Oleh: triy | Januari 13, 2009

Orang Bodoh yang Menganggap “Hidup Seperti Air Mengalir”

Aku Hari Ini

Aku Hari Ini

Malam yang gelap selalu diikuti pagi yang tenang.” Begitupun dengan proses kehidupan. Ketika malam tiba, ia pasti akan beranjak menuju pagi hari. 24 tahun yang lalu saat aku dilahirkan, proses kehidupan pun dimulai. Hingga detik ini diusiaku yang masih muda. Usia pemberontak, begitu seorang kawan dekatku mengistilahkannya.

“Maklumlah kita ini kan jiwa-jiwa muda. Jiwa yang selalu diikuti dengan emosional. Jiwa yang penuh dengan semangat. Kalau nggak bisa menahan diri, bisa berubah menjadi api yang membara. Bisa membakar semuanya,” ungkapnya kepadaku waktu itu.

Betul juga, hanya satu memang yang selalu membuatku untuk selalu berhati-hati. Bisa sabar itu. Hidup bukan seperti air yang mengalir. Orang bodohlah yang menganggap bahwa kehidupan ini seperti air yang mengalir. Yang selalu mengalir sampai kemanapun. Tak memperhatikan kemana aliran itu akan bermuara.

Beruntung jika air itu ke laut. Akan berpadu menjadi salah satu dari empat altar ilmu pengetahuan. Air. Biru dan jernih. Tapi, kalau bermuaranya ke tempat berbahaya. Di pembuangan limbah misalnya. Aliran air yang bisa menjadi sumber penghidupan, akan berubah menjadi sumber penyakit. Bahkan, tak jarang bisa mematikan.

Maka dari itu, aku ketawa ketika mendengar seseorang yang mengatakan kalau prinsip hidupnya dibiarkan seperti air yang mengalir. Kebetulan pagi tadi, aku sempat wawancara dengan seorang tokoh di Medan. Yang akan kubuat menjadi profil. Tak ada yang aneh, sebelum ia mengucapakan prinsipnya kepadaku.

Dia seorang pebisnis. Termasuk sukses di kalangan pebisnis di Kota Medan. Dia sempat bertanya padaku, kenapa aku tertawa. Sambil bercanda aku tanya balik kenapa ia memilih prinsip seperti itu. Jawabannya sederhana, “Kalau air mengalir itu kan bisa kemana-mana.”

Nggak salah nih, kutanya lagi. Aku pun mulai sedikit memberikan sedikit argumenku. Bukan apa-apa, karena aku berpikir hanya orang bodoh yang menjadikan hidup ibarat air mengalir. Oke, dia boleh sukses. Tapi, apakah kesuksesan itu didapat seperti air yang mengalir. Bisa ke tempat bersih, atau bisa ke tempat kotor.

Mendengar itu, ia tersenyum dan langsung meralatnya. Dan ia mengaku, ternyata ia salah menjadikan prinsip hidupnya. Ups… aku jadi malu sendiri. Karena tujuanku bukanlah untuk mengguruinya. Hanya sekedar sharing-sharing saja. Tapi, ia justru menerimanya.

Setelah aku balik ke kantor, ponselku berbunyi. Sebuah sms nongol di dalamnya. “Betul juga ya tri, hidup ini jangan seperti air mengalir. Nggak tahu kemana rimbanya.He…he…,” begitulah bunyinya.

Ya, mungkin itulah ceritaku hari ini. Luar biasa. Hanya dua kata yang selalu membuatku berjalan dengan tegar ke depan. Hati nurani. Dan hati nurani selalu memberiku jalan yang terang. Kesalahan-kesalahan yang kadang kubuat pun, kuakui karena aku tak menuruti hati nuraniku. Luar biasa.

Iklan

Responses

  1. hahahahhaa.
    keren2 sob…kasian bgt tuh orang..pasti malu berat dia mengganti prinsip secepat itu…hehehe
    hidup seperti air mengalir ya.
    biarkan berjalan apa adanya…
    klo bolh gw ralat dr prinsip gw,, harusny tuh jgn apa adanya. tapi the best of apa adanya. the best dari diri kita….
    tapi gx salah juga si sob org berpikiran seperti itu…
    mungkin analogi mereka berbeda tentang air.. gx melulu ke laut kan… klo di pake orang buat nyiram pohon lumayan berguna juga kan tuh air yg mengalir di sungai???
    menurut gw kesenangan seseorang tuh acak terhadap sesuatu….
    kaya filusuf dr yunani “diogenes”.
    Dia cuma hidup di dalem tong setiap harinya dan dgn ditemani sebungkus roti.
    tapi dia bahagia..
    bahkan ketika raja dateng mengunjungi dia yang sedang berada di dalam tong (bentuknya seperti tempat sampah) dan dengan kagetnya berucap..
    raja : Hai warga ku, ada apa dengan kau,
    semua rakyatku makmur, tapi knp kau di
    di sini.
    Diogenes : Hai raja,, awas kau menghalangiku
    dari pandanganku terhadap
    MATAHARI…
    See….

    Keliatanya Bodoh bgt si Diogeness…
    apalagi kita yg serba berkecukupan dan mungkin normal ini…
    tapi nyatanya dia bahagia…
    yg dia anggap indah dan menyenangkan tidak lain selain terus mengagumi karya sang pencipta…. dia tak mau kelewatan melihat sun rise dan sunset…

    Mas jgn lupa ya mampir ke blog sederhana kita… http://www.xentala.wordpress.com
    jgn lupa kirim koment..
    terutama di page friend of xentala.
    tak tunggu loh…

  2. salam kenal juga mas..
    wew dr medan yah…
    horas bah….
    sumatera… tempat yg masih alami bgt..
    pengen bgt tuh naik gunung leusser dsana….
    koq jd curhat…
    balik lg ke wacana…
    bener..bener..bener..
    kalo menurut saya sih…. do what you want aja….
    gaush terbelenggu terlalu jauh sama prinsip kita….
    nyatanya situasi yang kita harapkan gx selalu jadi seperti yang kita harapkan….
    biarkan prinsip tersebut berevolusi dan beadaptasi dengan setiap keadaan…
    bisa di bilang flexible…
    mong2 thanks ya mas udh comment kesini…
    jgn lupa sering2 main…
    tukar2 link…
    ehhh mana neh commentnya di perkenalan…
    kita minta biodatanya donx mas…
    siapa tau aja nti kita bisa ke medan tempat masss.
    dtunggu loh
    by the way thanks yah ud mampir…

    best regards,

    xentala

  3. nice sharing…. menarik memang kl membahas filosofis kehidupan… thx

  4. Hanya orang pintar yang tau filosofi air

  5. tapi itulah adanya

  6. All, terimakasih… yup saya setuju….. tiap pemikiran dari kita tentu punya sebuah nilai jual. sehingga kita berani untuk menjalankannya. Saya cuma sekedar ingin meluruskan, menurut versi saya. karena apapun logikanya, jika air mengalir itu akan bermuara pada dua sisi. sisi postif, itulah yang ada manfaatnya. tapi jika ke negatif, itu yang akan jadi masalah. Salam kenal semuanya. buat yang ingin tahu profil saya, silahkan baca di halaman depan. terimakasih semuanya.

  7. salam kenal kk,cc,om2 n tante2
    emang sihh air mengalir ke dua sisi,, itulah kehidupan juga ada dua sisi,,,,,,,
    ada yang baek n ada yang jahat,,,,
    gimana kita kan membawahnya
    Air dapat memperoleh sesuatu dari kelembutannya tanpa merusak dan mengacaukan karena bergerak sedikit demi sedikit, tetapi air dapat juga melubangi bebatuan yang keras dengan tetesannya. “Ingat hati setiap orang hanya dapat dibuka dengan kelembutan dan kasih bukan dengan paksaan dan kekerasan.

    Kekerasan hanya menimbulkan dendam dan paksaan hanya akan menimbulkan keinginan untuk membela diri”. Air selalu merubah bentuknya sesuai dengan lingkungannya, bersifat fleksibel dan tidak kaku karena itu ia dapat diterima oleh lingkungannya dan tidak ada yang bertentangan dengan dia.

    Air tidak putus asa meski mendapat halangan, air akan tetap mengalir mencari jalan meskipun melalui celah terkecil sekalipun. Dan sekalipun air mengalami suatu kemustahilan untuk mengatasi masalahnya, padanya masih dikaruniakan kemampuan untuk merubah diri menjadi uap.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: