Oleh: triy | September 29, 2008

Marathon

Marathon

Marathon

Dulu sekali, sekitar 490 SM, pasukan Yunani mengalahkan bala tentara Persia yang kuat. Mirip pertarungan David melawan Goliat. Menurut sejarawan militer klasik, inilah Perang Dunia pertama di dunia. Dari peristiwa ini lahirlah olahraga lari marathon.

Lapangan Tiananmen, Beijing, China, dipenuhi orang yang berdatangan sejak subuh. Pagi hari 24 Agustus lalu, lapangan penuh sejarah itu menjadi tempat start lari marathon Olimpiade Beijing 2008.

Sebanyak 98 pelari dari berbagai negara mulai melakukan pemanasan dengan joging di Lapangan Tiananmen. Warga setempat berduyun-duyun mendatangi Lapangan Tiananmen untuk menonton start marathon, salah satu lomba penting dan klasik pada setiap Olimpiade.

Garis start lomba marathon mengambil tempat di jalan raya di sisi timur Lapangan Tiananmen. Dari sana, para pelari akan menempuh jarak 40 kilometer lebih untuk finish di stadion utama Olimpiade Beijing 2008 atau Bird Nest.

Begitu start dimulai, gemuruh sorak sorai penonton pun membahana. Di antara para pelari tersebut, berada di deretan kedelapan adalah Samuel Kamau Wansiru. Pelari asal negara Kenya ini sempat dilanda penyakit Malaria. Banyak yang meragukan dirinya bisa optimal berlaga. Namun, dengan keuletannya, Wansiru berhasil membungkam keraguan itu.

Tak sekadar mempersembahkan medali emas pertama bagi Kenya di nomor marathon Olimpiade, Wansiru pun sukses memecahkan rekor Olimpiade lari marathon. Wansiru mencatat waktu 2 jam 6,32 menit yang berarti lebih baik dari rekor Olimpiade yang bertahan selama 24 tahun.

Selain memperbaiki rekor sebelumnya, 2 jam 9,21 menit, yang dibuat Carlos Lopes dari Portugal di Olimpiade Los Angeles 1984, Wansiru juga tercatat sebagai pelari putra pertama dari Kenya yang berhasil menggondol medali emas dalam pesta olahraga sejagad di Beijing ini.

Saking istimewanya, prosesi penyerahan medali emas diberikan pada malam puncak penutupan olympiade Beijing. Disaksikan miliaran pasang mata, Samuel Wanjiru merupakan atlet terakhir yang menerima medali emas dari Ketua International Olympic Organisation (IOC) Jacques Rogge.

Sejarah Marathon

Harus diakui, lari marathon sudah sangat populer di dunia. Meskipun tidak sering diadakan seperti nomor lari yang lainnya, lomba maraton telah banyak digemari di seluruh dunia. Ada 57 lomba atletik di seluruh dunia, marathon sedikitnya dilombakan sebanyak lima kali.

Namun tahukah Anda sejarah lahirnya cabang olahraga maraton? Nama marathon diambil dari sebuah lembah di pantai timur Attica, Yunani, berjarak sekitar 25 mil (1 mil setara dengan 1,609 km) dari Athena.

Lembah ini berbentuk bulan sabit, dibatasi pegunungan dan pantai. Pegunungan membentuk setengah lingkaran dan berkelok 6 mil, yang kedua tebingnya menjulur ke pantai sekaligus mengurung lembah Marathon.

Sedangkan jarak terjauh pegunungan dari pantai adalah 2 mil. Menurut legenda Yunani, Marathon adalah tempat yang dihadiahkan kepada Hercules.

Orang Yunani sering menyebutnya dengan nama Kota Marathonas. Sama seperti nama Athena, dalam dialek Yunani disebut dengan Athina.

Pada 490 sebelum Masehi, terjadi perang antara Athena dan Persia. Dalam perang itu tidak kurang dari 192 tentara Athena tewas. Mereka dikuburkan langsung di tempat pertempuran, di sekitar Marathonas ini.

Meskipun disebutkan hanya tentara Athena yang tewas, tidak berarti Athena kalah. Beberapa bulan kemudian, Athena berhasil menghalau mundur pasukan Persia, dan Athena menang.

Sayangnya, kemenangan ini belum diketahui oleh penduduk Athena. Komandan pasukan Athena mengirimkan seorang prajurit. Dia ditugaskan untuk menyampaikan kabar bahwa Athena menang dalam pertempuran di Marathonas. Pheidippides, seorang tentara yang gagah perkasa ditunjuk menyampaikan kabar itu.

Dari Kota Marathonas, Pheidippides, berlari menuju Kota Athena. Dalam riwayat Marathon disebutkan, bahwa Pheidippides ini berlari tanpa berhenti sejauh 42,195 km. Begitu sampai di Athena, dia berteriak dalam bahasa Yunani, Nenikekamen,…. Nenikekamen. Artinya kita menang,…. kita menang.

Mungkin karena kelelahan, atau pada era sekarang disebut dehidrasi (kehabisan cairan), Pheidippides terjatuh. Dia meninggal pada saat itu juga.

Jarak lari yang ditempuh oleh Pheidippides ini baru diukur kemudian ketika penduduk Athena ingin merayakan kotanya seabad kemudian pada era Heraclides. Pada saat diukur ternyata jarak lari yang ditempuh oleh Pheidippides 42,195 km. Mulai saat itulah lari marathon diperkenalkan.

Dalam perkembangannya, nomor lari ini belum sepenuhnya bernama maraton. Ada yang masih menggunakan nama asli dari tentara Athena, Pheidippides. Di kesempatan lain ada yang menamakan Philippides.

Mungkin ada untungnya dengan tewasnya Pheidippides. Tanpa itu mungkin tak akan ada lari marathon. Kota Marathonas pun tidak melejit terkenal dan dicatat dalam buku-buku sejarah olahraga dunia, dan Olimpiade. Terima kasih Pheidippides, selamat untuk Kota Marathonas. (berbagai sumber)

Perang di Lembah Marathon

Lembah Marathon, musim panas 490 SM. Prajurit Persia mulai berdatangan menggunakan 600 kapal di bawah komando Panglima Datis. Kala itu Persia merupakan negara adikuasa seperti Amerika Serikat saat ini. Mereka memiliki lebih dari 10.000 prajurit terlatih. Di lain pihak, Yunani waktu itu berpenduduk laki-laki dewasa tak lebih dari 30.000 orang.

Melihat ancaman itu, para pejabat militer Yunani dan pasukannya segera berkumpul di lereng Pegunungan Marathon. Hadir di sini 11 anggota dewan perang Yunani. Callimachus yang menjadi Polemarch memimpin pertemuan itu. Andaikan prajurit Persia menguasai Yunani tanpa perang pun, maka penjarahan, pemerkosaan, dan pembunuhan akan terjadi. “Demi menjunjung tinggi kebesaran sejarah Yunani, kami memutuskan perang!” teriak para jenderal serentak.

Genderang perang pun ditabuh sudah.

Pasukan Yunani dipimpin Panglima Mandala Marathon yang dipegang oleh Miltiades. Ia seorang ksatria kerajaan yang kenyang dengan perang dan jenius. Miltiades muda pernah ikut berperang untuk Persia, tapi memboikot dan pulang ke Tanah Air. Oleh sebab itu, ia tahu kelemahan-kelemahan prajurit Persia.

Suatu sore di bulan September 490 SM, Miltiades memberi instruksi kepada para prajurit untuk mempersiapkan diri. Pasukan ia bagi menjadi tiga sayap. Callimachus memimpin sayap kanan, sedangkan Themistocles dan Aristides memimpin di tengah. Di sayap kiri ada ribuan pasukan suku Plataean yang terkenal gagah berani.

Miltiades berdiri di depan dan berteriak, “Saudaraku putra Yunani yang agung! Mari berperang untuk negaramu. Mari berperang untuk anak dan istrimu – yang begitu membanggakan kalian. Mari bertempur demi kejayaan negeri ini. Semuanya … serbu!” Raungan suara terompet perang pun segera menimpali seruan.

Prajurit di bawah kendali Themistocles dan Aristides berlari menuruni pegunungan. Sedangkan pasukan sayap masih bersembunyi. Inilah taktik mengelabui dan menjepit musuh. Jumlah prajurit tengah pun dibuat lebih kecil daripada yang ada di sayap.

Namun, meski berjumlah kecil, mereka adalah prajurit berani mati yang sudah mendapat pelatihan di sekolah wrestling, Athena. Para prajurit ini ahli pertempuran jarak dekat. Miltiades menginstruksikan agar mereka berlari sekencang mungkin, sehingga prajurit Persia terpojok di pantai.

Melihat prajurit Yunani dalam jumlah kecil berlari menuruni gunung tanpa kuda dan pelindung badan, prajurit Persia malah mengira ada prajurit gila yang akan bunuh diri. Apalagi kekuatan utama prajurit Persia adalah tentara berkuda (kavaleri).

Dengan pongah mereka menyambut serangan Yunani. Miltiades masih menunggu saat yang tepat untuk menggerakkan pasukan sayapnya. Ia masih berada di balik gelapnya Pegunungan Marathon saat pasukan tengah bergerak turun.

Bisa ditebak, pertempuran berat sebelah tidak terhindarkan. Pasukan tengah yang diumpankan terlihat kewalahan dan bergerak mundur. “Teet teretettt …!” Terompet perang berbunyi untuk kedua kalinya. Miltiades memimpin pasukan sayap bergerak turun dan mengejutkan prajurit Persia.

Pasukan sayap Yunani yang datang tanpa disangka-sangka telah menurunkan mental prajurit Persia. Prajurit sayap Yunani langsung menusuk pusat pertahanan. Ini membuat prajurit Persia kacau balau karena menghadapi musuh dari kiri, kanan, dan depan.

Di malam gelap itu pertumpahan darah terbesar pertama dalam sejarah perang tak terhindarkan. Namun, pertempuran ternyata tidak berlangsung lama. Beberapa jam kemudian, prajurit Persia mulai kehilangan percaya diri. Datis memerintahkan anak buahnya mundur ke kapal untuk melarikan diri. Prajurit Yunani pun berusaha membakar kapal-kapal Persia. Pertempuran berkecamuk di sepanjang pantai dan berubah menjadi ajang pembantaian prajurit Persia yang mencoba meloloskan diri.

Yunani berhasil menangkap tujuh kapal dan membunuh 6.400 prajurit Persia. Yunani sendiri kehilangan 192 prajurit terbaiknya. Mereka dimakamkan di Marathon. Di Marathon pula dibangun 10 tugu untuk penghormatan kepada sepuluh suku Yunani yang ikut bertempur di Marathon.

Selain memunculkan lari maraton, dari lembah Marathon ini lahir pula clash of civilization antara bangsa Asia dan Eropa. Persia adalah simbol keunggulan Asia terhadap Eropa. Asia juga menjadi kiblat budaya dan kehidupan sosial lainnya. Negara-negara Asia begitu disegani pada masa itu. (Sumber:global)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: