Oleh: triy | September 9, 2008

Catatan Ringan IPK(Ikatan Pemuda Kesekretariatan) Fakultas Ekonomi USU 2003 (Bagian2-Habis)

Nih Dia Junior Kena Kerjaan

Nih Dia Junior Kena Kerjaan

Dek… ingat pasal dek…, pasal satu apa, senior tak pernah salah, pasal dua apabila senior kembali ke pasal satu, gila nih pikir aku, atau bukan aku saja yang merasa gila, mungkin banyak juga kawan-kawan yang merasakan gila, kalau begini aturannya, kapan senior akan salah. Kira-kira mana lah yang gila, aku, kawan-kawan atau justru senior-senior itu yang udah gila. Itulah kesan pertama menikmati kuliah, yang katanya Ospek-lah, penyiksaan-lah, biar akrab-lah, tapi selama kegiatan, yang bisa aku tangkap dari kegiatan tersebut hanya untuk ajang balas dendam bagi senior-senior yang dulu mungkin ketika masuk juga mengalami hal serupa, seperti yang mungkin kita alami saat-saat masuk bangku kuliah.

Tetapi, apapun ceritanya itu merupakan bagian yang “wajib” untuk diikuti, walaupun manfaatnya masih dipertanyakan dari dulu, sekarang atau bahkan yang akan datang. Masih belum hilang dari ingatan kita, kejadian seperti itu bahkan lebih parah dialami oleh kawan-kawan di STPDN, yang menimbulkan korban jiwa. Seolah-olah manusia sebagai mahluk social hilang naluri kesadarannya, berubah menjadi “singa” yang tidak ingin daerah kekuasaanya dikuasai oleh musuh-musuhnya, hingga keluarlah perasaan sebagai “senior” yang selalu ingin menang terhadap junior-juniornya.

Dari sinilah awal kehidupan kami, -Tri, Imron, Haris, Adhly, Roni, dan Franklin-, di kesekretariatan dimulai. Walaupun sebenarnya yang menghuni disini bukan kami saja, tetapi dari kurang lebih 100-an mahasiswa baru yang masuk kesekretariatan, hanya enam orang inilah yang laki-laki. Dilema juga, pertama kali harus kuliah dengan perbandingan yang sangat mencolok jumlah antara laki-laki dan perempuan.

Tetapi, syukurlah dilema yang sempat menjadi “hantu” itu berangsur-angsur hilang dari kami. Seolah-olah kami

merasa memang sudah menjadi bagian dari ini semua. Dan itu entah factor “luck” atau takdir, saya sendiri tidak tahu, kalau akhirnya kami di bagi menjadi tiga orang setiap group, seandainya hanya satu orang yang menghuni group ganjil atau sebaliknya, gimana ya… rasanya. Di group ganjil ada saya(tri), Imran dan Adhly, sementara untuk penghuni group genap Haris, Roni dan Franklin.

Kenapa engkau memilih jurusan sekretaris……? Inilah pertanyaan yang membuat saya atau kawan-kawan lain ”sulit” untuk menjawabnya. Sejak pertama kali masuk, hingga sampai sekarang pertanyaan tersebut masih sering terdengar, sampai kami menyebutnya kalau pertanyaan tersebut “bukan” sebagai sebuah pertanyaan, hanya Tuhan dan masing-masing pribadi saya dan kawan-kawan saja yang mengetahui.

Tapi akhirnya, saya sendiri sadar tidak ada salahnya untuk belajar “ilmu lain”, bukankah ribuan sarjana setiap tahun sulit mendapatkan kerja meskipun itu menjadi keinginan mereka untuk belajar ilmu yang memang sudah mereka inginkan atau dicita-citakannya. Jadi, buat saya sendiri selama kita bisa memanfaatkan “peluang” pasti ilmu lain bisa kita dapat.

Kuliah Pertama

Pengantar bisnis menjadi lembar pembuka buat kami –mahasiswa baru- memulai debutnya sebagai mahasiswa baru. Jujur terus terang, saya ataupun kawan-kawan mungkin masih belum saling mengenal ketika itu. Bahkan masuk kuliah pertama tersebut kami masuk lokal pun sama-sama, padahal NIM kita berbeda. Ironisnya kami lupa berapa NIM kami, akhirnya kami masuk dalam satu lokal yang sama.

Sehari, seminggu, sebulan waktu berjalan mengiringi putaran jam dinding yang selalu setia berputar dari kiri ke kanan. Sejalan dengan itu kamipun menemukan titik terng sebagai mahasiswa. Sosialisasi, menjadi factor utama tentunya, kami harus bisa berinteraksi dengan lingkungan baru, terutama untuk bisa bergabung dengan jurusan yang lain. Bukannya kami sombong, dalam hal sosialisasi kami paling cepat akrab bila dibandingkan dengan jurusan lain, yang mungkin masih satu jurusan pun mereka tidak saling mengenal.

Bahkan kami menamakan diri menjadi anggota IPK 03’ (Ikatan Pemuda Kesekretariatan). Kalau kami lagi jalan bareng, pasti ada yang bilang, awas ada IPK lewat, bangga juga dibilang begitu, ini tandanya kalau keberadaan kami sangat diperhitungkan. He…he… memuji jurusan sendiri kan tidak apa-apa.

Semester pertama menjadi mahasiswa, kami berenam dikenal sangat kompak, datang pagi hari, pulang sore hari. Padahal kuliah cuma berapa jam saja. Secara psikologis, keadaan ini dikarenakan kami masih menikmati masa-masa sebagai mahasiswa baru., pingin tahu tandanya kalau kita menikmati masa-masa tersebut yakni kepala kita pada botak-botak pada saat itu.

Adanya kami berenam, juga membuka lembar baru bagi dunia sekretaris, dalam hal partisipasi olah raga, terutama dalam kancah sepak bola, dimana kami bisa membuat tim sendiri, meskipun masih tetap di “subsidi” pemain tua. Bang majid, bang ipul, bang rinto, bang hisar, bang ali brekele, bang bernad gondrong, bang pinin(penjaga gawang), kisanak adi (yang tetap setia menjadi cheerleader), dan juga kami.

Inisiasi Prapat

Tradisi dan budaya merupakan sesuatu yang tidak mungkin untuk bisa dihilangkan, apalagi bagi masyarakat Indonesia. Tradisi dan budaya sudah menjadi hukum tak tertulis yang tetap harus dilakukan. Meskipun tidak semua orang akan menerima dengan “ikhlas” akan hal tersebut. Mungkin ini sudah menjadi cirri khas bagi sebuah peraturan tak tertulis yang wajib untuk dilakukan.

Begitu juga dengan kegiatan inisiasi, seolah-olah sudah menjadi kebiasaan yang wajib untuk dilakukan, meskipun undang-undang yang mengatur hal itu tidak tercantum. Pro dan kontra adanya inisiasi juga muncul, adanya keinginan untuk saling manjaga hubungan yang baik antara senior dengan junior menjadi alasan utama, kenapa tradisi ini tetap dilakukan tiap tahun. Sementara ketakutan akan keamanan mahasiswa baru menjadi modal pertentangan bagi pihak yang kontra akan hal tersebut.

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan adanya kegiatan tersebut benar, bahwa akan dapat menjadi perekat antara senior dengan yuniornya. Yah… mungkin jawabannya objektif bagi setiap individu, ada yang menilai ya, tapi tidak sedikit yang menilai tidak. Meskipun bagitu, apapun hasilnya yang dicapai, pengalaman tetap akan menjadi kenangan yang tak akan mudah dilupakan, termasuk saat kegiatan inisiasi.

Banyak cerita yang sulit untuk dihilangkan dalam kegiatan inisiasi diatas, dari mulai kisah percintaan, persahabatan ataupun “penyiksaan” sekalipun. Walaupun kita juga menghormati hak asasi manusia, tetapi kembali kepada hukum yang tak tertulis seperti diatas. “penyiksaan” tetap akan menjadi prioritas utama. Penyiksaan disini juga kembali pada

Sehari, seminggu, sebulan waktu berjalan mengiringi putaran jam dinding yang selalu setia berputar dari kiri ke kanan. Sejalan dengan itu kamipun menemukan titik terng sebagai mahasiswa. Sosialisasi, menjadi factor utama tentunya, kami harus bisa berinteraksi dengan lingkungan baru, terutama untuk bisa bergabung dengan jurusan yang lain. Bukannya kami sombong, dalam hal sosialisasi kami paling cepat akrab bila dibandingkan dengan jurusan lain, yang mungkin masih satu jurusan pun mereka tidak saling mengenal.

Bahkan kami menamakan diri menjadi anggota IPK 03’ (Ikatan Pemuda Kesekretariatan). Kalau kami lagi jalan bareng, pasti ada yang bilang, awas ada IPK lewat, bangga juga dibilang begitu, ini tandanya kalau keberadaan kami sangat diperhitungkan. He…he… memuji jurusan sendiri kan tidak apa-apa.

Semester pertama menjadi mahasiswa, kami berenam dikenal sangat kompak, datang pagi hari, pulang sore hari. Padahal kuliah cuma berapa jam saja. Secara psikologis, keadaan ini dikarenakan kami masih menikmati masa-masa sebagai mahasiswa baru., pingin tahu tandanya kalau kita menikmati masa-masa tersebut yakni kepala kita pada botak-botak pada saat itu.

Adanya kami berenam, juga membuka lembar baru bagi dunia sekretaris, dalam hal partisipasi olah raga, terutama dalam kancah sepak bola, dimana kami bisa membuat tim sendiri, meskipun masih tetap di “subsidi” pemain tua. Bang majid, bang ipul, bang rinto, bang hisar, bang ali brekele, bang bernad gondrong, bang pinin(penjaga gawang), kisanak adi (yang tetap setia menjadi cheerleader), dan juga kami.

pandangan objektif setiap individu sendiri, karena tidak semua itu memandang sebagai penyiksaan, tetapi sesuatu yang biasa-biasa saja. Yang pasti percintaan, persahabatan ataupun penyiksaan sekalipun akan menjadi tradisi dan budaya untuk masa yang akan datang.

Jika “penyiksaan” menjadi cerita negative, lain halnya dengan kisah percintaan. Mungkin ini juga bagian dari suatu tradisi tersebut, senior dengan senior, senior dengan yunior. Dalam hal ini, kami juga memiliki cerita-cerita yang sebenarnya layak untuk di filmkan seandainya ada produser yang berminat.

Danau Toba I, begitulah kami memberi judul pada waktu inisiasi itu. Untuk pemeran utama –of the record-. Cerita dalam danau toba I sangat menarik, kisah asmara yang berujung pada “perceraian”. Bumbu-bumbu sedap mewarnai kisah ini. Dalam danau toba I ini juga diwarnai dengan system target yang tentu menambah sisi dari cerita ini manjadi semakin menarik.

Namun sayangnya, danau toba I ini tidak diikuti oleh salah satu dari kami, walaupun seminggu sebelum hari H bersedia untuk ikut, namun ketika hari H justru dia hilang seperti ditelan bumi. Ketika dikonfirmasi keberadaannya, ia mengatakan kalau dirinya di usir dari kos-kosan dan menderita penyakit demam berdarah. Mendengar hal itu, kami sempat bertanya dalam hati, bagaimana bisa “kawan” yang tidak ikut ini alasannya seperti itu, padahal dia merupakan orang “terkaya di kampungnya”, kekayaannya ini bisa diindikasikan bahwa dia punya usaha “tambak” ditengah laut cina selatan, kok bisa diusir dari kos, apalagi sampai menderita penyakit demam berdarah, padahal dari penyelidikan dari para ahli tidak ada nyamuk yang bisa gigit dia, kecuali nyamuk “nakal”. Sampai saat ini, alasannya ini masih sulit kami terima kebenarannya.

Sesuai apa yang saya katakan diatas, danau toba I menyimpan kenangan yang sangat berpengaruh buat kami. Sehingga tidak heran, jika kisah tersebut berlanjut setelah inisiasi. Bahkan disini muncul julukan-julukan baru yang kami sandang dari efek danau toba I. dari mulai “sang dokter” hingga “si gagal target”. Dan ini hingga sekarang masih tetap kita pakai julukannya, tak ada salahnya mengingat masa lalu kawan.

Study

“Banyak yang hilang dari padaku termasuk kesabaran, tetapi satu yang tak kan hilang dari padaku yaitu harapan”.

Kalimat tersebut sungguh sangat berarti buat diriku, dan menjadi salah satu prinsip dalam kehidupanku. Harapan… satu kata yang membuat setiap orang selalu ingin mewujudkannya, dengan apapun caranya. Bagitu juga harapan untuk bisa belajar dengan baik, tentunya dengan “harapan” dapat mencapai suatu hasil yang baik.

Disini mungkin saya akan lebih banyak bercerita di group saya –group ganjil-, karena untuk bisa masuk kedalam rumah tangga group genap bukan wewenang saya, selain itu saya juga kurang tahu kondisi yang terjadi dalam group genap, kecuali bila kami harus belajar dalam satu lokal yang sama. Dari dulu sampai sekarang, kami memang bersaing dan tentunya tetap sama-sama “menghormati” intern group masing-masing.

Setelah dua bulan menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, perasaan untuk saling mengenal kawan satu sama lain menjadi salah satu sesuatu mutlak untuk dilakukan, sesuai dengan sifat manusia, sebagai mahluk social yang tidak dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Jujur, saya sendiri selama semester pertama masih belum mengenal satu sama lain kawan-kawan dalam satu lokal khususnya dan semua kawan-kawan umumnya. Tak kenal maka tak sayang, begitu kata pepatah memberikan pandangannya mengenai persahabatan.

Sesuai dengan yang saya katakan diatas, bahwa manusia merupakan mahluk social, perasaan saling sayang dan menyakiti tentu ada. Bagitu juga dengan kami, naïf jika saya dan kawan-kawan tidak merasakan hal-hal tersebut. Dan tentunya ujung-ujungnya tidak bisa dihindarkan, jika kami juga merasakan hal ini, termasuk saya sendiri. Bermula dari peristiwa danau toba I, saya mengenal seseorang yang dapat menyita pikiran saya, karena kebetulan saat itu kita satu kelompok waktu dikerjai oleh senior, walaupun akhirnya kisah tersebut tidak bisa bertahan lama.

Selain saya, kedua kawan saya yang ada digroup ganjil, juga mengalami hal yang tidak jauh berbeda dengan saya, dan tentunya kisah-kisah tersebut berawal dari danau toba I. bahkan yang lebih menarik keduanya “tersangkut” hatinya oleh satu kos dua penghuni, yang juga masih memiliki hubungan pertemanan yang sudah lama, Karena menurut informasi yang saya terima mereka satu kampung. Namun, tidak jauh beda dengan saya, ceritanya juga terbentur oleh sesuatu hal.

Jika diatas, beberapa contoh yang terjadi di group ganjil, sementara di tetangga kami, group genap juga tidak mau kalah untuk membuat cerita, bahkan lebih menarik lagi. Karena melibatkan “pemain-pemain” yang cukup banyak, -senior pun ikut didalamnya-. Dari mulai “sang dokter”, yang sangat lihai dalam mencari pasien serta mengobatinya, “tower jaringan” yang kokoh berdiri untuk mencari sinyal-sinyal kehidupan akan cinta dan kasih sayang, yang dikemudian hari sempat salah sasaran. Serta tak ketinggalan dan menurut saya yang paling menarik, gara-gara “jilbab” hampir meletus perang dunia ke-lima , walaupun tidak jadi, namun perang dingin diantara mereka terjadi juga.

Untuk urusan belajar, kami juga menyimpan banyak cerita, dari mulai pertentangan dengan dosen, males kuliah serta “malas” tegur sapa dengan kawan-kawan. Malas dalam arti karena kita belum banyak mengenal, jadi enggan untuk saling berkomunikasi. Tapi alhamdulillah lambat laun masalah “malas” tersebut dapat hilang.

Tidak mudah belajar “beradaptasi” dalam kuliah, paling tidak membutuhkan waktu, banyak hambatan, terutama dalam hal untuk bisa konsentrasi dalam belajar, penyebab yang paling sering mengganggu konsentrasi tersebut adalah “narkoba” (nampak kolor belakang, begitu kami menyebutnya). Bagaimana tidak terganggu, jika ketika belajar banyak diantara “kaum hawa”, yang penampilannya belum sempurna, bahkan terkesan dipaksakan. Busana yang sebenarnya 100% belum jadi pun langsung dipakai. Penampilan inilah yang biasanya mengganggu pikiran kami – maaf kami bukannya berpikiran negative, tetapi inilah realita yang ada saat ini -.

Dalam permasalah mengenai penampilan ini, juga mempunyai banyak cerita, maklum bila kuliah kami lebih suka duduk dibangku belakang. Dengan posisi ini, tentunya pandangan kedepan, kesamping maupun keatas dengan sangat jelas dapat dilihat. Jadi, jika ada kawan yang duduk didepan

dan sedang memakai pakaian yang belum jadi, sering kami komentari. Pernah terlintas oleh salah satu pikiran dari kami, bagaimana jika mirip dengan permainan time zone, yang apabila dimasukkan koin, akan bergerak sendiri. Seandanyi itu kawan yang pakai pakaian, tapi belum 100% jadi tersebut, dimasukkan koin dari belakang, mungkin mirip dengan tingkah laku dari salah satu permainan di time zone tersebut.

Banyaknya kawan-kawan sebagai pengkonsumsi “narkoba”, memang menjadi tontonan tersendiri. Selain kawan-kawan dalam berpenampilan banyak yang bergaya narkoba, banyak juga yang memiliki ide kreatif untuk dapat dilihat oleh orang lain kelihatan kompak, yakni dengan menggunakan warna yang sama dan memiliki warna yang mencolok untuk dilihat. Dengan alasan tersebut, tidak mengherankan jika dulu kawan-kawan ada yang memiliki kelompok, yang apabila berpakaian memiliki warna kebesaran.

Jika senin, satu memakai warna merah, pastilah dipastikan yang lain memakai warna yang sama, mirip kelompok “kapak merah” lah.jika selasa, pakai warna kuning, dipastikan juga yang lainnya memakai warna kuning, mirip ibu PKK. Begitu juga dengan hari-hari yang lain, pokonya kompaklah. Asal jangan yang satu tak pakai baju, yang lain ikut-ikutan tidak dipakai, wah itu sudah melanggar UU pornografi. Apalagi sekarang sedang marak-maraknya penolakan pornografi.

Warna busana memang sangat menentukan pasar, dalam hal ini mungkin termasuk dalam selera konsumen, -manajemen pemasaran-. Apalagi sekarang banyak yang memakai pakaian yang memiliki warna yang sama, dari mulai ujung rambut sampai ujung kaki, bahkan gantungan kuncipun memiliki warna yang sama dengan warna dari pakaian yang dipakai. Apabila kami menjumpai kasus-kasus seperti ini prediksi kami adalah mungkin mereka memakai baju, celana, sepatu, tas, tali sepatu memiliki warna yang sama, pasti itu didapat dari membeli tali sepatu dapat hadiah sepatu, baju, celana dan tas yang punya warna sama.

Seperti penampilan seperti diatas, dalam belajar pun masih banyak hambatan lain yang kadang dapat mempengaruhi ritme belajar. Contoh yang sangat kami rasakan adalah melawan, merayu bahkan tak jarang juga membenci dosen menjadi suatu hal yang sulit untuk dihilangkan. Ingat manusia mahluk social, punya perasaan sayang bahkan menyakiti sesama. Tak kalah dengan cerita penampilan diatas, ada beberapa contoh bagaimana perbuatan yang kami lakukan dalam belajar yang berhubungan dengan dosen.

Pertama, mungkin kawan-kawan dengan ibu SH –dosen pengantar akuntansi I-, kami lebih sering menyebutnya dengan panggilan “nenek si adhly”, walaupun secara genetika si dosen ini tidak memiliki hubungan sedarah atau bahkan hubungan yang lebih dari saudara dengan saudara kita si adhly, tetapi memiliki cerita yang historis, sehingga kami berani menyebutnya nenek adlhy.

Untuk lebih lengkapnya, ceritanya begini, kalau ngga salah, kejadian ini terjadi di ruang gedung baru 108, dekat dengan ruangan dosen. Waktu itu sedang berlangsung mata kuliah pengantar akuntansi I, setelah selesai menerangkan mata kuliah didepan, si nenek adhly ini, duduk didekat kami dibangku barisan depan, padahal kami jarang duduk dibangku barisan VIP atau lebih tepanya duduk dibangku paling depan.

Mula-mula kami hanya bertanya tentang mata kuliah, tetapi ntah setan mana yang membelokkan arah pembicaraan kami hingga sampai masalah keluarga. “Ibu mirip dengan

nenek saya,” kata si adhly dengan percaya diri. Pertanyaan ini membuat kami berdua, aku dan imran tertawa. “dari mana pula, saya mirip nenek kamu,” jawab si nenek dengan mimik penuh keterkejutan.

“Pokok nya ibu kayaknya mirip dengan nenek saya,” tambah adhly tak mau mengalah. Hampir terjadi perang saudara diantara mereka. Saya lupa, apa tanggapan si nenek tersebut. Kemudian adhly minta alamat dan no telp si nenek, pikir aku seperti mau investigasi. Setelah hampir lima belas menit berdebat mengenai silsilah keluarga, si nenek kembali ke depan kelas untuk menerangkan mata kuliah yang sempat terganggu dengan adanya peristiwa tersebut. Sejak peristiwa itulah, kami memanggil ibu itu dengan sebutan nenek si adhly, walaupun hingga sekarang belum pernah dilakukan tes DNA diantara keluarga mereka.

Jika yang pertama, dengan nenek si adhly, tokoh yang kedua yang juga dapat dijadikan sebagai bahan acuan mengenai kenakalan kami terhadap dosen adalah dengan bapak RZ –bahasa inggris-, “awas kalian jika nanti ketemu dengan bapak lagi semester depan, jangan harap nilai kalian baik-baik,” begitu ucap sang dosen tersebut, setelah selesai memberikan mata kuliah.kejadian ini terjadi karena kami “mengganggunya” ketika mau turun dari lantai 3 gedung baru. Dan akhirnya apa yang telah pernah diucapkan diatas, terjadi juga. Jangan salah jika kami bertiga dapat nilai lebih dari yang memuaskan, ketika nilai semester keluar, yaitu D. dan karena nilai inilah sampai saat ini salah satu kawan dari group genap, bilang anak ganjil memang kompak-kompak. Dengan kejadian tersebut memang semakin “mengafdolkan” jika anak ganjil kompak. Jangan kan belajar, nilai pun bisa sama.

Yang ketiga, adalah dengan bapak PT –steno-, kring…kring…kring… handpond berbunyi, dengan cepat kilat bapak ini mengangkatnya, halo… baru sekali bilang halo, langsung mati. Cuma di miscall rupanya, kejadian tersebut bukan hanya berlangsung sekali saja, tetapi setiap mata kuliah steno berlangsung, bahkan berkali-kali.

Mudah untuk menebaknya, siapa yang melakukan ini semua, ya… jawabnya adalah imran. Maklum biang rebut setiap kami belajar adalah dia. Namun, yang membuat saya salut terhadap bapak ini adalah bahwa dia tidak marah, meskipun sering dikerjain oleh mahasiswa-mahasiswanya. Bahkan lebih sering senyum jika harus berhadapan dengan mahasiswanya yang bandel-bandel.

Tapi, pernah suatu kali kami kena marah sama dia, saat itu seperti biasanya jam kuliah steno sudah mulai masuk. Sepuluh menit sudah mata kuliah tersebut dimulai, tetapi kami bertiga bukannya masuk untuk mengikuti mata kuliahnya, namun malah enak-enakkan duduk dilantai depan kelas sambil “menggosip”. Tiba-tiba, kalian mau belajar atau tidak, kalau tidak kalian nggosip di pajak usu saja. Tidak diduga, tidak disangka dia bilang begitu, sebagai mahasiswa yang menurut dan patuh kepada dosen tentu kami menuruti perintahnya.

Kemudian, dengan tanpa merasa salah sedikitpun kami masuk, kemudian duduk manis dibangku deretan paling belakang. Buka buku, nulis steno atau lebih tepatnya bukan menulis tapi menggambar “cacing-cacing” yang sedang kelaparan mencari makanan. Walaupun sang cacing sudah mendapatkan makanan, tapi untuk membaca dari cacing-cacing tersebut kebanyakan tidak tahunya. Seandainya mbah marijan – penunggu gunung merapi yang baru-baru ini meletus- mungkin dapat belajar dari dia bagaimana cara membacanya.

Sebenarnya, masih banyak cerita-cerita “bandel” yang kami lakukan, walaupum kami bandel jangan kawan-kawan sangka kami tidak rajin. Sungguh kami orangnya rajin-rajin kok. Jika kawan-kawan tidak percaya bisa menanyakan kepada orang yang kompeten mengetahui kondisi kami.

Fenomena yang menarik dalam hal belajar adalah masalah nilai indeks prestasi kami –nilai group ganjil dengan group genap-, fakta membuktikan jika nilai ini mengikuti semester apakah sekarang diadakan. Jika semester ganjil, bisa dipastikan nilai-nilai anak-anak ganjil tinggi-tinggi, di group genap rendah-rendah. Begitu sebaliknya, jika semester genap pasti nilai group genap yang tinggi-tinggi. Hingga saya pribadi mempunyai keinginan jika kuliah hanya diadakan pada semester ganjil, sementara untuk semester genap kuliah diliburkan.

Refresh

Rasa bosan tidak akan pernah bisa hilang dari setiap perasaan orang, begitu juga dengan kami. Ketika permasalahan kuliah, organisasi atau segala masalah yang hinggap dalam perasaan pingin cepat-cepat di usir dari alam pikiran, sehingga pikiran dapat berjalan dengan jernih kembali.

Oleh karena itulah, jalan yang harus ditempuh itu ialah dengan melakukan “refresh”, sehingga dengan begitu akan dapat dengan mudah perasaan yang dapat menimbulkan rasa bosan dapat dengan cepat di netralisir.

Untuk masalah refresh, dulu kami sering melakukan kunjungan-kunjungan ke mall-mall. Dari mulai mall paling kecil sampai mall yang paling besar di medan pernah kami kunjungi. Memang tidak setiap hari melakukan kunjungan ke mall, kalau ada kesempatan walau itu waktu kuliah, “kuliah-kuliah, jalan-jalan2 ,jangan gara-gara kuliah kita ngga jalan-jalan”, begituleh semboyan dari kami.

Tujuan utama kami ke mall memang hanya refresh otak saja, sambil cuci mata, tetapi tidak menutup kemungkinan juga kunjungan tersebut digunakan untuk “shopping”. Dalam hal ini, kami hampir pernah “berantam” di mall. Berantam dalam arti bukan secara fisik, melainkan lebih kedalam perang “urat syaraf”. Pemicunya banyak, tetapi salah satunya yang paling saya ingat adalah masalah uang. Ada barang tetapi tidak ada uang. Hayo…gimana., jalan satu-satunya adalah dengan pilu –pinjaman lunak-, alias ngutang. Alasan inilah yang menjadi perang urat syaraf diantara kami.

Ceritanya begini, ada diantara teman kami yang ingin membeli baju, tetapi uangnya kurang, terus dia utang kepada temen yang lain. Karena kenapa, saya juga kurang tahu, tahu-tahu mereka udah pada mau berantam.

Tempat faforit kami, kalau di mall adalah barisan rak parfum. Karena disinilah kami bisa mencoba dan menikmati harumnya parfum dengan gratis. Semprot sana, semprot sini, crot…crot… keluar deh baunya. Selain dibarisan rak parfum, kami juga sering gangguin penjaga stand yang cantik-cantik, nawar barang tapi jarang beli, karena tujuannya bukan mau beli, tetapi hanya mau ganggu saja. “dek, abang anak usu, sebentar lagi mau tamat,” begitu kata salah satu diantara kami. Kalimat itulah yang menjadi andalan jika kami gangguin orang.

“Selamat siang pengunjung Carrefour yang terhormat, panggilan kepada saudara franklin sidabutar dari pangkalan brandan ditunggu kawannya di ruang informasi,” begitulah bunyi microfon yang menggema diruangan mall, bukannya

kami cemas, tetapi tertawa terbahak-bahak ketika ngerjain salah satu diantara kami. Maklum kami hanya iseng saja melakukan ini, karena kami masih bersama di tempat situ.

Konflik

Sifat egois dalam diri seseorang memang memiliki suatu perbedaan, ada orang yang memiliki ego yang tinggi, yang pingini menang sendiri, tetapi ada juga orang yang memiliki ego yang biasa-biasa saja. Konflik menurut saya juga dapat dibedakan menjadi dua macam. Pertama, konflik yang positif, artinya jika konflik tersebut terjadi akan membawa suatu dampak yang baik, dan kedua konflik negative, dimana apabila konflik tersebut terjadi akan membawa dampak yang tidak baik, seperti dendam, permusuhan maupun pertentangan.

Dalam diri seseorang, terdapat tiga sahabat yang sangat sulit untuk dipisahkan satu sama lainnya. Ketiga sahabat tersebut adalah Pro, Kontra dan Netral. Pro, memiliki sifat yang bijaksana, bijaksini dan bijaksitu, Kontra memiliki sifat yang rusaksana, rusaksini, dan rusaksitu, serta Netral memiliki sifat senang sana, senang sini dan senang situ. Dengan singkat kata, ketiga sahabat tersebut masing-masing bersifat baik, jahat dan ABS(asal bos senang).

Dalam kehidupan sehari-hari, ketiga sahabat itu memiliki peranan yang sangat penting, bahkan boleh dikatakan merekalah yang memegang peranan dalam kehidupan seseorang. Karena setiap tindakan yang ekstrim ataupun sebaliknya berada dibawah pengaruh mereka. Jika pro yang lebih berpengaruh, maka seseorang akan bertindak bijaksana, bijaksini dan bijaksitu. Jika kontra yang berpengaruh, tindakan seseorang akan rusaksana, rusaksini dan rusaksitu. Sedangkan jika netral yang berpengaruh seseorang akan senang sana, senang sini dan senang situ.

Dalam usaha untuk mempengaruhi seseoarang, tidak jarang mereka bertiga terlibat dalam adu argumentasi yang cukup sengit. Ada kalanya bahkan disertai dengan adu kekuatan. Tapi yang disebut terakhir ini jarang terjadi.

Misalnya begini, kami biasanya sering bercanda diantara kami yang kadang-kadang bisa keterlaluan, sehingga dampaknya satu diantara kami ada yang “merajuk”, begitu kami menyebutnya. Sehingga konflik pun, dalam hal ini konflik komunikasi terjadi. Akibatnya, lebih dari sehari diantara kami tidak tegur sapa –of the record-, disinilah mungkin timbul ego seseoarang sangat menentukan.

Apabila ia tetap terpengaruh oleh tindakan yang dilakukan oleh kontra pastilak konflik ini tidak akan pernah selesai, tetapi bila ia terpengaruh oleh pro yang didukung oleh netral tentunya konflik tersebut tidak akan sampai berkepanjangan. Sehingga konflik bisa cepat selesaia.

Tetapi apapun yang terjadi selama ini, konflik tetap akan terjadi. Yang ingin saya sampaikan kepada kawan-kawan perbedaan itu indah, jika kita semua menghormati perbedaan itu. Jangan sampai perbedaan itu dijadikan penghalang. Pelangi mempunyai yang indah dan mempesona karena adanya perbedaan warna, coba apabila pelangi tidak memiliki perbedaan warna, hanya satu warna tentu nilai keindahan tersebut tidak akan ada artinya dan tentunya keindahan pun tidak akan pernah bisa kita lihat.

Akreditasi Departemen Sekretaris

Status akreditasi suatu perguruan tinggi merupakan cermin kinerja perguruan tinggi yang menggambarkan mutu, efisiensi serta relevansi dari suatu program study yang diselenggarakan. Proses akreditasi mencerminkan fakta bahwa suatu lembaga atau program studi mendapat pengakuan dari suatu badan akreditasi yaitu Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT).

Dibentuknya BAN PT pada desember 1994 membantu pemerintah dalam melakukan pengawasan mutu dan efisiensi perguruan tinggi. Penilaian ini diarahkan pada tujuan ganda yaitu menginformasikan kinerja perguruan tinggi pada masyarakat dan untuk mengemukakan langkah pembinaan yang perlu ditempuh terutama oleh perguruan tinggi dan pemerintah serta partisipasi pemerintah.

Tidak jarang akreditasi program studi ini oleh beberapa lembaga dijadikan prasyarat untuk merekut tenaga kerja, seperti yang diterapkan oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI), bahwa setiap pelamar kerja harus mesti lulus dari program study yang telah terkakreditasi. Hal inilah yang dialami oleh beberapa lulusan Diploma III di USU, termasuk di Fakultas Ekonomi –sebelum akreditasi–, mereka gagal bekerja di bank tersebut karena program study mereka belum terkakreditasi. Tentu saja masalah ini menimbulkan kekhawatiran mahasiswa, karena tidak jelasnya status mereka.

Bila mengingat referensi pendek diatas, saya pribadi sangat khawatir dengan hal tersebut. Apalagi waktu itu, departemen sekretaris belum memiliki nilai akreditasi yang merupakan “organ vital” bagi sebuah nilai program study, atau dengan kata lain program study akreditasi di departemen yang rata-rata diploma III di USU tak satupun memiliki nilai akreditasi. Tetapi alhamdulillah, akhirnya nilai tersebut keluar juga, setelah melalui proses yang panjang,

Kalau tidak salah ingat, waktu itu hari sabtu tanggal nya saya lupa. Saya dan kawan-kawan dari group ganjil –imran, adhly, tasya, susi,ami, Melinda, pila, windi, sarah, dewi, liza dan yang lainnya, sekitar 15-an orang-, dipanggil oleh ketua departemen kelantai 2 ruang sidang manajemen. Diberikan penjelasan dan juga arahan karena sebentar lagi tim penilai akreditasi dari BAN PT Jakarta datang untuk melakukan tes dengan mahasiswa dari program study yang akan dinilai.

Beberapa pertanyaan yang diajukan, sempat bingung menjawabnya. Karena dalam tes tersebut menggunakan bahasa inggris, apalagi bahasa inggris saya sendiri masih berantakan. Tapi syukurlah akhirnya kami bisa melewatinya dengan baik, dan ini tentunya menjadi hal yang tidak terlupakan buat saya maupun kawan-kawan yang ikut pada waktu itu, karena menjadi wakil dari sekretaris untuk dapat membawa nama sekretaris, paling tidak untuk 5 tahun mendatang.

Akhirnya hasil yang telah ditunggu-tunggu datang juga, dimana sesuai dengan Keputusan Badan Akrdeitasi Nasional Perguruan Tinggi dengan No 008/BAN-PT/AK-V/Dpl-III/VII/2005 tertanggal 12 juli 2005. program study sekretaris mendapatkan nilai B yang berlaku hingga tahun 2010 mendatang.

HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan)

Hidup segan mati tak mau, begitulah kondisi HMJ Sek’. Nafas-nafas kehidupannya memang masih ada, namun sayang nafas tersebut tidak bisa dimanfaatkan untuk dapat menghirup udara segar. Ironis memang, HMJ yang merupakan organisasi

intern kampus dan sebuah symbol keberadaan mahasiswa hanya dapat diucap lewat kata-kata. Sementara tindakan yang seharusnya menjadi salah satu pondasi tidak bergerak dan beranjak bahkan hanya mengalami stagnan.

Sejak pertama kali masuk kuliah –ospek-, salah satu peogram yang diberikan adalah pengenalan keberadaan HMJ, termasuk di sekretaris sendiri, jujur saya akui sendiri yang saya ketahui mengenai keberadaan dan kondisi HMJ sangat minim, bahkan sempat mengalami kevakuman kurang lebih hampir 2 tahun.

Kalau tidak salah ingat, waktu itu ketua HMJ sek’ adalah anak 99’ –saya lupa namanya-, namun setelah dia selesai menyelesaikan kuliah, perjalanan HMJ juga nampaknya selesai. Dari tahun 2000 – 2002 otomatis keberadaan HMJ hanya sebuah symbol saja, mungkin banyak didengar pada saat ospek atau inisiasi saja.

Berpijak dari kondisi itulah, kami –anak 03’-, ingin membuat suatu perubahan dengan ingin mengaktifkan kembali nafas-nafas kehidupan HMJ. Setelah hampir satu bulan lebih menyiapkan draft yang diperlukan, akhirnya HMJ sek’ mulai bisa bernafas kembali, meskipun masih kembang-kempis.

Dalam usaha mengaktifkan kembali HMJ ini banyak halangan dan rintangan yang kami lalui, baik dari departemen sendiri, kondisi kawan-kawan yang memang kebanyakan apatis dan yang lebih “dahsyat” adalah dengan senior 02’, yang merasa di “langkahi” oleh anak-anak 03’, walaupun demikian akhirnya mereka menyetujui juga perubahan yang kami buat.

Setelah kurang lebih 2 bulan HMJ terbentuk, penyakit lama datang lagi. Lambat laun keadaan HMJ mulai sakit-sakitan bahkan hanya bisa terbaring lemah dan tidak bisa beranjak. Bisa bergerak hanya pada waktu-waktu tertentu saja, misalnya ospek dan inisiasi.

Beberapa penyebab kambuhnya penyakit tersebut, menurut saya adalah dikarenakan oleh beberapa factor, antara lain kurangnya partisipasi dari ketua departemen untuk bisa berjalan bersama demi kemajuan sekretaris, kedua kurangnya motivasi dari ketua umum terpilih untuk bisa membangkitkan kawan-kawan dalam menjalankan HMJ, ketiga tidak disosialisasikannya AD/ART yang merupakan aturan main organisasi sehingga anggotanya dapat mengetahui keberadaan HMJ dengan lebih dalam, keempat tidak adanya rasa memiliki dan sifat apatis kawan-kawan dalam berorganisasi, dan yang terakhir kesibukan dari kawan-kawan, baik itu kesibukan pribadi ataupun kesibukan lainnya.

HMJ yang seharusnya menjadi tempat belajar berorganisasi yang pertama kali dikampus dan menjadi milik bersama -setiap mahasiswa sekretaris adalah anggota HMJ, tanpa harus mengikuti training terlebih dahulu-, tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Oleh karena itulah, harapan saya pribadi buat adik-adik di sekretaris khususnya dapat memanfaatkan keberadaan HMJ tersebut untuk kedepannya.

Organisasi

“Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam, kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversive dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata LAWAN”.

Setiap orang memiliki satu prinsip dan idealisme yang berbeda. Prinsip dan idealisme tersebut tentu sangat dipengaruhi oleh suatu paham yang dianut oleh orang tersebut,

dan itu biasanya terjadi ketika seseorang sudah lepas menjadi “anak-anak” dan mulai beranjak menjadi “dewasa”. Atau bisa dikatakan itu dimulai setelah lulus dari sekolah.

Jika dulu kita “siswa”, dituntut untuk “patuh” dan berpedoman pada teks yang memang sudah di manipulasi dari awalnya. Prinsip dan idealisme tentu masih dipengaruhi oleh “manipulasi” tersebut. Tetapi jika “mahasiswa” kita dituntut untuk bisa mempelajari dan bersikap bagaimana terhadap “teks” tersebut. Seseorang dituntut untuk memiliki prinsip dan idealisme yang dapat mencerminkan arti sebuah kata mahasiswa.

Sebagai mahasiswa yang disebut-sebut sebagai kaum intelektual, dituntut untuk memiliki jiwa kritis untuk membangun bangsa dan Negara. Namun sayang, kondisi sekarang –mahasiswa-, sudah kurang peduli terhadap isu-isu yang berkembang. Produk-produk kapitalisme menjelma menjadi sebuah batu sandungan. Mahasiswa yang notabene adalah generasi pembaharuan “agent of change”, yang diakui atau tidak akan menentukan garis nasib sejarah bangsa dijadikan sebagai mahasiswa “study oriented”. Mahasiswa digiring menjadi insane akademis yang hanya berkutat dengan pelajaran dan berlomba menyelesaikan kuliah. Mahasiswa dikondisikan untuk menjadi apatis dan tidak peka terhadap lingkungan. Mahasiswa yang seharusnya menjadi agent of change dikondinisikan hanya sekedar man of analysis, manusia penuntut ilmu saja.

Sebenarnya pemahaman tentang hal diatas buat kami waktu itu, masih belum mengerti apa itu fungsi organisasi. Meskipun pada masuk kuliah dulu –ospek-, pemahaman akan hal itu pernah dibahas. Tetapi pembahasan tersebut hanya bersifat sementara saja, sehingga seperti buah, pembahasan mengenai organisasi hanya kulitnya saja, tetapi isi dari buah tersebut tidak dibahas.

Dalam berorganisasi, sebenarnya kami ingin bersama-sama. Namun karena prinsip dan idealisme tersebutlah membuat kami berbeda, tetapi walaupun berbeda kami tetap membawa nama besar kesekretariatan atau yang lebih dikenal dengan IPK ’03. jika saudara Haris, Imran, Adhly dan Rony di komisariat HMI PAAP, saya sendiri memilih di Pers Mahasiswa Suara USU, dan saudara kita yang satu lagi Franklin lebih memilih menjadi seorang pebisnis, terutama bisnis tambak nya.

Dan yang cukup membanggakan dari itu semua adalah bahwa dari kami semua memiliki satu posisi yang penting disetiap organisasi yang kita ikuti. Dan tentunya nama besar kesekretariatan menjadi berkibar. Semoga hal ini bukan terjadi hanya sekarang saja, tetapi juga dimasa yang akan datang.

Akhirnya perpisahan itu datang juga

Tiga tahun lamanya, kita bersama-sama

Senang, sedih maupun duka

Tak terasa waktu merambat begitu cepat, laksana kereta api yang selalu berjalan dan berhenti disetiap tempat pemberhentian, ada yang turun dan ada juga yang tidak, semua memiliki tujuan yang berbeda. Begitu juga dengan kita, tiga tahun sudah kita bersama, bukan waktu yang lama dalam melaluinya. Ingatkah kawan saat-saat kita bercanda, tertawa, sedih, berantam dan semua yang telah kita lakukan selama ini akan menjadi saksi dan sejarah dalam kehidupan saya dan kawan-kawan kelak.

Tetapi jangan khawatir kawan-kawan, ini semua hanya formalitas semata, karena sesungguhnya persahabatan tetap akan kita jaga, silaturahmi serta komunikasi akan menjadi landasan bagi kita untuk kedepannya. Jangan salahkan perpisahan, jangan pula salahkan pertemuan (jadi siapa yang mau disalahkan). “Tanyakan kenapa” begitu ikon disalah satu iklan di tv atau tanyakan pada laut, pada ombak dan juga pada matahari seperti kata Ebit G Ade, kalaupun tidak juga tahu jawabannya tanyakan sama mbah marijan, penunggu gunung merapi yang akhir-akhir ini menjadi buah bibir masyarakat dan menjelma seperti seorang artis, mungkin disana ada jawabannya.

Agustus 2003, kita bersama bertemu dalam satu jurusan, yakni kesekretariatan. Ospek tahun pertama sebagai peserta, ospek tahun kedua sebagai panitia, ospek tahun ketiga sebagai tetua telah kita lalui bersama. Danau toba I, danau toba II, dan danau toba III telah banyak memberikan pengaruh dan suasana baik itu suka, duka maupun bahagia.

Juli 2006, akan menjadi perpisahan bagi kita –terutama buat saya dan roni- yang akan menjadi “alumni” di kesekretariatan tercinta. Buat franklin, imran, haris, dan adhly kami doakan semoga juga dapat secepatnya keluar dan menyusul kita berdua. Sungguh, buat saya sendiri keadaan ini membuat ketidakkompakan diantara kita, masuk kuliah bersama, tetapi kenapa wisuda tidak bisa bersama. Jangan salahkan bunda mengandung kawan-kawan didunia ini. Tetapi salahkan siapa yang membuat kawan-kawan menjadi seperti ini keadaannya. Jika sumanto bilang apapun makanannya, minumannya teh botol nyosor, begitupun dalam hal ini apapun keadaanya nanti, persahabatan tidak akan pernah mati.amin.

Untuk Roni Indrawan Nst, Amd. Terimakasih telah sama-sama mengenakan toga bersama. Kisah-kisahmu banyak mengilhamiku untuk kujadikan cerita. Bukannya aku mau “menguliti” kisahmu selama kita bersama, bukan juga ingin “membuka” kisahmu, tetapi ini hanya sebagai kenang-kenangan, aku berharap sebelum dikau keluar, tolong berikan ilmu kepada salah satu diantara kita, terutama bagaimana mencari, memelihara, mempertahankan dan mendapatkan “target” sehingga dia tidak selalu gagal target. Ingat kita semua saudara kawan dan yang terakhir jangan sering main “playstation” aja.

Haris, aku salut sama kamu, berani membawa nama sekretaris dalam dunia politik. Ingat selama tiga tahun ini keuangan dan akuntansi telah kita kalahkan. Jangan engkau sesali kejadian kemarin, satu factor yang aku baca dari kejadian kemarin, yaitu mereka tidak ingin melihat nama sekretaris melebihi nama mereka, makanya mereka “sensitif’ melihat kita. Teori-teori yang engkau anut membuatku harus mewaspadaimu. Ingat laying-layangmu tidak akan pernah bisa terbang selama ada aku, tetapi kalau “sinyal” tower itu aku harapkan jangan sampai salah sasaran lagi. Mungkin suatu saat nanti, aku bisa membantu kamu untuk meninggikan tower itu, sehingga sinyalnya tidak salah sasaran lagi, sehingga jaringan dan target akan semakin jernih. Asal yang perlu engkau ingat adalah jangan pernah bermimpi laying-layangmu bisa selamat dariku.ha…ha…

Imran, sudahlah cukup sampai disini aku melihat “penderitaanmu”, sehingga target yang engkau capai dapat dengan cepat engkau temukan, semoga engkau bisa mewarisi ilmu-ilmu yang diberikan oleh sang dokter. Doa kan kami cepat kerja, biar tidak sia-sia kami ngukur halaman rumahmu untuk papan bunga, dari mulai sekarang kita sudah tidak belajar dalam kancah kesekretariatan. Tapi jangan sedih masih ada saudara kita si adhly, yang pastinya kan dia ingin serius untuk melanjutkan kuliahnya. Jangan engkau korbankan saudaramu hanya gara-gara sesuatu hal yang tidak bermanfaat, kasihan mereka im, sudah tidak berdosa engkau doakan yang tidak-tidak, yang terakhir buatmu jangan suka merajuk, karena sesungguhnya merajuk adalah kawan-kawan setan.

Iklan

Responses

  1. Ups….. MasaLah HMJ Tuh Gak Stuju…….
    Karena Dah BIsa MengHirup kemBaLi Udara2 segar

  2. Bos, emanknya tahun ini.. Junior ga ada yang laki-laki ya di Kesekretariatan USU?

    salam

    • katanya sih ada, aku juga belum tahu bos


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: