Oleh: triy | September 5, 2008

Kekonyolan Kakek Bercucu Tiga

korban melapor

korban melapor

Orangtua mana yang tak hancur hatinya mendapati masa depan putri kecilnya direnggut secara paksa. Apalagi pelakunya adalah tetangga sendiri, seorang kakek yang memiliki tiga cucu.

Usman alias Wak Buyung, 53 tahun, tak bisa tenang menghadapi sisa hidupnya. Ayah 11 anak ini menghadapi tuduhan melakukan perkosaan terhadap bocah ingusan berusia 6 tahun, yang tak lain tetangganya sendiri. Korban pun mengalami pendarahan. Kekonyolan kakek bercucu tiga itu berlanjut.

Ia juga dituduh mencabuli anak-anak tetangganya sendiri yang masih bau kencur. Awal November lalu, masyarakat Belawan pun gempar.

“Setidaknya ada delapan anak-anak yang mengaku telah menjadi korban pencabulannya. Tapi kami yakin masih ada lagi yang jadi korban. Mungkin mereka takut atau malu. Kalau kami siap menerima malu, yang penting pelakunya ditangkap dan dihukum,” ujar Lela, salah satu orang tua korban yang melakukan visum di RSU dr Pirngadi Medan, 4 November lalu.

Sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik pasal 5 ayat (b) dan UU Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002, mengenai anak-anak dibawah usia 16 tahun yang menjadi korban kejahatan susila, maka dalam laporan ini identitas pelaku sengaja kami samarkan. Untuk kakak adik E (13) dan T (2) menjadi Mawar dan Tania, F (Bunga, 6 tahun), SL ( Anggrek, 5 tahun) M (Melati, 7 tahun).

Sedangkan untuk adik kakak S (7) dan N (8) menjadi Delima dan Anyelir dan P (Ros, 7 tahun). Keseluruhan korban susila tersebut merupakan tetangga dekat pelaku.

Kasus pencabulan terhadap anak-anak yang masih berusia dua sampai dengan 13 tahun ini terbongkarnya pada Kamis 25 Oktober lalu. Ketika salah satu korban, kita sebut saja namanya Bunga, mengalami pendarahan pada alat vitalnya akibat pemerkosaan. Akibat pendarahan itu, bocah berusia enam tahun ini sempat dirawat selama tujuh hari di salah klinik di Belawan.

Lela, (34) salah seorang tetangga korban, awalnya merasa prihatin melihat kondisi Bunga. Dia merasa ada yang tidak beres atas penderitaan Bunga. Ia mencoba mencari tahu penyebab pendarahan bocah tersebut. Setelah melakukan introgasi, baru Bunga mengakui bahwa ia korban pencabulan,Wak Buyung, tetangga mereka sendiri. Dari pengakuan tersebut pula, kecemasan Lela bertambah.

“Ia mengaku kalau dirinya bukan satu-satunya korban Wak Buyung. Teman-temannya yang sering bermain ke rumah pelaku juga pernah dicabuli,” aku Lela yang ketika itu langsung mengingat kepada kedua anaknya Bunga (13) dan Delima (2) – keduanya merupakan nama samaran.

Tanpa pikir panjang, ia langsung beranjak ke rumahnya dan mengintrogasi kedua putrinya itu. Namun kedua anaknya tidak ada yang mengaku.

“Awalnya mereka tak mau mengaku. Setelah saya bujuk-bujuk pakai uang, anak saya yang paling kecil baru mengakuinya. Kakaknya, Bunga pun, akhirnya ikut mengakui bahwa mereka juga telah menjadi korban pencabulan,” ujar Lela.

Betapa hancur hati Lela begitu mendengar pengakuan kedua putrinya itu. Bagaikan petir di siang bolong, ibu dua anak ini tak mampu menahan tangis. Emosinya seketika membuncah. Ia pun langsung mendatangi rumah Wak Buyung, yang tak jauh dari rumahnya. ” Saat itu juga saya datang ke rumah Wak Buyung. Mulanya dia menolak mengakui telah mencabuli anak saya. Tapi setelah mendengar kesaksian anak saya, akhirnya ia mengakuinya,” ujar Lela.

Yang membuat Lela geram, pelaku datang ke rumah bersama istrinya dan meminta maaf, ketika itu mereka berharap masalah itu jangan dilapor ke polisi. ” Orangtua mana yang tak geram anaknya dicabuli,” kata Lela menahan emosi.

Selidik punya selidik, ternyata, tidak hanya Lela saja orang tua yang merasa tersayat hatinya menjadi korban tindakan amoral yang dilakukan Wak Buyung. Ny Lien, 27 tahun, orang tua Delima (8) dan Anyelir (7) ternyata juga merasakan hal yang sama. Dua bocah kakak beradik yang tinggal di lingkungan yang sama itu ikut menjadi korban nafsu setan Wak Buyung.

“Keluarga pelaku memang tidak beres. Masak sudah bersalah seperti itu, mereka hanya minta maaf, seolah-olah itu hanya kesalahan kecil. Orang tua mana sih yang tidak geram melihat hal seperti itu,” jelas Lien memendam dendam.

Pada Jumat (3/11) lalu, keluarga korban ramai-ramai membawa anak-anaknya ke Rumah Sakit dr Pirngadi. Dari keterangan pihak keluarga korban, ternyata para korban itu dinyatakan telah menjadi korban pencabulan. Namun yang paling parah akibat perbuatan cabul yang dilakukan oleh Wak Buyung adalah Bunga, karena alat kelamin bocah ingusan itu telah rusak.

“Yang paling parah anak saya. Karena ia satu-satunya korban perkosaan. Yang lain kan cuma korban pencabulan. Akibatnya anak saya sampai mengalami pendarahan,” ungkap Agus, ayah Bunga sedih.

Siapakah Gerangan Wak Buyung
Banyak warga yang tidak mengira Usman alias Wak Buyung merupakan pelaku dari pencabulan di Jalan Selebes Gangg II Belawan. Sosoknya yang pendiam dan sayang pada anak-anak ini termasuk orangtua yang disegani tetangga di lingkungan itu.

Keseharian lelaki berusia 53 tahun ini adalah sebagai pekerja di pelabuhan Belawan. Sesekali pria kurus tinggi ini turun ke laut bersama nelayan lain untuk mencari ikan. Dari hasil pernikahannya dengan Warni itu, ia memiliki sebelas anak dan dianugerahi tiga orang cucu.

Begitu kasus ini mencuat, mau tak mau banyak warga yang menduga bahwa kakek tua ini memiliki kelainan seksual. Benarkah?

Di mata tetangganya, sosok Wak Buyung dikenal penyayang terhadap anak-anak, terbukti setiap hari banyak anak-anak yang bermain ke rumahnya. Bahkan sebelum kasus ini terungkap, para tetangga malah sering menitipkan anak-anaknya ke rumah Wak Buyung. Tapi entah setan dari mana yang memasuki pikirannya, sehingga Wak Buyung tega melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang kakek.

“Kami tidak menduga kalau Wak Buyung melakukan perbuatan bejat itu. Karena orangnya termasuk pendiam, dan kelihatannya sayang kepada anak-anak. Makanya banyak anak yang main ke rumahnya. Saya berharap Wak Buyung dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku,” ungkap Nelly, salah seorang tetangga Wak Buyung.

Anak-anak yang menjadi korban pencabulan itu memang kerap menjadikan rumah Wak Buyung sebagai tempat bermain. Sebenarnya rumah itu sangat sederhana dan berada dalam gang yang sempit. Rumah berukuran sekitar 8×10 meter itu juga berdempetan dengan rumah warga lainnya. Namun karena dikenal sayang pada anak-anak, tak heran kalau rumah itu sering dikunjugi. Namun siapa yang menduga kalau akhirnya Bunga dan teman-temannya menjadi korban pencabulan sang pemilik.

Informasi yang berhasil di himpun Global menyebutkan, pelaku diduga telah lama melakukan tindakan pencabulan terhadap anak di bawah umur itu. Karena 2 tahun sebelumnya, kelakuaan itu sudah pernah dilakukannya.

Menurut warga sekitar, korban pertamanya tak lain adalah cucu besannya sendiri, namun besannya tidak mau melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Merasa tindakannya itu tidak mendapat tanggapan, ia pun nekad berbuat kepada delapan orang anak tetangganya sendiri. Dalam melakukan aksinya, para korban umumnya diancam bunuh namun ada pula yang diiming-iming uang.

Namun tidak semua korbannya takut menerima ancaman tersebut. Bunga yang menjadi korban perkosaan, tetap mengadukan perbuatan yang tak sepantasnya ia terima ke orangtuanya. Lalu orang tua Bunga mencoba membicarakan hal tersebut kepada Warni, istri pelaku. Namun tidak ditanggapi. Merasa didiamkan begitu saja. akhirnya orang tua bunga mengadukan tersangka.

Untuk melanjutkan perjuangannya mencari keadilan, Lela dan orang tua korban lainnya mengadu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumut.

“Kami meminta bantuan kepada KPAID agar kasus ini dapat selesaikan sesuai dengan hukum, dan kami berharap pelaku dapat dihukum seberat-beratnya. Kelakuan dia itu tidak mungkin lagi dimaafkan,” ungkap Lela orang tua Mawar kepada Global, di Kantor KPAID Sumut, Jalan Diponegoro, Medan .

Sementara itu, Ketua KPAID Sumut, Drs. Mhd Zahrin Piliang, Msi mengatakan, pihaknya akan memfasilitasi dan merujuk pengacara untuk mendampingi para korban. “Kita juga akan tetap melakukan pengawasan sampai sejauh mana penegakan hukum terhadap perlindungan anak di Sumut, khususnya pada kasus pencabulan ini,” ujar Zahrin.

Rencananya, Jumat kemarin(10/11), pihak kepolisian akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, namun sayangnya pemeriksaan ini tidak jadi dilakukan. “Sebenarnya Jum’at kemarin kita dari pihak korban akan ke Poltabes, tapi harus tertunda,”ungkap Affan Ramadeni SH, yang dipercayakan menjadi kuasa hukum korban bersama ketiga rekannya, Nur Alamsyah SH, Abu Bakar SH dan Mazwindra SH.

Akibat perbuatannya ini, pelaku dapat dijerat UU Perlindungan Anak No 32 Tahun 2002 Pasal 82, yaitu setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan/ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan/membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat tiga tahun serta denda maksimal Rp 300 juta dan paling sedikit Rp.60 juta.

Wak Buyung kini mendekam di sel Poltabes Medan. Ia diamankan polisi dari amukan emosi warga yang nyaris membakar rumahnya. Bahkan saat keluarga korban menggeruduk ke rumahnya, ia lari lewat pintu belakang dan menyelamatkan diri dengan menyeberangi sungai menggunakan rakit. Benarkah Wak Buyung melakukan semua tuduhan itu? Warga yang berada di lingkungan tersebut masih ada yang tidak percaya kalau lelaki tua itu sampai melakukan aksi kejahatan tersebut.

Di mata salah seorang warga, yang enggan menyebutkan identitasnya, aksi-aksi kejahatan yang dilakukannya hanya rekayasa dari keluarga-keluarga korban. ” Saya tidak yakin dia seperti itu. Berita itu dibesar-besarkan saja. Itu hanya rekayasa,” ujar warga yang tidak merinci maksud dibalik ucapannya itu. Sayang, pihak keluarga korban juga enggan memberi keterangan. Sejak kejadian itu, kediamaan mereka selalu sepi. Pintu rumah mereka tertutup rapat. Tidak satu pun dari pihak keluarga yang bisa memberikan keterangan.

Sementara itu, Kanit RPK Poltabes Medan, Iptu Sitiani SH juga enggan untuk memberikan komentar mengenai kasus pencabulan ini. “Kami kurang berwenang untuk memberikan informasi mengenai kasus ini,” ungkap Sitiani saat ditemui Global.

Dedy Ardiansyah-Hendra Mulya-Tri Yuwono >> Global

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: