Oleh: triy | Desember 23, 2008

Dosen USU Terlibat Kejahatan

Dosen USU Terlibat Sindikat Pembuatan SIM Palsu

Seorang dosen Fakultas Tehnik di Universitas Sumatera Utara (USU) terlibat pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM) palsu. Kini, kasusnya tengah ditangani Poltabes Medan.

Dosen yang tercatat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) itu bernama Wahyu Abdillah ST (35), warga Jalan Dr Sofyan Selayang II, Kecamatan Medan Selayang.Kasus ini terkuak, berawal dari razia yang digelar Satlantas Poltabes di kawasan Jalan Dr Mansyur/Sumber, Sabtu (20/12) sore.

Di sini, polisi menciduk seorang pengemudi mobil bernama Sri Bakti alias Bekti (38). Polisi curiga dengan SIM yang digunakan Sri. Akhirnya, polisi memboyong warga Jalan Bhayangkara ini ke markas Poltabes. Dugaan polisi benar. SIM itu memang palsu. Ini terlihat karena saat diterawang tak terlihat logo Polri pada SIM.

Dari pemeriksaan, Bekti mengaku mendapatkan SIM itu seharga Rp 200 ribu dari seorang dosen, yang tak lain adalah Wahyu. Polisi akhirnya membekuk Wahyu.

Dari pemeriksaan Wahyu, polisi mengetahui keterlibatan Jufrizal Sianturi (22), warga Jalan Jamin Ginting. Pria ini berperan sebagai pencetak. Ia pun diciduk. Dari Jufrizal, polisi mengetahui kalau ternyata SIM palsu telah dicetak sebanyak ratusan. Tiap mendapat pesanan dari Sang Dosen, ia hanya mendapat Rp 25 ribu. Soal banyaknya SIM palsu beredar langsung ditampik Kapoltabes Medan, AKBP Drs Aton Suhartono.

Saat ditemui Global, Senin (22/12) di Lapangan Merdeka Medan, orang nomor satu di Poltabes ini mengatakan SIM palsu itu hanya beredar di kalangan kolega Wahyu saja. “Tidak, SIM tersebut hanya baru beredar di keluarga dan koleganya saja,” kata Aton.

Aton juga menampik kalau dalam memuluskan aksi pemalsuan SIM itu, melibatkan oknum Satlantas Poltabes Medan. ”Itu tidak ada kaitannya. Pemalsuan ini hanya melibatkan percetakan dan penerbit blangko,” katanya.
Hanya saja, Aton mengatakan razia ke percetakan bisa saja dilakukan. Ia juga berharap masyarakat yang menjadi korban pembuatan SIM palsu segera lapor polisi.

Ditempat terpisah, Kasat Reskrim Kompol Gidion Arif Setyawan mengatakan, pihaknya masih memburu seorang tersangka lain berinisial B yang perperan sebagai pencari order/pemohon SIM.

Keterangan diperoleh, sindikat ini memulai perbuatannya dari Desember 2007 hingga sekarang. Dalam memalsukan SIM, para tersangka memiliki peran masing-masing. Wahyu disebut-sebut sebagai otak pelaku yang bertugas membuat SIM palsu dengan menggunakan komputer.
Sedangkan tersangka B (buron) berperan mencari order. Biasanya untuk SIM C, dipatok harga Rp 100 ribu dan untuk SIM A seharga Rp 200 ribu. (Sumber:Dedi|Global|Medan)

Iklan

Responses

  1. terima kasih atas beritanya.semoga oplah kalian naik.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: