Oleh: triy | September 14, 2008

Owen & Mzee : Keunikan Ikatan Persahabatan Dua Spesies

Owen n mazee

Owen n mazee

Ia masih teramat kecil. Sinar ketakutan sangat kental terpancar dari matanya saat terdampar di atas gugus karang di kawasan pantai dekat muara sungai Sabaki River, Kenya. Ia selamat dari terjangan dahsyat tsunami yang melanda pantai Afrika pada 24 Desember 2004.

Sehari setelah tragedi tsunami dahsyat Samudera Hindia yang menghantam Asia dan Afrika, puluhan penduduk desa tepi Pantai Malindi di Kenya melakukan tugas penyelamatan bersama aparat setempat. Saat itulah Owen Saubion melihat pemandangan ganjil di kawasan tepi pantai itu. Ia melihat bayi kudanil (masih berusia 1 tahun) itu meringkuk lemas di batu karang. Kondisinya sangat memprihatinkan. Ia terjebak di antara gelombang laut dan derasnya air dari muara Sabaki River.

Owen Saubion kemudian mengajak beberapa rekannya mendekati anak kudanil itu. Dengan menggunakan jaring penangkap hiu, mereka pun berhasil menyelamatkan bayi kudanil seberat 600 pounds (270 kg) itu. Owen Saubion terharu oleh kemampuan kudanil itu bertahan hidup setelah terpisah dari kawanannya.

Setelah dirawat, kudanil itu pun akhirnya dibawa ke Haller Park dekat Mombasa, sebuah taman suaka margasatwa milik Lafarge Eco Systems’ East African firm, pada 27 Desember 2006. Di suaka margasatwa Haller Park inilah kisah persahabatan unik itu dimulai.

Unik

Bayi kudanil itu kemudian diberinama Owen, sesuai nama penyelamatnya. Petugas suaka menempatkannya di sebuah area untuk hewan-hewan kecil. Langkah ini dilakukan karena Owen masih tergolong bayi. Sementara jika di tempatkan di lokasi untuk kawanan kudanil, petugas perawat hewan khawatir ia akan diserangan kawanan kudanil lain yang tak mengenalnya. Karena kudanil sangat agresif dan “fanatik” pada kawanannya, bila ada kudanil asing mereka bisa saja membunuhnya.

Ketika Owen dilepas, ia masih bingung. Mungkin karena harus menempati lingkungan baru. Namun setelah ia merasa sedikit nyaman, Owen langsung menatap dan tertarik pada seekor kura-kura bernama Mzee.

Mzee, adalah spesies kura-kura Aldabran usia 130 tahun seberat 700 pound (320 kg). Mzee yang dalam bahasa Swahili (Afrika) berarti “wise old man” (si tua bijaksana), merupakan penghuni lama area yang dilengkapi dengan kolam asri dan hutan buatan itu.

Awalnya, Owen langsung beranjak mendekati Mzee. Namun Mzee sama sekali tak peduli padanya. Hari demi hari Owen selalu mengikuti Mzee ke mana pun ia pergi. Agaknya Owen berupaya mengambil hati Mzee. Seiring waktu dan kegigihan Owen mendekatinya, Mzee akhirnya menerima kehadiran kudanil muda itu.

Berminggu-minggu kemudian keduanya sudah tampak begitu akrab. Mzee layaknya dianggap sebagai induk oleh Owen, sementara Mzee merasa sebagai orangtua asuh bagi Owen. Bukan hanya dalam kiasan, pada kenyataannya Mzee selalu menjaga Owen dengan kelembutan. Owen juga selalu mematuhi dan senang bermain dengan Mzee.

Ikatan persahabatan mereka mengental bagai sebuah keluarga. Para perawat hewan di Haller Park bingung dengan tingkah dua hewan beda spesies ini. Mereka bagaikan induk dan anak dari satu spesies yang sama.

Apa yang disantap Mzee juga disantap Owen, di mana Owen tidur di situ pasti ada Mazee. Mereka selalu bermain air di kolam bersama, makan bersama, tidur bersama dan berjalan-jalan keliling area taman bersam-sama pula.

Setahun berlalu, namun kedua hewan beda spesies itu semakin lengket. Keduanya sudah tak terpisahkan lagi. Fenomena ini sungguh mengejutkan sejumlah besar ilmuwan. Bukannya saja karena peristiwa seperti ini belum pernah terjadi, tetapi di antara mereka juga sudah mengembangkan “bahasa” mereka sendiri sebagai sistem komunikasi di antara keduanya. Bahasa komunikasi lewat suara yang sama sekali belum pernah ditemukan dalam kelompok kudanil atau pun kura-kura Adabran.

Suara dalam nada tertentu dari Mzee akan direspons oleh Owen secara tepat. Begitu pula sebaliknya, suara dalam nada tertentu dari Owen direspons Mzee pula secara tepat. Selain itu, keduanya juga mengembangkan bahasa tubuh yang hanya mereka berdua pahami, seperti gigitan lembut, sentuhan, dorongan dan belaian yang masing-masing direspons sebagai suatu kode untuk melakukan sesuatu atau ungkapan kasih sayang di antara keduanya.

Keunikan persahabatan Owen dan Mzee pun menjadi fenomena mendunia. Tingkah laku dan komunikasi unik yang sama sekali baru dalam dunia zoologi (ilmu tentang hewan) itu membuat mereka menjadi selebriti dunia. Sejumlah besar foto, film, dokumentasi, bahkan buku dan artikel mengulas soal teka-teki besar persahabatan mereka.

Owen dan Mzee pun menjadi lambang cinta dan persahabatan yang tidak mengenal batasan fisik, ras, spesies dan teritori.

Upaya Mengembalikan Sifat Asli

Fenomena persahabatan unik Owen dan Mzee mengundang tanda tanya. Mengapa kedua hewan yang sama sekali beda spesies itu bisa akrab dan mengembangkan bahasa komunikasi mereka sendiri? Teka-teki ini menjadi misteri besar dalam dunia fauna.

Hans Klingel seorang profesor zoologi di University of Braunschweig di Jerman dan ahli kudanil mengatakan, kudanil umumnya adalah hewan sosial. “Mereka adalah hewan sosial,” katanya seperti yang dikutip dari situs National Geographic. “Dalam keadaan itu, mereka menikmati apa yang mungkin bisa mereka nikmati.”

Pendapatnya itu diajukan setelah setahun ikatan persahabatan unik terjalin antara Owen dan Mzee, setahun setelah tsunami dahsyat yag terjadi di pantai Afrika. Sebuah pandangan ahli yang memang menegaskan persahabatan dua hewan mungkin saja terjadi terutama pada kudanil muda seperti Owen.

Sementara amatan dan penelitian staf Haller Park, tingkah Owen saat berada di suaka itu menjadi lebih mirip “kura-kura” daripada kudanil. Owen menyantap makanan kura-kura, seperti dedaunan dan wortel dan tak berselera pada rumput yang menjadi makanan kudanil sesungguhnya. Ia juga tidur di malam hari, yang sungguh berbeda dengan kebiasaan kudanil yang tidur di siang hari. Owen juga tak merespon atau tergugah dengan suara-suara kudanil lain yang berbeda kandang dengannya di suaka tersebut.

“Mereka (Owen dan Mzee) justru menciptakan bahasa suara mereka sendiri, yang hanya mereka bedua pahami,” kata Dr Paula Kahumbu, Direktur Haller Park dalam sebuah pernyataan. Menurutnya, tak ada komunikasi sejenis yang ditemukan dalam spesies kudanil maupun kura-kura.

Selain menimbulkan keheranan, kedekatan Owen dan Mzee juga memancing kekhawatiran. Sebab, Owen tetaplah seekor kudanil yang akan tumbuh besar menjadi berbobot 3,2 ton, sementara Mzee akan semakin menua sebagai kura-kura yang lemah. Para penjaga suaka dan ahli takut suatu saat Owen bisa saja membuat Mzee cedera atau bahkan membunuhnya secara tak sengaja dalam sebuah permainan atau saat mereka tidur.

Maka diupayakan untuk memisahkan kedua hewan tersebut sekaligus untuk mengembalikan sifat-sifat asli mereka.

Dr Kahumbudan rekan-rekan lainnya mencoba merekonstruksi kehadiran kudanil perempuan kecil lain ke area Owen dan Mzee. Kudanil itu diberi nama Cleo. Para peneliti berharap agar Owen dan Cleo bisa saling bersahabat pula. Jika hal itu terjadi maka Owen dan Cleo akan ditempatkan dalam area baru bersama untuk membentuk kawanan mereka sendiri terpisah dari Mzee. Untuk tahap awal, Mzee akan diikutsertakan, agar Owen tidak sedih, stres dan trauma. Jika kedua kudanil itu cocok, maka Mzee akan dikembalikan ke lingkungan kura-kura lain di suaka tersebut. (Berbagai Sumber)

Fakta Spesies Owen dan Mzee

Kudanil

Penamaan kudanil atau dalam bahasa latinnya Hippopotamus amphibius berasal dari bahasa Yunani yang berarti kuda sungai. Hewan bertubuh tambun ini memang suka mendiami kawaan perairan sungai di wilayah Afrika. Termasuk keluarga hippopotamidae dari kelompok mamalia.

Karnivora semi akuatik ini bisa ditemukan di habitat aslinya di sungai dan danau wilayah sub-Sahara Afrika. Mereka suka menyantap rerumputan yang banyak tumbuh di dekat perairan tawar. Biasanya hidup dalam kelompok-kawanan yang bisa berjumlah 15-40 ekor setiap kawanan. Mereka suka menghabiskan waktu dengan berendam di dalam air dan akan turun ke darat untuk menyantap makanan.

Bobot tubuh kudanil memang luar biasa. Jantan dewasa bisa tumbuh sampai seberat 3.200 kg (3,2 ton), sementara betina dewasa mencapai 3.636 kg (3,6 ton). Masa hidupnya rata-rata 40-50 tahun di alam bebas.

Kura-kura Aldabra

Kura-kura Aldabra (Geochelone gigantea), berasal dari Kepulauan Atol Aldabra di Seychelles (kepulauan di timur Afrika, di utara Madagaskar). Merupakan kura-kura kedua terbesar di dunia. Ia hampir menyamai kura-kura Galapagos dari segi ukuran, dengan dimensi panjang karapas (tempurungnya) sekitar 120 cm.

Kura-kura Aldabra jantan rata-rata bisa tumbuh seberat 250 kg, walau ada juga yang mencapai 360 kg. Sementara kura-kura betina berukuran lebih kecil dengan bobot 150 kg dan karapasanya 90 cm.

Ia mempunyai kaki bersisik tegap untuk menyokong badannya yang berat. Selain itu struktur lehernya amat panjang. Panjang lehernya bisa mencapai satu meter saat memagut dedaunan di ranting pepohonan sebagai pangan utamanya.

Hewan dari keluarga tertudinidae dari kelompok reptilia ini ada yang hidup menyendiri dan ada yang berkelompok. Rata-rata usia mereka di atas seratus tahun, namun bisa juga mencapai usia 256 tahun di alam liar. (Berbagai Sumber)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: