Oleh: triy | September 2, 2008

Salamudin: Aku Ingin Hidup Mandiri

salamudin

salamudin

Tri Yuwono | Medan

Terik matahari yang panas serta debu yang beterbangan akibat diterpa lalu lalang kendaraan bukan menjadi halangan bagi lelaki paruh baya ini untuk tetap terus duduk di pinggir jalan. Sudah puluhan tahun, pria yang mengaku bernama Salamudin ini menggantungkan nasibnya di pinggiran jalan, hanya demi mendapatkan uang dari orang-orang yang merasa kasihan kepadanya.

Sebenarnya bukanlah keinginan dari hati saya. Mungkin karena kondisi yang seperti inilah yang membuat saya terpaksa melakukan pekerjaan ini,” ujar Salamudin saat ditemui Global di Jalan Tanjung Gusta Medan kemarin.

Pria berusia 46 tahun ini menceritakan, dari tujuh orang saudaranya, hanya dialah yang mengalami cacat sejak dilahirkan. Kondisi fisiknya yang tidak sama dengan saudara-saudara dan teman-temannya membuat Salamudin tak bisa leluasa untuk menghabiskan masa kecilnya dengan bermain-main.

“Dulu waktu masih kecil saya biasanya hanya bermain dengan saudara-saudara saja, karena memang saya sering banyak berada di rumah. Mau keluar rumah kadang harus butuh bantuan dari orang lain. Jadi, terpaksalah hanya bermain di sekitar rumah saja. Iri juga sih ngeliat kawan-kawan dulu bisa bermain-main sambil bercanda-canda,” kenang Salamudin.

Seiring waktu yang terus berjalan, Salamudin pun sudah tidak terlalu memikirkan kondisi fisiknya. Dukungan dan motivasi dari keluarga serta kawan-kawan terdekat, membuat Salamudin mempunyai keinginan untuk terus melanjutkan jenjang pendidikan sekolah. Sekolah Menengah Pertama(SMP) pun berhasil ditamatkannya, namun sayangnya kondisi ekonomi yang pas-pasan membuat Salamudin untuk mengenyam pendidikan tinggi kandas di tengah jalan.

“Setiap berangkat sekolah saya selalu diantar dengan sepeda oleh orang tua saya. Tapi sayangnya, karena masalah ekonomi saya hanya bisa menamatkan sekolah sampai jenjang SMP saja. Padahal, waktu itu saya ingin belajar sampai jenjang pendidikan yang tinggi,” terangnya.

Sejak saat itu, Salamudin hanya menggantungkan nasib kepada keluarganya. Sekali-kali mencari pekerjaan sambilan untuk menambah penghasilan ekonomi keluarga. Menginjak remaja, Salamudin mulai berpikir untuk menjalani kehidupan seperti layaknya orang normal.

“Saya ingin menjalani hidup seperti orang biasa lainnya, bisa mengerjakan pekerjaan selayaknya orang normal, mengerjakan ibadah, dan juga ingin berumah tangga. Mungkin karena belum rezeki saya saja, tetapi saya yakin suatu saat saya pasti bisa meraih hal tersebut, meskipun kondisi saya cacat seperti ini,” papar Salamudin.

Musim Angin Jualan Layang-Layang

Musim kemarau menjadi hal yang ditunggu-tunggu oleh Salamudin, karena di musim inilah ia bisa bekerja sendiri tanpa harus menggantungkan nasibnya dengan mengharap belas kasih orang lain. Keterampilan membuat layang-layang yang dimilikinya dimanfaatkannya untuk menambah penghasilan.

“Beruntung saya bisa membuat layang-layang. Jadi, musim kemarau adalah musim yang sangat saya tunggu-tunggu. Karena, biasanya di musim ini banyak anak-anak yang bermain layang-layang. Waktu seperti inilah yang saya manfaatkan untuk membuat sesuatu yang bisa saya lakukan sendiri dan bisa menghasilkan,” tuturnya.

Lebih jauh Salamudin mengatakan, dengan membuat layang-layang di rumah, hari-harinya bisa lebih santai dan berarti. “Saya bisa bekerja sendiri tanpa harus menerima belas kasih orang lain, kemudian bisa lebih santai, karena pekerjaannya bisa dilakukan di rumah. Kalaupun ada pekerjaan yang dapat saya lakukan, pasti saya akan melakukannya. Ini kan lebih baik dari pada saya harus meminta-minta belas kasihan orang lain.”

Saat musim layangan tiba, dalam sehari Salamudin bisa membuat puluhan layang-layang dengan berbagai bentuk dan ukuran. Ia mengaku selalu membuat layang-layang dengan semenarik mungkin, karena menurutnya ini dapat mendongkrak hasil penjualan layang-layangnya. Walaupun tak besar, paling tidak ketika musim layang-layang tiba, Salamudin bisa mendapatkan keuntungan 30 – 50 ribu per hari.

“Anak-anak kecil ini kan suka dengan bentuknya, maka dari itulah kalau membuat layang-layang saya berusaha semenarik mungkin untuk membuatnya. Kalau bentuknya biasa-biasa saja, kadang mereka tidak tertarik. Hasil penjualannya lumayanlah, paling tidak bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” jelas Salamudin.

Bertahan di bawah terik panas matahari

Panasnya matahari dan juga debu yang beterbangan sudah menjadi teman akrab Salamudin sehari-hari. Bangunan besar Griya Pemasyarakatan nan megah di Jalan Tanjung Gusta yang dijadikan sebagai tempat mengais rezeki, terlihat kontras dengan apa yang terjadi dan dialami oleh Salamudin. Namun, bangunan ini menjadi saksi bisu perjuangan Salamudin untuk mendapatkan belas kasih orang lain.

“Di depan sini setiap hari kan selalu ramai, baik orang yang mau masuk ke Griya Pemasyarakatan atau kendaraan yang lalu lalang. Apalagi di sini dekat dengan rumah saya, jadi tidak terlalu repot. Oleh karena itulah, saya memilihnya menjadi tempat untuk duduk,” ujar Salamudin.

Dalam sehari, Salamudin mengaku bisa mendapatkan uang sekitar 20 -30 ribuan rupiah. Uang-uang ini ia dapatkan dari pemberian orang-orang yang keluar dari Griya Pemasyarakatan maupun orang-orang yang sedang lewat di jalan. Sedikit demi sedikit uang tersebut ia kumpulkan.

Setiap hari, dari mulai jam 8 pagi, Salamudin berangkat dari rumahnya yang memang tak jauh dari Griya Pemasyarakatan. Kemudian, sekitar jam 6 sore ia kembali ke rumahnya. Kalau hari hujan, ia biasanya langsung pulang ke rumah.

Meskipun tempat yang ia tuju tidak terlalu jauh, tapi bukan perkara mudah baginya untuk sampai di depan Griya Pemasyarakatan. Pasalnya, kendaraan yang lalu lalang di jalan ini kadang tidak memperhatikan orang yang lagi berjalan.

“Rumah saya memang dekat dari sini, tapi untuk mencapai tempat ini juga butuh perjuangan. Orang yang normal saja kadang terserempet kendaraan pas mau nyeberang, bagaimana dengan saya yang cacat seperti ini. Sangat berhati-hati sekali lah pokoknya saat menyeberang jalan ini,” ungkapnya.

Oleh karena itulah, ia berharap agar orang-orang yang mengendarai kendaraan, baik itu roda dua atau empat jangan terlalu kencang saat melewati jalan.”Sama saja itu, yang mengendarai mobil atau sepeda motor kadang jalannya kencang sekali. Saya berharap mereka bisa lebih pelan saat jalan, paling tidak untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan,” harap Salamudin.

Ingin menikah

Saat ditanya Global apa keinginan terbesar dalam hidupnya, Salamudin mengatakan kalau saat ini ia ingin hidup mandiri. Walaupun begitu, ia mengaku masih tahu diri. Kondisi fisik dan usianya yang sudah tidak muda lagi memang dirasakan Salamudin menjadi kendala dalam meraih impiannya tersebut.

“Jelas saya ingin hidup normal seperti layaknya orang lain. Saya tidak ingin selalu bergantung dengan orang lain. Saya ingin bisa hidup secara mandiri. Memang semuanya kembali kepada diri saya sendiri, apakah saya bisa atau tidak untuk melakukan itu. Sulit memang, tapi paling tidak saya selalu akan berusaha,” ucap Salamudin.

Selain ingin bisa hidup mandiri, ada satu lagi keinginan yang selama ini selalu di pendam dalam hatinya. Apa itu ? Ya… Keinginan Salamudin untuk berkeluarga. Dari sejak dulu, Salamudin sebenarnya sudah memendam keinginan satu ini. Tapi karena kondisinya, ia masih belum berani untuk mengakuinya secara terang-terangan.

“Setiap manusia kan pasti memiliki keinginan untuk berkeluarga sendiri-sendiri. Saya pun juga ingin seperti itu. Saya tahu, saya banyak memiliki kelemahan. Memang semuanya itu kan yang mengatur yang di atas. Tapi, paling tidak setiap saya selesai beribadah saya selalu berdoa untuk mendapatkan jodoh saya,” sebut Salamudin.

Keinginan untuk berkeluarga ini bukan tanpa alasan, Salamudin juga merupakan manusia yang memiliki nafsu dan pikiran. Dengan berkeluarga sendiri ia berharap bisa lebih meringankan langkahnya dalam menghadapi cobaan hidupnya. “Dengan punya keluarga sendiri, berarti ada tempat bagi saya untuk saling berbagi suka dan duka. Hal inilah yang ingin saya cari sekarang,” ujar Salamudin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: