Oleh: triy | September 3, 2008

Mengenang 3 Tahun Bencana Tsunami, Antara Percaya dan Tidak

Nita, Kalau Masih Hidup Pulanglah?

Nita, Kalau Masih Hidup Pulanglah?

Tri Yuwono | Medan

Tiga tahun sudah, keluarga Sutari Hariyadi (57 tahun) dan Meri (55) kehilangan salah satu putri tercintanya. Bencana tsunami yang memporakporandakan sebagian wilayah Aceh dan Sumut pada 26 Desember 2004 silam telah mengambil korban salah satu anggota keluarganya.

Sejak kejadian tersebut, Agusnita Heriyanti, putri pertama pasangan Sutari dan Meri tak terdengar lagi kabarnya. Gadis kelahiran 23 Agustus 1982 ini hilang bersama ratusan ribu korban tsunami lainnya. “Saat itu kejadiannya kan pada hari Minggu, sebelumnya Nita (panggilan Agusnita) bilang biasanya kalau Minggu dirinya tak pernah ke mana-mana, paling di kos saja,” ujar Meri saat ditemui Global di kediamannya Jalan Sei Bilah No 117 Medan kemarin.

Alasan itulah yang membuat keluarga Sutari tak memiliki perasaan was-was saat bencana besar tersebut terjadi. Namun, beberapa jam pascakejadian, desakan para anggota keluarga untuk menghubungi Nita membuat Sutari dan istrinya mulai merasa cemas. Karena handphone Nita sejak saat itu sudah tidak bisa hubungi lagi.

“Biasanya kata Nita, setiap Minggu dirinya hanya di rumah saja. Bersih-bersih rumah dan istirahat. Jadi, waktu kejadian tersebut saya dan keluarga perasaannya ya biasa-biasa saja. Apalagi kosnya Nita kan agak jauh dari daerah pantai,” terang Meri mengawali cerita.

Menurut Meri, Nita adalah adalah anak pertama dari dua bersaudara. Sejak tamat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat USU pada 2003 silam, Nita memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan farmasi, Deksa. Setelah menjalani masa training selama dua minggu di Jakarta, Nita memilih Aceh sebagai tempat kerjanya.

“Dulu kata Nita, dia katanya ditawari untuk memilih kerja di tiga kota, yakni Batam, Riau dan Aceh. Dan dia ternyata memilih Aceh. Menurutnya, selain pernah studi banding ke Aceh, teman-temannya banyak yang dari Aceh. Makanya dia memilih Aceh daripada ke dua kota tersebut,” ungkap Meri.

Setelah segala urusan selesai, Agustus 2004 Nita langsung pindah ke Aceh. Nita kemudian menyewa kos di daerah Daut Bereh, Gg Metro Banda Aceh.

Beberapa hari menjelang perayaan Lebaran, Nita kembali ke Medan untuk merayakan Lebaran bersama dengan keluarga. Ternyata itulah kali terakhir, Meri dan keluarga melihat Nita.

“Pas saat Lebaran, sebelum kejadian tersebut Nita sempat pulang untuk ngerayakannya di sini. Habis itu dia balik lagi ke Aceh. Tanda-tanda kalau dia bakal pergi selamanya waktu itu memang tidak ada, sikap Nita juga biasa-biasa saja. Tapi ternyata itulah terakhir kalinya keluarga melihat Nita,” kenang Meri.

Misteri Surat Berwarna Hijau

Dua minggu sebelum tsunami datang, Meri mengatakan bahwa ia mendapat telepon dari Nita, katanya dompetnya hilang. Surat-surat penting yang ada di dalamnya hilang semuanya. Termasuk itu KTP, SIM, STNK dan beberapa kartu lainnya. Karena itulah Nita berniat pulang ke Medan untuk mengurusnya.

Namun, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Beberapa hari setelah kehilangan dompet, sebuah surat yang ditulis di atas kertas berwarna hijau datang ke rumah keluarga Sutari. Surat yang dikirim oleh seseorang bernama Andi itu isinya mengenai penemuan dompet.”Surat inilah yang mengatakan bahwa dompet Nita yang hilang ditemukan,” sebut Meri yang masih menyimpan surat ini sebagai kenangan.

Karena dompet dan surat-surat berharga yang hilang sudah kembali, Nita mengurungkan niatnya untuk kembali ke Medan. Dan memutuskan tanggal 3 Januari 2005 baru pulang ke Medan.”Mungkin karena dompetnya sudah ketemu, dia menunda jadwal untuk balik ke Medan. Hanya beberapa hari saja sebelum tsunami dia sebenarnya sudah mau balik ke Medan,” papar Meri.

Harapan memang tinggal harapan, tetapi Tuhan yang menentukan. Keinginan untuk berkumpul dengan keluarga pada awal tahun baru pupus. Setelah pihak keluarga mendengar kabar Nita ikut menjadi korban tsunami. Kertas berwarna hijau yang dikirim oleh Andi, seseorang yang tak dikenal keluarga Nita seolah menjadi petunjuk akan kemana Nita pergi.

“Seandainya surat ini tidak datang, mungkin kejadian ini tidak akan menimpa salah satu anggota keluarga saya. Tetapi, semuanya saya serahkan kepada Allah. Anak kan sebagai titipan, kalau Allah sudah berkehendak, kita juga ikhlas mengembalikannya,” seru Meri yang masih kelihatan tegar didampingi suaminya.

Harta Benda Kembali, Namun Raga Tidak

Kejelasan kalau Nita menjadi korban tsunami datang dari seorang sahabat Nita asal Aceh yang bernama Adek. Seminggu setelah kejadian tersebut, semua barang-barang milik Nita dibawa oleh Adek ke Medan. Meskipun kata Meri, sebelumnya Adek belum pernah ke rumah Nita, namun insting dan nuraninya membawanya ke Medan.

“Kalau tidak salah, seminggu setelah tsunami, ada seseorang yang mengaku kawannya Nita bernama Adek. Sempat kaget juga melihat dia membawa segala barang-barang milik anak saya. Dari mulai sepedamotor, beberapa pakaian, surat-surat berharga juga handphone semuanya dibawa ke Medan,” ungkap Meri.

Dari Adek inilah, keberadaan Meri terakhir kali sedang berada di mana terjawab. Menurut penuturan Adek, kata Meri, pagi sebelum tsunami datang, Nita bersama dengan tiga orang kawannya, salah satunya Adek pergi ke daerah Pantai Ulele untuk menikmati suasana pagi. Dari ketiga orang tersebut, Adek merasakan tanda-tanda yang aneh setelah melihat pantai yang biasanya tenang, tiba-tiba airnya surut hingga beberapa meter dari garis pantai.

Melihat kejanggalan ini, Adek mengajak sahabatnya termasuk Nita untuk cepat-cepat naik. Namun, ajakan Adek kurang diperhatikan oleh Nita dan satu kawannya lagi. Karena menurutnya, air seperti ini sudah biasa. Apa yang dipikirkan oleh Adek ternyata menjadi kenyataan, air yang sebelumnya tenang tiba-tiba berubah. Ombak besar yang datang dari pantai menghancurkan segala yang ada di sekitar pantai.

Di sinilah terakhir kali, Adek melihat kedua sahabatnya. Berbekal kemampuan berenang, Adek selamat dari amukan gelombang besar tersebut.”Kata si Adek, beberapa menit sebelum datang tsunami, dia sudah memperingatkan Nita dan teman satunya lagi untuk cepat naik. Tapi, katanya, mereka berdua menganggap pasang air laut itu sudah biasa. Jadi mereka tetap bermain-main di situ,” ujar Meri menirukan Adek.

Penuturan Adek inilah, yang meyakinkan sekaligus memperjelas keluarga Sutari bahwa anak gadisnya menjadi korban tsunami. “Melihat cerita dari Adek, ya kita hanya pasrah den menyerahkan segalanya kepada Allah. Paling tidak kita sudah tahu bagaimana kondisi terakhir Nita. Walaupun yang pulang hanya barang-barangnya saja,” tambah Sutari.

Hampir Menjadi Korban Banjir Bandang di Bahorok

Dibandingkan dengan putri keduanya (Devi-red), menurut Sutari dan Meri sosok Nita memang lebih dikenal pemberani dan berjiwa petualang. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan Nita yang sudah berkeliling di beberapa kota di Indonesia, termasuk mengikuti beberapa olah raga ekstrem seperti arung jeram.

“Walaupun orangnya agak pendiam, tapi dia orangnya pemberani. Sedikit bandel lah dibandingkan dengan adiknya. Karena ia termasuk pintar, makanya kegiatan seperti studi banding sering diikutinya. Ke Jakarta, Yogya dan beberapa kota lainnya sudah pernah disinggahinya,” seru Meri.

Kepintaran Nita, kata Sutari dan Meri sudah terlihat sejak kecil, keinginan kuat untuk belajar membuat Nita yang kala itu masih berumur kurang dari lima tahun sudah di masukkan sekolah dasar(SD). Hingga menginjak SMU, Nita selalu mendapat peringkat di kelasnya.

“Kemarin waktu mau masuk USU, dia mendapatkan peluang masuk jalur PMP dari sekolahnya di SMU Darma Pancasila Medan, namun tidak lulus. Baru lewat jalur SPMB dia diterima di USU,” ujarnya.

Beberapa minggu setelah Nita dinyatakan menjadi korban tsunami. Sutari dan Meri sempat mendengar cerita yang mengejutkan dari beberapa kawan Nita. Menurut kawan-kawannya, Nita hampir saja juga menjadi korban banjir bandang yang terjadi di Bahorok.

Kegiatan arung jeram yang diikutinya hampir saja merenggut jiwanya, setelah banjir bandang menghancurkan tempat di mana ia sedang melakukan arung jeram bersama dengan kawan-kawannya.”Terus terang saya sendiri tidak tahu kalau Nita hampir menjadi korban dalam bencana banjir bandang di Bahorok. Soalnya dia tidak pernah cerita mengenai hal itu. Dari kawannya saya tahu itu, itupun setelah Nita tidak ada,” papar Meri.

Berharap Keajaiban

Meski kejadian tsunami sudah tiga tahun terjadi, namun Sutari dan Meri masih optimis jika Nita masih hidup. Setiap kali salat dan berdoa, Meri mengaku selalu melihat bayang-bayang Nita. Ikatan batin antara ibu dan anak membuat optimisme sendiri bagi Meri. Namun, kendati begitu, Meri dan keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.

“Kalau dibilang optimis itu masih ada, kita kan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita keluarga semuanya ikhlas dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Tapi, dalam batin saya setiap selesai salat dan berdoa, sepertinya bayang-bayang Nita selalu ada,” terang Meri.

Keoptimisan Meri semakin besar, setelah dirinya mendengar kabar dari beberapa orang yang dirasa pintar, yang mengatakan Nita sebenarnya masih hidup. Namun, ia tetap berpegang teguh terhadap realitas yang ada. Selalu menjalankan ibadah adalah cara yang ditempuh keluarga dalam menghadapi musibah ini.

Hal inilah yang membuat rasa tenang Sutari dan Meri, setiap selesai beribadah rasa kehilangan akan perginya Nita berganti menjadi rasa ikhlas. Sutari dan Meri sadar, jika semua yang ada di dunia tidak ada yang kekal. Tidak ada yang harus disesali, semuanya sudah ada yang mengatur.

“Yah… walaupun harapannya tipis, tapi kita selalu berdoa. Semuanya kan Allah yang mengatur, apakah Nita masih ada atau tidak itu semuanya hanya Allah yang tahu. Kita serahkan saja semuanya kepadanya. Beribadah adalah salah satu jalan terbaik untuk ini,” jelas Meri lagi.

Iklan

Responses

  1. terima kasih infonya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: