Oleh: triy | September 2, 2008

Mereka “Ngelem” karena Lapar

Catur, Koordinator SKA-PKPA bersama anak-anak

Catur, Koordinator SKA-PKPA bersama anak-anak

Tri Yuwono | Medan

Anak miskin kota sering menjadi korban. Karena kehidupan ekonomi yang terbatas, tak jarang di antara mereka yang turun ke jalan. Mencari uang , awalnya demi perut dan keperluan sekolah atau lainnya, hingga demi kenikmatan yang membuat mereka lupa akan masa depan mereka. Tapi sebenarnya itu bisa dicegah sebelum terlambat. Jawbanya, yang pasti adalah dengan “kepedulian”.

Jecky (18 tahun), kini sudah mahir memainkan keyboard dan sedikit bisa bernyanyi. Dengan teman-temannya yang tergabung dalam grup band yang mereka beri nama “Flowrenz”, mereka bahkan telah membuat rekaman. “Isinya cuma tiga lagu kok, bang,” katanya merendah. Tapi semua lagu mereka ciptakan sendiri. Dengan modal kemampuan mereka bermusik itu, Jacky dengan grupnya bisa tampil di berbagai acara.

Seandainya enam tahun yang lalu, Jacky tidak ikut bergabung dalam aktivitas di SKA-PKPA (Sanggar Kreativitas Anak-Pusat Kajian dan Perlindungan Anak), yang tak jauh dari lokasi di mana ia sering menghabiskan waktunya di Terminal Pinang Baris, barangkali akan lain pula ceritanya. Barangkali, bermain keyboard atau menciptakan lagu hanyalah akan menjadi mimpi. “Beruntung aku bisa gabung dengan sanggar ini,” ujarnya, setelah menghentikan permainan keyboardnya.

“Di sini aku bisa belajar banyak hal. Aku juga main musik dengan teman-teman sesama anak jalanan,” ujarnya. Ya, paling tidak Jacky, anak kedua dari dua bersaudara ini, telah memiliki skill yang bisa dipergunakannya kelak. Sehebat-hebatnya, jadi musisi profesional karena mereka juga diperlengkapi dengan studio musik.

Lain lagi dengan Rahmad (22). Lelaki yang kini dianggap senioran di kalangan pemain musik di SKA-PKPA ini, tak menyangka ia akan memiliki kemampuan memainkan perkusi atau drum. “Aku kerja nyapu-nyapu mobil angkot yang lagi parkir,” katanya. Itu delapan tahun lalu, ketika anak keempat dari lima bersaudara ini sering menghabiskan waktunya di terminal Kampung Lalang.

Kini, sekalipun Rahmad hanya mampu menamatkan sekolahanya sampai kelas dua STM, setidaknya ia kini telah memiliki pekerjaan tetap sebagai buruh di sebuah pabrik plastik Binjai. “Tapi, sebenarnya cita-citaku ingin jadi pemain musik. Karena sudah sempat menyukainya selama di sanggar ini,” ia mengharap sambil tersenyum.

Bagi Rahmad sendiri, SKA – PKPA ibarat rumah keduanya. Kalau ada waktu senggang, sepulang bekerja atau di hari libur, ia akan datang ke studio musik PKPA latihan bersama teman-temannya. “Daripada waktu kosong sia-sia,” katanya.

“Ngelem”

Jacky dan Rahmad hanyalah dua contoh anak yang barangkali bisa dikatakan selamat dari nasib yang sering menimpa banyak anak-anak jalanan di Medan. Bukan hal baru lagi, bahwa tak sedikit anak jalanan yang telah menjadi korban. Mereka sering terlibat dalam kekerasan atau pelecehan. Hingga kehilangan arahan, sehingga tak sedikit di antara mereka juga yang terjerumus ke dunia yang sama sekali tak mereka inginkan dan seharusnya tidak terjadi pada mereka. Semisal, menjadi pecandu lem kambing. Di kalangan anak jalanan, istilah ini biasanya disebut “ngelem”.

“Wah, kalau ngelem, sampai sekarang ini aku belum kena-lah, Bang. Teman-teman memang banyak yang sudah kena, bahkan lebih parah lagi sampai makai narkoba. Tapi, aku masih bisa jaga diri,” ujar Jacky lelaki kelas 3 SMU ini.

Jacky rupanya juga masih menyadari arti pentingnya pendidikan demi masa depannya. Maka, ia tak ingin merusaknya. Terlebih-lebih karena ia mendapat arahan dari kakak-kakak pembina selama aktif beraktivitas di PKPA. Ia pun tak pernah melupakan aktivitas belajarnya di sekolah. “Kalau bisa, sebenarnya aku ingin kuliah setelah tamat. Tapi kalau tidak bisa, aku nanti mau tes tentara,” katanya. Namun rupanya Jacky tak bisa mengharap banyak. “Soalnya, ekonomi orangtuaku pas-pasan. Mudah-mudahanlah nanti bisa, siapa yang tahu masa depan,” katanya lalu memainkan sebuah lagu pop anak muda dengan keyboardnya.

Sama halnya dengan Rahmad, “Mudah-mudahan tidak sampai kena,” katanya. Ia beruntung, selama bergabung di PKPA ia mendapat arahan dari kakak pembina yang baik, katanya. Terutama, kakak Ardiansyah Daulay yang dengan sabar mau mengajari mereka bermain musik dan mengusulkan agar di PKPA juga disediakan studio musik. “Sehingga tak sempat ke hal negatif,” katanya lagi.

Di PKPA Pinang Baris sendiri, ada 150 anak yang resmi terdaftar. Mereka diberi arahan, pendidikan dan keterampilan. Anak-anak ini mayoritas berasal dari keluarga miskin kota yang kehidupan ekonominya lemah. Selain itu, tak sedikit di antaranya merupakan penduduk transit, yaitu pendatang tidak menetap yang datang dari luar Kota Medan. Mata pencaharian mereka biasanya tak jelas.

Nah, anak-anak mereka inilah yang sering menjadi pengisi jalanan liar. Mereka bekerja apa saja yang penting bisa dapat uang, seperti menyemir, mengamen, mengemis. Sedang, orangtuanya tak mampu lagi memberi arahan dan bimbingan pada mereka. Dan tak jarang, akibat kurangnya arahan tadi, mereka terjerumus menjadi pecandu lem, yang awalnya hanya sekadar coba-coba.

Bagaimana dengan anak yang ada di sekitar Pinang Baris? “Sejauh pengamatan kami sejauh ini, ada lima anak yang terindikasi kecanduan lem,” ujar Catur Muhammad Sarjono, Koordinator SKA-PKPA. Kondisinya memprihatinkan. Badanya kurus, matanya masuk ke dalam, wajahnya pucat dan suka ngomel-ngomel tak karuan.

Kata Catur, belum pasti dari mana anak-anak ini tahu ngelem. Namun yang pasti, alasan kuatnya untuk menghilangkan rasa lapar. “Mereka menghirup lem agar lapar mereka hilang,” katanya. Namun, lama-lama jadi kecanduan. Setelah kecanduan, akibatnya justru parah. Proses penyembuhannya pun tak sebentar.

“CM Sarjono: Jangan jual lem pada mereka…”

Ya. Anak adalah generasi bangsa, generasi kita, maka jangan biarkan mereka terjerumus ke hal-hal negatif. Bagaimana jadinya, kalau sudah sejak usia dini saja mereka sudah masuk ke dalam dunia yang semestinya bukan dunia mereka. Karena sejatinya, masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat rentan terhadap hal-hal negatif yang dapat mempengaruhi jiwa psikologinya kelak.

Ungkap Catur, melihat banyaknya anak-anak yang terjerumus ke dalam hal-hal negatif, terutama terhadap anak-anak jalanan dan anak miskin di Kota Medan. “Melihat perkembangan sekarang ini, sungguh sangat menyedihkan. Banyak anak-anak, terutama mereka yang masuk dalam kategori miskin, harus memperjuangkan nasibnya dengan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan di usia yang masih belia, seperti mengamen dan menyemir sepatu. Padahal pekerjaan seperti ini dapat mempengaruhi psikologis mereka nantinya. Apalagi mereka adalah para generasi bangsa ini,” papar Catur.

Pantas saja Catur merasa miris melihat kondisi anak-anak saat ini, pasalnya mereka (sebagaian besar anak jalanan, pengemis maupun penyemir sepatu -Red), ketika bekerja banyak yang terjerumus ke dalam hal-hal negatif, seperti “ngelem”. Harga lem kambing yang relatif murah serta di jual bebas di pasaran, membuat anak-anak mencoba untuk memakainya sebagai pengganti narkoba yang harganya lebih mahal.

“Ngelem yang dilakukan oleh anak-anak ini banyak kita jumpai di hampir kawasan yang menjadi tempat mangkal mereka di wilayah Kota Medan ini. Kalau mau beli narkoba kan harganya mahal, makanya mereka menggunakan lem kambing sebagai penggantinya. Dengan uang hasil pekerjaannya, mereka bisa leluasa membeli lem kambing yang memang banyak di jual di pasaran,” seru Catur saat di temui Global di Sekretariat SKA-PKPA di Jalan TB Simatupang/Pinang Baris Gang Wakaf II No 3 Medan.

Lebih jauh Catur menambahkan, banyaknya penjual lem kambing yang menjual secara bebas kepada anak-anak agar ditindak secara tegas, karena menurutnya, para penjual lem kambing tersebut sebenarnya sudah mengetahui kalau lem tersebut akan dipakai untuk ngelem oleh anak-anak.

“Para penjual itu sebenarnya sudah tahu, kalau lem kambing yang di jual itu nantinya akan digunakan untuk ngelem. Tapi, mereka hanya mencari untung saja. Tidak memikirkan hal-hal yang akan terjadi selanjutnya. Maka dari itulah, hendaknya pihak berwajib menetapkan aturan mengenai penjualan lem kembing kepada masyarakat yang akan membelinya. Hal ini sebagai upaya untuk mencegah anak-anak agar tidak ngelem lagi,” harap Catur.

Perhatikan mereka, pak!

Kenikmatan sesaat saat ngelem ternyata memberti dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Catur mencontohkan, beberapa anak yang pernah bergabung di sanggar SKA-PKPA juga pernah mengalami hal serupa. Bahkan, akibat dari ngelem, beberapa anak di antaranya ada yang mengalami stres dan gila.

“Dulu pernah ada anak yang stres dan gila gara-gara ngelem. Saat di tanya nggak nyambung, hampir mirip dengan orang yang sakau lah. Ini membuktikan bahwa lem kambing yang banyak di pakai oleh anak sebagai obat penenang, karena memang setelah menghirup bau lem ini perasaan kita bisa melayang-layang dan tanpa beban, bisa menimbulkan dampak yang sangat berbahaya bagi anak-anak,” tutur Catur.

Melihat realita inilah, SKA-PKPA mencoba untuk melatih anak-anak, yang sebagian besar anak jalanan dan anak miskin kota agar dapat menyalurkan kreativitas mereka. Sehingga, diharapkan mereka tidak terlalu jauh terjerumus ke dalam lagi.

“Kita dari Sanggar Kreativitas Anak (SKA) mencoba untuk membantu mereka untuk bisa mengembangkan bakatnya, seperti bermain musik, main bola serta juga membantu tugas-tugas sekolahnya. Hal ini juga sebagai upaya, agar mereka tahu mana yang baik dan buruk saat bekerja,” ungkap Catur.

Di sanggar ini ada beberapa program kreativitas yang dapat dipilih anak-anak sesuai dengan hobi yang diinginkan. Dari mulai bermain sepakbola, musik, tari hingga pelatihan jurnalistik. Bahkan, khusus untuk program sepakbola dan musik, anak didik SKA-PKPA ini banyak menorehkan prestasi.

Ternyata tidak sia-sia tempat seperti SKA ini menjadi pilihan bagi anak-anak untuk bisa menyalurkan bakatnya disela-sela pekerjaannya mencari uang. Kantor SKA sendiri telah menjadi rumah singgah atau rumah kedua bagi mereka untuk mengisi waktu luangnya. Disini ada sekitar 200 lebih anak jalanan yang merupakan penduduk miskin kota yang sering ngumpul-ngumpul sekaligus belajar.

Kurangnya perhatian pemerintah terhadap nasib anak-anak di akui oleh Catur. Karena itu, ia berharap agar pemerintah mau memerhatikan nasib anak-anak jalanan seperti mereka. “Kalau bisa pemerintah jangan hanya mencari keuntungan saja, seperti membangun mal-mal, tetapi juga memerhatikan nasib anak-anak, terutama anak-anak yang kurang mampu,” harap Catur tegas.

Iklan

Responses

  1. betul itu


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: