Oleh: triy | Oktober 26, 2008

Fosil Tiktaalik Menguak Evolusi Ikan Menjadi Makhluk Darat

Fosil tulang ikan yang bisa berjalan berusia 375 juta tahun menguak adanya penunjuk baru seputar bagaimana nenek moyang ikan yang kita kenal sekarang, berevolusi menjadi makhluk darat.

Fosil ikan yang diberinama Tiktaalik Roseae yang ditemukan di Arktik Kanada tahun 2004 ini sepertinya menyediakan ‘missing link’ antara ikan dan vertebrata darat, demikian menurut para ahli. Fosil ini juga diakui satu-satunya ikan yang memiliki leher pertama.

Studi terkini ini mengonfirmasikan bahwa ikan prasejarah yang memiliki sirip seperti kaki, mengembara dari kawasan air menjadi makhluk vertebrata bertulang belakang tapi transisi evolusinya tidaklah secepat yang diduga sebelumnya.

Analisi hati-hati terhadap tengkorak, tulang insang dan langit-langit rahang dari fosilnya mengindikasikan bahwa Tiktaalik merupakan mahluk pertemuan antara ikan dengan hewan darat yang secara fisik memiliki keduanya di mana ia tinggal di perairan yang dangkal.

“Kita melihat bahwa gambaran pada tengkoraknya berkaitan dengan hewan-hewan yang hidup di darat yang beradaptasi mula-mula untuk hidup di air dangkal,” jelas rekan penulis studi ini Jason Downs dari Academy of Natural Sciences di Philadelphia, Pennsylvania.

Dari Sirip ke Kaki

Para peneliti sudah mengetahui bahwa Tiktaalik adalah hewan predator berbentuk buaya setinggi sembilan kaki (tiga meter) yang memiliki leher, paru-paru primitif dan sirip berbentuk kaki yang digunakan untuk bertahan hidup di air dangkal.

Studi ini mengindikasikan bahwa Tiktaalik banyak berbagi gambaran tengkorak internalnya dengan ikan-ikan primitif, namun kepalanya juga mirip hewan amfibi yang menguak bahwa makhluk ini kemungkinan mampu bernapas di udara dan mencari makan di darat.

“Studi ini megingatkan kita bahwa transisi evolusi bertahap dari bentuk ikan menjadi tetrapod (hewan darat berkaki empat) dan transisi datri hewan aquatik menjadi terrestrial membutuhkan lebih banyak keimtbang evolusi anggota tubuh itu sendiri,” kata Ted Daeschler, pakar paleontologi di Academy of Natural Sciences yang pernah memimpin timnya di tahun 2004.

Ditambahkannya, “Sepertinya ia lebih mampu menghirup udara dan berjalan di darat ketimbang hewan primitif bersirip, namun ia tetap makhluk aquatik.”

Fosil Tiktaalik ini cenderung tidak memiliki gambaran seekor ikan termasuk lagit-lagit muklut yang rata, strutur kepala yang keras dan hyomandibula yang pendek (tulang yang menopang penutup insang). Walhasil, ikan ini diketahui sebagai satu-satunya ikan berleher di dunia, jelas para peneliti.

Sumber | Global


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: