Oleh: triy | September 5, 2008

Candu itu Bernama Playstation

game oh game

game oh game

Game Playstation kian diminati di setap kota. Kesempurnaan teknologi grafis menjadi daya pikatnya. Memacu adrenalin para gamer.

Suara tembakan, ledakan dan raungan pesawat menghajar ruangan seluas tak lebih 20 meter persegi itu. Sumbernya adalah perangkat suara yang terpasang di samping 23 komputer di warung game Eleven Playstation Two, di bilangan Jalan Jamin Ginting Medan. Bising sekali.

Tapi, bagi para pengunjung, itulah musik yang mengiringi tarian jari-jari mereka di atas keyboard dan lototan mata mereka di depan komputer. Tiap beberapa saat, muncul teriakan berbarengan. Nadanya selalu terbelah dua. Ada yang puas, ada pula yang gemas.

Bukan cuma di warung game Eleven Playstation Two para penggemar game- lazim disebut gamer-bisa memanjakan hobinya. Di pojok-pojok lain di Kota Medan, bahkan di wilayah lain di luar Kota Medan, warung-warung penyedia game ini telah pula menjamur. Namun secara umum, kehadiran mereka paling jamak dijumpai di kawasan kampus, seperti di kawasan Jamin Ginting, Padang Bulan, Jalan Sisingamagaraja.

Kemunculan mereka bagian dari evolusi dari gerai-gerai warung telekomunikasi (wartel) yang sudah lama mewabah. Saat demam internet melanda, para pengusaha sibuk mendandani wartelnya dengan unit komputer plus modem. Nah, ketika permainan game model ini mulai merekah, mereka juga mengantisipasinya dengan memperbanyak unit komputer yang kemudian dipasangi game dan membuat jaringan lokalnya.

Agar makin yahud, beragam fasilitas ditawarkan. Makin gede modal pengusaha, makin sip pula fasilitasnya. Apalagi permainan game yang ada sekarang ini cukup beragam, sehingga gamer dapat memilih permainan yang mereka sukai. Dan yang paling ngetren bagi para gamer adalah Gota, Counter Strike, Winning Eleven atau Championship Manajer.

Gota adalah permainan strategi perang, permainan ini dapat dilakukan sekitar sepuluh orang, di mana setiap tim terdiri dari lima orang, sehingga permainan ini membutuhkan paling tidak sepuluh komputer.

Permainan yang membutuhkan waktu yang lumayan lama ini, menjadi idola para gamer, karena dipermainan ini para gamer bisa menerapkan kerjasama tim dalam menyusun strategi untuk mengalahkan lawannya.

Selain Gota, yang juga menjadi pavorit adalah Counter Strike, permainan perang-perangan ini membutuhkan skill dan strategi gamer untuk dapat memenangkan pertarungan.

Game jaringan ini adalah pengembangan terbaru jenis permainan video. Prinsip bermainnya sama. Hanya, yang dilawan bukan cuma mesin pintar, tapi bisa juga pemain lain di komputer lain. Mereka bisa pula bermain keroyokan, melawan program komputer atau pun kelompok pemain lain. Para pemain dihubungkan lewat jaringan komputer lokal. Agar pemain tak tersendat urusan teknis, minimal dibutuhkan komputer minimum prosesor Pentium III dan sejumlah perangkat pendukung lainnya.

Jenis permainan komunal ini mulai muncul sekitar lima tahun lalu. Saat itu yang pertama populer adalah game Starcraft. Seiring dengan teknologi grafis komputer yang kian canggih, judul game yang ditawarkan kian beragam dan dahsyat. Penggemarnya makin lama makin bertambah.

Namun, daya pikat utama tak lain sifat keroyokan yang dimiliki game jaringan. Bertanding dalam sebuah tim, para pemain bisa mengatur berbagai siasat untuk memorak-porandakan kelompok lain.

Ini yang bikin asyik. Sudah begitu, kalau menang, mereka bisa langsung jumawa meledek kelompok lawan. Bahkan Game Ragna Rock Medan (RNRM) dapat menghasilkan uang dengan cara menjual setiap level yang dimiliki kepada pemain lain.

Dan yang tak kalah serunya adalah, game Championsip Manajer. Game sepak bola ini menuntut kita untuk menjadi seorang manajer sepak bola yang andal. Tehnik dan strategi menjadi modal utama untuk bisa memenangkan setiap pertandingan. Mimpi untuk menjadi seorang manajer sepak bola klub-klub tenar, seperti AC Milan, Inter Milan maupun Barcelona seolah menjadi kenyataan.

Tak aneh bila para gamer begitu dimanjakan dengan beragam macam game-game baru yang mutakhir. Tak aneh kalau di sejumlah game station, gamer keasyikan bermain. Di warung-warung penyelia game pengunjung tak pernah surut. Apalagi ada game center yang buka 24 jam penuh. Pengunjungnya selalu datang-pergi hampir tiada selanya, dari anak-anak muda sampai lelaki dewasa.

Diperkirakan, ada ratusan lebih pusat permainan yang menyediakan games menarik di Medan. Warung Eleven Playstation Two, yang terletak di kawasan Padang Bulan ini misalnya. Warung game ini buka dari pukul sembilan pagi hingga pukul tiga dinihari tak pernah sepi tiap harinya. Waktu padat dimulai pukul 5 sore. Bahkan pada malam Minggu, misalnya, sampai ada daftar tunggu agar semua pelanggan beroleh kesempatan bermain di tempat ini.

Menurut Robby, pemilik game station ini, yang datang bermain mulai umur 5 tahun hingga orang berusia 30-an. Pengunjung terbanyak tentu remaja. Mereka boleh datang kapan saja, sekalipun pelajar yang masih memakai seragam sekolah. Rata-rata mereka menghabiskan waktu lima jam di tempat ini.

Mungkin lima jam sehari bagi orang yang tak menggemari game dinilai sebagai pemborosan waktu. Bagi pecandu, rentang waktu itu masih saja dirasa kurang. Ibaratnya, bila tempat permainan tidak tutup, mereka pasti tahan tetap bermain.

Lihat saja Putra, 16 tahun. Siswa kelas I SMA Dwi Warna merupakan penggemar berat jenis game Counter Strike (CS) dan Rag Na Rock Medan (RNRM).. Ia mengaku dalam seminggu, bisa bermain lima hari. Ia biasa datang bersama teman-temannya. Permainan ini sudah ia minati sejak dua tahun lamanya. “Kalau sehari saya tidak bermain game, rasanya kurang lengkap. Mungkin karena sudah menjadi hobi dan kebiasaan, sehingga sulit untuk ditinggalkan ” ujar remaja berambut hitam cepak ini.

Ia bermain game biasanya sepulang dari sekolah, dari pukul dua siang sampai sembilan malam. Sehari ia merogoh kocek Rp15.000. Darimana duitnya? Ya uang saku, wong namanya juga anak sekolah.

“Kalau sudah bermain begini saya lupa untuk pulang. Pernah, saking asyiknya bermain Ibu saya datang menjemput,” ujar anak kedua dari empat bersaudara ini terkekeh sendiri.

Pengalaman Sanjaya lain lagi. Saking candunya terhadap playstation, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan ini, mengaku betah berhari-hari di pusat permainan itu.

“Saya biasanya bermain seharian penuh. Bahkan saya pernah punya pengalaman bermain sampai tiga hari berturut-turut. Kalau capek paling tidur di kursi lalu bangun untuk makan. Setelah itu, ya, main lagi,” cerita Sanjaya saat ditemui di salah satu rental di kawasan Padang Bulan, Medan.

Bagi Sanjaya bermain game telah menjadi hobi yang sangat sulit dilepaskan. “Sulit bagi saya untuk lepas dari permainan ini. Bahkan kecanduan bermain game lebih besar dari pada kecanduan rokok,” akunya.

Perasaan serupa juga dialami oleh Edo, 21 tahun. Ia mengaku candu permainan game itu sangat sulit dihilangkan. “Sulit ya kalau kita udah kecanduan, bisa berhari-hari kita bermain game, sampai lupa makan, bahkan kuliah pun terbengkalai,” ujar mahasiswa USU jurusan Agribisnis saat ditanya mengenai hobinya ini.

Sebagai anak kos, baik Sanjaya maupun Edo harus memutar otak demi kelangsungan hobi mereka itu. Dalam sebulan biasanya mereka menyiapkan anggaran khusus antara Rp 200 ribu – 300 ribu untuk bermain game, lebih besar daripada biaya makan mereka Rp200 ribu. Padahal kiriman orangtua mereka cuma Rp500 ribu per bulan. Untuk menutupi kekurangannya itu terkadang mereka tak segan-segan berutang kepada penjaga rental.
Sayangnya, demi hobi itu, Sanjaya rela mengorbankan pendidikannya. Belajar pun jadi malas. Tak aneh kalau nilai akademiknya melorot drastis. “Sejak kecanduan main game, saya jarang mengikuti kuliah. Baru masuk kuliah seminggu sebelum ujian,” ujarnya

Berbeda dengan Edo. Demi hobi itu ia melakukan penundaan kegiatan akademik (PKA) di kampusnya. “Semester ini saya tidak pernah kuliah. Saya mengambil program PKA. Habis keenakkan main game sih,” cerita Edo penggemar game Gota, jenis permainan yang mengandalkan strategi berperang ini.

Tak beda jauh dengan Putra yang sering bolos sekolah demi bermain game. Bahkan tak jarang ia menggunakan uang sekolahnya hanya sekadar untuk melepas candu untuk bermain game itu.

“Ibu sampai marah karena saya memakan uang sekolah untuk bermain game. Tetapi saya tidak peduli dan saya tetap bermain game setiap hari ” kata pelajar berbadan kurus ini.
Sejatinya, bentuk permainan seperti ini dapat dijadikan selingan sebagai sarana alternatif anak-anak atau remaja dalam mencari hiburan di luar rumah. Ibarat minum obat, kalau sesuai dengan takarannya tentu akan baik bagi anak-anak dan remaja. Namun fakta yang terjadi justru kebalikannya.

“Mereka boleh saja bermain game, tapi di waktu liburan atau waktu yang tidak mengganggu rutinitas mereka sebagai pelajar,” ujar Juwairiah Sag, Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 12 Binjai.

Menurutnya, game yang banyak digandrungi anak usia sekolah ini cenderung berdampak negatif. ” Si anak menjadi malas untuk belajar, sehingga prestasi mereka di sekolah terus melorot. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana masa depan mereka kelak,” ujar Juwairiah.

Untuk menangani masalah tersebut, Juawairiah serta guru yang lain sebenarnya sering menggelar razia di beberapa warung game yang berdekatan dengan sekolah dimana ia mengajar. ” Kami sering menemukan anak sekolah bermain game saat jam belajar berlangsung. Meski sudah mendapat sanksi, tetap saja mereka kembali bermain, ” ungkapnya.

Memang tak bisa dipungkiri, banyak di antara pelajar dan mahasiswa yang pola bermain game berlebihan, sehingga mengabaikan kewajiban mereka sebagai pelajar. “Jika main game sudah prioritas utama, hingga lupa yang lain, ini sudah buruk,” ujar Ferry Novliadi, S.Psi, M.Si dosen Psikologi USU.

Sebenarnya, kata Ferry, kecenderungan anak-anak atau remaja bermain game merupakan hal wajar di era globalisasi saat ini. Game itu sendiri punya dampak positif untuk mengasah kecerdasan berpikir anak. Namun kalau itu sesuai dengan proporsinya. Bila berlebihan, penggila game ini cenderung asosial.

“Penggila game yang kelewat batas akan cenderung asosial. Enggan bergaul dengan sekelilingnya. Mereka bahkan akan lebih egois karena asyik dengan dunianya sendiri. Yang paling dikhawatirkan mereka melakukan tindakan yang negatif seperti menggunakan uang sekolah atau uang kuliah, atau bahkan tindakan kriminal lainnya, ” ujar Ferry.

Selain kontrol orang tua, Juwairiah berpesan agar pengelola warung game tidak mengizinkan anak berseragam sekolah untuk bermain game. Sementara Ferry mengimbau agar pihak aparat kepolisian dapat berperan aktif dengan merazia pusat permainan yang banyak dikunjungi anak sekolah yang sering meninggalkan waktu jam pelajaran.

Dedy Ardiansyah-Hendra Mulya-Tri Yuwono >> Global


Responses

  1. Bantu sy cari referensi buat tesis ttg playstation dong


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: