini terbunuh di Dongou, Kongo Utara. Selain di Dongou, binatang yang digambarkan sebagai kuda nil bertanduk ini sering muncul pula di daerah Epena dan Imfondo, masih di Kongo Utara.
Uniknya, meskipun mirip badak (karena tanduknya mirip cula), culanya tidak berambut seperti cula badak, melainkan mirip gading gajah. Roy P. Machal, ahli cryptozooid (ilmu yang mempelajari binatang misterius), yakin bahwa binatang yang di Kafue dikenal dengan chipekwe, sisa-sisa dinosaurus bertanduk seperti tricerops. Mungkin sejenis monoclonius atau centrosaurus.

Monster lain yang sering disebut-sebut adalah mbielu-mbielu-mbielu. Tampangnya mirip stegosaurus, binatang yang dipercaya memiliki lempengan keras di punggungnya. Dinosaurus ini lebih jarang dikenal karena lebih sering berendam di dalam air sungai. Hanya lempeng di punggungnya yang kelihatan. Ada monster lagi yang bernama nguma monene, piton raksasa. Cuma berbeda dengan ular sejenisnya, di punggung makhluk berpanjang antara 40 – 60 m ini terdapat semacam sisik tegak.

Wah, kalau begitu bukan ular dong! Cocoknya kadal raksasa. Penduduk sekitar biasanya menyamakan nguma monene ini dengan mbielu-mbielu-mbielu. Kedua monster ini hidup di daerah Sungai Dongou-Mataba di Republik Rakyat Kongo.

Menemukan danau baru

Karena minim bukti, banyak orang kemudian tidak yakin apakah monster-monster tadi benar-benar ada. Menurut Redmond O’Hanlon, penulis dan penjelajah Inggris, mungkin saja para saksi yang mengaku melihat binatang ini keliru melihat gajah liar. Robert T. Bakker, paleontolog dan penulis buku The Dinosaur Heresies juga menyangsikan adanya dinosaurus yang masih hidup. “Dinosaurus tidak bakal bertahan hidup sekarang. Mereka kalah bersaing dengan mamalia,” tegasnya.

Toh pencarian mokele-mbembe tetap saja dilakukan. Dampak positifnya, ditemukannya binatang-binatang baru seperti yang dialami William J. Gibbons kala melakukan penyelidikan di Kongo. Ia menemukan sisa-sisa tubuh monyet yang tidak dikenal sebelumnya. Setelah dibawa ke Inggris, para pakar binatang menyimpulkan bahwa monyet itu adalah spesies mangabey jenis baru (Cerocebus galeritus). Gibbon juga menemukan banyak spesies serangga dan ikan yang belum dikenal. Ekspedisi berikutnya, tahun 1992, bahkan menemukan dua danau baru yang sebelumnya tidak masuk peta: Danau Fouloukuo dan Tibeke.

Mereka yang percaya mokele-mbembe benar-benar ada mengacu kepada ditemukannya antelop jenis baru di Vietnam (Dunia yang Hilang di Vu Quang ). “Kemungkinan menemukan binatang besar jenis baru masih terbuka,” ujar Adam Davies dari Manchester. “Jika kami menemukan mokele, kami takkan mengusiknya. Tujuan utama kami adalah mendapatkan deskripsi akurat dan fotonya. Kemudian kami akan mengusulkan perlindungan menyeluruh bagi seluruh areal,” janji Davies.

Davies tergabung dalam Tim Ove Sundberg, sebuah tim gabungan dari Swedia yang ahli meneliti reptilia langka. Tim ini telah meneliti mokele-mbembe sejak tahun 2000. Ketuanya Jan-Ove Sundberg, ahli cryptozoologi yang pernah memburu monster laut di Danau Seljordvatnett di Norwegia.

Kendati diramalkan bakal menemui kegagalan, tim ini tetap optimistis. “Kita sedang menjelajahi sebuah daerah seluas dua kali Belgia yang tidak berubah selama jutaan tahun. Jika kita menemukan makhluk ini, akan menjadi sebuah alasan sangat kuat untuk melindungi seluruh habitatnya dari tekanan ekonomi,” kembali Davies yang pernah memburu orang pendek sumatra berjanji.(Sumber:harian-global)

Segaaarrrrr

Segaaarrrrr

Selama tinggal sekitar 9 tahun lebih di Medan. Belum sekalipun saya mendengar nama danau ini. Kesohoran dan keindahan Danau Toba saja yang ada di benak pikiran saya. Hingga kemudian, seorang kawan di kantor menunjukkan foto-foto eksotis berlatar belakang pemandangan yang menakjubkan.

“Nama danau ini adalah Danau Linting,” sebutnya. Penasaran dengan keindahannya, Saya pun tergoda untuk melihatnya secara langsung danau mungil nan eksotis ini. Berbekal peta singkat, bersama dengan kawan-kawan dari Kampus USU, saya pun sepakat untuk mengunjungi danau ini.

Cuaca panas Kota Medan bukan halangan untuk terus memacu sepedamotor dengan kencang. Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke Danau Linting. Mengambil titik kumpul dari Kampus USU, kami pun bergerak menuju Titi Kuning, melewati Delitua, Patumbak, Desa Siguci, hingga sampai ke Desa Sibunga-bunga Hilir.

Karena ini baru pertama kalinya kami datang kesini. Beberapa kali kami harus bertanya kepada warga sekitar. Ironisnya, beberapa warga di seputaran Delitua justru kurang mengetahui keberadaan danau ini. Padahal daerah ini menjadi salah satu akses jalan masuk menuju Danau Linting. Rasa penasaran untuk mengetahui keindahan Danau Linting sempat memudar dalam khayalanku.

Berhubung keinginan untuk melihat keindahan danau ini begitu menggoda, perjalanan pun kami lanjutkan kembali.”Mau ke danau ya dik. Jalannya ke kiri, kalau ke kanan terus itu jalan menuju objek wisata Si Biru-biru,” ujar salah seorang pengendara sepedamotor yang melihat kami kebingungan mencari jalan menuju rute danau.

Para gadis-gadis narsis..........

Para gadis-gadis narsis..........

Rasa penasaran itu kini mulai terjawab. Yang terbayang dalam benak saya saat itu adalah cepat sampai dan cepat-cepat berendam dalam danau. Namun, hampir 45 menit perjalanan, tempat yang kami tuju tak kunjung sampai.

Yang tak membuat saya bosan, rute antar desa di kawasan ini cukup menyenangkan. Meski di beberapa titik jalan masih terdapat aspal berlubang, namun hamparan hijau pepohonan yang menghiasi sisi jalan ini memberikan suasana segar dan nyaman.

Belum lagi dengan kondisi jalan yang naik-turun, kemudian berkelok tajam menyuguhkan aksi menantang bagi siapa saja yang melewatinya. Bahkan tak jarang adrenalin langsung terpacu untuk mempercepat laju sepedamotor di saat jalanan sepi. Di beberapa rute jalan ini, saya sempat menikmati sejenak menjadi ’Raja Jalanan’. Memacu sepedamotor dengan kencang, sambil sesekali memencet klakson keras-keras, sebelum tikungan kembali menghadang perjalanan kami.

Setelah berjalan hampir 45 menit, akhirnya sampai juga di Desa Tiga Juhar. Desa yang sekaligus menjadi pasar pekanan. Menurut warga di sekitar daerah ini, hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di Danau Linting.

Jalanan setelah pasar ini makin tidak stabil, menurun dan menanjak. Hamparan kebun-kebun penduduk silih berganti dengan hutan-hutan sekunder menjadi pemandangan selama perjalanan.

Lapisan Bukit Barisan yang terbentang makin terlihat jelas di depan. Daerah ini merupakan salah satu kawasan yang dilalui oleh gugusan dataran tinggi yang menyatukan Pulau Sumatera. Meski terbentang dengan kokohnya, sesekali bukit tersebut menghilang ditelan jalan yang berkelok. Karena itulah, klakson kendaraan menjadi hal wajib saat melintasi jalanan ini.

Jalan Menuju Simalungun

Karena berpedoman pada waktu, kami tak menyadari jika perjalanan sudah terlampau jauh. Rasa kaget dan sedikit ”ngeri” langsung menyeruak dalam hati, ketika jalan yang kami lalui tiba-tiba berubah menjadi jalan batuan. Parahnya lagi, di bawah sana terlihat jembatan/titi yang bergoyang-goyang diapit pegunungan. Firasat jika perjalanan ke danau salah jalan, ternyata benar.

”Udah kelewatan dik. Sekitar 10 menit lagi, balik dari sini. Kalau yang di bawah itu jembatan Titi Gantung STM Hulu,” ujar Parlindungan, seorang pengemudi kendaraan pengangkut batu.

Parlindungan menjelaskan, jembatan itu memiliki panjang sekitar 150 meter dan melewati lembah. Dalamnya sekitar 200 meter. Sementara itu di bawahnya terdapat sungai yang mengalir deras dengan batu-batu besar di dalamnya. Jika kita menyeberang jembatan ini kita akan menuju ke arah Simalungun. Jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Sumut yang menghubungkan Deliserdang dan Simalungun.

Kami pun kemudian memutuskan untuk kembali. Akhirnya, setelah kurang dari 10 menit perjalanan, sampai juga saya melihat keeksotisan danau ini. Danau ini terletak di puncak bukit di Desa Sibunga-bunga Hilir, Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.

Danau Linting sendiri hanya berjarak 49 km dari Medan. Konon, jalan ini termasuk dalam proyeksi pelebaran untuk menghubungkan Seribu Dolok dengan Lubukpakam dalam rangka proyek agropolitan di Sumatera Utara.

Menyimpan Misteri

Danau Mungil yang Masih Menyimpan Misteri

Danau Mungil yang Masih Menyimpan Misteri

Jalan tanjakan berjarak sekitar 10 meter menjadi penghubung antara jalan besar dengan danau yang kami tuju. Hm… itulah yang kami cari. Sebuah danau mungil yang ukurannya hanya sekitar satu hektar.

Luarbiasa! Setelah sejenak memandang sebentar, saya mencoba untuk mendekat di bibir danau. Nyanyian burung-burung kecil yang hinggap di pohon beringin, menambah syahdu suasana danau ini.

Itu masih belum seberapa. Saat kaki ini masuk ke dalam air, tidak ada rasa dingin, kendati area ini merupakan kawasan pegunungan. Yang ada justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Kesegarannya benar-benar menjadi obat rasa lelah setelah melakukan perjalanan cukup jauh.

Satu hal yang bisa saya tangkap saat melihat suasana di danau ini adalah nuansa romantis. Ya… dengan keindahan warna airnya yang berwarna biru pekat (berbeda dengan warna air danau lain), plus pegunungan yang menghiasi sisi sebelah kanan-kirinya, tempat ini menawarkan keromantisan bagi para pengunjung yang datang.

Dari puncak bukit di pinggir danau ini, saya bisa leluasa melepaskan pandangan ke berbagai arah. Saya pun tak puas-puas memandangi permukaan Danau Linting ini. Meskipun ukurannya mungil, namun para penduduk di sini belum ada yang berani mengatakan secara pasti berapa kedalaman danau ini.

“Dulu pernah ada yang mengukur kedalaman danau ini, tapi hasilnya nggak bisa ditentukan berapa dalamnya. Sepertinya dalam sekali danau ini,” ujar seorang penduduk, saat dimintai keterangannya.

Karena itulah, warga sekitar selalu mengingatkan para pengunjung yang datang untuk berhati-hati jika berenang di danau ini. Pasalnya, sudah beberapa kali danau ini menelan korban.

Melihat dari karakteristik Danau Linting, sepertinya danau ini dulunya adalah kawah atau juga sebuah retakan dari peristiwa vulkanik. Hal ini melihat dari beberapa hal yang bisa ditemui di danau ini. Seperti kandungan belerangnya yang cukup tinggi, serta kedalamannya yang masih menjadi misteri hingga saat ini.

Matahari yang sudah mulai terbenam, membuat kami memutuskan untuk kembali ke Medan. Selain perjalanan cukup jauh, kami menghindari perjalanan di tengah kegelapan malam. Sebelum kaki ini melangkah pulang, saya sempatkan sekali lagi untuk memandang sekaligus membasuh muka air Danau Linting berwarna biru pekat yang menyegarkan.

Oleh: triy | April 28, 2009

Ada Kuburan Panjang di Pulau Kampai

Kuburan ini memiliki panjang 8 meter

Kuburan ini memiliki panjang 8 meter

Jam baru menunjuk di angka 8 pagi. Namun sengatan matahari sudah menembus kulit. Dengan mengendarai sepedamotor, saya bersama dengan Waristo (Redaktur Global) meluncur kencang di keramaian pagi menuju Kabupaten Langkat.

Butuh waktu sekitar dua jam menuju kabupaten ini. Tujuan kami adalah kuburan panjang di Pulau Kampai. Kuburan yang menyimpan beragam nilai sejarah, misteri dan juga budaya bagi masyarakat Pulau Kampai.

Bagi sebagian masyarakat di Sumatera Utara, Pulau Kampai identik dengan terasi. Ya… Pulau ini adalah salah satu penghasil terasi terbaik di Indonesia. Bahkan, konon terasi Pulau Kampai sudah sampai ke negeri jiran.

Kepopuleran terasi ini jugalah yang mengangkat nama pulau ini. Apakah Pulau Kampai hanya populer karena terasi saja? Ternyata tidak. Pasalnya jika Anda mengunjungi pulau ini, Anda juga akan melihat beberapa peninggalan budaya yang menyimpan beragam nilai sejarah yang masih misterius.

Sampai di Stabat, kami berdua bergabung dengan dua wartawan Global lain yang sudah menunggu, yakni Badruddin dan Arfan. Selanjutnya perjalanan pun dilanjutkan menuju dermaga Pangkalansusu untuk menyeberang ke Pulau Kampai.

Pulau Kampai adalah nama sebuah pulau yang terletak di Kabupaten tingkat II Langkat, Kecamatan Pangkalansusu. Sebelum kaki ini menginjak di tanah Pulau Kampai, kita harus menyeberang lautan dengan menggunakan speed boat. Ongkosnya cukup murah. Sekali naik para penumpang hanya ditarik 8 ribu rupiah. Jika kita membawa sepeda motor dikenakan tambahan biaya 3 ribu rupiah.

”Setiap hari kita melayani rute perjalanan dari dermaga ini ke Pulau Kampai. Ada juga penumpang yang menuju ke Pulau Sembilan,” ujar Buyung salah seorang pemilik boat.

Kuburan “Misterius”

Kuburan Panjang

Kuburan Panjang

Setelah kurang lebih 40 menit menikmati pemandangan lautan. Kami pun akhirnya sampai ke Pulau Kampai. Sambutan hangat penduduk Pulau Kampai membuat kami merasa nyaman. Sebelum melanjutkan petualangan di pulau ini, kami sempatkan bertemu dengan M Buyung Amir, Kepala Desa Pulau Kampai.

Menurut Buyung, masyarakat Pulau Kampai didiami oleh beberapa suku. Di antaranya Jawa, Aceh, Melayu, perantau dari Malaysia dan Karo. Warga Tionghoa juga ada walaupun jumlahnya tidak sebanyak dulu.”Saat ini yang tinggal adalah orangtua dan anak-anak. Kalau yang remaja sudah banyak yang mencari kerja ke luar,” terang Buyung.

Ditemani dengan M Yusuf dan juga Abu Bakar, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kuburan “misterius”. Orang-orang di sini menyebutnya dengan Kuburan Keramat Panjang. Dari dermaga Pulau Kampai, kuburan tersebut hanya berjarak sekitar 300 meter.

Sebuah bangunan berpagar kayu menyergap langkah kami. Rasa penasaran pun langsung menyeruak dalam hati. Apakah betul kuburan itu memiliki ukuran yang berbeda dengan kuburan lain. Ternyata benar, di dalam bangunan berjejer dua buah nisan. Yang satu memiliki ukuran sekitar 6 meter dan yan satunya lagi 8 meter. Di kedua nisan tersebut tidak ada satu pun identitas yang bisa dijadikan bukti kuburan siapa sebenarnya.

Masyarakat di sini percaya jika kuburan ini sudah ada sebelum zaman penjajahan Belanda. Hingga saat ini, kuburan keramat panjang ini masih sering dikunjungi oleh masyarakat untuk berdoa.”Sebagai salah seorang yang sejak kecil tinggal di sin, saya tidak pernah tahu kuburan siapa sebenarnya. Orang tertua di sini saja juga tidak tahu,” ungkap M.Yusuf menjelaskan.

Menurut M Yusuf, kuburan ini sebelumnya pernah diteliti ilmuan dari Belanda. Namun hasilnya nihil. Ukiran di batu nisan yang mirip dengan tulisan China, sempat diyakini masyarakat jika kuburan ini adalah kuburan etnik Tionghoa. Tapi lagi-lagi, teori tersebut masih belum bisa dipercayai seratus persen masyarakat sini.

Kemisteriusan Kuburan Panjang ini bukan hanya ini saja. Pasalnya, kuburan ini menurut warga memiliki penjaga khusus, yakni seekor harimau berwarna putih.”Dulu harimau putih itu sering dilihat oleh warga sini. Selain itu, dulunya di sini juga pernah ada orang yang meninggal, gara-gara memindahkan batu pusara yang ada di atas kuburan ini,” papar Yusuf menambahkan.

Hingga saat ini kuburan ini tetap masih menyimpan misteri. Namun meski begitu, dari beberapa data didapat penjelasan bahwa sesuai dengan namanya, Kuburan Keramat Panjang. Kuburan ini mengacu pada nama Teuku Keramat Panjang dan nama tersebut sudah dilafal sejak dari tiga generasi sebelum mereka. Sebuah nama yang juga memiliki hubungan erat dengan ulama besar dari Langsa.

Nama asli dari Teuku Keramat Panjang adalah Teuku Sulthan Muhammad. Ia berasal dari Pakistan dan seorang ulama besar. Saat tiba di Pulau Kampai, ia berusia 13 tahun dan menetap di Pulau Kampai sampai akhir hayatnya. Di Pulau Kampai ia bekerja menjadi pedagang, seperti jual-beli emas, kain dll.

Di samping sebagai pedagang, ia juga membuka perpustakaan seraya menulis buku-buku agama, bahan-bahannya beliau ambil dari Mesir. Mengingat ilmu agama beliau sangat luas, beliau juga berdakwah di Pulau Kampai.

Teuku Sulthan Muhammad menikah dengan seorang wanita berumur 14 tahun di Pulau Kampai, istri beliau bernama “Siti Bahara Silalahi”. Ayah Siti Bahara Silalahi berasal dari Kabanjahe yang semasa hidupnya ayah Siti Bahara Silalahi juga seorang pedagang Sedangkan ibu Siti Bahara Silalahi, berasal dari tanah Deli.

Kuburan Sang Pendekar Biola

Kuburan Pendekar Biola

Kuburan Pendekar Biola

Selain Kuburan Keramat Panjang, di pulau ini Anda juga bisa melihat kuburan lain yang memiliki nilai budaya. Kuburan tersebut adalah Mas Merah. Bedanya, jika kuburan Keramat Panjang masih menimbulkan “misteri”, kuburan Mas Merah sudah bisa diidentifikasi asalnya.

M Yusuf dan Abu Bakar yang menemani kami selama melakukan perjalanan di Pulau Kampai mengisahkan sejarah kuburan Mas Merah. Menurut mereka, kuburan ini adalah kuburan Salam, lelaki yang tinggal di Serawak Malaysia dan lahir sekitar tahun 1890.

Salam memiliki abang bernama Amran. Pada saat itu, Salam menjalin hubungan diam-diam dengan gadis bernama Rukiah. Hubungan ini tidak diketahui oleh orangtua Salam. Rukiah adalah seorang gadis baik dan berparas cantik, yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan abangnya.

Dinikahkanlah Amran dengan Rukiah. Saat pernikahan mereka, Salam putus asa. Konon Salam melemparkan batu sebanyak tiga buah di tanah Serawak sebelum ia pergi. “Kalau timbul tiga buah batu yang ku lempar di tanah Serawak ini, barulah aku akan pulang,” ujar Abu Bakar menirukan ucapan Salam.

Saat pergi, Salam bertemu dengan Salmah. Salmah adalah kembang di Medan Labuhan-Belawan. Ayah Salmah bernama H Kasim. Ibu Salmah berutang pada seorang keturunan India bernama Tambi. Namun ia tidak mampu membayar utangnya. Oleh orangtuanya, Salmah dikawinkan dengan Tambi.

Di saat acara perkawinan Salmah dengan Tambi.Salam yang dijuluki pendekar biola memainkan biolanya sambil menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Kau adalah Mas Merahku”.Mendengar lag ini, Salmah langsung jatuh pingsan. Masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa Salmah adalah Mas Merah yang disebut Salam dalam lagunya. Salam kembali berputus asa dan kemudian pergi ke laut untuk menjadi nelayan di daerah Brandan.

Singkat cerita, saat ia dan seorang temannya Husein berkelana di lautan. Salam mendengar teriakan seorang wanita.Salam hendak menolong namun dihalangi oleh Husein. Husein berkata pada Salam, “Aku tidak berani kesana. Daerahnya sangat angker. Biasanya orang yang pergi kesana pasti tidak bisa kembali pulang,”.

Ternyata wanita itu adalah Salmah. Terjadilah perkelahian antara Pendekar Nayan dengan Salam. Akhirnya Pendekar Nayan yang menculik Salmah kalah dan bertemulah Salam dengan Salmah.

Mereka pun menikah selama sepuluh tahun dan tidak mempunyai keturunan. Suatu hari keduanya terkena penyakit cacar. Pada tahun 1920 tepatnya pada hari Jumat pukul 05.00 pagi Salam meninggal, dan disusul oleh Salmah pada pukul 06.00 pagi. Sebelum meninggal Salam berpesan kepada Husein, temannya, “Kalau nanti aku meninggal tolong kuburkan aku berdekatan dengan kuburan istriku, dan tanamkan bunga tanjung di atas nisan kuburan kami berdua,”. Bunga tanjung yang ditanam adalah kisah perjalanan cinta Salam sebagai tanda antara Semenanjung Malaysia, Medan Labuhan dan Pulau Kampai.

“Hal itu kemudian diceritakan Husein kepada teman-temannya, dan cerita ini secara turun-temurun dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai sejarah terjadinya Pulau Kampai,” terang Abu Bakar.

Pantai Beraweh

Pantai Beraweh

Pantai Beraweh

Satu tempat lagi yang layak dikunjungi saat ke Pulau Kampai adalah Pantai Beraweh.Pantai yang sering disebut Pantai Pasir Putih ini adalah perbatasan Ujung Tamiang. Wilayahnya terentang sepanjang 5 kilometer. “Biasanya pada hari libur bisa mencapai 300 orang yang datang ke sini,” ujar Abu Bakar.

Pengunjung yang datang tidak hanya masyarakat sekitar. Ada yang berasal dari Pangkalansusu, Brandan dan kebanyakan masyarakat Aceh Timur. Untuk menuju tempat ini digunakan getek sebagai alat transportasi untuk menyeberang.

Sepoi angin laut di malam hari Pantai Beraweh benar-benar menggoda mata untuk melihat ke atas. Gemerlap bintang dengan sinarnya yang terang memberikan rasa tenang dalam hati. Menikmati alam semesta dengan hamparan deburan ombak Pantai Beraweh. Pada hari libur, pantai ini juga sering digunakan untuk acara anak sekolah seperti kegiatan kemah pramuka.

Foto-foto dulu lah...

Foto-foto dulu lah...

Malaysia Tourism Centre menjadi titik awal bagi kami (jurnalis), yang diundang dalam acara Colour of Malaysia 2009 saat akan menikmati indahnya pemandangan Kota Kuala Lumpur (KL). Bersama dengan empat jurnalis lokal dan PR Tourism Malaysia Medan, saya berkesampatan menaiki Hop-On Hop-Off atau lebih dikenal dengan Ho-Ho berkeliling di Kota KL.

Ya… untuk mengitari KL memang tidaklah terlalu sulit. Pemerintah di sini sudah menyiapkan fasilitas lengkap bagi para pelancong. Dengan membayar tiket 38 RM untuk wisatawan asing dan 19 RM untuk lokal, Anda sudah bisa sesuka hati naik turun bus bertingkat ini selama 24 jam.

Di dalam bus ini, Anda bisa menikmati keunikan, keindahan, kebersihan plus kemegahan kota KL. Dengan desainnya yang hanya beratapkan kaca, para penumpang bebas melihat jejeran gedung-gedung raksasa yang menghiasi sisi jalanan KL.

Mengandalkan konsep alam dan bangunan tradisional di sekililingnya, jalanan di sini memang sangat menakjubkan. Selain bersih, rindangnya pepohonan semakin menambah keindahan kota ini.

Setelah menunggu kurang lebih duapuluh menit, bersama dengan tour guide, Ahmad Azam, kami pun bergegas menaiki Ho-Ho. Bus pun selanjutnya meluncur mulus melewati jalanan mulus KL.

Menurut Azam, butuh waktu sekitar dua setengah jam untuk bisa berkeliling dengan Ho-Ho. Namun sayangnya, karena keterbatasan waktu, kami hanya bisa menikmati Ho-Ho sekitar satu jam. Sebagai seorang guide, Azam pun memberikan informasi tentang tempat-tempat yang dilewati oleh Ho-Ho.”Saat ini kita sedang melewati menara kembar Petronas, yang merupakan icon negara Malaysia,” ujar Azam ketika Ho-Ho berada persis di bawah menara kembar ini.

Dua Hal yang Harus Anda Perhatikan

Menjelajahi KL dengan Ho-Ho memang sangat mengasyikkan. Pemerintah setempat sepertinya sudah mendesain sedemikian rupa guna memberikan akses bagi pelancong yang datang untuk menikmati segala kelebihan kota ini. Meski begitu, Anda juga harus menaati peraturan-peraturan di KL, jika tidak ingin menyesal kemudian. So, apa saja yang harus Anda perhatikan saat jalan-jalan di KL.

Pertama, satu yang patut mendapat acungan jempol saat melewati jalanan di KL. Apa itu? Kebersihannya. Ya… jalanan di sini memang sangat bersih. Belum lagi dengan hadirnya pepohonan yang masih tetap dijaga keasriannya, semakin menambah sejuk Kota KL.

Kedua, satu hal lagi yang juga harus Anda perhatikan saat jalan-jalan menikmati jalanan di KL. Jangan sekali-kali membuang sampah dan merokok sembarangan. Karena jika Anda lakukan, dan Anda ketahuan, Anda harus bersiap merogoh kocek sebesar 300 RM atau setara 1 juta rupiah sebagai dendanya.”Merokok boleh saja, asal pada tempatnya,” seru Azam memberitahu.

Lewati Tempat Favorit di KL

Ho-Ho

Ho-Ho

Selama berada di atas Ho-Ho, kami diajak melihat beberapa tempat-tempat favorit di KL.Dari mulai kawasan Bukit Bintang. Sebuah bangunan yang memiliki tinggi sekitar 276 dari jalan raya. Di kawasan ini banyak lokasi wisata, seperti water park, lake garden park, shopping area, museum negara dan objek wisata lainnya.

Twins Tower atau menara kembar Petronas menjadi target selanjutnya. Dari dalam Ho-Ho kami dapat melihat salah bangunan tertinggi di dunia ini. Ketinggian menara Petronas sendiri mencapai 452 meter atau 1.483 kaki. Para pelancong diberi kesempatan selama sepuluh menit untuk mengabadikan dirinya di bawah menara Petronas.

Puas berfoto-foto ria di kawasan ini. Ho-Ho pun melanjutkan perjalanannya kembali. Kali ini tempat yang kami tuju adalah sebuah menara yang bercorak Islami. Menara yang dirancang oleh Cesar Pelli ini memiliki 88 lantai. Kemudian melewati Istana Trengganu, salah satu bangunan megah yang berarsitektur unik dan modern.

Kompleks Kraft, salah satu kawasan yang dijadikan sebagai pusat kerajinan di KL juga tak luput dari Ho-Ho. Kemudian Ho-Ho melaju di Jalan Petailing, atau lebih akrab di kenal dengan sebutan China Town dan Chow Kit. Kawasan ini merupakan area favorit untuk Anda yang suka belanja. Beragam barang-barang murah dapat Anda dapatkan di sini. Dari mulai baju, tas, sepatu, arloji dan juga pernak-pernik aksesori lainnya.

Sebelum menuntaskan perjalanan dengan Ho-Ho, kami sempatkan untuk melewati salah satu tempat wajib bagi pelancong yang datang ke KL. Ya… selain menara kembar Petronas, tempat satu ini merupakan tempat yang selalu menjadi idaman bagi pelancong untuk berfoto-foto. Apalagi lagi kalau bukan Istana Negara.

Dalam setiap perjalanan, Ho-Ho selalu memberikan kesempatan bagi pelancong selama beberapa menit untuk mengabadikan diri dengan berfoto-foto. Seolah tak ingin menghilangkan kesempatan, kami pun memutuskan berhenti sejenak untuk berfoto-foto.

Meski hanya dari luar pagar istana, para pelancong dibebaskan untuk memotret setiap sisi dari istana tersebut. Termasuk berfoto bareng dengan para penjaga istana yang berdiri tegak di pos jaga. Pengunjung di sini juga tak perlu khawatir jika harus berdesakan, tim dari kepolisian bersenjata lengkap siap menjadi pengaman plus disertai oleh tim medis.

Setelah satu jam mengikuti perjalanan Ho-Ho, kami pun bergerak kembali menuju pusat kota. Melewati jalan tol dengan gedung-gedung pencakar langit sebagai penghiasnya. Tak ketinggalan juga melewati monorail serta fly over hingga akhirnya kembali di Hotel Sheraton, hotel tempat kami menginap selama di KL.

Colmar Tropical

Colmar Tropical

Terik matahari membayangi langkah kaki saat memasuki area keberangkatan luar negeri Bandara Polonia Medan pada Jumat sore (20/3) lalu. Bersama rombongan dari empat media cetak lokal Medan, kami mendapat undangan selama empat hari untuk mengikuti acara Colours Of Malaysia dari Tourism Malaysia Medan di Kuala Lumpur.

Raungan Pesawat Malaysia Airlines bersiap-siap mengepakkan sayapnya terbang membawa kami ke angkasa. Hanya butuh waktu sekitar 45 menit dari Medan ke Malaysia. Sekitar jam 5 sore waktu setempat, kami akhirnya sampai di Bandara Kuala Lumpur.

Perjalanan pun dilanjutkan menuju Legend Hotel untuk mengikuti acara konferensi pers bersama Y.B Dato’ Sri Azalina Dato’ Othman Said, Minister of Tourism Malaysia serta makan malam.Selesai mengikuti acara bersama dengan 300 jurnalis dari 38 negara, kami pun menuju Hotel Sheraton, tempat menginap selama di Malaysia

Menikmati Jalanan Kuala Lumpur dengan Hop-On Hop-Off

Pada hari kedua, Malaysia Tourism Centre menjadi titik awal menikmati indahnya pemandangan Kota Kuala Lumpur. Menggunakan Hop-On Hop-Off atau bus bertingkat dua, pengunjung diajak menikmati jalanan kota yang tertata rapi dan bersih.

Mengandalkan konsep alam dan bangunan tradisional di sekililingnya, jalanan di sini memang sangat menakjubkan. Selain bersih, rindangnya pepohonan semakin menambah keindahan kota ini.

Menurut Cik Azam, pemandu rombongan kami selama di Malaysia. Untuk menikmati perjalanan dengan Hop-On Hop-Off para wisawatan lokal hanya dikenakan biaya 19 ringgit, sementara untuk wisatawan asing 38 ringgit. Memakan waktu sekitar dua jam, Hop-On Hop-Off sudah membawa kita melewati menara kembar Petronas, istana Trengganu, kompleks Kraft, Jalan T Ramli yang menjadi icon entertainment dan tentunya area shopping.

“Dengan mengunakan Hop-On Hop-Off ini kita bisa berkeliling sampai dua jam. Hop-On Hop-Off sudah membawa kita melewati jalanan Kuala Lumpur,” ungkap Cik Azam.

Pesta Kembang Api Buka Colours Of Malaysia

Berkumpul dengan 300 Jurnalis dari Seluruh Dunia

Berkumpul dengan 300 Jurnalis dari Seluruh Dunia

Puas menikmati perjalanan Hop-On Hop-Off. Dataran Merdeka menjadi tujuan kami selanjutnya. Tempat yang dijadikan titik nol negara Malaysia ini akan menjadi inti kegiatan pembukaan acara Colours of Malaysia.

Antusiasme masyarakat lokal menyambut acara ini memang sangat luarbiasa. Ribuan masyarakat plus undangan serta 300 jurnalis dari 38 negara berkumpul menyaksikan acara yang dihadiri oleh Ketua Setiausaha Kementeriaan Pelancongan Malaysia, Y.B Timbalan Menteri Pelacongan Malaysia, Y.B Menteri Pelancongan Malaysia, Seri Paduka Baginda Yang di-Pertuan Agong XIII Al-Wathiqu Billah Tuanku Mizan Zainal Abidin Almarhum Sultan Mahmud Al-Muktafi Billah Shah dan Seri Paduka Baginda Raja Permaisuri Agong Tuanku Nur Zahirah.

Berbagai pertunjukan budaya tradisional dari berbagai daerah di Malaysia mewarnai acara ini. Dan puncaknya, dentuman kembang api yang menggelegar ke udara dengan kilauan warna menyambut “Malaysia Welcomes The World.”

Dari Prancis Hingga Jepang

Udara sejuk dengan pemandangan hijau menemani perjalanan kami di hari ketiga. Tujuannya adalah Bukit Tinggi, tepatnya di Colmar Tropicale, French-Themed Resort Berjaya Hills, Pahang Malaysia. Butuh waktu sekitar 1,5 jam dari Kuala Lumpur menuju wisata ini.

Bangunan tinggi nan megah berarsitektur Prancis langsung menyergap langkah kami. Desain bangunan abad ke-16 ini mengingatkan kita akan keajaiban yang memikat dengan arsitektur warna-warni khas Prancis. Jembatan besar menjadi penghubung bangunan dengan pelataran. Deretan kafe-kafe semakin menambah suasana Prancis sangat kental.

Macem di Kampung-ku

Macem di Kampung-ku

Colmar Tropicale terletak di Negara Bagian Pahang, Malaysia. Memasuki kawasan ini seperti berada di Prancis. Pemandangan bukit nan hijau menjadi pelengkap yang menakjubkan. Berada di 2.600 kaki di atas permukaan laut, tempat ini memiliki hawa sejuk. So, jika ingin ke Prancis jauh, tempat ini dapat menjadi alternatif.

Nuansa Prancis nan syahdu benar-benar memberikan kesan romantis bagi para pengunjung yang datang. Cocok bagi pengunjung yang sedang merayakan bulan madu. Corak cinta-kasih dengan keheningan dan kesunyiaannya memberikan rasa syahdu dalam hati.

“Colmar Tropicale sangat sesuai dijadikan sebagai tempat untuk berbulan madu bagi pasangan yang baru menikah. Kawasan ini memberikan nuansa yang romantis bagi para pengunjung,” ungkap Chepailing, Humas Colmar Tropicale kepada Global.

Chepailing menambahkan, Fun & Recreation Colmar Tropicale merupakan daerah tujuan liburan yang menawarkan berbagai jenis aktivitas rekreasi. Di antaranya adalah lapangan golf dengan 18 lubang berstandar internasional, Tatami Spa, Taman Kelinci, Keledai, Kuda, Paintball, Kolam Renang, Aerobik, permainan anak-anak, Karaoke, Bowling, Tennis, Squash and Badminton serta live musik dan tari-tarian.

Tak hanya miniatur negara Prancis saja yang menghiasi kawasan Bukit Tinggi, yang juga bersebelahan dengan objek wisata Genting ini. Nuansa Jepang juga menjadi andalan di sini. Japanese Village The Japanese Village di Berjaya Hills merupakan miniatur pertama di luar Jepang yang terletak di lingkungan ini.

Berada di atas ketinggian 3.500 kaki di atas permukaan laut dan di antara 150-juta tumbuhan tropis hutan hujan. Kawasan ini menyuguhkan keheningan dan ketenangan pengunjungnya. Kicauan burung dan kesegaran alam menambah warna di hutan ini.

Beragam kebudayaan Jepang dapat ditemukan di tempat ini. Jalan setapak dengan pohon-pohon tinggi di kanan-kirinya, memberi sensasi ketenangan jiwa yang dalam.Melewati jalan setapak ini, kita bisa melihat dan singgah di Rumah Teh Jepang,Ryo Zan Tei Japanese Restaurant, Kebun Raya, Tatami Spa dan Ume Tatami Suite serta Toko Cenderamata Jepang.

Selain itu, rencananya pihak pengelola di Bukit Tinggi juga akan melengkapinya dengan beberapa miniatur negara-negara lain di dunia.”Saat ini yang sudah kita rencanakan adalah miniatur negara Vatikan (Italia), Jerman dan juga Spanyol. Semuanya berada di kawasan Bukit Tinggi ini,” Jelas Chepailing.

Rasa lelah dan capek menjelajah ‘negara’ Prancis dan Jepang di Bukit Tinggi telah memberikan pengalaman dan sensasi yang mengasyikkan. Keromantisan, nuansa cinta, keheningan dan keramahtamahan menjadi bagian yang tak terlupakan dalam perjalanan ini. Sebelum kembali ke Medan, ku pandang jauh-jauh bukit pegunungan di atas Colmar Tropicale, berharap suatu saat kaki ini bisa kembali kesini.

Dataran "Bisu"

Dataran "Bisu"

Pakistan dengan yakinnya pernah berujar “Karakorum Highway dan Khunjerab Pass adalah keajaiban dunia a dan China ini, dibangun oleh keringat dan darah oleh para pekerja. Saat diselesaikan pada tahun 1979, dipukul rata 1 km untuk satu nyawa. Pekerja jalan tewas karena terkuras tenaga stamina menembus lembah-lembah pegunungan Himalaya yang ketinggiannya mencapai 5000 mdpl (mulai dari permukaan laut)

Karakorum Highway biasa juga disebut dengan nama jalan persahabatan. Arti persahabatan ini terealisasi dalam hubungan antara Pakistan dan China yang cukup erat (meski kadang konflik terjadi). Panjang jalan itu mencapai 1224 km. Bagian jalan yang masuk wilayah Pakistan sepanjang 809 km dan yang masuk wilayah China sekitar 415 km. Nah, titik nol dari panjang jalan itulah letak perbatasan kedua negara yang disebut Khunjerab Pass (perbatasan Khunjerab)

Jalan raya Karakorum berawal dari Kota Islamabad terus melintas Kota Sust, melewati Khunjerab Pass, Tashgergan, daerah otonomi khusus Xin Jiang dan berakhir di Kashgar. Jika diteruskan akan berakhir diwilayah Kyrgyzstan. Namun tidak termasuk dalam ruas jalan Karakorum. Jika menggunakan bus penumpang dari Kashgar menuju Pakistan, bisa ditempuh dalam jangka waktu 2 hari.

Letaknya yang berada diatas pegunungan membuat Karakorum dianggap sebagai salah satu jalan raya terindah di dunia. Puncak-puncak menjulang tinggi tertutup lapisan putih salju memonopoli landscape sepanjang perjalanan. Tak ubahnya seperti Berkendaraan diatas awan. Anda akan dibuat terpesona sekaligus tercekam karena melihat kedalaman jurang di sebelah kanan dan kiri jalan. Apalagi jika melintasinya sambil mendengarkan kisah tentang banyaknya korban jiwa yang jatuh untuk pembuatan jalan itu.

Di lereng pegunungan sepanjang jalan yang diresmikan pada tahun 1986 ini, sering dilihat jalan setapak melipir diantara kemiringan tebing yang menggetarkan hati. Jika diperhatikan dengan seksama, jalan-jalan ini seolah dibuat dengan pahatan atau karya seorang pemahat.

Jalur inilah yang dikenal dengan jalan sutera atau Silk Road. Menurut kisah, Sun Gokong dan gurunya Sam Chong (Tang Sanzang) menggunakan jalan ini untuk melakukan perjalanan merengkuh kesucian ke India sekitar 1400 tahun yang lalu. Sungguh tak terbayang kemampuan orang di masa lalu memahat jalur sutera ini yang lebarnya hanya seekor Keledai saja.

Jika beruntung, di sepanjang jalan Anda mungkin dapat berpapasan dengan binatang-binatang

Jalan tak berujung

Jalan tak berujung

khas dataran tinggi Himalaya seperti kambing Gunung, lembu atau kerbau berambut, macan salju, dan beragam binatang lainnya. Namun Anda pun harus berhati-hati dengan suhu tubuh Anda. Ketinggian dan cuaca yang luar biasa dingin dapat membuat suhu tubuh meningkat secara drastis mencapai lebih dari 40 derajat. Akibatnya pusingpun menyerang dan pendarahan akan terjadi pada bagian hidung. Untuk itu, persediaan baju hangat harus dipersiapkan sebelumnya.

Khunjerab Pass yang merupakan titik perbatasan kedua negara tersebut berupa suatu tempat di mana masing-masing negara (China-Pakistan) mendirikan pos penjagaan. Ditempat itu terdapat sebuah pilar batu yang memiliki 2 sisi. Yang satu menghadap ke China sedangkan yang satu lagi menghadap ke Pakistan.

Pada satu sisi tertulis ”Pakistan” serta tulisan arabjuga lambang negara, sedangkan di sisi lain bertuliskan dalam bahasa China berbunyi Zhong Guo yang artinya China. Pilar inilah titik awal dari kilometer Karakorum Highway.

Pintu perbatasan ini selalu ramai dikunjungi turis mancanegara yang ingin merasakan sensasi berada di perbatasan yang tertinggi didunia. Pada bulan Oktober (musim dingin), pintu perbatasan ditutup untuk turis. Yang boleh melintas hanyalah truk-truk pengangkut barang antara kedua negara. Jika turis sudah terlanjur datang karena tidak tahu tentang aturan itu, mereka diwajibkan menghentikan mobil sejauh kurang lebih 1 km dari perbatasan dan selanjutnya berjalan kaki untuk tiba di perbatasan Khunjerab.

Lembah Sust

Namanya juga daerah terpencil. Sepanjang jalan raya Karakorum terdapat komunitas penduduk asli yang cukup unik misalnya Nothern Areas. Daerah ini adalah wilayah utara Pakistan yang langsung berbatasan dengan China. Daerah paling utara di Pakistan ini adalah titik tertinggi dari Karakorum Highway. Di sini gunung-gunung salju menjulang tinggi menyentuh langit. Di daerah ini terdapat Lembah Sust yang merupakan pemukiman terdekat dengan perbatasan.

Penduduk Asli

Penduduk Asli

Masyarakat di lembah ini cukup bersahabat. Berkenalan dan menginap dirumah salah seorang penduduk akan membawa Anda menemukan sisi lain dari Sust. Tempat ini bukan hanya sebuah perbatasan tempat kendaraan melintas, tetapi juga menyajikan keindahan lembah layaknya sebuah permata yang bersembunyi dibalik lekukan Himalaya. Lucunya, buku-buku panduan wisata yang tersedia hanya menyebutkan pemukiman dekat perbatasan yang tidak memiliki keistimewaaan.

Penduduk Sust seperti umumnya penduduk yang tinggal di sepanjang Karakorum Highway, adalah pemeluk agama Islam aliran Ismaili yang berbeda dengan mayoritas penduduk Pakistan. Aliran Ismaili adalah pecahan dari Islam Shihah yang cukup moderat.

Di tempat ini jarang ditemukan perempuan yang berbalut cadar. Wanita di sini memiliki hak yang sama dengan pria. Khususnya hak dalam mengenyam pendidikan.

Tidak ada mesjid untuk tempat sembayang. Penduduk menganggap sholat adalah suatu hubungan pribadi antara tuhan dan manusia. Posisi mesjid digantikan dengan sebuah balai komunal yang disebut Jamaat Khana. Aga Khan, pimpinan spiritual sekte Ismaili, adalah pujaan semua orang yang tinggal di lembah-lembah Himalaya Pakistan Utara.

Sepanjang jalan Karakorum Highway, barisan gunung-gunung seakan menyanyikan senandung bisu. Sebuah lagu indah yang tak terdengar oleh telinga, namun mengetuk relung-relung hati. Tentang negeri diatas awan yang yang dikarunia mukjizat istimewa. Tempat yang damai dan tentram. Surga bagi semua orang yang ingin kembali pada kekuasaan alam. Semuanya ada disana, di Karakorum Higway. Jalan perbatasan dua negara yang tertinggi di dunia. ( Sumber:Harian Global)

Si Cantik Barbie

Si Cantik Barbie

Sejak pemunculannya hingga saat ini, boneka cantik  yang selalu tampil modis ini telah mewabah di kalangan remaja diseluruh dunia. Namun siapa sangka boneka trendy ini sudah berusia cukup uzur. Berkisar 2 minggu lagi, tepatnya tanggal 9 Maret 2009 nanti, Barbie genap berusia 50 tahun.

Boneka awalnya hanya satu jenis permainan yang disukai oleh anak-anak berjenis kelamin wanitta. Boneka biasanya memiliki pakaian dan menjadi bahan untuk menguji kreatifitas anak dalam berimajinasi. Dengan boneka anak-anak bisa melakukan permainan bongkar pasang. Bila bajunya tidak cocok atau disesuaikan dengan kondisi ‘cerita’nya, maka figur itu bisa dibongkar pakaiannya dan dipasang dengan pakaian yang sesuai ‘skenario’. Harganya pun mudah dijangkau.

Berbeda dengan keberadaan Barbie yang bertolak belakang dengan hal tersebut, maka Barbie lebih disukai oleh semua kalangan. Tidak hanya anak SD, mungkin anak SMP, SMU hingga ibu-ibu muda pun gemar mengoleksi benda ini. Boneka Barbie ternyata memiliki nama lengkap, ‘Barbie Millicent Roberts’, lahir 9 Maret 1959, langsung berpendidikan SMU dengan multi karir (lebih dari 70 karir) seperti Astronot, dokter,
pembalap dan yang pasti dia adalah seorang model remaja.

Nama barbie diberikan oleh Barbara Handler, anak dari Ruth Handler, pembuat dan pendiri perusahaan mainan Amerika yang bernama Mattel, pabrik dimana Barbie dibuat sejak 50 tahun lalu. Pertama kali, Barbie muncul saat pameran mainan anak-anak di New York. Kecantikannya langsung merebut hati dunia. Pada tahun pameran itu digelar penjualan Barbie telah melebihi 300 ribu unit.

Saat ini Mattel memperkirakan ada 100.000 kolektor Barbie kelas berat yang membeli 20 boneka Barbie dan mebelanjakan 1000 U$D setiap tahunnya, asal tahu saja boneka Barbie rata-rata terjual sebanyak 178.000 buah perhari dan diperkirakan 90% wanita Amerika pernah/masih memiliki boneka Barbie.

Ikon Wanita Idola

Lucune

Lucune

Segala macam ilusi atau mungkin lebih tepat disebut imajinasi mengarah kepada keberadaan Barbie yang ‘sempurna’. Lihat saja postur tubuhnya. Rambut pirang, mata bundar berwarna biru, kaki jenjang dan perawakannya yang tinggi semampai. Sebuah gambaran ideal dan sarat dengan nilai femininitas. Bila diperhatikan dengan seksama, wajahnya pun adalah wajah yang teduh, bersahabat dan seakan-akan selalu menyapa pada siapa saja. Meski ada yang bilang, wajahnya adalah wajah yang bodoh, namun siapa saja mengamini, bahwa ada aroma kecantikan yang terpancar.

Ada nilai kepercayaan di sini. Wanita cantik dan mengumbar senyum menawan pada setiap orang tentunya memberi kepercayaan kepada orang yang belum mengenalnya untuk mendekati. Barbie yang feminin dan berambut panjang itu memberi pengaruh betapa dahsyatnya sebuah benda mati mampu memberi impian pada setiap wanita untuk mengidolakannya.

Mencari sebuah ikon budaya yang popular dewasa ini tidak sulit seiring dengan berkembangnya wacana berpikir yang disertai dengan semakin mengglobalnya acara TV dan media massa secara cepat. Bila Elvis ataupun James Bond bisa dikatakan sebagai ikon budaya yang membutuhkan peng-ideal-an seorang laki-laki, maka Barbie masuk dalam wilayah ini sejajar dengan Madonna, Cher yang memiliki kaki indah maupun Mandy Moore yang mempunyai lekuk tubuh yang bagus.

Membangun citra memang tidak hanya diraih dengan cara kepemilikan Barbie, namun bisa juga diraih oleh produk-produk maupun personal yang lebih mengedepankan citra dan gaya. Susan Pearce (1995), seorang sosiolog menekankan bahwa secara sadar atau tidak, aktifitas mengoleksi suatu produk yang sarat dengan nilai citra adalah aktifitas mengonsumsi juga. Bila demikian halnya, maka kegiatan mengoleksi bisa berarti pula tuntunan untuk mengonsumsi sebanyak mungkin.

Di samping hal tersebut, Pearce juga menganggap bahwa kegiatan mengoleksi ini adalah juga menyentuh persoalan pribadi. Disadari atau tidak, tindakan mengoleksi ini seringkali menggambarkan atau malah mengembangkan jati diri mereka. Sehingga Barbie dianggap juga tidak hanya merepresentasikan ikon konsumerisme melainkan juga ikon materialisme, yakin penggunaan barang-barang hak milik untuk menandakan dan membentuk jati diri seseorang.

Omset Menurun

Barbie

Barbie

Barbie akhirnya tidak hanya menjadi sekedar boneka, tapi juga dimanfaatkan sebagai gerakan politik maupun budaya. Barbie pernah dijadikan simbol untuk gerakan kesetaraan gender bahwa perempuan bisa berkarir menjadi apa saja. Barbie juga masih dilarang di Arab Saudi karena dianggap sebagai ‘Mainan Yahudi’.

Usia yang semakin bertambah serta kepopulerannya, tentu saja diiringi oleh terpaan permasalahaan dan tantangan yang beraneka ragam. Saat ulang tahunnya kali ini, Barbie seolah tidak bergembira Barbie  dianggap telah melahirkan kontroversi ketika ribuan anak remaja menderita anorexia karena ingin tubuhnya seperti Barbie.

Mereka  rela memotong jadwal makan mereka demi menghasilkan tubuh ramping seperti Barbie. Banyak yang sakit dan kecaman pun mengalir kepada Barbie. Selain itu, dalam 7 tahun terakhir datang pula saingan baru bagi Barbie yang dikenal dengan boneka Bratz.

Faktor-faktor ini sangat mempengaruhi omset penjualan Barbie. Tahun lalu (2008), omset dari penjualan Barbie jatuh sekitar 21%. Meskipun begitu Barbie tetap menampilkan wajah muda dan mempesona dengan model-model pakaian terbaru yang tak terhitung banyaknya. Konon katanya, Barbie juga menjadi sumber inspirasi bagi para designer untuk merancang kreasi pakaian-pakaian terbaru mereka.

Saat ini, Barbie telah muncul dalam situs facebook.com dan my space yang saat ini juga sedang mewabah. Boneka yang tingginya 29 cm ini, sampai saat ini masih menjadi produk utama dari Mattel. (berbagai sumber)

Barbie’s secret history

Pencipta Barbie????

Pencipta Barbie????

Berikut ini adalah versi lain tentang asal usul Barbie;
Barbie, boneka yang terkenal dan banyak disukai diseluruh dunia ini merupakan icon feminitas di Amrik. Boneka yang mempunyai umur terpanjang dalam penjualan sejak pertama kali di ciptakan. Namun, di sebuah desa kecil di Bavaria – Jerman, tidak akan ada kebanggaan terhadap boneka ini, yang ada hanyalah kepahitan dan penyesalan.

Barbie’s secret history, yang selama ini tidak pernah diakui tentang keberadaan Rolf Hausser, dimana dia dikhianati sejarah. Cerita tentang kenaifan kota kecil dalam perlawanan terhadap industry besar. Terlepas dari semua itu, ini tentunya cerita tragedi seorang yang sudah tua, yang namanya dihapus dari sejarah Barbie, dimana tidak banyak orang yang mengetahui dialah pencipta boneka Barbie.

Pada 1952, Lili terlahir sebagai karakter kartun di surat kabar Jerman bernama Bild Zeitung. Pada tahun 1955 terinspirasi oleh karakter kartun tersebut, kartunisnya (Beuthin) memiliki ide untuk menjadikan Lili sebagai boneka. Setelah menemukan pembuat boneka yang tepat, Rolf bersama saudaranya Kurt dengan perusahaan mereka O&M Hausser, akhirnya mereka mengkreasikan boneka perempuan dewasa yang tidak lazim pada jamannya. Sejak peluncurannya ke pasar pada 12 Agustus 1955, Lili mengalami kesuksesan luar biasa.

Pada tahun 1956, pebisnis wanita bernama Ruth Handler bersama suami dan kedua anaknya berkunjung ke Lucerne, di Switzerland. Ruth dan suaminya sendiri (Elliot) adalah pemilik Mattel, perusahaan manufaktur boneka di Amerika. Pada liburannya, dia tertarik melihat boneka wanita dewasa, Lili. Pada jaman tersebut boneka lazimnya hanyalah yang imut dan lucu dengan model bayi, melihat boneka tersebut dia membelinya dan membawa pulang (ya iyalah bawa pulang, emank mau dibawa kemana lagi?).

Setelahnya dia mengirimkan dua karyawannya ke Jepang membawa boneka Lili untuk mencarikan perusahaan manufaktur yang bisa membuatkan boneka serupa. Boneka Barbie pada khirnya sukses di dunia, namun sejarahnya tidak.

Singkatnya, setelah mengetahui Lili ditiru, Rolf hanya bisa menjual patennya ke Mattel dengan perasaan kecewa. Setelah beberapa saat dia menjual paten Lili ke Mattel, O&M Hausser kemudian mengalami kerugian dan kebangkrutan. Dunia tetap tahu Barbie diciptakan oleh Mattel, nama Barbie diambil dari nama anak Ruth Handler. Walaupun Mattel menjelaskan ke dunia bahwa Barbie kreasi dari Ruth Handler, namun tampak jelas Barbie dan Lili adalah identik.(Sumber:Fenomena Harian global)

Ular Raksasa

Ular Raksasa

Heboh! Gambar Ular Sepanjang 100 Kaki di Kalimantan Penduduk desa yang tinggal di sepanjang sungai Baleh di Borneo (Kalimantan) merasa yakin bahwa makhluk mitos yang disebut Nabau berkepala naga dan memiliki tujuh lubang hidung dengan panjang 100 kaki telah kembali ke sungai tersebut.

Mengutip Daily Mail, Kamis (19/2) ketakutan warga akan hal itu berdasarkan sejumlah foto yang menampilkan keberadaan ular raksasa yang tengah berenang di sepanjang aliran sungai. Foto-foto tersebut diabadikan oleh seorang anggota tim monitoring bencana banjir saat berada di sebuah helikopter. Keaslian akan foto-foto tersebut telah menjadi perdebatan yang hangat.

Bahkan suratkabar di Kuala Lumpur, New Straits Times meminta para pembaca agar memutuskan sendiri keaslian foto-foto tersebut. Saat ditunjukkan foto-foto itu, sejumlah warga desa mengklaim pernah melihatnya dan kata mereka itu adalah monster Nabau, seekor monster laut purba yang menurut kepercayaan mereka berubah wujud menjadi berbagai jenis hewan.

Mengerikannnnnn

Mengerikannnnnn

Sejumlah orang yang dimintai tanggapannya menepis dugaan bahwa ular itu adalah sebatang balok kayu. “Balok kayu tidak akan bisa meliuk seperti itu, ” ujar seorang warga. Sementara itu, ada yang beranggapan foto-foto tersebut adalah hasil rekayasa komputer. Yang lainnya menilai itu adalah sisi dalam sungai Baleh yang bewarna cokelat keruh. Apapun tanggapan mereka, penduduk desa merasa yakin bahwa benda yang ada di dalam foto itu meliuk mengikuti aliran sungai.

Sebelumnya di awal tahun ini, para ilmuwan telah menemukan fosil seekor ular besar yang mampu menelan bus (Baca Fenomena Harian Global Edisi Sabtu 14/2) dan blog saya temuan fosil ular raksasa. Monster sepanjang 45 kaki yang diberinama Titanoboa itu sangat besar dengan berat 1,25 ton di hutan tropis Amerika Selatan 60 juta tahun silam, persisnya 5 juta tahun pasca punahnya dinosaurus.

« Newer Posts - Older Posts »

Kategori