Oleh: triy | September 25, 2008

Cacat Fisik… Bukan Alasan Buat Saya Untuk Hidup Mandiri

Asrol

Asrol

(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)

Suara mesin las terdengar keras menggema di ruangan bengkel yang terletak di kawasan Jalan Sei Kambing, Gatot Subroto, Medan. Menggunakan kacamata las, beberapa pekerja nampak terlihat serius menyambung sebuah pipa besi. Tak jauh dari situ, seorang lelaki yang fisiknya terlihat cacat memegang sebuah besi sesekali memerhatikan anak buahnya yang sedang bekerja.

Pria itu adalah Asrol, ia adalah pemilik bengkel tersebut. Setiap hari ia selalu menghabiskan waktunya dengan bekerja di bengkel. Tak ada sedikitpun terlihat rasa minder dalam diri Asrol, meskipun kondisi fisiknya tidak seperti kebanyakan orang. Begitupun saat Global menemuinya beberapa hari yang lalu. Setiap ungkapan yang keluar dari mulutnya, sangat terlihat jika dirinya memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

“Beginilah saya. Sejak menginjak masa remaja dan mengerti arti hidup saya tidak pernah mengeluh tentang kondisi fisik saya. Semuanya saya serahkan kepada Tuhan. Dia yang menciptakan saya seperti ini, saya harus mensyukurinya,” ungkap Asrol mencoba membuka percakapan.

Sambil kedua tangannya memegang sebuah besi, pria berusia 32 tahun ini mencoba mengingat-ingat masa lalunya, kemudian menceritakan lika-liku perjalanan hidupnya kepada Global. Menurutnya, masa kanak-kanak adalah masa yang paling sulit dilaluinya. Pada masa itu ia benar-benar berada di titik terbawah dalam hidupnya.

Sejak usianya memasuki dua tahun, Asrol sudah kehilangan kedua orangtua yang sangat dicintainya. Meski hidup tanpa kedua orangtua, ia tetap masih bisa bersyukur karena memiliki seorang kakak yang selalu menjaga dan merawatnya.”Waktu itu saya nggak tahu harus bagaimana lagi. Untunglah ada kakak yang merawat saya. Dialah tulang punggung saya,” ujar Asrol.

Kendati masih memiliki kakak yang selalu merawatnya, tapi kondisi itu sepertinya tidak cukup baginya untuk menikmati kebahagiaan di masa kecil seperti anak-anak sebayanya. Tak jarang Asrol harus menerima ejekan dari para teman-temannya. Inilah salah satu hal yang sampai saat ini tidak pernah bisa ia lupakan. Karena dari sinilah semua pelajaran tentang hidup didapatnya.

“Namanya anak-anak, kalau diejek kan pasti sakit hati dan pingin marah. Itulah kenapa, saya dulu saat masih kecil jarang bermain di luar rumah. Soalnya malu diejek sama kawan-kawan. Tapi, lama-kelamaan saya sudah kebal dengan ejekan. Dan mencoba mengambil hikmahnya saja,” tambah Asrol.

Ditolak Sekolah di Palembang

Penyakit folio yang ia derita dari sejak berusia enam bulan, membuat Asrol harus melupakan impiannya untuk bisa menikmati masa kecilnya. Tak hanya itu, kondisi ini diperparah dengan tingkat IQ-nya yang berada di bawah sandart orang kebanyakan. Hal ini dirasakan semakin menambah beban baginya dalam mengarungi kehidupan.

Cobaan demi cobaan sepertinya tak pernah lepas dari kehidupan Asrol di waktu kecil. Asrol tak hanya ditolak oleh teman-teman di lingkungan tempatnya tinggal saja, tetapi ia juga beberapa kali ditolak untuk menuntut belajar di sekolah. Alasannya cuma satu, karena ia dianggap memiliki cacat fisik dan keterbelakangan mental.

Sedih dan kehilangan rasa percaya diri dialami oleh Asrol ketika itu. Ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia sempat berpikir, bahwa dunia ini sepertinya sudah benar-benar tidak menerimanya lagi.

”Perasaan saya waktu itu nggak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Saya hampir putus asa untuk menjalani hidup. Nggak mungkin kan saya hanya menggantungkan saudara saya saja untuk hidup,” papar Asrol sambil sesekali menghela nafasnya.

Seperti halnya saat dirinya diejek oleh kawan-kawan di lingkungan tempat tinggalnya, pengalaman tersebut kemudian dipelajarinya, hingga kemudian ia menemukan sebuah prinsip hidup yang sampai sekarang ini selalu dipegangnya. Apa itu?. Asrol menyimpulkan, jika kondisi cacat yang dialaminya bukan halangan dalam menggapai cita-cita yang tersemat dalam dirinya, yaitu bisa hidup mandiri.

“Mungkin dari situlah saya bisa menyempurnakan hikmah hidup yang selama ini saya alami. Keterbatasan ini bukan alasan buat saya untuk berkembang. Saya yakin bisa melakukan segala hal yang ingin saya lakukan. Bahkan, tidak hanya untuk diri saya sendiri, tapi mungkin juga orang lain,” jelas Asrol.

Sejak saat itu, Asrol mulai menemukan kembali arti hidup dan kepercayaan dirinya yang sebelumnya hampir hilang dalam dirinya. Ia juga mulai berpikir bagaimana menjalani hidup untuk masa depannya kelak. Ia terus belajar memupuk rasa percaya dirinya. Karena ia beralasan, membangun percaya diri adalah salah satu modal dalam menghadapi kehidupan yang akan dijalaninya.

“Awalnya saya mulai belajar dari lingkungan keluarga. Saya banyak belajar bagaimana tetap menjaga kepercayaan diri. Karena saya tahu, dengan kondisi seperti ini pasti banyak orang yang akan mengejek saya. Seperti juga kawan-kawan dulu,” ujar Asrol beralasan.

Pindah ke Medan

Keinginan untuk menuntut ilmu dan mengubah kehidupan yang ia rasa tidak bahagia saat masih kecil, mengilhami dirinya untuk selanjutnya pindah tempat tinggal. Selama tinggal di Palembang, ia merasa tidak pernah diberi kesempatan belajar menuntut ilmu. Pasalnya, tidak ada satupun sekolah yang sudah didaftarnya mau untuk menerima dirinya sebagai murid sekolah.

Akhirnya, setelah melihat berbagai pertimbangan dan keputusan keluarga. Asrol pun kemudian berlabuh dan menjejakkan kakinya di Kota Medan. Pada waktu pertama kali tiba di Medan, ia mengaku bersumpah untuk bisa “menaklukkan” Kota Medan. Berbagai cara ia lakukan untuk bisa masuk sekolah di Medan.

Nasib baik mulai menaungi Asrol. Akhirnya, ia diterima untuk menuntut ilmu di sebuah sekolah swasta di Medan. Tapi, ia harus terlebih dahulu melewati beberapa tes, sebelum diterima menjadi muridnya. Semangat dan rasa percaya diri yang selalu dijadikan prinsipnya, mengantarkan Asrol diterima untuk mengikuti pelatihan di Sekolah Luar Biasa (SLB) selama kurang lebih satu bulan.

“Syukurlah akhirnya saya diterima di sekolah tersebut. Di sekolah itu jugalah saya banyak belajar bagaimana hidup mandiri. Sebagai orang yang menderita keterbatasan fisik, saya tidak boleh banyak menggantungkan bantuan kepada orang lain terus. Saya harus bisa hidup mandiri,” tegas Asrol.

Meski ia mengaku kalau tingkat kecerdasannya di bawah standart. Namun, ketika masuk sekolah SD, Asrol berhasil melewati dua kelas tanpa harus mengikuti pelajaran. Karena ia berhasil lulus kualifikasi yang diselenggarakan oleh pihak sekolahan. “Saat masuk SD dulu saya langsung naik kelas 3, jadi nggak perlu ikut lagi pelajaran kelas 1 dan kelas 2,” sebutnya bangga.

Belajar Ikut Organisasi

Usaha dan semangat Asrol untuk bisa hidup mandiri dan bergaul dengan orang lain patut diacungi jempol. Untuk mendukung keinginannya tersebut, pada tahun 1996, dirinya bergabung dalam oraganisasi Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI). Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Guru kesenian yang mengajak dirinya untuk masuk kedalam organisasi ini.

Setelah beberapa bulan bergabung di PPCI. Asrol mendapat kepercayaan dari kawan-kawannya untuk menjadi pengurus organisasi, yang mana ia mendapat tugas memotifasi dan memberikan pengarahan kepada juniornya yang di PPCI untuk bisa mengembangkan keahliannya.

“Karena tugas saya mendampingi junior di bidang keterampilan. Makanya, sebelum menjadi pengurus, saya digembleng dahulu tentang keterampilan seperti belejar ilmu perbengkelan dan menjahit. Barulah setelah itu, saya diangkat untuk masa bakti 5 tahun,” seru Asrol.

Setelah selesai menyelesaikan amanah sebagai pengurus di PCCI. Asrol mencoba membuka usaha sendiri yang modalnya diambil dari uang tabungannya saat masih menjadi pengurus di PPCI. Untuk menunjang usahanya tersebut, ia pun memodifikasi sepedanya untuk keperluan transportasi. Bengkel milik saudaranya yang terletak di kawasan Jalan Gatot Subroto, Medan, kini telah dipegang sendiri oleh Asrol.

“Meskipun hasil sedikit, yang penting itu adalah hasil jerih payah kita sendiri. Dan selagi kita bisa atau mampu kenapa tidak kita coba. Bukankah tuhan itu menciptakan manusia dengan kekurangan, pasti juga dengan kelebihan yang luar biasa. Akhirnya saya bisa kok hidup mandiri,” paparnya menutup pembicaraan.


Responses

  1. boleh minta email bapak?

  2. Info yang bagus !

    Barangkali informasi mengenai “Tidak PD” berikut, juga berguna bagi rekan rekan yang memerlukannya. Klik > Tidak PD ?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: