Oleh: triy | September 18, 2008

Tafsir yang Salah Soal Fauna

Dunia fauna memang menarik untuk diamati. Sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu, interaksi manusia dengan satwa telah terjalin. Tak sedikit yang menghubungkan satwa dengan tradisi dan budaya.

Namun seringkali manusia melakukan kesalahan penafsiran terhadap kebiasaan-kebiasaan satwa di alam liar. Mungkin karena kurangnya pengetahuan atau akibat proses generalisasi yang salah terhadap tingkah laku satwa.

Bahkan penggunaan satwa yang sering dibuat menjadi semacam perumpaan dalam kehidupan dilakukan atas tafsir yang salah. Atau reaksi manusia dan penilaian yang salah terhadap satwa bukan terjadi sekali dua. Kesalahan-kesalahan itu memancing penelitian untuk menguak rahasia kehidupan dalam dunia fauna. Sampai akhirnya informasi tentang satwa bisa membuka tabir pengetahuan umum tentang dunia dan isinya.

Dari sekian banyak penafsiran yang salah tentang dunia fauna, beberapa hewan berikutnya ini yang seringkali dijadikan semacam perumpamaan. Sebenarnya apa dan bagaimana pandangan manusia terhadap kehidupan kupu-kupu, unta, burung unta, dan cobra? Artikel singkat berikut akan memapar kesalahan dan hasil penelitian yang membuktikan faktanya.

Burung Unta Tak Pernah Membenam Kepalanya

Pernah melihat burung unta? Burung raksasa ini tak bisa terbang yang hidup di belukar dan padang pasir Afrika. Tubuh burung unta dewasa bisa mencapai 3 meter dengan berat melebihi 156 kg. Ia dikenal sebagai burung pejalan dan pelari cepat.

Di banyak tradisi dan budaya, burung unta yang berleher panjang ini dilambangkan sebagai sebuah kebodohan. Bahkan ada yang menuangkannya dalam peribahasa “Bagai berlaku seperti Burung Unta”. Dalam artian: “melakukan tindak konyol yang merugikan diri sendiri” atau “menipu diri sendiri untuk melepaskan diri dari bahaya”. Itu dianggap sebagai tindakan bodoh yang justru membahayakan diri sendiri. Sebab burung unta dianggap akan membenamkan kepalanya ke dalam pasir untuk menghindar dari bahaya. Dengan tidak melihat bahaya, ia merasa aman. Benarkah umpama dan peribahasa ini?

Para ahli fauna langsung tersenyum dan menggeleng. Tafsir terhadap perilaku burung unta itu salah besar. Sama sekali tidak ada bukti otentik tentang kebiasaan burung unta untuk membenamkan kepalanya ke dalam pasir demi menghindari bahaya. Jika ini dilakukan tentu saja burung unta akan mati kehabisan napas.

Faktanya, burung unta adalah mahluk yang cerdik dan mampu bereaksi cepat. Sebagai burung pejalan yang bertubuh besar dan berotot kuat, ia punya kemampuan berlari cepat. Kecepatan lari sang burung bahkan bisa menyamai kecepatan lari kuda.

Karena itu ketika burung unta menyadari ada ancaman bahaya ia akan mengambil ancang-ancang dan langsung berlari secepat-cepatnya sampai ia mencapai tempat yang aman (kecepatan larinya mencapai 65 km/jam).

Reaksi lainnya jika berlari tidak mungkin dilakukan, maka burung unta akan melakukan tindakan manuver dan secepat mungkin melakukan penyamaran. Caranya ia akan menekuk tubuhnya di antara belukar dan berdiam diri bagai rimbunan belukar. Bulu unta yang kasar dengan corak yang hitam kelabu keputihan itu akan membantu menyamarkan warnanya dengan lingkungan belukar dan padang pasir, sehingga ia tampak bagai belukar semak atau batu.

Seandainya ia tak lagi mampu menghindar dari bahaya, maka burung unta akan mempersiapkan diri dengan melakukan serangan agresif berupa patukan kuat dan tendangan yang mematikan. Sistem pertahanan diri pada burung unta ini adalah langkah cerdik dan tindakan yang cukup berani. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekonyolan dan kebodohan.

Perilaku unta yang dianggap membenamkan diri ke pasir sebenarnya tafsir yang salah terhadap kebiasaanya burung berkepala botak ini. Memang terkadang burung unta menundukkan kepalanya dan mengais pasir dengan paruhnya. Ini dilakukan untuk menyendok pasir dan kerikil kecil yang digunakannya untuk membantu pencernaan. Atau ia sesekali menundukkan kepalanya ketika berburu kadal dan reptil di padang pasir dan semak belukar. Dan untuk melemaskan otot lehernya, burung unta juga akan menundukkan kepalanya rata dengan tanah. Tetapi sama sekali tidak membenanamkan kepalanya ke dalam pasir. (berbagai sumber)

Kupu-kupu (bukan) Lambang Cinta Sejati

Kupu-kupu memang terlihat indah menarik. Perpaduan aneka warna-warna cemerlangnya membuat kita senantiasa tertarik untuk mengamatinya. Keindahan dan pesona kupu-kupu ini banyak menginspirasi seniman dan penyair dalam karyanya.

Keindahan kupu-kupu ini seringkali digubah menjadi semacam lukisan indah yang romantis, digambarkan dalam puisi sebagai lambang cinta, bahkan ditulis dalam legenda sebagai perwujudan cinta kasih. Bahkan dalam kebudayaan Yunani kuno, mereka percaya roh manusia yang sudah mati akan berubah wujud menjadi kupu-kupu. Simbolisasi jiwa (Roh) ini diwujudkan dalam kecantikan imej Dewi Psyche yang bertubuh kupu-kupu.

Satu kisah cinta yang terkenal tentang kupu-kupu bera-sal dari cerita rakyat di daratan Tiongkok: Sam Pek Eng Tay. Kisah ini berlatarbekalang kehidupan Tingkok kuno di wilayah Provinsi Zheijiang di tepian Sungai Yushui. Di sana tinggal satu keluarga kaya bermarga Zhu. Zhu memiliki anak perempuan yang cantik rupawan bernama Cuk Eng Tay.

Suatu kali Eng Tay ingin bersekolah ke Sung Yee College di Hongzhou. Namun ayahnya tak merestuinya. Saat itu perempuan memang tak lazim bepergian dan bersekolah. Namun tekad Eng Tay untuk bersekolah begitu tinggi, sehingga ia melakukan muslihat agar diizinkan ayahnya untuk bersekolah.

Dengan menyamar sebagai lelaki Eng Tay pun diizinkan ayahnya dan ia diterima bersekolah. Di sana ia bertemu dengan lelaki tampan bernama Liang Sam Pek. Keduanya pun bersahabat karib layaknya kakak dan adik, sementara Sam Pek tak menyadari bahwa Eng Tay adalah perempuan. Semakin lama semakin akrab, Eng Tay jatuh cinta pada Sam Pek. Namun ia tak pernah mengungkap jati dirinya sebagai perempuan.

Sampai akhirnya Eng tay terpaksa pulang kampung karena Zhu ayahnya sakit keras. Eng Tay meminta izin pada gurunya, dan ia menceritakan perihal dirinya pada sang guru. Sambil menitip pesan untuk Sam Pek.

Eng Tay berangkat ke kampung halaman. Di sana ia merawat ayahnya. Sampai akhirnya sang ayah berkata bahwa ia telah menjodohkan Eng Tay dengan seorang pemuda kaya Ma Wencai dan harus mengawininya. Eng Tay menolak menikah Ma Wencai, karena ia sudah jatuh cinta pada Sam Pek. Namun sang ayah tak menyetujui hubungan mereka dan memaksa Eng Tay mengawini Ma Wencai.

Kemudian Sam Pek yang sudah mengetahui bahwa Eng Tay adalah wanita menyusulnya ke rumah Eng Tay di tepian Sungai Yushui. Ia pun merasa rindu berat dan berniat melamar Eng Tay. Namun akibat percintaan mereka ditentang Zhu, Sam Pek pun frustasi karena cinta. Ia kemudian mati sakit rindu demi cintanya pada Eng Tay.

Eng Tay sangat pilu mendengar kabar kematian Sam Pek. Sementara pesta pernikahannya dengan Ma Wencai sudah ditentukan. Eng Tay bermohon agar iring-iringan pengantin bisa melewati makam Sam Pek, agar ia bisa berziarah untuk menghormati Sam Pek.

Saat hari pernikahan tiba, iring-iringan pengantin pun melintasi makam Sam Pek. Saat itu Eng Tay langsung berlari menuju makam itu. ia bersimpuh disana dan menangis sejadinya. Sambil menangis ia berkata: Kakak Sam Pek, aku tak ingin menikah dengan Ma Wencai. Bila rohmu ada di dalam tanah, ajaklah aku pergi bersamamu.

Sekonyong-konyong angin bertiup kencang dan hujan petir mendadak tiba. Langit begitu gelap saat makam Sam Pek terbelah menjadi retakan besar. Tiba-tiba Eng Tay melompat menuju lubang rekahan, dan para pengawal tak bisa menahannya kecuali secarik baju yang terkoyak milik Eng Tay. Setelah itu makam kembali tertutup, dan langit berubah menjadi cerah kembali. Beberapa saat kemudian muncul sepasang kupu-kupu saling berkejaran, keluar dari makam tersebut.

Orang-orang Tiongkok kemudian percaya bahwa kupu-kupu itu adalah penjelmaan roh Liang Sam Pek dan Cuk Eng Tay. Dan kupu-kupu pun dianggap sebagai lambang cinta sejati.
Banyak yang menganggap bahwa kupu-kupu nan indah yang sering terlihat saling berkejaran, adalah lambang cinta sejati, kemesraan, dan romantisme. Apakah memang demikian dalam dunia kupu-kupu?

Hasil penelitian ahli serangga terhadap kebiasaan kupu-kupu membuktikan penafsiran itu salah. Kupu-kupu jantan dan betina yang sering terlihat saling mengejar sesungguhnya bukan melambangkan “cinta” atau semacam kemesraan. Justru sebaliknya. Fakta menunjukkan, kupu-kupu betina cenderung sangat memilih pejantannya. Sementara Penjantan cenderung memaksakan keinginannya.

Mahluk-mahluk indah ini biasanya memilih tempat yang sunyi untuk memulai ritual perkawinan. Saat betina melakukan “seleksi” terhadap penjantan ia akan sangat selektif. Jika merasa tak cocok ia akan segera terbang menjauh. Namun pejantan cenderung memaksakan hubungan dan ia akan mengejar-ngejar betina yang menolaknya. Pengejaran yang agresif ini yang disalahtafsirkan sebagai kemesraan dan lambang cinta. Padahal justru hal ini menunjukkan ketidakcocokan antara kupu-kupu betina dan jantan. Wah!

Punuk Unta Bukan Kantung Air
Unta sudah sangat dikenal sebagai hewan transport padang pasir yang handal. Ia sanggup beradaptasi begitu baik dengan lingkungan padang pasir yang terkering sekalipun. Karena unta bisa tidak minum selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan sebulan.

Kemampuan unta yang jarang haus di tempat kering dan panas seperti padang pasir ini menimbulkan dugaan bahwa hewan berbulu cokelat itu dianggap mampu menyimpan air di dalam kantungan khusus di tubuhnya. Banyak yang menyangka, air akan disimpan unta di dalam punuknya, karena terkadang unta bisa meminum begitu banyak air.

Sebenarnya hewan yang sering dijuluki sebagai “kapal padang pasir (ship of the desert)” ini sama sekali tidak punya kantung penyimpan air di tubuhnya. Kemampuan unta bertahan di daerah kering dan sangat membutuhkan sedikit air ini, dimungkinkan karena sistem organ tubuhnya yang istimewa.

Punuk pada unta (ada yang satu punuk ada yang dua punuk tergantung spesiesnya) sebenarnya adalah cadangan lemak baginya dan bukan kantung air. Ketika butuh makan, unta tak mesti mencari makanan. Secara sistematis, lemak yang tersimpan di punuknya akan diolah menjadi semacam energi bagi tubuhnya dan dalam proses itu juga akan menghasilkan air yang bisa memenuhi kebutuhan air tubuhnya.

Selain itu sistem lapisan kulit dan kelenjar disekujur tubuh unta memungkinkan hewan setinggi 1,8 – 2 meteran ini untuk menjaga suhu tubuhnya agar tetap dingin. Unta punya kemampuan menyesuaikan temperatur tubuh sampai penurunan dan peningkatan sebesar 6 derajat celsius (manusia hanya mampu 1 derajat dan jika pada skala dua akan menderita sakit). Dalam proses pengaturan suhu yang otomatis ini, unta sama sekali tidak mengeluarkan keringat sebanyak hewan lainnya.

Karena itu sistem organ tubuh yang istimewa ini, unta bisa menghemat penggunaan air dan tidak merasa kepanasan di teriknya gurun pasir. Walau dalam cuaca dan suhu sekitar yang ekstrem panas, di mana mahluk lain merasa haus tak terperi, unta santai-santai saja bahkan sering menolak diberi minum.

Namun jika unta merasa sangat haus, ia akan mencari air dan meminum air sebanyak-banyaknya (sampai 200 liter). Namun perilaku minum banyak ini sangat jarang dilakukan. Mungkin hanya sebulan sekali. Biasanya ia akan minum secukupnya (sangat sedikit) dalam selang beberapa hari sekali. Ketika merasa sangat lelah, unta akan berteduh di rimbun pohon atau berdesakan dengan sesama unta untuk mendapatkan rasa dingin. Karena tubuh unta cenderung bersuhu dingin di panas hari. (berbagai sumber)

Global | Medan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: