Oleh: triy | Januari 21, 2009

Egois, Antara Sahabat dan Musuh

Aku Hari Ini

Aku Hari Ini

Senang dan gembira, mungkin itulah sedikit suasana yang menggambarkan hatiku hari ini. Meskipun janjian dengan seseorang yang aku sayangi harus ter-cancel gara-gara meeting di kantor. Tapi, sebuah pesan balasan singkat dalam inbox FS ku sedikit mengobati rasa rindu. Thank a lot yah…

Yah, itulah manusia. Mahluk sosial yang berada dalam lingkaran kehidupan. Wajar saja, jika manusia memiliki rasa benci, suka, sayang bahkan dendam. Itu semua tak bisa dihilangkan dari sifat manusia, yang sudah di doktrin menjadi mahluk sosial.

Namun, apa sebenarnya yang membuat manusia satu dengan yang lainnya harus terlibat dalam sebuah permusuhan. Tak lain, tak bukan adalah sifat egois. Dan itu juga pernah kurasakan, dan aku sadar hal itu ternyata membuat semuanya hancur.

Keinginan untuk bisa mengendalikan hati seseorang adalah perbuatan yang bodoh yang pernah aku lakukan. Namun, aku juga tak mau untuk disalahkan. Karena, kembali lagi kepada kodrat manusia. Bahwa manusia adalah mahluk sosial, yang kapan dan dimanapun bisa saling menyayangi dan menyakiti. Betul juga apa kata pepatah, salah satu penyebab hubungan antarmanusia bermasalah ialah kita sering menuntut orang lain berbicara dan berperilaku sesuai kehendak kita(egois). Karena itu kunci dari membangun hubungan adalah menyadari setiap manusia sangat spesifik dan berbeda satu sama lain. Kita harus belajar menerima perbedaan, karena di dalam perbedaanlah manusia bisa saling isi mengisi.

Yup, saling mengisi. Itulah yang selama ini terlupakan olehku. Padahal ternyata perbedaan itu indah. Lihat saja pelangi yang memiliki warna-warni, bayangkan jika pelangi hanya punya satu warna. Tak kan ada keindahan. Itulah indahnya perbedaan. Perbedaan untuk saling memberi dan mengisi. Keegoisan yang harus dipunahkan dalam hati.

Damai di hati, begitu kata D’Kroos. Damai yang selalu akan menyelimuti nuansa persahabatan. Aku juga tak tahu kenapa dalam minggu ini, aku begitu intens menulis dan mengalami arti sebuah sahabat. Yang pasti kini aku mulai mengerti bagaimana sahabat itu. Ups…. Berhubung si Bos sudah datang, ku tutup dulu komputerku. Semoga damai tetap akan datang kapanpun dan dimanapun.

Iklan

Responses

  1. Ibarat gelas yang penuh diisi air, apabila dimasukan air lagi kedalam gelas tersebut, pasti akan tumpah. Oleh karena itu kita harus mengosongkan terlebih dahulu gelas tersebut, agar bisa menampung air yang dituangkan tersebut.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: