Oleh: triy | September 25, 2008

Meskipun Cacat, Saya Ingin Hidup Mandiri

Dedi

Dedi

(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)

Pelan-pelan asal selamat. Kata pepatah itu memang benar. Buat apa cepat-cepat jika akhirnya tak selamat. Dan ini pulalah yang terjadi pada Dedi. Anak keempat dari sebelas bersaudara ini harus menanggung beban yang cukup berat, setelah dirinya terlibat dalam sebuah insiden kecelakaan yang menyebabkan salah satu kakinya harus diamputasi.

Penyesalan memang sudah terlambat. Tapi, apapun yang terjadi semuanya tidak bisa lagi diulang kembali. Sejak saat itu, hari-hari indahnya sebagai remaja seolah terkubur oleh perjalanan waktu. Lantas, apakah permasalahan sudah berhenti sampai di situ. Jawabannya belum. Mahalnya biaya pengobatan telah membuat keluarga Dedi frustasi

“Setelah kejadian itulah saya baru menyesal. Seandainya saya bisa bersabar sedikit, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Semuanya telah berlalu. Meskipun awalnya frustasi, perlahan saya mulai belajar untuk mengembangkan kreatifitas yang saya miliki,” ujar Dedi saat ditemui Global di rumah sederhana di Jalan Ayahanda Gang Buku Lorong Gereja, Medan kemarin

Menggunakan kaus oblong, Dedi memepersilahkan Global masuk ke dalam rumahnya. Tak ada yang nampak berharga di dalam rumahnya. Yang ada hanya perabotan sederhana, dengan dinding rumah dari kayu dan atap seng yang sudah mulai menua dimakan usia. Bahkan tak jarang jika hujan datang, seng-seng ini memberikan celah air hujan masuk ke dalam rumahnya.

“Tinggal inilah peninggalan dari orang tua saya. Hampir semuanya habis untuk biaya pengobatan. Ya bocor semualah kalau hari lagi hujan. Soalnya kan atap-atapnya sudah pada banyak yang bolong,” tambah Dedi.

Dedi mengaku, peristiwa tragis yang telah merenggut kaki kanannya sepertinya tidak akan pernah terlupakan dalam ingatannya. Trauma pun kadang menghinggapi pikirannya, ketika dirinya diajak untuk naik sepedamotor. Masih terbayang jelas dalam pelupuk matanya, detik-detik peristiwa tragis tersebut.

Menurutnya, kejadian itu berawal ketika dirinya bersama dengan seorang kawannya sedang mengendarai sepedamotor dengan kecepatan lumayan tinggi. Pada saat itu, posisi sepedamotornya persis berada di belakang becak. Karena tak sabar, ia pun memacu sepedamotornya mendahului becak yang ada di depannya. Naas, ternyata sebuah mobil sedan yang datang dari arah berlawan juga melaju dengan kecang. Brak…brak… kecelakaan pun tak terhindarkan lagi.

“Saya terpental dari atas sepedamotor, sementara kawan saya melompat dan jatuh. Setelah itu saya sudah tidak ingat-ingat apa-apa. Sampai sekarang yang saya ingat adalah ketika tabrakan lagi kambing itu,” seru Dedi sesekali menggeserkan tubuhnya

Selama empat bulan, ia harus menginap sementara di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Beruntung, pemilik mobil sedan yang menabraknya bertanggungjawab dengan mengganti rugi seluruh biaya pengobatan Dedi selama berada di rumah sakit.”Untungnya pemilik mobil itu mau memberikan ganti rugi. Kalau nggak, mungkin keluarga saya lebih parah lagi,” tambahnya.

Demi bertahan hidup, akhirnya kakiku diamputasi

Memiliki satu kaki tak pernah terpikir dalam benak Dedi sebelumnya. Selama satu bulan menjalani pengobatan di rumah sakit, belum ada tanda-tanda jika salah satu anggota tubuhnya harus ia relakan untuk dihilangkan selamanya. Dan itu adalah anggota tubuh yang paling vital, yaitu kaki.

Awalnya, ia dan keluarga memiliki harapan besar untuk sembuh. Namun harapan itu sepertinya tinggal lah harapan. Karena sesuatu yang tidak ia inginkan akhirnya harus terjadi. Tulang paha bagian atas lututnya mengalami patah tulang. Tak ada jalan lain untuk bisa sembuh. Dan dokter pun sudah memfonisnya dengan tindakan amputasi, untuk menyelematkan dirinya.

“Kecelakaan yang saya alami ternyata sangat parah. Tidak hanya tulang paha yang patah, kulit sekitaran bagian yang luka telah mengalami pembusukan dengan lubang luka mengangah lebar. Dan salah satu hal yang bisa menghentikan rasa sakit itu kata dokter adalah dengan jalan amputasi,” ungkap pria berusia 34 tahun ini.

Kabar itu bukan saja mengguncang dirinya, tapi juga keluarganya. Dedi pun bahkan memiliki pikiran, jika masa depannya sepertinya harus berhenti sampai di sini. Usaha untuk menyelamatkan kakinya terus diupayakan oleh keluarga. Salah satunya adalah dengan beralih dengan pengobatan tradisional. Sayangnya, usaha ini justru membuat sakitnya bertambah parah. Akhirnya, putusan amputasi pun diterimanya.

“Karena bertambah parah, saya pun akhirnya harus rela memiliki satu kaki. Bingung dan menyesal sepertinya tidak ada gunanya lagi. Karena waktu itu, saya nggak tahu harus berbuat apa untuk masa depanku. Otomatis cita-cita untuk bisa membantu ekonomi keluarga pupus sudah dengan adanya persitiwa kecelakaan itu,” tegas Dedi.

Penderitaan keluarga Dedi tak juga berhenti, setelah dirinya menerima kenyataan pahit dengan diamputasi kakinya. Sang ibu tercinta, yang menjadi sandaran dan motivator hidupnya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya setelah menderita penyakit jantung. Sang ayah yang sekarang ini sudah tua dan saudara-saudaranya lah kini yang menjadi tumpuan hidupnya.

“Pasrah sepertinya bukanlah jalan yang baik. Karena saya juga ingin bisa membantu keluarga. Saya ingin seperti yang lain, bisa bekerja sendiri. Seharusnya saya bisa menjadi pengayom keluarga, tapi justru saya sekarang untuk hidup sehari-hari saja masih tergantung dengan saudara,” ujar Dedi.

Pingin Buka Usaha, Tapi Tak Ada Biaya

Praktis, selama sakit Dedi jarang keluar rumah. Pekerjaanya sebagai karyawan di sebuah perusahaan percetakan berhenti. Pengalaman bekerja itulah yang sekarang ini menjadi harapan terakhir Dedi untuk bisa hidup mandiri.

Beberapa kali ia harus gigit jari. Pasalnya, dengan kondisi fisik yang serba terbatas, Dedi mengaku sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Modal pernah bekerja di sebuah percetakan, sebelum dirinya harus menerima kenyataan seperti ini, sekarang ia coba kembali. Sisa-sisa kreatifitas yang pernah ia miliki diasahnya kembali. Semua itu ia lakukan untuk satu tujuan, bisa hidup mandiri.

“Terus terang saya sebenarnya merasa malu dengan kondisi seperti ini. Memang semuanya Tuhan yang mengatur, tetapi saya juga ingin hidup normal. Syukur kalau saya bisa membantu keluarga saya, atau minimal bisa hidup tanpa belas kasih mereka,” serunya.

Sayangnya, nasib baik hingga kini belum berpihak kepadanya. Dedi mengaku tidak memiliki modal yang cukup untuk membuka usaha kecil-kecilan. Ada keinginan darinya untuk meminjam uang dari bank atau yang lainnya, namun katanya dibutuhkan persyaratan yang cukup banyak. Sehingga, ia pun harus menunda keinginannya untuk membuka usaha sendiri.

“Salah satu yang menjadi masalah sekarang ini adalah masalah modal. Soalnya, saya kan tidak memiliki apa-apa. Mau minjam kesana-kemari, banyak sekali persyaratannya. Karena itulah saya berharap ada orang yang mau membantu untuk memberikan modal kepada saya,” harap Dedi.

Membuka usaha percetakan meskipun skala kecil memang membutuhkan biaya yang lumayan besar. Dedi mengakui hal itu. Tapi, itu sebenarnya bukanlah keinginan utamanya. Yang terpenting saat ini baginya adalah bisa membuka usaha yang bisa menghasilkan, minimal bagi dirinya sendiri.

“Memang besar modalnya. Tapi, saya juga tidak ingin memaksakan. Yang penting bisa hidup mandiri saja. Kalau pun ada sedikit modal, membuka kios jajanan pun jadilah. Dari situ kan nantinya saya bisa ngumpulkan uang. Mana tahu kalau suatu saat ada rezeki, saya bisa membuat usaha percetakan sendiri yang sudah saya impikan sejak dulu,” paparnya dengan nada semangat.

Sebelum menutup pembicaraan dengan Global, Dedi berharap agar pengalamannya tidak ditiru oleh orang lain. Karena kejadian seperti itu menurutnya dapat terjadi oleh siapa saja. Dalam beberapa percakapannya dengan Global, Ia mengaku menyesal dan selalu mengingatkan untuk selalu sabar ketika berada di jalan raya. Kecelakaan tidak hanya menguras ekonomi keluarga, tapi juga dapat merusak masa depan.

“Sebelum anda menyesal, lebih baik anda selalu berhati-hati. Kejadian seperti ini semoga dapat menjadi pelajaran bagi yang lain. Pelan asal selamat, daripada cepat tapi tak selamat,” pungkasnya memberikan kata nasehat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: