Oleh: triy | September 10, 2008

Nasi Timbel

Nasi Timbel Dr. Masnyur Medan

Nasi Timbel Dr. Masnyur Medan

Tri Yuwono | Global | Medan

HAJJAH Nunung cukup kreatif dalam “menangkap” peluang. Dengan membuka memori masa bangsa ini melawan penjajah di mana para pejuang dan di saat kemerdekaan bagaimana para petani mempersiapkan “penganan”, Hajjah Nunung mengemas dengan apik, apa yang disebut “Nasi Timbel”.

“Nasi Timbel”, adalah nasi yang dibungkus dengan daun pisang. Ya, hanya itu saja pengertiannya. Ketika masa perjuangan melawan penjajah, para pejuang senantiasa dibekali penganan “nasi timbel” tersebut. Pada masa itu, bekal yang dibawa sudah dilengkapi dengan lauk pauknya. Tentu saja, kelengkapan itu terbatas atau ala kadarnya. Demikian juga, yang dirasakan para petani di kampung asal Hajjah Nunung di Sukabumi, Jawa Barat.

“Situasi itulah yang menginspirasikan saya bersama keluarga untuk memasyarakat ‘nasi timbel’ di Medan,” kata pengelola rumahmakan “Nasi Timbel” Hj Nunung Khas Jawa Barat, Dedi Effianto saat ditemui Global, Kamis (3/7) di Jalan Dr Mansur Medan.

Menurut Dedi, di Bandung sajian seperti ini sudah tidak asing lagi. Banyak rumahmakan pinggiran jalan, menyajikan makanan tersebut. Kebanyakan konsumennya adalah para mahasiswa, karena memang harganya sangat pas dengan daya beli mereka. “Namun ada perbedaan yang kami sajikan dengan di Bandung. Kalau di Bandung lauk pauknya sudah siap saji, di sini kami beri kebebasan kepada konsumen untuk memilih dan kemudian digoreng. Dengan cara ini, konsumen dapat menikmati lauk yang segar dan hangat. Kalau sudah dimasak, cepat dingin dan tidak segar,” kata Dedi.

Dedi menjelaskan, “Nasi Timbel” ini sebenarnya merupakan sajian sangat sederhana sekali dan setara dengan menu standard keluarga (rumahtangga). “Ini hanya nasi putih biasa tanpa ada tambahan racikan bumbu apapun, ya layaknya nasi putih yang dihidangkan dalam menu makan keluarga. Kemudian dibungkus dengan daun pisang muda. Itulah yang kemudian kita sajikan dengan menu pendamping yang beraneka ragam,” ungkapnya.

Sentuhan cita rasa keistimewaan “Nasi Timbel” ini, justru diracik Hajjah Nunung melalui lauk-pauknya. Misalnya Gepuk, yaitu daging sapi yang dipotong-potong kemudian dipukul-pukul hingga lembek, dan seterusnya diungkap bersama bumbu khas yang disesuaikan dengan lidah orang Medan. “Kalau konsumen memilih gepuk, kita goreng dan rasanya gurih serta rapuh saat dikunyah,” kata Dedi yang juga memperkenalkan satu per satu menu makanan pendamping “Nasi Timbel” tersebut. Bagi yang ingin menikmati dengan sayuran berkuah, juga disediakan sayur asam.

Dengan motto “feel like home”, Dedi mengaku sudah hampir 1,5 tahun ia bersama keluarga memperkenalkan sajian ini di Kota Medan. Ya, cukup menjanjikan dan mendapat perhatian dari penikmat makanan. Setidaknya, Nia Daniati bersama suaminya Farhat Abbas sudah menikmati “Nasi Timbel” tersebut. Bagaimana bahan-bahan racikan untuk menu pendamping “Nasi Timbel” belum dapat tersajikan karena Hajjah Nunung masih melaksanakan ibadah umrohnya ke Tanah Suci Makkah.Itulah “Nasi Timbel”, nasi putih bungkus daun pisang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: