Oleh: triy | September 25, 2008

Si Teng : Meski Buta, Demi Bertahan Hidup Saya Tetap Jualan

Si Teng

Si Teng

(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)

Keriput di wajahnya mengisyaratkan jika ia tidak muda lagi. Terpaan sinar matahari merubah warna kulitnya menjadi lebih kehitaman. Sisa-sisa kekuatan di tubuhnya masih terlihat. Dari kejauhan, sekilas tak ada yang istimewa dengan penampilannya. Tapi sesungguhnya, dibalik sisa energi kekuatan di masa muda, tersimpan kekuatan besar dalam dirinya untuk menjalani kehidupan.

Dia adalah Yunus. Usianya hampir mendekati 60 tahun. Biasanya warga di sekitar rumahnya memanggilnya dengan sebutan Si Teng. Saat Global mendatangi kediamannya di Jalan Binjai Km 12 Ladang Baru Gg Pipa kemarin, Si Teng sedang ditemani oleh Misna, sang istri tercinta

Rumah Si Teng sangat sederhana. Hanya ada beberapa barang berharga tersimpan di dalamnya. Salah satunya adalah sebuah sepeda onthel tua yang terparkir persis di sebelah pohon rindang yang berada di depan rumah sederhananya

“Beginilah keadaan saya. Sepeda itu adalah harta yang tak ternilai bagi saya. Karena selalu menemani saya selama 20 tahun untuk mengais sedikit rejeki demi keluarga,” ucapnya mengawali cerita.

Si Teng mengaku, sejak usia empat tahun, dirinya sudah buta karena penyakit krumut atau muncul bintik merah yang disertai kondisi suhu badan yang panas. Karena tidak ada biaya untuk berobat, Si Teng pun hanya menjalani pengobatan ala kadarnya.

Sayangnya, bukan kesembuhan yang ia dapat, matanya justru tidak bisa melihat sama sekali. “Biaya untuk pengobatan tidak mencukupi. Jadi kemudian dilakuan pengobatan ala kadarnya. Tapi, justru kondisi mata saya semakin bertambah parah,”tutur Si Teng.

Penderitaan tak hanya dialami oleh Si Teng, salah satu anaknya yakni Paiman juga mengalami keterbelakangan mental. Dari mulai sejak kecil, hingga usianya hampir mendekati 30 tahun, Paiman tidak bisa berbicara dan melakukan apa-apa. Praktis kehidupan Paiman sangat bergantung kepada orangtuanya.

“Saya itu sedih melihat dia. Dan saya nggak tahu harus bagaimana, jika sampai saya itu meninggal duluan, anak saya siapa yang akan megurusnya,” ungkap Misna, yang selalu setia merawat Paiman.

Paiman agak sulit berjalan. Bicaranya juga tidak jelas. Karena penyakitnya inilah, Paiman sejak kecil sudah sangat penakut dan malu dengan siapa saja orang baru yang melihat dirinya. Termasuk jika ada anggota keluarganya yang datang menemuinya.

Meski pemalu, bukan berarti Paiman pendiam. Jika keinginannya tidak terpenuhi, Paiman akan marah besar.“Saya suka sedih bila harus mengingat semuanya, apalagi bila Paiman sedang marah, barang yang ada di rumah seperti piring dang gelas yang ada di rak piring, akan diguncangnya sampai jatuh dan pecah,” tambah Misna lagi.

Menurut Misna, sudah beberapa kali Paiman menjalani pengobatan. Mulai dari dokter hingga dukun tradisional. Namun, hasilnya tetap nihil.“Saya sudah mengobati kemana-mana anak saya ini, bahkan harus rela tanah dan sawah saya untuk dijual. Tapi sampai sekarang belum sembuh juga.”

Saat Jualan Pernah Masuk Parit

Cacat pada kedua matanya ketika masih anak-anak telah merenggut keinginannya untuk melihat indahnya dunia. Ada sedikti rasa iri jika Si Teng melihat orang lain yang dianugerahi Tuhan dengan keadaan normal. Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan itu ia kubur dalam-dalam di lubuk hatinya. Karena ia menganggap hal tersebut tak ada gunanya.

Si Teng percaya jika Tuhan itu maha adil. Ia mencoba menerima keadaan ini dengan penuh hati. Hidup menurutnya adalah pilihan yang tidak bisa ditawar oleh setiap orang. Berlarut-larut dalam kesedihan tak akan pernah bisa menjamin keluarganya dapat hidup lebih baik. Semuanya butuh proses dalam menggapainya.

“Ujian setiap orang itu kan berbeda-beda. Mungkin Tuhan menguji saya dengan cara seperti inilah. Siapa yang tidak ingin melihat indahnya dunia. Saya juga ingin sekali. Tapi, mau bagaimana lagi, beginilah keadaan saya,” ungkap Si Teng.

Di tengah keterbatasan fisik yang dialaminya. Tak berarti Si Teng menghabiskan waktu berdiam diri di rumah. Ia masih memiliki tanggungan menghidupi keluarganya. Meski beberapa anaknya sudah ada yang berkeluarga, namun ia tak mau untuk berpangku tangan dengan anak-anaknya.

Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Si Teng pun kemudian berjualan. Bermodalkan sebuah sepeda onthel tua. Setiap hari ia menyusuri jalan yang jaraknya hampir mencapai 4 km lebih untuk menjajakan dagangannya. Agar tidak tersesat saat di jalan, ia mencoba menggunakan perasaan untuk melangkahkan kedua kakinya.

“Saya jualan. Karena nggak ada modal yang besar, saya hanya jualan kerak nasi dan juga kelapa. Biasanya sih jualannya dimulai dari rumah kemudian melewati Desa Ladang Baru, Desa Kebun Baru, Komplek Perumahan Cina sampai Perumahan Villa Palem Kencana. Baru kemudia balik kembali ke rumah,” papar Si Teng sambil yang sesekali menggeserkan kakinya.

Semangat bekerja Si Teng sangat luar biasa. Sepertinya kekurangan kondisi fisiknya bukan menjadi penghalang. Lihat saja bagaimana ia harus memanjat sendiri pohon kelapa, ketika mengambil buah kelapa yang akan dijualnya.

Tanpa menggunakan alas kaki, kelapa-kelapa itu langsung diletakkan di bagian belakang sepedanya. Barulah ia berkeliling desa untuk menjualnya.”Sudah terbiasa nggak pakai sandal. Jadi, ya nggak panas saat jalan di bawah sinar matahari,” ujar Si Teng.

Apabila orang normal saja bisa jatuh saat berjalan. Apalagi bagi dirinya yang tidak bisa melihat. Ia benar-benar menggantungkan perasaan setiap pergi dan berangkat bekerja. Bahkan, konsentrasi jualannya harus terpecah. Karena, biasanya saat sedang berjalan menjajakan dagangan, ia selalu menghitung langkah kakinya sebagai tanda sudah sejauh mana ia melangkah.

Perjuangan yang dilakukan Si Teng benar-benar sangat berat. Sayangnya, masih ada saja orang-orang jahil yang selalu mengganggunya. Tak jarang karena ulah orang-orang jahil tersebut, Si Teng harus menerima akibatnya. Masuk ke parit. Ya, masuk parit atau juga menabrak kayu adalah hal yang sering dialaminya.

“Kalau lagi jalan. Kadang ada orang atau anak-anak yang bilang, ke kiri terus, atau ke kanan. Padahal, arah itu adalah parit. Sempat beberapa kali dagangan saya jatuh semuanya. Setelah saya salah jalan, kemudia saya masuk parit,” ujarnya dengan suara pelan.

Pingin Jualan Sendiri di Rumah, Tapi Tak Ada Modal

Sayangnya, susah payah perjuangan Si Teng setiap hari berjualan keliling dari desa ke desa, pendapatan yang ia terima tak sebanding dengan peluh keringatnya. Belum lagi jika ia mengalami hal-hal yang tak terduga. Masuk ke parit dan dagangan berserakan semua misalnya. Untung tak didapat, justru rugi yang ia terima.

Permasalahan kondisi fisiknya yang tak normal dan juga kesehatan tubuhnya yang sudah semakin tua, membuat Si Teng harus pintar-pintar menjaga kesehatan. Kesehatan baginya adalah hal utama, demi menghidupi keluarganya. Jika, ia sudah merasa sakit. Siap-siap kepulan asap dapur rumahnya tak setinggi biasanya.

“Saya kan sudah tidak muda lagi. Kalau sudah merasa capek, bagusan saya istirahat. Takut kalau jadi sakit. Bukan apa-apa, soalnya kalau sudah sakit, bisa mempengaruhi kehidupan keluarga,” ungkapnya.

Oleh karena itulah, dalam beberapa tahun terakhir ini, ia dan keluarga memiliki keinginan untuk bisa membuka usaha kecil-kecilan di rumahnya sendiri. Namun, keinginan tersebut sejauh ini masih belum juga bisa ia laksanakan. Modal yang ia kumpulkan selama ini dengan berjualan, belum juga mencukupi untuk membuka usaha kecil-kecilan.

“Keinginan saya adalah pingin punya usaha sendiri. Seperti kedai kecil-kecilan lah. Kalau sudah ada usaha di rumah kan saya tidak perlu jualan lagi. Sejak usia bertambah tua, badan ini sudah nggak bisa lagi dipaksakan untuk berjualan. Sampai sekarang ini belum jadi buka kedai, modalnya belum cukup,” seru Si Teng.

Keinginan Si Teng memang tak muluk-muluk. Bisa berjualan di rumah sudah menjadi berkah baginya. Kondisi yang telah membuat dirinya harus melakukan hal seperti ini. Karena, dari dalam lubuk hati sanubari terdalamnya, ia juga ingin hidup normal seperti juga layaknya orang hidup.”Kalau memang ada yang mau membantu memberikan modal, saya sangat bersyukur,” pungkasnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: