Oleh: triy | Desember 23, 2008

Misteri 100 Tahun “Tubrukan Kosmik” di Rusia

Galaksi

Galaksi

Seratus tahun silam tepatnya pada pekan ini, sebuah ledakan besar terjadi dini hari di langit di atas hutan berawa di barat Siberia di mana saat itu meninggalkan misteri ilmiah yang hingga kini belum terungkapkan.

Kilatan cahaya memenuhi kawasan itu, menimbulkan gelombang kejut dengan kekuatan bom atom yang meratakan 80 juta pepohonan dan menyapu lebih dari 2.000 kilometer persegi (800 mil persegi).

Warga nomad Evenki menceritakan betapa ledakan itu mencampakkan rumah-rumah dan hewan ke udara. Di Irkutsk, 1.500 kilometer (950 mil), sejumlah alat sensor seismik mencatat kejadiannya semula diduga sebagai gempa bumi. Terjadi bola api yang besar sehari kemudian, bahkan warga London bisa membaca koran mereka di malam hari tanpa penerang.

Apa yang menyebabkan kejadian yang disebut Tunguska Event ini terjadi sehingga menimbulkan puluhan teori? Nama Tunguska Event diambil dari nama Sungai Podkamennaya Tunguska dekat lokasi fenomena ini terjadi.

Dugaan utama ditujukan pada batu besar yang melintasi ruang angkasa selama jutaan tahun yang memasuki Bumi tepatnya pada pukul 7.17 pagi waktu setempat pada tanggal 30 Juni 1908.

Bahkan para pengemuka teori lainnya mengetahui ada kesenjangan antara satu sama lainnya. Mereka berusaha keras untuk menemukan jawabannya, meyakini ini akan memperkokoh pertahanan mereka terhadap ancaman masa depan tipe Tunguska yang para pakar katakan terjadi dengan frekwensi 1 dalam 200 tahun hingga 1 dalam 1.000 tahun.

Jika sebongkah batu dijadikan penyebabnya, maka pilihan itu jatuh pada asteroid, puing-puing yang berdesakan keluar orbit antara planet Mars dan Jupiter dan kadangkala jatuh di Bumi. Sementara yang lainnya mungkin komet, salah satu bola kotoran yang membeku, bahan padat yang berputar di Sistem Tata Surya.

Komet bergerak lebih cepat ketimbang asteroid yang artinya komet melepaskan lebih banyak energi kinetik yang menyebabkan ledakan. Sebuah komet kecil akan mengantarkan pukulan yang sama dengan asteroid yang lebih besar.

Akan tetap tidak ada fragmen yang ditemukan di Tunguska meski berbagai pencarian sudah dilakukan. Andaikata satu objek saja ditemukan, maka akan sangat membantu menguak pengetahuan kita akan tingkat resiko Objek-Objek Bumi Dekat Berbahaya (NEOs), kata para peneliti Italia Luca Gasperini, Enrico Bonatti dan Giuseppe Longo.

Ketika sebuah asteroid baru terdeteksi, orbitnya bisa ditempatkan untuk beberapa tahun ke depan.

Komet lebih beragam ketimbang asteroid, namun lebih mengkhawatirkan sebab ukurannya tidak diketahui.

Kebanyakan komet tidak bisa dilacak sebab ia terjadi selama beberapa dekade atau ratusan tahun mengelilingi Matahari dan sampai di Bumi. Walhasil, komet apa saja yang bertubrukan di Bumi bisa menimbulkan tanda tanya besar bagi kita.

“Seandainya Tunguska Event benar-benar disebabkan oleh komet, maka itu akan menjadi kejadian yang unik ketimbang studi kasus penting dari kategori fenomena. Di lain hal, jika itu sebuah asteroid, lantas mengapa tak seorangpun yang menemukan fragmennya?,” ujar tim penulis Gasperini di jurnal Scientific American.

Sementara itu para pakar NEO belum bisa memastikan ukuran objek tersebut. Namun diperkirakan berdasarkan skala kehancuran di darat, ukurannya berkisar tiga meter (10 kaki) hingga 70 meter (227 kaki).

Semuanya setuju bahwa objek tersebut mengalami proses panas oleh melekul-molekul atmosfer Bumi yang lantas meledak sekitar 10 km (6 mil). Namun ada perdebatan yang hangat seputar puing-puing yang menghantam lokasi itu.

Ketika para pakar NEO Tunguska harus memutuskan apakah objek itu mencoba berbelok di ruang angkasa dengan resiko objek-objek dengan ukuran besar bisa selamat melintasi atmosfer dan menghantam planet.

Ketiga ilnmuwan dari Italia ini meyakini jawabannya terletak pada sebuah danau berbentuk oval yang disebut Danau Cheko yang terletak sekitar 10 kilometer (6 mil) dari lokasi.

Model-model komputer menunjukkan ia terjadi dari ledakan kawah fragment berukuran satu meter (3 kaki).

Mereka berencana kembali pada ekspedisi ke Danau Cheko dengan harapan bisa menemukan objek padat yang terkubur sedalam 10 meter (32,5 kaki) di dasar danau tersebut melalui bantuan pantulan gelombang sonar.

Agencies | Global | Paris

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: