Oleh: triy | Desember 26, 2008

Akhir Tahun 2008 di Medan : Menoreh Duka, Mengunduh Bahagia

Jalan Hidup Masih Panjang

Jalan Hidup Masih Panjang

Akhir tahun ini(2008-red) memberikan sebuah makna yang dalam buat diriku. Paling nggak dua buah kejadian terakhir yang “hasilnya” bertolak belakang menjadi sebuah cerminannya. Hanya dua memang, namun cukup memberi rasa sedih dan bahagia.

Pertama, kesedihan itu datang seminggu sebelum tahun baru ini. Ya, bisa dibilang baru beberapa hari ini kabar itu aku terima. Tak ada firasat apa-apa sebelum kejadian itu. Meskipun sebelumnya ada rasa bahagia yang tak terkira dalam hatiku. Namun akhirnya kabar duka itu datang juga.

Alpaen, begitulah nama anak kecil itu. Aku kenal dia setelah dia dirawat di salah satu rumah sakit di Medan. Penyakit tumor yang menyerang tubuhnya membuat kondisi fisiknya sangat memprihatinkan. Seorang Jurnalis di kantorku yang bertugas di daerah Pematang Siantar menuliskan derita Alpaen. Aku tertarik untuk membuat ceritanya lebih panjang.

Aku mencoba mengontak dia. Setelah seminggu menunggunya, akhirnya cerita lengkap pun aku dapat. Hampir satu jam aku mengedit tulisan yang dikirimnya. Besoknya, ketika berita itu terbit. Tanggapan positif banyak berdatangan. Sumbangan yang terkumpul hampir mencapai 22 juta. Angka yang cukup banyak. Alpaen pun langsung dibawa ke Medan untuk diobati.

Sayangnya, bukan rasa bahagia yang harus aku dapati. Kabar duka justru datang di tengah hujan lebat yang mengguyur langit Kota Medan. “Dia sudah meninggal Try,” begitu kata Pimredku. Mendengar berita itu, aku diam sejenak. Bingung mau apa.

Bahkan, kerjaan pun sedikit terbengkalai. Pikiranku langsung menuju Alpaen. Anak kecil yang menangis, merintih kesakitan. Allah telah mengatur semua ini. Mungkin itu yang terbaik bagi Alpaen. Tak ada lagi merasakan rasa sakit yang luar biasa. Tapi, bagaimanapun aku tetap berduka mendengarnya. Selamat tinggal Alpaen.

Kedua, sebuah berita menggembirakan datang kepadaku. Akhirnya berita damai itu datang juga. Ya… aku merasakan sesuatu perasaan yang benar-benar lepas. Tak ada lagi beban. Putih, bersih dan tak ada dosa. Tak seperti sebulan yang lalu. Beban berat menghajar hatiku.

Aku kehilangan orang yang setahun terakhir ini memberiku banyak belajaran dan inspirasi. Tapi, sebuah momen dan juga sms yang datang dari nomornya. Langsung meluluhkan beban berat itu. Aku nggak mau lagi menyinggung masalah yang lalu. Biarkan yang lalu tertanam dalam sebuah misteri waktu.

Beban berat itu benar-benar lepas. Kembali seperti kapas putih yang terbang dengan ringannya. Mengitari udara dan jatuh perlahan-lahan ke tanah. Kembali ke salah satu altar ilmu pengetahuan. Meskipun secara langsung aku belum berjumpa dengannya. Tapi, semua itu telah terwakili dengan sebuah kata yang berhasil membuatku kembali hidup seperti bayi yang baru dilahirkan.

Maaf. Ya itulah satu kata yang benar-benar memberiku kekuatan kembali untuk bisa melangkah dan maju lagi. Tidak bersamanya mungkin. Tapi, cukup sebagai inspirator ulung yang selalu memberiku arah jalan, atau juga peta, ketika aku berjalan.

Dua catatan akhir tahun yang menduduki peringkat pertama dan kedua dalam diriku. Mewakili sebuah kebahagiaan dan juga kesedihan. Menggambarkan dua peristiwa yang berlawanan, namun berujung pada sebuah tujuan yang sama. Tak ada rasa sakit lagi. Semuanya kembali bahagia.

Selamat tinggal Tahun 2008.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: