Oleh: triy | September 14, 2008

Di Garis Batas Kepunahan!

Si cebol Tamarraw

Si cebol Tamarraw

Mungkin panda cukup dikenal sebagai salah satu spesies satwa langka yang dilindungi. Dan dinosaurus adalah binatang yang cukup populer di zaman purba. Namun, ada satwa yang lebih langka daripada panda dan lebih tua dari dinosaurus, tetapi sangat tidak dikenal awam.

Satwa-satwa paling langka di dunia itu masih hidup hingga kini. Mereka mendiami suatu habitat yang sangat sempit dan rentan terhadap gangguan manusia atau perubahan lingkungan. Bahkan ada yang sudah bertahan hidup selama ratusan, ribuan, hingga jutaan tahun yang lalu. Kini para ahli mencatat mereka sebagai satwa yang paling terancam punah!

Berikut lima spesies di antara belasan spesies satwa paling langka yang melewati garis batas kritis dan mendekati kepunahan. Coelacanth yang hidup sebelum masa dinosaurus, Devil’s Hole Pupfish yang tersisa dari zaman es sekitar 60 ribu tahun lalu, Tamaraw yang terisolasi di hutan pegunungan Pulau Mindoro sejak zaman purba, Amur Leopard yang kerap meninggalkan jejak di daerah salju Rusia sejak kucing besar masih menjadi predator teratas di belantara serta Badak Sumatera bercula dua yang pernah dijuluki “monster” dari rimba pedalaman Sumatera dan Asia Tenggara.

Kini mereka harus berjuang dengan napas generasi terakhirnya, perjuangan untuk bertahan hidup di habitat yang semakin menyempit demi kelestarian spesiesnya, bertahan dari semua ancaman dan tekanan, atau hanya akan menambah daftar panjang hewan-hewan punah!

Tamaraw: Si Cebol dari Pulau Mindoro
Ia kini bertahan hidup dan terisolasi di habitat yang sangat sempit di Pulau Mindoro, Filipina. Satwa endemik ini hanya tersisa 300 ekor di alam liar. Sebagian besar terlindungi (sejak 2000) di Taman Nasional Gunung Iglit-Baco dan Aruyan.

Kerbau cebol ini bernama Tamaraw (Bubalus mindoroensis). Walau ukuran tubuhnya kecil (panjangnya 1-2,2 meter) dibandingkan kerbau, tetapi ia satu-satunya hewan asli daratan Filipina terbesar. Tingginya satu meter dan bobot tubuh 200-300 kg, dengan tanduk yang kuat, runcing dan panjang (35-51 cm).

Tamaraw yang bisa mencapai usia 25 tahun ini suka mendiami dataran tinggi hutan tropis pegunungan yang tak jauh dari sumber air. Ia sangat menyukai wilayah bersemak dan rumput di area hutan yang terbuka, karena di tempat seperti itu ia bisa mendapatkan makanan favorit berupa rumput, dedaunan muda, bahkan bambu-bambu muda.

Sekilas, Tamaraw sangat mirip dengan kerbau. Bulunya kelabu kecokelatan dengan tanduk menyerupai bentuk huruf V dan ekor sepanjang 60 cm. Namun, karakteristik anatomi Tamaraw sesungguhnya berbeda dengan keluarga kerbau lainnya. Tamaraw juga dikenal sebagai hewan yang suka menyendiri (soliter). Betina dewasanya hanya beranak satu kali dalam satu fase perkawinan.

Para ahli meyakini bahwa tamaraw adalah keturunan dari spesies-spesies “kerbau” purba yang hidup pada masa Pleistocene Epoch (2 juta-11.500 tahun lalu). Hal ini berdasarkan temuan fosil di Pulau Luzon dan Mindoro Filipina.

Perburuan liar, aktivitas loging, serangan penyakit dan perluasan ladang menekan Tamaraw ke pedalaman. Bahkan perangkat hukum yang melindunginya dinilai kurang “bergigi”. Bahkan pernah ada laporan, tamaraw sitaan justru tersaji di meja makan oknum penegak hukum.

Badak Sumater: Si Kulit Tebal Bercula Dua
Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) adalah badak paling kecil di dunia. Ia adalah satu-satunya badak Asia yang bercula dua. Menurut data WWF, jumlah badak Sumatera hanya tersisa 300 ekor di alam liar. Teramati sekitar 60-80 ekor di antaranya mendiami kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan sekitar 30 ekor di Taman Nasional Gunung Leuser (Aceh-Sumut).

Mamalia berkulit tebal dan keras ini dulunya pernah mendiami wilayah India, Myanmar, Kamboja, Laos, Thailand, Malaysia dan Indonesia. Namun kini Badak Sumatera yang tersisa hanya bertahan di hutan pedalaman Sumatera dan Kalimantan (Malaysia dan Indonesia).

Hewan “lapis baja” ini berkulit cokelat kemerahan dan tertutupi bulu panjang yang acak. Cula depan berukuran panjang 25-80 cm, sementara cula belakang tidak lebih dari 10 cm. Ukuran tubuhnya antara 2-3 meter, tinggi rata-rata 1-1,5 meter dan bobotnya bisa mencapai 950 kg.

Badak-badak Sumatera ini suka hidup soliter (menyendiri) di hutan sekunder dataran rendah, rawa dan kegelapan hutan tropis pedalaman. Namun akibat deforestasi hutan, perluasan ladang dan perburuan liar untuk cula, badak Sumatera terdesak ke daerah dataran tinggi yang bukan habitat kesukaannya. Inilah ancaman nyata bagi spesies yang sangat terancam punah ini. Padahal, seekor badak Sumatera setidaknya membutuhkan daerah jelajah sekitar 30 km persegi, termasuk area berair.

Hewan ini umumnya suka menyantap buah, ranting muda dan dedaunan. Ia hampir tidak pernah terlihat berkeliaran di siang hari, karena badak ini lebih suka beraktivitas saat fajar hampir menyingsing dan senja hingga gelap. Namun saat siang hari yang panas, badak biasanya berendam di lumpur atau genangan air. Ia cukup mahir berenang dan lincah mendaki perbukitan. Saat musim penghujan, ia suka bermain di lereng pegunungan dan menuju lembah saat hari terasa dingin.

Pada Maret lalu, WWF melaporkan berhasil merekam aktivitas badak Sumatera di kawasan Sabah Malaysia. Film berdurasi 2 menit ini hasil rekaman kamera jebakan yang dipasang di teritori badak Sumatera di hutan kawasan Sabah.

Film ini menjadi satu-satunya rekaman kehidupan badak Sumatera di habitat aslinya yang pernah terdokumentasi di Malaysia. Para ahli mendata sekitar 25-50 ekor badak mendiami kawasan Sabah.

Coelacanth: Monster Purba di Perairan Afrika dan Indonesia
Ia mendiami perairan sejak 400 juta tahun lalu dan masih ditemukan hingga kini. Bentuknya tak mengalami evolusi nyata. Sebelum ditemukan dalam keadaan hidup, Coelacanth pertama kali ditemukan dalam bentuk fosil.

Berdasarkan penelitian, fosil coelacanth berasal dari masa Pertengahan Devonian 390 juta tahun lalu. Ikan ini ternyata lebih tua dan pernah mencicipi daging dinosaurus.

Kejutan menyenangkan dalam dunia ilmiah terjadi saat Coelacanth ditemukan dalam keadaan hidup untuk pertama kalinya 1938. Penangkapan itu terjadi di muara Chalumna River, lepas pantai timur Afrika Selatan. Sejak itu, “perburuan” untuk penelitian dilakukan.

Walau awalnya diduga hanya mendiami perairan Afrika Selatan, namun temuan mengejutkan di Indonesia (1997) menguak fakta baru bahwa Coelacanth juga hidup di perairan Sulawesi. Kini para peneliti menamai Coelacanth Afrika sebagai Latimeria chalumna dan Coelacanth Indonesia sebagai Latimeria menadoensis.

Kedua spesies ikan ini berbeda warna sisiknya. Coelacanth Afrika bersisik besar, kasar, dengan pendar biru berkilau, sementara Coelacanth Indonesia berpendar cokelat kemilau. Ikan ini bisa tumbuh sampai sepanjang 2 meter dengan berat 95 kg. Ciri utamanya memiliki sirip samping yang lebih menyerupai tungkai kaki di bagian dekat insang dan ekor. Lalu ada cuping di dekat sirip tungkai, sisiknya besar dan berlapis email, serta satu-satunya ikan di dunia yang memiliki “kembang” mirip kipas di ujung tengah ekornya. Tidak diketahui pasti populasi ikan ini di alam liar, karena masih diteliti. Namun diperkirakan hanya ratusan ekor.

Laporan terakhir, Coelacanth Indonesia yang berjuluk “Ikan Raja” tertangkap dalam keadaan hidup di perairan lepas pantai Sulawesi Utara pada bulan Mei 2007 oleh seorang nelayan.

Amur Leopard: Kucing Besar “Penguasa” Salju
Keluarga kucing memang predator yang paling banyak tersebar di seluruh bumi. Lantas, leopard adalah salah satu spesies kucing yang hampir bisa ditemukan daratan Afrika, Asia, Amerika, sampai Eropa, walau hanya dala jumlah sedikit. Tetapi amur leopard adalah cerita lain.

Amur leopard (Phantera pardus orientalis) adalah subspesies leopard dari keluarga besar kucing yang punya kehidupan dan kisah yang berbeda, memiliki pola bintik dan corak yang berbeda dari leopard lainnya. Walau sekilas tetap saja seperti tutul (totol) biasa, tapi perhatikan warna krem muda dengan bintik dan lingkaran patah dengan warna gelap di tengah coraknya. Corak ini akan terlihat berbeda saat musim dingin dan musim panas. Jika musim dingin tiba, pola bulu itu berukuran 7,5 cm, sementara di musim panas mengecil menjadi 2,5 cm. Inilah pembeda bulu amur leopard yang hanya tersisa beberapa ekor saja di dunia.

Laporan WWF menyatakan bahwa amur leopard yang tersisa di alam liar bersalju wilayah timur jauh Rusia tak lebih dari 40 ekor. Dari jumlah itu, hanya terdeteksi sekitar 7 betina saja. Inilah yang mengkhawatirkan lembaga perlindungan satwa liar dan menempatkan amur leopard yang cantik ini sebagai satwa langka yang terancam punah dalam CITES Appendix I.

Pemburu cekatan ini rata-rata berbobot 32-48 kg, walau ada yang mencapai 75 kg. Ia mampu hidup sampai usia 15 tahun di alam liar. Namun para ahli sangat prihatin terhadap nasibnya, karena perburuan liar di masa lalu (yang berlanjut hingga kini), menipisnya hutan salju sebagai ruang hidupnya dan berkurangnya buruan baginya, menjadi ancaman nyata.

Berdasarkan laporan WWF pada 25 April 2007, seekor amur leopard ditemukan tewas ditembak dan dipukul. Yang sangat disesalkan, amur leopard yang tertembak di bokong dan tengkorak kepalanya retak akibat hantaman benda tumpul ini ternyata berkelamin betina. Fakta ini menunjukkan populasi betina yang tersisa hanya tinggal 6 ekor saja di dunia. Kematian betina leopard yang tragis ini bisa menghalangi perkembangbiakan amur leopard secara umum.

Di tahun 2007, identifikasi satwa ini menunjukkan jumlah amur leopard yang tersisa di alam liar hanya 25-35 ekor lagi, jumlah yang sangat sedikit untuk mampu bertahan hidup! Karena itu, para penyelamat lingkungan dan konservatoris menyerukan perlindungan baginya. (WWF| Berbagai sumber)

Devil’s Hole Pupfish: Si Mungil Penghuni Lubang Setan
Ikan mini ini adalah hewan asli penghuni mata air dan sungai di wilayah Amerika Serikat (AS) dan Meksiko. Kehidupannya di Benua Amerika sudah 50.000 tahun lebih dan mengalami perjuangan hidup sejak zaman es (100.000-11.500 tahun lalu). Kala itu, wilayah AS dan Meksiko masih tertutup air berupa sungai dan danau (kini sebagian besar menjadi gurun).

Setelah zaman es berakhir, kelompok ikan-ikan pupfish yang tadinya berenang bebas di perairan tawar, kini berkelompok dalam telaga, sungai, danau dan mata air. Dan salah satu subspesiesnya yakni devil’s hole pupfish-pupfish lubang setan (Cyprinodon diabolis) pun terjebak dalam mata air dalam di kawasan Nye Country Nevada pada sebuah kawasan yang kini menjadi sangat kering dan panas, sehingga dijuluki Lembah Kematian (Death Valley). Selama 20.000 tahun ia bertahan di mata-mata air itu hingga di abad 21 ini hanya tersisa 38 ekor saja.

Spesies pupfish yang bertahan di sebuah mata air berjuluk lubang setan (devil’s hole) di Taman Nasional Lembah Kematian Nevada ini adalah generasi terakhir ikan pupfish air tawar dari zaman es yang masih hidup di bumi. Ikan dari keluarga Cyprinodontidae ini kini menjadi perhatian utama pemerintah dan penyelamat satwa langka. Dan sumur mata air tersebut kini dibentengi dengan pagar kawat keliling serta pengawasan dan pengamanan ketat 24 jam sehari. Proteksi serius mulai dilakukan sejak tahun 1976-an, saat ilmuwan menemukan hanya tersisa 200 ekor pupfish lubang setan di dunia.

Ke-38 ekor spesies terakhir itu mendiami sebuah sumur mata air seluas 3 meter dan sedalam 150 meter di bawah garis permukaan laut. Pupfish berukuran sangat mungil, antara 1,5-3,8 cm. Si mungil ini umumnya masih tenang berenang di suhu air 42 derajat Celcius. Namun pada suhu 50 derajat Celsius di puncak musim panas Lembah Kematian, ikan ini masih mampu bertahan.

Devil’s hole pupfish memiliki corak sisik cokelat olive dan putih (betina) dan biru keunguan dengan kelir hitam dan sirip yang gelap (jantan). Sementara anakan umumnya berwarna cokelat olive dan hitam di sisi terluarnya. Kini ikan ini termasuk daftar satwa paling langka di dunia, setingkat di atas panda raksasa RRC. (berbagai sumber)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: