Oleh: triy | September 2, 2008

Ridwan Lubis : Lima Liter Saja Terjual, Saya Sudah Bersyukur

Ridwan Lubis

Ridwan Lubis

Tri Yuwono | Medan

Sebuah becak dayung dengan beberapa drum ukuran kecil, kaleng serta jerigen nampak terparkir di pinggir Jalan Adam Malik, Glugur By Pass Medan. Persis disampingnya, seorang pria memakai topi tengah duduk di trotoar jalan sambil sesekali melihat lalu lalang kendaraan yang lewat di depannya. Rerimbunan pohon-pohon yang berjejer di samping jalan melindunginya dari sengatan sinar matahari yang panas.

Ridwan Lubis, begitulah ia memperkenalkan dirinya. Lelaki berusia 67 tahun ini mengaku, semenjak ditinggal sang istri tercinta sekitar 9 tahun silam, ia memulai usaha menjual bahan bakar minyak jenis bensin. Dengan modal tak lebih dari 50 ribu rupiah, ia pun membeli bensin di Galon(SPBU) yang selanjutnya Ia jual kembali.

“Saya dulu kerja juga nggak tentu, apa yang bisa dikerjakan ya saya kerjakan. Asal bisa menghidupi keluarga. Kalau untuk jualan bensin ini, saya lakukan setelah istri saya meninggal,” ungkap Ridwan mengawali cerita saat ditemui Global ditempat biasa mangkal.

Berbeda dengan saat dirinya pertama kali menjual bensin yang selalu diserbu pembeli, pada tahun-tahun terakhir ini, ia merasakan begitu sulit untuk menjualnya. Kenaikan harga BBM yang terus melambung adalah alasan utamanya. Tak heran, jika dalam sehari pendapatan yang ia terima kadang tak sesuai dengan keinginannya.

“Tahun 2000-an lalu, saya masih bisa menjual bensin lebih dari 10 liter perhari. Tapi, kalau sekarang jangankan 10 liter, 5 liter sehari saja saya sudah bersyukur. Nggak tahu kenapa sebabnya, yang pasti naiknya BBM membuat usaha ini semakin sulit,” jelas Ridwan lagi.

Untuk membantu usahanya, sebuah becak tua selalu menemaninya saat pergi dari rumahnya di Jalan Nenas No 6 Medan menuju tempatnya bekerja. Dari mulai pukul 8 pagi hingga 3 sore, Ridwan menghabiskan waktunya untuk menunggu pembeli di pinggir jalan tersebut.

“Lihat saja sampai sekarang ini, dari mulai jam 8 pagi tadi sampai jam 1 siang ini, yang laku baru sekitar 2 liter saja. Karena itulah, saya biasanya belanja membeli bensin, nunggu kalau yang di sini sudah habis,” tambah Ridwan yang membeli bensin di SPBU di kawasan Jalan Adam Malik ini.

Bekerja ditengah kondisi tubuh yang sudah tidak muda lagi bagi Ridwan merupakan sebuah tantangan dalam mencapai kehidupan yang lebih baik. Kadang ia harus bergelut dengan teriknya sinar matahari dikala siang hari. Jika ditotal, pendapatan yang ia peroleh sangatlah minim. Hanya sanggup untuk membeli sebungkus rokok dan nasi.

Itu pun tidak setiap hari. Ia tidak memiliki pelanggan tetap yang selalu datang. Jadi, tidak mengherankan jika ia juga sering pulang dengan tangan hampa.”Demi hidup, yang penting halal, ya saya lakukan.Kalau misalnya sehari nggak ada yang membeli, ya anggaplah bukan rezeki kita,” ujar Ridwan yang hanya mengambil keuntungan sebesar 500 rupiah perliternya.

Tak Dapat BLT

Penyaluran dana BLT(Bantuan Langsung Tunai) yang dilakukan oleh pemerintah memang menimbulkan pro dan kontra. Itu masih lebih baik. Pasalnya, jangankan menimbulkan por dan kontra, Ridwan mengaku justru tidak tahu kalau pemerintah mengadakan program bantuan untuk orang miskin. Ironis memang…

Alhasil, ia tidak terlalu perduli dengan bantuan tersebut.”Saya nggak dapat bantuan seperti itu. Memangnya ada ya bantuan seperti itu. Soalnya, tidak ada petugas yang datang ke rumah saya untuk mencatat ataupun memberitahukannya. Makanya, saya pun tak terlalu urus dengan masalah seperti itu,” papar Ridwan yang sesekali melihat kanan-kiri lalu lalang kendaraan di depannya.

Selama pemberian dana BLT oleh pemerintah, Ridwan tak pernah sekalipun mendapatkannya. Padahal, jika melihat kondisi perekonomian keluarganya, keluarga Ridwan berhak untuk menerimanya. Ridwan tinggal bersama dengan anak pertamanya. Sementara, anak kedua dan ketiga tinggal sendiri-sendiri.

“Di sini saya tinggal bersama dengan anak. Kalau memang diberi BLT ya maulah. Kan bisa untuk tambahan uang keluarga. Tapi, kami nggak tahu cara mengurusnya bagaimana,” ujar Ridwan.

Namun, meskipun begitu, Ridwan merasa bersyukur karena anak-anak tercintanya sudah bisa hidup mandiri. Sehingga, ia bisa lebih tak perlu lagi bersusah payah dalam mencukupi kebutuhan keluarga. Tapi, bukan berarti ia lepas tangan menggantungkan nasibnya kepada ketiga anaknya. Ridwan tetap mau mencari penghasilan sendiri, meskipun itu untuk kepentingan dirinya sendiri.

“Kalau rezeki itu kan yang di Atas yang mengatur, kita sebagai manusia kan hanya berusaha. Sebenarnya kerja seperti ini saya selalu dilarang oleh anak-anak saya. Namun, saya tetap bekerja. Karena saya juga tidak ingin merepotkan mereka. Meski hanya bisa membeli sebungkus nasi, tapi saya masih bisa membelinya sendiri,” jelas Ridwan.

Nggak Tahu Harus Bekerja Apa?

Sejak sang istri tercinta tiada, ditambah usia yang sudah tak muda, membuat Ridwan bingung harus mencari pekerjaan seperti apa. Mencari pekerjaan mocok-mocok seperti dahulu, kondisi tubuh tuanya sudah tidak memungkinkan lagi. Akhirnya, ia pun mencoba untuk berjualan bensin.

Usaha ini awalnya berjalan mulus. Puluhan pembeli selalu ramai datang di tempat ia berjualan. Sayangnya kondisi seperti itu tidak bisa bertahan lama. Kenaikan BBM yang terjadi selama beberapa kali membuat usahanya kembang kempis, bahkan nyaris mati.

“Kalau mau kerja seperti dahulu, saya sudah tidak bisa lagi. Nggak kuat badan ini rasanya. Kalau jualan seperti ini kan nggak terlalu capai. Paling hanya nunggu-nunggu saja sambil duduk,” seru Ridwan.

Pada saat berangkat dan pulang saja Ridwan mengaku kesusahaan. Apalagi, jika cuaca tidak mendukung. Becak dayung dengan tumpangan beberapa liter bensin, ditambah lagi dengan berat tubuhnya, coba ia lawan dengan kekuatan yang masih tersisa dalam tubuhnya.

“Berat juga dayungnya, kalaupun kadang saya sudah nggak kuat lagi mendayung. Saya biasanya mendorongnya sampai rumah. Dari sini ke rumah saya sebenarnya nggak terlalu jauh, hampir satu kilo meteran gitu. Mau cari kerja yang lain, kerja apa lagi, saya kan sudah tidak muda lagi seperti dahulu,” ungkap Ridwan menjelaskan.

Kemerdekaan Untuk Semuanya

Peringatan kemerdekaan bangsa tercinta yang akan diperingati pada Agustus ini bagi Ridwan hanyalah sebuah tradisi saja. Tidak adanya perubahan dari tahun ke tahun menjadi alasan baginya kenapa sampai sekarang ia tidak terlalu bersemangat memperingatinya. Persoalan ekonomi jauh lebih penting baginya, daripada merayakan hari kemerdekaan.

“Sepertinya dari dahulu sampai sekarang tidak terlalu ada perubahan. Bahkan, sekarang ini kayaknya semakin parah. Ekonomi tambah sulit. Barang-barang kebutuhan sehari-hari tambah mahal. Kalau barang-barang itu sudah naik, kan nggak akan bakalan bisa turun,” serunya memberi alasan.

Tapi, kendati begitu, tambah Ridwan, sebagai warga negara yang baik, memperingati kemerdekaan bangsa adalah kewajiban yang harus dijalankan.”Kalau itu jelas lah kita sebagai warga negara ya harus ikut memperingatinya. Kalau dulu kita melakukan perjuangan, nggak mungkinkan kita merdeka seperti ini.”

Menyambut peringatan kemerdekaan nanti, Ridwan berharap pemerintah untuk selalu memperhatikan nasib orang-orang kecil, seperti dirinya. Karena selama ini, lanjut Ridwan, pemerintah sepertinya tidak pernah memihak rakyat kecil. Janji-janji yang diungkapkan saat kampanye, sampai sekarang ini belum menyentuh sepenuhnya terhadap kehidupan masyarakat kecil.

“Harapan saya semoga pemerintah tetap memegang janjinya saat masih kampanye dahulu. Masyarakat kecil sekarang ini sepertinya tambah menderita dari hari ke hari. Cobalah perhatikan nasib kami, jangan hanya mereka yang sudah kaya yang diperhatikan,” ungkap Ridwan berharap.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: