Oleh: triy | Oktober 14, 2008

Saat Aku di “PECAT” dengan hormat dari Ilmu Komunikasi dan Politik Universitas Sumatera Utara (Ilmu Extension Komunikasi USU)

Saat "dipecat" dengan hormat dari USU

Saat di pecat dengan hormat dari USU

Siang belum juga beranjak. Padahal matahari dari pagi sudah memuntahkan sinarnya ke bumi. Jam di hp ku masih menunjukkan jam 8 pagi. Aku pun bergegas menuju kampusku di USU. Ilmu Komunikasi Extension USU, disitulah aku menghabiskan dua tahun perjalanan kuliahku, setelah tamat dari D-3 kemarin.

Waktu begitu cepat berlalu. Hanya sekitar 30 meter, aku sudah menginjakkan kakiku di Fakultas yang dulu. Fakultas Ekonomi USU. Banyak pertanyaan kenapa aku harus menyeberang ke FISIP USU untuk melanjutkan kiprahku menuntut ilmu. Banyak juga jawaban yang ku berikan kepada kawan-kawan. Tapi, intinya adalah dari hati nuraniku yang memang sudah membimbingku untuk “selingku” ke Fakultas sebelah. Karir. Yup, karir untuk menjadi seorang jurnalis.

Yah, yang lain udah pada pulang

Yah, yang lain udah pada pulang

Tersibak lagi kenangan puluhan tahun lalu. Ketika melihat jagoanku menggiring bola. Diego Armando Maradona. Gol tangan Tuhan membuatnya menjadi sosok pemain sepakbola yang tak akan pernah terlupkan oleh dunia. Saat itu umurku baru beranjak dua tahun. Keceriaan menjadi anak-anak kurasakan. Ibarat seorang bintang pujaanku, aku kecil pun meniru gaya-gaya Maradona.

Dari situlah terpikir olehku bagaimana menjadi orang yang bisa dekat, atau minimal bisa bersanding ataupun duduk di bangku VIP tanpa harus mengeluarkan ongkos yang mahal. Wartawan. Itu dia. Sebuah cita-cita yang sejak kecil sudah aku pusatkan untuk menggapainya. Karena hanya profesi itulah yang bisa menyentuhnya. Ketemu Maradona dengan eksklusif tentunya. Itu kenangan beberapa puluh tahun yang lalu.

Kini, meski belum pernah bertemu dengannya. Satu setengah kakiku sudah melangkah kesana. Ke alam sana. Ke dunia sana. Pilihanku tepat. Walaupun apa yang kupelajari di Komunikasi USU hanya sebuah luarnya. Aku nggak mau munafik. Ibarat mencari penangguhan statusku yang dulunya hanya Amd, dan kini sudah berubah menjadi S.Sos. Konyol memang jika memikirkan hal itu.

Udah di Bilang yang lain pada pulang. bandel...

Udah di Bilang yang lain pada pulang. bandel...

Dari pagi tadi, aku sudah dihubungi seorang temanku untuk cepat-cepat datang ke kampus. Karena, jam 11.30 aku sidang. Tak ada sedikitpun dalam benakku sehari sebelumnya untuk membuka skripsi yang sudah beberapa bulan menemani komputer di kamarku.

Akhirnya sidang itu datang juga. Pergolakan berdarah hampir saja terjadi. Untunglah aku masih bisa melepaskan emosi itu. Emosi yang sudah dari dulu membara itu hampir saja terlepas disaat sidang itu berlangsung. Dendam lama yang hampir meletup kembali. Syukurlah seseorang yang diluar sana menjadikanku bisa bersikap lebih manis saat menghadapinya.

Setelah satu jam lebih bergulat demi titel S.Sos akhirnya aku pun dipecat secara tidak hormat dari Ilmu Komunikasi Extension USU. Tragis. Tapi, bukan apa-apa. Hanya sebuah jembatan untuk menuju seberang yang telah menungguku disana.

Lho, Yang Nggak Pakai Toga Siapa? Di tengah pula tuh...

Lho, Yang Nggak Pakai Toga Siapa? Di tengah pula tuh...

Gedung FISIP yang sudah lima tahun kukenal ini. memang bukan tempat baru lagi baruku. Di sebelah gedung ini, berdiri gedung Ekonomi yang sudah membesarkan dan menempa diriku menjadi seorang mahasiswa pemberontak. Selama tiga tahun pertama kuliah, berbagai gejolak emosi masa muda telah merasuki. Berbagai demonstrasi hingga diskusi kecil-kecil sudah kupelajari. Praktis selama menempa diri di Komunikasi selama dua tahun aku tak pernah aktif lagi. Hanya kerja menjadi seorang jurnalis di sebuah surat kabar dan kuliah yang aku kerjakan.

Matahari sore baru beranjak. Setelah memberikan ungkapan terimakasih kesana-kemari. Kulanjutkan langkahku menuju kantorku. Lepas sudah sejenak pikiranku. Satu langkah sepersikan centi sudah aku jejakkan ke depan.

Belum sampai di kantor. Sekelebat bayangan anak-anak kecil pengamen menggungah lamunanku. Di simpang Siti Hajar Medan, tepatnya di simpang temperatur Co2 begitu kami menyebutnya berjejer anak-anak dengan riang gembira menyanyi. Anganku pun melambung tinggi. Tinggi. Dan terus tinggi.

Mau jadi apa engkau nantinya. Itulah yang ada dalam pikiranku kala itu. Pertanyaan yang pernah disodorkan oleh kawan-kawanku di masa SMP dulu. Kenapa harus pindah ke Medan. Sampai sekarang aku nggak pernah bisa menjawabnya. Karena biarlah hanya aku yang tahu.

Sarjana. Gelar yang dicari jutaan penerus bangsa. Sudahkah aku bangga dengan itu semua. Apa yang pernah aku berikan kepada tanah airku. Apa yang pernah kuberikan kepada lingkunganku. Pikiranku terus…terus… terus tinggi. (Bersambung)

Iklan

Responses

  1. knp kok dipejat? salam knl yaa?

  2. ni blog aku http://galangderita.wordpress.com

  3. ni blog aku http://galangderita.wordpress.com


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: