Oleh: triy | September 2, 2008

Walaupun Hanya Seribu Sehari, Kami Tetap Menabung

semua untuk keluarga

semua untuk keluarga

Sebuah becak dayung dengan berbagai aksesoris barang-barang bekas nampak terparkir di sisi jalan dekat Pintu 4 Kampus USU Padang Bulan. Sementara itu, seorang anak kecil terlihat membawa sebuah parang yang di ayun-ayunkannya lewat tangan mungilnya. Tak jauh dari tempatnya bermain, seorang lelaki dan perempuan kurus nampak serius memilih-milih barang-barang bekas yang diletakkan di atas sisi bahu jalan.

Sambil mendengarkan alunan musik yang terdengar dari sebuah radio kecil, keduanya terlihat berkonsentrasi membersihkan botol-botol plastik. Lalu lalang kendaraan yang melintas di jalan seolah tidak lagi terlihat olehnya. Apalagi, semilirnya angin sedikit mengurangi panasnya matahari yang dari sejak siang menyinari Kota Medan. Bahkan, saat Global mendekatinya, keduanya masih nampak asyik dengan pekerjaannya.

Rasa kaget terlihat jelas saat Global memperkenalkan diri. Namun, itu tidak bertahan lama. Lelaki yang mengaku bernama Linton(31 Tahun) ini ternyata menyambut baik kedatangan Global.”Saya sedang memilih-milih sekaligus membersihkan botol-botol ini dari kotoran,” serunya mengawali percakapan.

Sejak naiknya harga Bahan Bakar Minyak(BBM) beberapa bulan yang lalu, Linton mengaku, bersama dengan sang istri Meri (32), dan anak satu-satunya Rio Ferianto (5 Tahun), kini Ia bekerja menjadi pencari barang-barang bekas. Pekerjaan ini dilakukannya karena kondisi ekonomi keluarganya yang serba sulit.

“Sebenarnya baru beberapa bulan ini Saya dan keluarga menjalani pekerjaan ini. Sejak BBM naik, makin hari, biaya untuk makin susah. Kalau nggak bekerja tidak ada lagi penghasilan. Sementara mencari pekerjaan bukanlah hal yang gampang, apalagi pendidikan saya tidak tinggi. Terpaksalah bersama dengan istri dan anak nyari barang-barang bekas,” ungkap Linton.

Linton mengaku, karena di rumah tidak ada yang menjaga. Anak satu-satunya, Rio Ferianto terpaksa di ajak untuk ikut bekerja. Dengan menggunakan sebuah becak dayung, mereka bertiga setiap hari berkeliling dari rumahnya yang terletak di Jalan Sembada No 1 Pasar 5 Padang Bulan ke beberapa tempat, seperti Jalan Dr Mansyur, Setia Budi dan sektaran Jalan Pasar 5.

“Berangkat dari rumah biasanya dari mulai jam 7 pagi, nanti pulangnya sekitar jam 3 sore. Karena nggak ada yang di rumah, jadi si Rio terpaksa di bawa jalan bekerja. Sekalian biar tahu dia bagaimana susahnya nyari uang di jaman sekarang ini,” ujar Linton.

Gara-gara BBM Naik, Berhenti Narik Becak Motor

Sebelum beralih profesi menjadi pencari barang-barang bekas. Pekerjaan Linton adalah menjadi penarik becak motor. Pekerjaan yang sudah dilakukannya bertahun-tahun ini terpaksa di tinggalkannya. Karena, Ia sudah tidak sanggup lagi mengejar target yang harus di capai dari pemilik becak bermotornya.

Naiknya harga BBM menjadi penyebab utamanya. Pendapatan Linton mengalami penurunan yang cukup drastis. Akibatnya, Ia harus pontang-ponting dalam mencukupi ekonomi keluarganya. Hal inilah yang mendorongnya, untuk beralih profesi dari penarik becak bermotor menjadi pencari barang bekas.

“Dulu suami Saya sempat bekerja narik becak motor. Tapi, sejak naik BBM, penghasilan yang di dapat tidak sebanding dengan penghasilan yang di terima. Bahkan, sering kali nombok saat setoran nggak sesuai dengan target yang di capai. Dari situlah, kemudian terpikir untuk ganti pekerjaan menjadi pencari barang bekas,” terang Meri.

Meri melanjutkan, sebelum memakai becak dayung, becak mesin yang digunakan suaminya untuk bekerja sempat menemani keluarganya dalam bekerjaa. Tapi, itu tidak bertahan lama. Lagi-lagi masalah BBM, harapan untuk mendapatkan penghasilan lebih baik ternyata masih hanya sebatas angan-angan dalam kepala saja. Jangankan mendapatkan penghasilan lebih, penghasilan yang di dapat saat memakai becak bermotor jauh lebih sedikit.

“Pinginnya kemarin mau memakai becak motor, kan nggak capek saat di bawa-bawa keliling. Memang sih tidak capek, tapi justru tambah pusing. Soalnya pendapatan yang kita terima dari jual barang-barang bekas ini, nggak sesuai dengan penghasilan yang kita terima,” papar Meri.

Akhirnya, meskipun merasa lebih capek, mau tak mau dalam bekerja kelurga Linton terpaksa menggunakan becak dayung. Panas dan hujan bukan menjadi halangan baginya dalam mencari nafkah. Apapun dilakukannya, asalkan kebutuhan sehari-hari keluarganya masih bisa tercukupi.

Sebagian Hasilnya di Tabung

Penghasilan sehari-hari menjadi penarik becak dan pencari barang bekas, menurut Linton sebenarnya hampir sama. Namun, untuk penarik becak uang yang didapat sehari-hari harus di bagi dengan pemilik becak serta untuk membeli bahan bakar. Sementara, untuk pencari barang bekas penghasilan yang di terimanya semuanya bisa masuk dalam kantongnya.

“Sama saja Saya dapatnya, baik saat narik becak dan mencari barang bekas. Tapi, enaknya kalan mencari barang bekas, penghasilannya tidak dikurang-kurangi lagi. Sehari bisa dapat sekitar 50-an ribu rupiah. Cukup-cukuplah untuk biaya hidup sehari-hari,” jelas Linton.

Saat di tanya apakah jumlah tersebut, keluarganya masih bisa menabung. Linton mengaku bisa. Meskipun hanya seribu atau dua ribu, sang istri tercintanya, Meri, selalu menabungnya. Selain untuk jaga-jaga kalau dirinya tidak bisa bekerja, tabungan itu di rencanakan keduanya untuk membiayai anak semata wayangnya kelak kalau mau sekolah.

Nggak banyak sih yang bisa di tabung, tapi paling tidak ada sedikit yang di tabung. Kalau sehari nabung seribu saja, kan sebulan bisa sampai lima puluh ribu juga. Untuk biaya jaga-jaga saja, mana tahu Saya dan istri nggak bisa bekerja karena sakit atau karena apa, selain juga untuk menyiapkan keperluan sekolah anak-anak,” terang Linton.

Linton merasa bersyukur, karena Rio, anak tunggalnya termasuk anak yang patuh dan tidak banyak tingkah. Meski baru berusia lima tahun, Rio sepertinya mengerti kondisi ekonomi keluarganya. Mainan yang dipakai Rio pun, merupakan mainan bekas yang sering ditemukannya saat mencari barang-barang bekas di tempat sampah.

“Jarang Saya membelikan mainan buatnya. Biasanya dia dapat mainan dari tempat sampah, saat kita sedang mencari barang bekas. Itu saja yang dimainkannya sehari-hari. Mungkin karena dia sering Saya bawa saat bekerja, dia tahu bagaimana susahnya mencari uang. Jadi, dia tidak terlalu neko-neko,” seru Linton.

Perhatikan Pendidikan Anak

Ternyata bukan orang mampu secara ekonomi saja yang ingin anaknya mendapatkan pendidikan yang baik, meskipun biaya untuk itu mahal. Linton dan Meri pun memiliki pandangan seperti itu. Kendati, ekonomi keluarganya pas-pasan, keduanya ingin sekali menyekolahkan Rio di sekolah yang benar-benar berkualitas.

“Saya tidak ingin nasib Rio seperti Saya dan ibunya. Saya ingin dia lebih baik dari Saya. Kemarin dia baru saja selesai sekolah di taman kanak-kanak (TK). Sebenarnya tahun ini dia sudah bisa masuk sekolah SD, tapi karena katanya usianya belum genap enam tahun banyak sekolah yang menolak Rio,” terang Meri Ibunda tercintanya.

Menurut Meri, uang hasil tabungannya sehari-hari dari mencari barang bekas itulah yang rencananya akan dipakai untuk membiayai sekolah Rio. Baik Linton maupun Meri, menganggap pendidikan sepertinya menjadi modal bagi keluarganya untuk bisa memperbaiki nasib keluarganya. Tak heran keduanya sangat berharap Rio dapat mendapatkan pendidikan yang baik dan berkualitas.

“Ada beberapa sekolah yang sebenarnya menerima Rio untuk sekolah. Tapi, setelah Saya lihat-lihat sepertinya sekolah tersebut banyak sekali kelemahannya dan kekurangannya. Makanya Saya tidak berani menyekolahkan dia kesitu. Biarlah agak mahal, asal Rio dapat pendidikan yang lebih baik. Dari pada gratis atau murah, tapi dia tidak bisa mendapatkan apa-apa,” papar Linton.

Keinginan Linton dan Meri agar Rio mendapat pendidikan yang layak dan baik sekarang ini memang baru sebatas wacana dalam pikiran mereka berdua. Namun, mereka optimis jika Rio bisa mendapatkannya, meskipun keduanya harus banting tulang untuk mencari biayanya.

“Apapun tetap akan Saya lakukan agar Rio dapat mendapat pendidikan yang layak. Saya tidak ingin Rio sekolah hanya untuk kewajiban saja, tetapi juga harus dapat mencari ilmunya. Bukan kami saja yang bangga jika dia berhasil, dia pun pasti akan bangga. Rio adalah harapan kami untuk bisa berubah,” ujar Linton bersemangat.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: