Oleh: triy | Januari 11, 2009

“Orang yang sehat mempunyai seratus keinginan, orang yang sakit hanya punya satu keinginan”

Yudistira

Yudistira

Sebelum kutuangkan keadaanku hari ini. Aku ingin mengucapkan terimakasih atas begitu banyak comment yang masuk dalam pengalaman harianku kemarin. Aku hormati semua komentar Anda. Baik yang pro dan kontra. Sekali lagi, itu hanya menggambarkan tentang diriku. Karena, seperti itulah yang aku alami selama ini. Pengalaman bukan guru terbaikku, tapi hati nuranilah yang selalu kujadikan acuan.

Hmm….. dalam dua hari ini hatiku bahagia. Luar biasa. Pertama, karena ikut merasakan kebahagiaan salah seorang sahabat yang melangsungkan pernikahannya. Dan yang kedua, mungkin ini agak ganjil. Tapi, memang seperti itulah adanya. Aku kemarin nonton. Ups….. nonton!!!

Ya nonton, meskipun terlambat datang. Tapi, syukurlah aku bisa mengerti ceritanya. Sederhana, tapi mengandung nilai moral yang luar biasa. Kisah cinta sepasang anak manusia yang terbentur oleh nilai-nilai adat dan sosial. Seorang abang yang jatuh hati kepada adiknya. Kekuatan nafsu dan cinta telah membuat sang abang berani melawan sang ayah.

Konflik keluarga yang harus dibayar mahal, hanya gara-gara cinta. Pertarungan pun tak terhindarkan lagi. Itulah sedikit pelajaran yang bisa kuambil dari nonton itu. Tabuhan gamelan dengan iringan suara yang khas menambah seru cerita tersebut.

Sudah hampir 8 tahun aku tak pernah nonton langsung. Kemarinlah aku akhirnya bisa nonton langsung di sebuah desa kecil yang terletak di Deli Tua, Deli Serdang. Nonton wayang. Inget wayang, jadi inget masa SMP dulu. Punya seorang teman yang saat ini tak tahu lagi dimana keberadaannya. Punya cita-cita menjadi seorang dalang. Kemanakah dirimu oi…

Beruntunglah mereka memiliki seorang pemimpin yang bijak. Berkat saran empat punakawan yang selalu menjadi penasehat raja, akhirnya masalah keluarga itu pun berhasil didamaikan.

Begitulah kalau sudah sakit. Hanya satu saja keinginanan seseorang. Bisa sembuh. Begitupun yang dilakukan oleh si abang. Cinta telah membuat dirinya sakit. Hingga akhirnya berani bertindak brutal. Hanya demi satu keinginan.

Betul, ketika sakit apapun yang dialami oleh seseorang. Dalam sanubari yang terdalam Cuma hanya satu keinginan. Keinginan yang bisa membuat segalanya berubah. Aku pun seperti itu, berapa banyak keinginanku ketika aku sehat. Tetapi, saat aku sakit. Hanya satu yang kuinginkan, yakni sembuh.

Lantas, bagaimana keadaanku hari ini. Alhamdulillah, aku masih sehat. Dan itu artinya, aku masih butuh banyak keinginan. Sekarang hanya satu yang kuinginkan, menjadikan keinginan itu tetap stabil. Bukan tambah menjadikanku sakit.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: