Oleh: triy | September 2, 2008

Sekelumit Ceria dari Para Pemulung

TPA Pancur Batu, "surga" bagi para pemulung

TPA Pancur Batu,

Tri Yuwono | Medan

Bukan wangi parfum yang tercium di hidung, tapi bau asap dan busuk yang terasa. Bukan pakaian bersih dan berkelas yang terlihat, tapi pakaian kotor dan lusuh yang nampak. Bukan juga pemandangan indah dengan pepohonan nan hijau bak daerah pegunungan, meski terlihat barisan gundukan berjejer, tapi itu adalah tumpukan berton-ton sampah warga Medan. Seperti inilah pemandangan yang terlihat di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Pancurbatu, di mana ribuan pemulung menggantungkan nasib.

Selama sehari semalam, tempat ini bisa dikatakan tak pernah sepi. Truk-truk pengangkut sampah setiap berapa menit silih berganti membuang muatannya. Di saat itu pula, ribuan pemulung mengerubutinya. Tak jarang rebutan dan perkelahian antar pemulung pun terjadi, demi mendapatkan sampah-sampah yang bisa untuk dijual kembali.

Melihat mereka menggantungkan nasib dari sampah membuat hati kadang merasa memilukan. Bayangkan, diantara ribuan pemulung yang ada di TPA Pancur Batu ini, ratusan diantaranya adalah anak-anak yang kebanyakan putus sekolah. Tangan-tangan kecil mereka aktif membongkar tumpukan sampah yang jumlahnya berton-ton. Inilah potret kecil kehidupan para pemulung di kawasan ini.

Mamak Susi:

Sebagian besar para pemulung di TPA Pancur Batu ini mengaku, faktor ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan adalah penyebab mereka bekerja menjadi pemulung. Bahkan, banyak diantaranya yang membawa keluarganya di tempat ini untuk bekerja bersama-sama, salah satunya adalah keluarga mamak susi.

Ibu lima orang anak berusia 48 tahun ini adalah salah satu pionir ribuan pemulung yang menggantungkan nasibnya mencari rezeki dari sampah-sampah. Sejak TPA pertama kali dibuka oleh pemerintah pada sekitar tahun 1987, ia sudah bekerja di sini.

“Pertama kali saya cari sisa-sisa sampah di sini, saya dibilang sama orang-orang di sini kalau saya orang tak waras karena jadi pemulung. Prinsip saya adalah asalkan yang saya cari itu halal, saya akan melakukannya. Di sini saya kan tidak mencuri, apalagi korupsi. Jadi, apa yang dikatakan oleh orang-orang itu saya anggap seperti angin lalu saja,” ujar Mamak Susi sambil tersenyum.

Ternyata jejak Mamak Susi diikuti penduduk di lingkungan sekitarnya. Termasuk juga dengan orang-orang yang pernah mengejeknya. Menurut Mamak Susi, pertama kali TPA ini di buka hanya ada sekitar puluhan orang saja yang menjadi pemulung. Tapi kini, lanjutnya, pemulung sudah mencapai ribuan orang.

“Tahun-tahun pertama di sini, pemulung jumlahnya hanya sekitar puluhan saja. Kalau sekarang sudah mencapai ribuan pemulung. Bahkan, ada yang satu keluarga semuanya jadi pemulung. Termasuk saya, hampir semua anak saya kerjanya juga di sini,” sebut Mamak Susi yang tinggal di Desa Baru Gang Dame Pancur Batu.

Tak Pernah Kena Penyakit

Selama kurang lebih 20 tahun menjadi pemulung, Mamak Susi dan keluarganya mengaku tak pernah mengalami sakit. Walaupun TPA yang dijadikan tempat mencari nafkah, kondisinya sangat tidak layak karena kotor.

“Syukurlah, hingga sampai sekarang, kami sekeluarga tidak pernah terkena penyakit. Paling-paling hanya penyakit biasa, seperti demam dan flu saja. Soalnya, kalau kita lihat tempat seperti ini kan tidak layak untuk dijadikan sebagai tempat kerja,” ujar nenek lima orang cucu ini.

Mamak Susi menambahkan, binatang-binatang yang dianggap orang menjijikkan dan mendatangkan penyakit, seperti ulat, cacing serta lalat justru dijadikan teman-temannya. Ia mengatakan, kalau binatang-binatang itu juga memiliki nasib yang sama dengannya, yakni menggantungkan nasib dari sampah-sampah ini.

“Udah biasalah dikerubuti binatang-binatang seperti itu. Saya percaya, kalau binatang-binatang itu tak akan pernah mengganggu kami. Soalnya kita di sini sama-sama mencari sesuatu yang sama untuk hidup. Saya mencari uang, binatang-binatang itu mencari makanan,” ucap Mamak Susi.

Bekerja menjadi pemulung bukanlah pekerjaan yang mudah, bau busuk dan asap yang pengap selalu jadi teman setia para pemulung, kadang juga membawa dampak bagi kesehatan. Tak bekerja berarti hilang uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk itulah Mamak Susi memiliki kiat sendiri untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit.

“Biasanya kami ke sini dari jam 9 pagi hingga 6 sore, sebelum dan sesudah bekerja saya dan keluarga selalu minum puding yang kita buat sendiri. Paling dengan tambahan telur dan obat-obatan tradisional saja yang kami minum,” seru Mamak Susi.

Selain itu, kata Mamak Susi, ia dan keluarganya juga membatasi waktu bekerja di TPA. Walau pada malam hari, truk-truk sampah masih banyak yang datang. Tapi Mamak Susi tak mau memaksakan diri untuk terus bekerja. Kesehatan menjadi alasannya.

“Kalau menurut saya, lebih baik bekerja pada siang hari saja. Kalau malam hari itu risikonya sangat besar. Soalnya, banyak pemulung yang bekerja pada malam hari yang terkena penyakit paru-paru basah. Makanya, saya tak terlalu memaksakan untuk bekerja malam hari. Rezeki itu sudah ada yang mengatur kok,” ujarnya.

Tak hanya malam hari saja, Mamak Susi meliburkan diri dari bekerja, di waktu hari hujan, Mamak Susi juga tidak terlalu memaksakan diri. Pasalnya, katanya, ancaman keselamatan selalu membayangi para pemulung jika hujan datang.”Wah kalau hari sudah mau hujan, lebih baik tidak usah bekerja. Takut kalau kena petir, karena sudah banyak yang menjadi korbannya.”

Rezeki Tak terduga, Saat Ini Jualan Susah
Menjadi seorang pemulung juga harus memiliki insting yang kuat. Pasalnya, di antara tumpukan berton-ton sampah, kadang terdapat barang-barang yang memiliki nilai jual yang lumayan tinggi. Salah satunya adalah barang-barang antik.

“Kalau mau cari sampah di sini, kita juga harus punya naluri. Soalnya di bawah tumpukan-tumpukan sampah banyak tersimpan barang-barang yang antik dan memiliki harga jual tinggi. Selain itu, di antara pemulung di sini dulu juga pernah mendapatkan uang dolar yang kalau dirupiahkan jumlahnya ratusan juta,” terang Mamak Susi.

Mamak Susi pun mengaku kalau dirinya juga sering menemukan barang-barang antik yang biasanya berasal dari Cina. Seperti sabuk, guci dan barang-barang lainnya. Pertama kali menemukan, dulunya ia menganggap kalau barang-barang seperti itu tidak bisa dijual lagi. Tapi, setelah di beritahu kalau barang tersebut bisa dijual. Satu demi satu temuan ia kumpulkan dan ia jual di daerah Sambu.

“Kalau mau menjual hasil memulung ini kan biasanya seminggu sekali, sekalian lah ngumpulkan barang-barang yang antik. Baru kemudian dijual ke tempat penjual yang mau untuk membeli. Lumayanlah harganya kalau untuk barang antik bisa mencapai ratusan ribu rupiah,” sebutnya.

Namun, saat ini dirinya mengaku sangat susah kalau mau menjual barang-barang bekas, jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Soalnya, tidak semua barang-barang yang ia dapat di TPA bisa dijual kembali.”Kalau dulu, selain plastik, kita masih bisa jual bahan-bahan dari atom, seng dan lainnya. Tapi, sekarang yang laku kebanyakan bahan-bahan yang terbuat dari plastik saja,” keluh Mamak Susi yang didampingi Inur, putri kelimanya yang juga bekerja di TPA.

Jeffri;

Lain lagi dengan Jeffri. Bocah berusia duabelas tahun ini mengaku sudah tak sekolah lagi. Pasalnya, sejak ibunya meninggal belum ada setahun yang lalu, ia memutuskan untuk mencari uang saja. Dalam sehari ia bisa mengumpulkan 10-20 kilo plastik. Plastik ini lalu dijemurnya lagi, untuk kemudian dijual seharga Rp 1.400 per kilonya. Plastik ini baru bisa dijual biasanya setelah dikumpulkan dulu selama seminggu. Agar uang yang didapat lebih banyak.

Jeffri nampaknya sosok pendiam. Ia tak begitu banyak bicara, namun dengan badannya kecil itu, dengan ligat ia memilah-milah sampah yang sudah dipulungnya. Badannya tampak kumuh karena setiap hari bergelut dengan sampah. Namun meski demikian, Jeffry sendiri tampak baik-baik saja.

Ketika ditanya, apakah ia pernah sakit karena setiap hari berada di sekitar pembuangan sampah yang kondisi lingkungannya tak sehat itu, ia pun menjawab dengan malu-malu, “Enggak pernah sakit, bang,” katanya.
Jeffry adalah anak kedua dari lima bersaudara. Ayah Jeffri bekerja sebagai tukang sebuah bengkel di Pancur Batu. Namun, Jeffry tak menjawab apakah memang ayahnya tidak mampu lagi menyekolahkan dia, sehingga ia memulung di TPA ini.

Menurut, penjelasan Mak Susi sendiri, anak-anak yang memulung di TPA ini sebenarnya bukan karena alasan ekonomi saja. Mak Susi beranggapan, sebagian anak memulung di sini sebenarnya bukan karena orangtua mereka tak sanggaup menyekolahkan mereka. Tapi, “dasar sudah ketagihan sama uang,” ujarnya.

Anggapan Mak Susi barangkali benar adanya. Ketika ditanya kepada Jeffry, apakah ia ingin sekolah lagi, ia menjawab diam. Tanda diam itu memang bukan berarti tidak. Namun, Jeffry yang hanya sempat sekolah di bangku kelas dua SD itu, tampak tak begitu peduli lagi ketika disinggung soal sekolah.

Jeffery hanya satu di antara banyak anak-anak yang menulung di TPA. Ia bersama anak-anak lain seharian standby menunggu “pasokan” sampah yang diangkut petugas Dinas Kebersihan Kota Medan. Mereka seakan-akan tak peduli lagi dengan dunia luar. Dan mereka tampak asyik dengan dunia mereka, dunia yang lebih mengutamakan nafkah dari pada makna pendidikan.

Dalam seminggu anak-anak pemulung di sini, kalau pasokan sampah sedang banyak-banyaknya, bisa menghasilan uang sebesar Rp 200 – 300 ribu. Dengan jumlah uang sebesar itu, maka wajarlah jika anak-anak di TPA ini ketagihan, sehingga lupa dengan dunia luar mereka, termasuk pendidikan.

Inilah sebuah fenomena yang terjadi dengan anak-anak kita, yang konon mereka adalah generasi penerus bangsa ini.

Hamdan: Untuk Persiapan Biaya Menikah

Cita-cita tinggi sejak kecil untuk menjadi dokter adalah impian yang tak pernah terwujudkan oleh Hamdan. Pemuda berusia 26 tahun ini mengaku, kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, membuat impian untuk menjadi seorang dokter hanya bisa dikhayalkan saja.

“Dokter, itulah cita-cita saya sejak kecil dulu. Tapi sejak tamat SMA, akhirnya saya sadar kalau untuk mendapatkan pendidikan itu bukan hanya bermodalkan semangat saja, tetapi juga harus memiliki uang. Di sinilah yang membuat cita-cita langsung terkubur,” ungkap Hamdan saat di temui Global di TPA kemarin.

Hamdan menceritakan, menjadi pemulung sudah dilakukannya sejak ia masih duduk dibangku sekolah dasar (SD). Setiap hari, sehabis sekolah, bersama dengan ibu dan saudaranya ia pergi ke TPA mencari barang-barang yang bisa dijual untuk membiayai sekolahnya.

“Sudah hampir 20 tahun saya menjadi pemulung di sini. Sejak usia 3 tahun ayah saya kan sudah tidak ada, jadi hanya tinggal ibu saja. Itulah setiap hari, kerja saya mencari barang-barang yang bisa untuk dijual lagi. Sekalian dikumpulkan untuk membiayai uang sekolah sendiri. Mengharap dari orangtua itu tidak mungkin,” papar pemuda yang berhasil menamatkan sekolah hingga jenjang SMA ini.

Waktu masih sekolah, ejekan “pemulung” pun kerap dialami Hamdan. Namun, ia tetap menerimanya dengan setulus hati. Karena, ia mengaku dari sampah lah ia bisa mengenyam pendidikan hingga SMA.”Seringlah di ejek sama kawan-kawan, kalau saya seorang pemulung. Tapi mau gimana lagi, saya hanya bisa menerima saja. Dari sini jugalah saya bisa sekolah sampai SMA,” tutur Hamdan.

Kini, semenjak tamat dari SMA beberapa tahun yang lalu, sebagian penghasilan disisihkannya untuk ditabung. Tabungan ini rencananya akan digunakan Hamdan untuk tambahan biaya menikah tahun depan.”Sehari biasanya saya dapat 30 ribu dari sini, sebagian dari penghasilan itu saya tabung. InsyaAllah tahun depan nanti saya akan menikah,” jelas Hamdan yang tinggal di Desa baru No 44 Pancur Batu.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: