Oleh: triy | April 28, 2009

Ada Kuburan Panjang di Pulau Kampai

Kuburan ini memiliki panjang 8 meter

Kuburan ini memiliki panjang 8 meter

Jam baru menunjuk di angka 8 pagi. Namun sengatan matahari sudah menembus kulit. Dengan mengendarai sepedamotor, saya bersama dengan Waristo (Redaktur Global) meluncur kencang di keramaian pagi menuju Kabupaten Langkat.

Butuh waktu sekitar dua jam menuju kabupaten ini. Tujuan kami adalah kuburan panjang di Pulau Kampai. Kuburan yang menyimpan beragam nilai sejarah, misteri dan juga budaya bagi masyarakat Pulau Kampai.

Bagi sebagian masyarakat di Sumatera Utara, Pulau Kampai identik dengan terasi. Ya… Pulau ini adalah salah satu penghasil terasi terbaik di Indonesia. Bahkan, konon terasi Pulau Kampai sudah sampai ke negeri jiran.

Kepopuleran terasi ini jugalah yang mengangkat nama pulau ini. Apakah Pulau Kampai hanya populer karena terasi saja? Ternyata tidak. Pasalnya jika Anda mengunjungi pulau ini, Anda juga akan melihat beberapa peninggalan budaya yang menyimpan beragam nilai sejarah yang masih misterius.

Sampai di Stabat, kami berdua bergabung dengan dua wartawan Global lain yang sudah menunggu, yakni Badruddin dan Arfan. Selanjutnya perjalanan pun dilanjutkan menuju dermaga Pangkalansusu untuk menyeberang ke Pulau Kampai.

Pulau Kampai adalah nama sebuah pulau yang terletak di Kabupaten tingkat II Langkat, Kecamatan Pangkalansusu. Sebelum kaki ini menginjak di tanah Pulau Kampai, kita harus menyeberang lautan dengan menggunakan speed boat. Ongkosnya cukup murah. Sekali naik para penumpang hanya ditarik 8 ribu rupiah. Jika kita membawa sepeda motor dikenakan tambahan biaya 3 ribu rupiah.

”Setiap hari kita melayani rute perjalanan dari dermaga ini ke Pulau Kampai. Ada juga penumpang yang menuju ke Pulau Sembilan,” ujar Buyung salah seorang pemilik boat.

Kuburan “Misterius”

Kuburan Panjang

Kuburan Panjang

Setelah kurang lebih 40 menit menikmati pemandangan lautan. Kami pun akhirnya sampai ke Pulau Kampai. Sambutan hangat penduduk Pulau Kampai membuat kami merasa nyaman. Sebelum melanjutkan petualangan di pulau ini, kami sempatkan bertemu dengan M Buyung Amir, Kepala Desa Pulau Kampai.

Menurut Buyung, masyarakat Pulau Kampai didiami oleh beberapa suku. Di antaranya Jawa, Aceh, Melayu, perantau dari Malaysia dan Karo. Warga Tionghoa juga ada walaupun jumlahnya tidak sebanyak dulu.”Saat ini yang tinggal adalah orangtua dan anak-anak. Kalau yang remaja sudah banyak yang mencari kerja ke luar,” terang Buyung.

Ditemani dengan M Yusuf dan juga Abu Bakar, kami langsung melanjutkan perjalanan menuju kuburan “misterius”. Orang-orang di sini menyebutnya dengan Kuburan Keramat Panjang. Dari dermaga Pulau Kampai, kuburan tersebut hanya berjarak sekitar 300 meter.

Sebuah bangunan berpagar kayu menyergap langkah kami. Rasa penasaran pun langsung menyeruak dalam hati. Apakah betul kuburan itu memiliki ukuran yang berbeda dengan kuburan lain. Ternyata benar, di dalam bangunan berjejer dua buah nisan. Yang satu memiliki ukuran sekitar 6 meter dan yan satunya lagi 8 meter. Di kedua nisan tersebut tidak ada satu pun identitas yang bisa dijadikan bukti kuburan siapa sebenarnya.

Masyarakat di sini percaya jika kuburan ini sudah ada sebelum zaman penjajahan Belanda. Hingga saat ini, kuburan keramat panjang ini masih sering dikunjungi oleh masyarakat untuk berdoa.”Sebagai salah seorang yang sejak kecil tinggal di sin, saya tidak pernah tahu kuburan siapa sebenarnya. Orang tertua di sini saja juga tidak tahu,” ungkap M.Yusuf menjelaskan.

Menurut M Yusuf, kuburan ini sebelumnya pernah diteliti ilmuan dari Belanda. Namun hasilnya nihil. Ukiran di batu nisan yang mirip dengan tulisan China, sempat diyakini masyarakat jika kuburan ini adalah kuburan etnik Tionghoa. Tapi lagi-lagi, teori tersebut masih belum bisa dipercayai seratus persen masyarakat sini.

Kemisteriusan Kuburan Panjang ini bukan hanya ini saja. Pasalnya, kuburan ini menurut warga memiliki penjaga khusus, yakni seekor harimau berwarna putih.”Dulu harimau putih itu sering dilihat oleh warga sini. Selain itu, dulunya di sini juga pernah ada orang yang meninggal, gara-gara memindahkan batu pusara yang ada di atas kuburan ini,” papar Yusuf menambahkan.

Hingga saat ini kuburan ini tetap masih menyimpan misteri. Namun meski begitu, dari beberapa data didapat penjelasan bahwa sesuai dengan namanya, Kuburan Keramat Panjang. Kuburan ini mengacu pada nama Teuku Keramat Panjang dan nama tersebut sudah dilafal sejak dari tiga generasi sebelum mereka. Sebuah nama yang juga memiliki hubungan erat dengan ulama besar dari Langsa.

Nama asli dari Teuku Keramat Panjang adalah Teuku Sulthan Muhammad. Ia berasal dari Pakistan dan seorang ulama besar. Saat tiba di Pulau Kampai, ia berusia 13 tahun dan menetap di Pulau Kampai sampai akhir hayatnya. Di Pulau Kampai ia bekerja menjadi pedagang, seperti jual-beli emas, kain dll.

Di samping sebagai pedagang, ia juga membuka perpustakaan seraya menulis buku-buku agama, bahan-bahannya beliau ambil dari Mesir. Mengingat ilmu agama beliau sangat luas, beliau juga berdakwah di Pulau Kampai.

Teuku Sulthan Muhammad menikah dengan seorang wanita berumur 14 tahun di Pulau Kampai, istri beliau bernama “Siti Bahara Silalahi”. Ayah Siti Bahara Silalahi berasal dari Kabanjahe yang semasa hidupnya ayah Siti Bahara Silalahi juga seorang pedagang Sedangkan ibu Siti Bahara Silalahi, berasal dari tanah Deli.

Kuburan Sang Pendekar Biola

Kuburan Pendekar Biola

Kuburan Pendekar Biola

Selain Kuburan Keramat Panjang, di pulau ini Anda juga bisa melihat kuburan lain yang memiliki nilai budaya. Kuburan tersebut adalah Mas Merah. Bedanya, jika kuburan Keramat Panjang masih menimbulkan “misteri”, kuburan Mas Merah sudah bisa diidentifikasi asalnya.

M Yusuf dan Abu Bakar yang menemani kami selama melakukan perjalanan di Pulau Kampai mengisahkan sejarah kuburan Mas Merah. Menurut mereka, kuburan ini adalah kuburan Salam, lelaki yang tinggal di Serawak Malaysia dan lahir sekitar tahun 1890.

Salam memiliki abang bernama Amran. Pada saat itu, Salam menjalin hubungan diam-diam dengan gadis bernama Rukiah. Hubungan ini tidak diketahui oleh orangtua Salam. Rukiah adalah seorang gadis baik dan berparas cantik, yang dijodohkan oleh kedua orangtuanya dengan abangnya.

Dinikahkanlah Amran dengan Rukiah. Saat pernikahan mereka, Salam putus asa. Konon Salam melemparkan batu sebanyak tiga buah di tanah Serawak sebelum ia pergi. “Kalau timbul tiga buah batu yang ku lempar di tanah Serawak ini, barulah aku akan pulang,” ujar Abu Bakar menirukan ucapan Salam.

Saat pergi, Salam bertemu dengan Salmah. Salmah adalah kembang di Medan Labuhan-Belawan. Ayah Salmah bernama H Kasim. Ibu Salmah berutang pada seorang keturunan India bernama Tambi. Namun ia tidak mampu membayar utangnya. Oleh orangtuanya, Salmah dikawinkan dengan Tambi.

Di saat acara perkawinan Salmah dengan Tambi.Salam yang dijuluki pendekar biola memainkan biolanya sambil menyanyikan sebuah lagu yang berjudul “Kau adalah Mas Merahku”.Mendengar lag ini, Salmah langsung jatuh pingsan. Masyarakat sekitar tidak mengetahui bahwa Salmah adalah Mas Merah yang disebut Salam dalam lagunya. Salam kembali berputus asa dan kemudian pergi ke laut untuk menjadi nelayan di daerah Brandan.

Singkat cerita, saat ia dan seorang temannya Husein berkelana di lautan. Salam mendengar teriakan seorang wanita.Salam hendak menolong namun dihalangi oleh Husein. Husein berkata pada Salam, “Aku tidak berani kesana. Daerahnya sangat angker. Biasanya orang yang pergi kesana pasti tidak bisa kembali pulang,”.

Ternyata wanita itu adalah Salmah. Terjadilah perkelahian antara Pendekar Nayan dengan Salam. Akhirnya Pendekar Nayan yang menculik Salmah kalah dan bertemulah Salam dengan Salmah.

Mereka pun menikah selama sepuluh tahun dan tidak mempunyai keturunan. Suatu hari keduanya terkena penyakit cacar. Pada tahun 1920 tepatnya pada hari Jumat pukul 05.00 pagi Salam meninggal, dan disusul oleh Salmah pada pukul 06.00 pagi. Sebelum meninggal Salam berpesan kepada Husein, temannya, “Kalau nanti aku meninggal tolong kuburkan aku berdekatan dengan kuburan istriku, dan tanamkan bunga tanjung di atas nisan kuburan kami berdua,”. Bunga tanjung yang ditanam adalah kisah perjalanan cinta Salam sebagai tanda antara Semenanjung Malaysia, Medan Labuhan dan Pulau Kampai.

“Hal itu kemudian diceritakan Husein kepada teman-temannya, dan cerita ini secara turun-temurun dipercaya oleh masyarakat setempat sebagai sejarah terjadinya Pulau Kampai,” terang Abu Bakar.

Pantai Beraweh

Pantai Beraweh

Pantai Beraweh

Satu tempat lagi yang layak dikunjungi saat ke Pulau Kampai adalah Pantai Beraweh.Pantai yang sering disebut Pantai Pasir Putih ini adalah perbatasan Ujung Tamiang. Wilayahnya terentang sepanjang 5 kilometer. “Biasanya pada hari libur bisa mencapai 300 orang yang datang ke sini,” ujar Abu Bakar.

Pengunjung yang datang tidak hanya masyarakat sekitar. Ada yang berasal dari Pangkalansusu, Brandan dan kebanyakan masyarakat Aceh Timur. Untuk menuju tempat ini digunakan getek sebagai alat transportasi untuk menyeberang.

Sepoi angin laut di malam hari Pantai Beraweh benar-benar menggoda mata untuk melihat ke atas. Gemerlap bintang dengan sinarnya yang terang memberikan rasa tenang dalam hati. Menikmati alam semesta dengan hamparan deburan ombak Pantai Beraweh. Pada hari libur, pantai ini juga sering digunakan untuk acara anak sekolah seperti kegiatan kemah pramuka.

Iklan

Responses

  1. saya merasa tertarik dengan segudang sejarah yang ada di pulau kampai, tetapi apa benar tidak ada yg tau tentang sejarah kuburn panjang……???
    dan panjang kuburan itu apa benar 8 meter, teman saya bilang panjang nya hanya 7,8 meter…………..
    ????

  2. assalamualikum.wr.wb…Subhanallah…Allahuakbar…betapa sennnengnya aq…bisa mendengar, membaca tentang Pulau Kampai…aq asli anak pulau kampai, Alhamdulillah Allah memberiku peluang untuk masuk AKABRI, sekarang ini aq tergabung di Pasukan Garuda (PBB)di Libanon..orang tua ku pendatang dari tahun 60-an sudah di pulau kampai…aq lahir, sekolah,belajar di sana…aq bangga dengan anda karena sangat gigih mencari tau tentang pulau kampai namun untuk kuburan panjang itu janganlah terlalu di dramatisir!janganlah berlebihan karena merusak Tauhid kita(semoga Allah menjauhkan kita semua dari syirik..amiiin),maaf ya sepertinya aq mengajari anda namun sangat penting!! aq lanjut ya..banyaaak sekali kenangan di sana..pengen rasanya pulang kampung..terharu aq membaca Blog ini…rasanya seperti hadir di pulau kampai…aq punya impian semoga Allah meridhoi amiiin..aq ingin mengajak seluruh masyarakat pulau kampai agar melaksanakan perintah Allah, sholat 5 waktu di mana azan dikumandangkan secara berjamaah(di masjid),melaksanakan tahajud,dhuha,tauban,witir dan solat2 sunnah lainnya..serta bersedakah sebanyak2nya..semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua khususnya masyarakat pulau kampai..aq yakin kuburan panjang yang anda katakan sebagai Ulama besar itu benar dan aq merasakan kharismanya selama hidup di pulau kampai..dan yang aq kuatirkan banyak pergeseran tauhid selama ni di pulau kampai…semoga Allah memberi kepahaman kepada kita semua khususnya masyarakat pulau kampai…aq mhn maaf bila banyak menilis disini semoga bermanfaat..sampaikan salamku kepada seluruh masyarakat pulau kampai yg anda temui..teruslah berjuang, teruslah belajar sampai Allah menghentikan kita untuk belajar…terimakasih sekali karena telah menghilangkan rasa rinduku kepada kampung halamanku semoga Allah memberi kesempatan aq untuk melihat secara dekat pulau kampai n masyarakatnya…bismillah wassalam..

    • Thank mas, kalau tulisan saya bisa membawa pembaca masuk ke dalamnya. itu adalah suatu kepuasan yang tak akan pernah tergantikan dengan materi. Hm… kalau masalah dramatisir sih nggak terlalu. Cuman, emang saya sendiri(sebagai orang awam) masih ingin tahu bagaimana kejadian tersebut. Tapi, biarlah kita serahkan kepada Allah. Karena DIA-lah sang pencipta ini semua. Salam kenal mas…….

    • assalamualaikum…pengen ke pulau kampai, punya target..membangun kampai…pantai bahwe…salm kenal dari say dwi karina

      • Iya.. semoga sukses mbak

    • ass. ww ini pian bang sadar apa kabarnya nih.ya pian juga turut senang mengenai pulau kampai, semoga sukses selalu. amin…………

  3. subhanallah… Sungguh indahnya pulau kampai, sy jd pngin cpt berlabuh kesana, trimaksh y bg, krn tulisan bg ne sy jd tau gmina pulau kampai itu, sy ug sngat brtrimakash pada teman sy nurhidayah y sy cintai n syng krn dialah sy tau ko d sumatra ad pulau kampai.. N karna dia juga semangat sy untk segera ke pulau kampai bertmbah. ‘ aya..tunggu fk disana ya,’ fk syng aya…
    BISMILLAH.. YA ALLAH BAWALAH Hamba ke sana…
    AMIN…

    • Oke…… meskipun pulaunya kecil, Pulau Kampai menawarkan beragam sejarah yang menarik untuk dipelajari……

  4. alhmdlillah….
    trm ksh bnyk y mas, udh mlput kindhan pulau kami,..
    sy mrsa “bangga” mmlki tmpt klahirn yg bgtu indah….
    jjur, dlu sy krang sng tinggal d P.Kampai,, tp skrng, stlh mmbca tlsn anda, rsa kcintaan sy thdp tnah klahiran smkin bsar…
    smg dgn bnyknya org yg mngunjungi pulau kami,, pulau kami mnjdi lbih indah, dan msyrkatnya tdk lpa b’sykur kpd ALLAH…. aminnn…
    kpn main k pulau kami lg…????

    • Sama-sama mbak…… Amin….

  5. pulau kampai masih indah kan

  6. Thanks y mas udah mau meliput keindahan pulau kampai……
    kmi bersyukur masih da org yang mau membangkitkan tau mengenalkan pulau kami dengan orng lain….
    Semoga Allah melimpah kan rahmat_a kepada anda yang telah menulis tentang pulau kampai ini….AmiN….
    salm kenal y mas!!!!…..

    • salam kenal juga mas……. terimakasih juga atas apresiasinya terhadap tulisan saya…..

  7. Terima kasih Bro…. sudah meliput di P.Kampai.
    Pulau kampai, pulau kecil yang menyimpan banyak kenangan dan keindahan. Sudah hampir 7 tahun aku tidak kesana dan ingin rasanya cepat2 pulang kampung untuk bertemu sanak famili yang lama tidak bersua. Wak imah, wak subang, tacun, pak dokman, sizul, wak din,kak mida dan banyak lagi. i miss u all. Rudi, Ami, Pak uda bandit bang usuf dan banyak teman-teman yang lain.

    • yup… sama-sama bang….

  8. Saya sudah lama baca ttg pulau kamapai ini bahkan foto2 pulau ini pada jaman belanda saya ada..saya sudah meneliti dari catatan cerita dan tulisan orang dahulu yg pernah di pulau ini..termasuk catatan perjalanan orang cina dan belanda pada jaman Aru..yang saya tertarik bahwasanya pulau ini menunjukkan disinilah kerajaan aru itu..bagi teman2 apakah ada yg tau atau pernah menemukan hal2 yg lain dari itu..di pulau tersebut??
    Terima Kasih

  9. hy smua org plau kampai

  10. plau kmpai mypan sjrah kbran pjang yg sma dgan hal’na dgan kbran pnjang yg trltak di krang berahi meragin jambi..

  11. Ass. wr.wb pa kabar nih bang sadar,pian baru lihat ni coment bang sadar.apa masi kenal dengan pian nih.ni pian cucu wak bakar.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: