Oleh: triy | Januari 8, 2009

Jangan Biarkan “Setetes” Kesalahan Menjadi “Tsunami” yang Menghancurkan

Jangan Biarkan tetesan itu berubah tsunami

Jangan Biarkan tetesan itu berubah tsunami

“Bahayanya kesalahan-kesalahan kecil adalah bahwa kesalahan-kesalahan itu tidak selalu kecil.Kesalahan kecil bisa mengakibatkan kesalahan yang lebih besar. Bersamaan dengan kesalahan itu, persoalannya bisa menjadi besar pula. Maka kesalahan kecil pun harus segera dibetulkan.”

Kesalahan…ya siapa yang tak pernah melakukannya. Setiap hari pasti kita tak luput darinya. Bahkan, kadang-kadang justru kita sering melakukan kesalahan yang sama secara berulang-ulang. Kesalahan sialan.

Mereview kesalahan di akhir tahun 2008 lalu. Benar-benar tindakan bodoh yang pernah aku lakukan. Kesalahan fatal yang hampir merenggut sebuah nilai-nilai persahabatan. Kesalahan yang hampir tak termaafkan. Kesalahan yang hingga kini masih tersemat dalam lubuk hati yang paling dalam. Tapi, biarlah. Karena kesalahan itu kini sudah luntur. Dan (akan) berubah menjadi sebuah kebahagiaan.

Padahal, jika ditilik, kesalahan itu awalnya hanya satu tetes. Tapi, makin lama tetesan itu semakin bertambah banyak. Sialnya, aku justru terbuai oleh kesalahan itu. Hingga kesalahan itu menjadi besar. Kesalahan yang akhirnya berubah menjadi tsunami yang besar dan gelombang yang memporakporandakan keadaan sekitar. Kesalahan bodoh terbesar yang pernah kubuat di tahun 2008.

Emosi yang terbendung, dan sama-sama egois semakin memperburuk keadaan. Tapi, syukurlah ditengah hantaman tsunami. Sebuah kabar damai tiba. Kabar yang sebenarnya sudah kutunggu-tunggu. Jiwa muda memang masih menggelora dalam hatiku. Mudah panas dan berontak. Maklumlah darah-darah muda. Darah yang jika sedikit saja disulut langsung berapi-api. Hujan rintik-rintik pun menjadi penanda cairnya kesalahan bodoh yang pernah kulakukan. Amin.

Siang ini, cuaca Kota Medan begitu panas. Menyengat pori-pori tubuh. Masuk ke dalam lapisan tipis, mengguncang sedikit hati yang agak sedikit demam. Syukurlah sebuah SMS dari seseorang yang jauh di sana, yang lagi ke Medan berhasil mendinginkannya. Kabar yang sudah kutunggu dalam seminggu terakhir ini.

Hanya dia… ya, cuma dia yang ada dalam benakku kini. Sayangnya, hanya sehari saja dia di Medan. Padahal aku sudah benar-benar pingin ketemu dengannya. Terpaksalah bersabar. Hati-hati yah di jalan……..

“Rembulan sampaikan rindunya kepadanya. Sampaikan rasa ini kepadanya. Katakan padanya, aku selalu menantinya.”

Kembali ke masalah kesalahan. Meski hingga kini, kesalahan itu sudan mencair. Tapi, belum sakalipun aku berjumpa dengannya. Sekedar meminta maaf. Maaf yang banyak tentunya.

Yah, begitulah kesalahan yang sialan. Setetes kesalahan, jika tak cepat di lap dan dibersihkan (minta maaf) bisa berubah menjadi sebuah tsunami yang bisa memporakporandakan segalanya.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: