Oleh: triy | September 25, 2008

Bung Jon : “Kadang Kalau Perut Lapar, Saya Tahan Saja”

Misno

Misno

(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)

Suara langkah kursi roda terdengar perlahan mendekati. Dari kejauhan nampak seorang penyandang cacat kaki duduk di atas kursi roda. Lelaki itu bernama Misnan atau biasa dipanggil dengan “Bung Jon”. Usianya sekitar 47 tahun. Bung Jon tinggal di Jl. Juanda Gang Buku Sei Sekambing. Karena kondisi tubuhnya yang cacat, setiap hari Jon hidup dari belas kasihan warga sekitar tempat tinggalnya.

“Sebenarnya cacat ini sama sekali tidak saya inginkan, tapi apa yang mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur,” ungkapnya sedih saat ditemui Global di kediamannya, Selasa (9/9) sore kemarin. “Siapa sih yang ingin hidup cacat? Sungguh sangat menyedihkan. Tidak bisa bergerak bebas, ataupun hanya sekedar kumpul-kumpul dengan kawan-kawan,” tambah Jon mulai bercerita.

Jon bercerita, jika dahulu ia tergolong anak yang lumayan bandal. Cacat yang diperolehnya terjadi saat dirinya bersama dengan kawan-kawan sepermainannya berencana memancing ikan di Sungai Sei Sekambing. Musibah terjadi, bukannya ikan yang didapat, justru kecelakaan yang ia alami.

Saat itu umurnya baru 12 tahun, melihat kawan-kawannya asyik berenang. Jon pun tak mau kalah. Sebelum tubuhnya meloncat ke sungai, dari arah belakang Jon didorong oleh temannya hingga masuk ke dalam sungai. Karena air di sungai dalam keadaan dangkal, ia pun jatuh. Tubuh, lutut, ataupun pergelangan kakinya mengalami luka yang sangat parah.

“Setelah jatuh, saya dibantu oleh kawan-kawan langsung pulang ke rumah. Tapi, sayangnya karena kondisi keuangan keluarga yang nggak punya, saya hanya di rawat sama dukun pijat saja. Dengan obat-obatan tradisonal dan di urut sama dukun saja pengobatannya,” ungkap Jon

Satu bulan sudah musibah itu terjadi. Namun, kakinya tak kunjung menampakkan hasil yang positif. Rasa nyeri bahkan mulai terasa, hingga kemudian kakinya tidak bisa digerakkan dengan sempurna. Masalah finansial menjadi kendala, pengobatan Jon pun terpaksa dihentikan. Hari semakin hari, kaki Jon pun akhirnya benar-benar mengalami lumpuh total.

Ketika itu ia masih tinggal bersama dengan keluarga. Namun karena tidak cocok dan sering ribut. Jon pun memutuskan untuk tinggal sendirian. Sejak saat itulah ia tinggal sendiri. Karena kondisi inilah, ia hanya bisa mengharap belas kasih orang lain. Jangankan untuk pakaian, untuk makan pun kadang susah. Bahkan, kadang ia harus menahan lapar karena tidak ada orang yang membantunya.”Lapar, ya tetap saya tahan,” tambahnya.

Dapat Bantuan Kursi Roda, Tegar Hidup Sendiri

Pada tahun 2008, kawan-kawannya mendaftarkan Jon di organisasi orang cacat Indonesia. Setelah itu Jon pun mendapat bantuan kursi roda. Bantuan ini sangat berarti baginya. Beberapa kali ia sempat mengucapkan rasa syukur atas bantuan ini. Namun sayangnya, saat ditanya tentang keluarganya, Jon enggan berbicara banyak.

Sebelum memiliki kursi roda. Jon sangat jarang sekali keluar rumah. Ia hanya bisa berdiam diri di dalam rumah. Tidur dan melamun adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukannya.”Saya sangat bersyukurlah dengan diberikannya kursi roda ini. Dengan kursi saya bisa menikmati kembali dunia luar setelah beberapa tahun terkurung di rumah,” ujar Jon.

Perjalanan hidup yang dijalani Jon bukanlah hal mudah. Jutaan orang jumlah penduduk di dunia ini, seolah tiada arti baginya. Gubuk dengan ukuran tak lebih dari 4 X 4 meter menjadi saksi bisu bagaimana Jon menjalani kehidupan sehari-harinya. Semua itu dilalui Jon dengan sebuah kehampaan.

Sayangnya, lagi-lagi Jon tertutup saat Global mencoba mengorek kehidupan keluarga dan saudara-saudaranya yang lain. Dari raut wajahnya nampak tersirat suatu rahasia yang terus selalu disimpannya. Hanya dia saja yang tahu. Orang-orang lain yang sering menjenguknya ditutup untuk mengetahuinya.

Jon sepertinya masih bertahan dengan kekuatan batinnya. Hanya kursi rodalah yang selalu menemani dirinya sehari-hari. Begitulah Jon. Meskipun hidup sendirian, Jon mengaku tetap tegar menerimanya. Jon tak pernah menyalahkan siapa pun. Karena ia percaya jalan hidup seseorang semuanya telah diatur dan digariskan oleh Yang Maha Kuasa.

“Nggak ada yang perlu disesali dalam kehidupan yang telah saya lalu selama ini. Gimana ya, semua itu kan ada yang mengatur. Biarlah Tuhan yang menentukannya. Mungkin saat masih kecil atau remaja saja, dengan kondisi seperti ini saya agak minder kalau bergaul dengan orang lain,” jelasnya sambil sesekali mengingat kenangan saat dirinya masih bisa berjalan dan bermain-main dengan kawan-kawannya.

Kenangan bermain-main ketika masih kecil, sepertinya masih membekas dalam benak Jon. Pasalnya, Jon begitu semangat saat Global mencoba mengajak cerita tentang masa kecilnya ketika cedera kaki belum menimpanya.

“Namanya ya anak kecil. Sukanya kan bermain-main saja. Bedalah anak sekarang dengan anak dulu seperti di jaman saya. Anak sekarang kan seringnya lebih suka bermain-main, tapi kalau seumuran saya dulu harus membantu orang tua. Lagian belum banyak mainan seperti sekarang ini,” papar Jon

Manusia adalah makhluk sosial, dimana satu sama lain saling membutuhkan. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Kendati sampai sekarang ini Jon masih bisa hidup sendiri, tapi dalam hatinya yang terdalam ia tetap mendambakan bantuan orang lain. Apalagi seseorang yang bisa menjaga, menemani dan merawatnya.

“Saya nggak mau munafik. Saya juga pingin sekali punya seorang istri yang tak hanya merawat dan menjaga saja, tetapi juga selalu setia menemani saya. Siapa sih orang yang bisa hidup sendiri tanpa ada orang lain, pasti nggak ada kan,” jelasnya.

Sayangnya keinginan seperti itu, kata Jon, ibarat mimpi di siang bolong. Ia mengaku cukup tahu diri dengan keadaannya.”Hm… saya percaya kalau jodoh, rezeki dan maut semuanya yang mengatur yang di atas. Tetapi, sebagai manusia, saya juga ingin mendapatkannya seperti juga dengan orang lain,” tegas Jon dengan suara yang agak sedikit pelan.

Tak Bisa Tidur Kalau Hari Hujan

Cuaca panas dan semilirnya angin menemani Global saat mengunjungi rumah Jon yang terletak di Jalan Juanda Gg Buku Sei Sikambing Medan. Saat melintasi kawasan ini, terlihat sebuah gubuk kecil yang beratapkan seng di atasnya. Siapa sangka jika gubuk tersebut merupakan rumah yang ditempati oleh masyarakat sekitar kawasan ini.

Suara gemerisik seng jelas terdengar saat angin bertiup kencang. Ini menandakan jika seng yang sudah berwarna usang ini tidak kuat lagi menancap di atap rumah tersebut. Bukan itu saja, rumah mungil itu juga terlihat mengikuti kemana arah bertiupnya angin. Jika angin menuju ke barat, rumah inipun agak sedikit condong ke barat, begitupun sebaliknya.

Itulah rumah milik Jon. Sejak ditinggal oleh kedua orangtuanya dan menjadi seorang yatim piatu, rumah ini menjadi peneduh baginya dari panasnya sengatan sinar matahari, dinginnya udara malam serta derasnya hujan yang mengguyur membasahi bumi. Di rumah inilah ia menumpahkan segalanya.

“Kalau misalnya ada hujan atau angin saat siang hari saya tidak terlalu takut. Tapi, kalau itu terjadi pada malam hari, barulah saya takut. Soalnya saya di sini kan sendirian. Kalau sudah hujan pada malam hari, beberapa atap di atas pada bocor semua. Jadi kalau mau tidur, nyari yang nggak kena bocoran air hujan lah,” ujar Jon.

Oleh karena itulah, Jon sangat berharap agar ada orang yang mau membantu dirinya untuk memperbaiki kondisi rumahnya. Minimal kebocoran saat air hujan turun bisa teratasi, sehingga ia pun bisa tidur nyenyak. “Jika sudah hujan malam hari, saya nggak bisa tidur nyenyak sampai pagi. Apalagi hujannya deras. Semuanya jadi basah semua di kamar ini,” terangnya menutup pembicaraan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: