Oleh: triy | September 2, 2008

Joni dan Junus : Menyemir, Demi Biaya Sekolah

abang-adik

abang-adik

Rombongan beberapa orang berpenampilan rapi, dengan stelan jas hitam dan dasi putih nampak keluar dari ruang kedatangan Bandara Polonia Medan, Selasa(10/6) sore kemarin. Mereka berjumlah tujuh orang, terdiri empat orang pria dan tiga orang wanita. Sambil sekali-kali bercakap-cakap dengan di selingi tawa, rombongan tersebut menuju sebuah Café yang berada tepat di pojok ruang kedatangan Bandara Polonia.

Sementara itu, jarak beberapa meter dari Café tersebut, segerombolan anak-anak yang berpakaian dekil dan kotor nampak berbisik-bisik dengan sesekali melihat ke arah rombongan yang ada dalam Café tersebut. Dua orang anak kecil berdiri dan berjalan ke dalam Café sembari membawa plastik hitam yang digenggam di tangannya.

Dari kejauhan, dua anak lelaki itu nampak bercakap-cakap dengan rombongan yang sedang menyantap makanan dan minuman ringan. Sambil melihat sepatu-sepatu yang di pakai oleh para rombongan tersebut. Namun, usahanya tak berjalan lama, karena beberapa menit kemudian, dengan wajah lesu kedua anak tersebut kembali ke kursi yang berjarak sekitar 10 meter dari Café tersebut.

Saat di temui Global, mereka berdua nampak sedang melamun, sambil sekali-sekali mengayunkan plastik hitam yang di genggam ditangannya. Global pun kemudian mengajak mereka berdua ngobrol. Merekapun mengenalkan diri, Joni dan Junus, begitulah nama aslinya. Keduanya adalah adik kakak, sang kakak, Joni saat ini masih duduk di bangku sekolah dasar kelas 4, sementara sang adik, Junus duduk di kelas 3. Mereka satu sekolah, yakni di SD 80 Pasar Senen, Kampung Baru Medan.

“Tadi Saya nggak bisa dapat uang, bapak-bapak yang di Café itu tidak ada yang mau sepatunya di semir,” seru Joni, sang kakak mengawali cerita.

Joni menuturkan, sudah sekitar dua tahun ini, bersama dengan sang adik, Junus, dirinya bekerja menjadi seorang tukang semir sepatu. Pekerjaan ini terpaksa dilakukannya, guna menambah biaya uang sekolah dan membantu kedua orang tuanya.

“Perkejaan ini sebenarnya terpaksa Bang. Soalnya, sekalian untuk membantu ayah dan ibu di rumah. Dengan bekerja seperti ini, paling tidak Saya dan adik sudah tidak meminta uang lagi kepada mereka,” ungkap Joni.

Joni menambahkan, bersama dengan seorang kakak dan adiknya, mereka bertiga mencoba membantuk ekonomi keluarga dengan bekerja. Sementara, tiga orang adiknya lagi yang masih kecil terpaksa tinggal di rumah karena belum bersanggup bekerja.

“Kalau Saya sendiri merupakan anak kedua, sementara Junus ketiga. Kakak Saya juga bekerja, yang di rumah adalah tiga orang adik Saya. Ayah kerjanya sebagai tukang becak, kalau Ibu kerjanya mencuci di rumah-rumah orang,” papar anak kedua dari enam bersaudara ini.

Kondisi ekonomi yang pas-pasan ini jugalah, yang menggerakan hati Joni dan Junus untuk membantu mencari nafkah, minimal untuk keperluan dirinya sendiri. Karena, mereka berdua mengaku, selama bekerja tidak pernah ada paksaan dari kedua orang tuanya, murni dari hatinya.”Pingin aja Bang membantu ayah dan ibu. Sekalian, belajar mencari uang sendiri,” jelas Joni.

Sering Kena Palak Preman

Joni melanjutkan, setiap pulang sekolah, berdua dengan adiknya, Ia berangkat dari rumahnya yang terletak daerah Kampung Baru, Medan menuju tempat kerjanya di Bandara Polonia Medan. Setiap hari, biasanya ia menghabiskan sekitar 6 sampai 8 jam di Bandara ini.

“Tergantung Bang, kalau misalnya pulang sekolahnya cepat, ya ke sininya juga cepat. Tapi, biasanya sih dari mulai jam 2 siang sampai jam 8 malam. Kalau ada uang, Saya sama adik berangkat naik angkot, tapi kalau nggak ada kadang jalan kaki atau naik sepeda,” ujar Joni.

Untuk satu pasang sepatu, Joni dan Junus memasang harga 1000 rupaih sekali semir. Demi mendapatkan uang, kadang Ia tak merasa jijik untuk membersihkan sepatu-sepatu milik para penumpang ataupun penjemput yang kebetulan sedang berada di Bandara tersebut.

“Biasa saja, kalau kita jijik mana dapat uang. Nggak terpikir ke situ, yang penting sepatu yang Saya semir menjadi bersih saja,” ucap Junus yang sedari tadi nampak kelihatan diam.

Joni dan Junus mengaku, tak jarang Ia berdua harus berurusan dengan pihak keamanan Bandara, karena dinilai pekerjaan mereka mengganggu kenyamanan Bandara. Tapi, itu bukan menjadi ancaman yang menakutkan baginya. Karena, ada ancaman lain yang lebih ditakutkannya lagi. Yakni, para preman yang sering memalaknya.

Gara-gara preman inilah, pendapatan Joni dan Junus berkurang. Jika ketemu dan berpapasan dengan para preman, Ia berdua harus kehilangan sekitar 5 ribu rupiah untuk diberikan kepada pemalak. Soalnya, Ia tidak ingin menanggung resiko jika tidak memberikan bagian kepada para preman.

‘Dari pada di pukulin sama mereka, lebih baik Saya kasih saja. Banyak bang, preman di sekitar Bandara Polonia ini. Makanya, kalau pulang kadang kita berdua nyari jalan yang aman, agar nggak ketemu sama mereka,” ujar Joni.

Dalam sehari, rata-rata Joni dan Junus bisa membawa uang dari hasil menyemir sepatu sebesar 20 ribu per orang. Namun, kadang hanya 10 ribu saja yang bisa Ia bawa ke rumah. Uang ini dikumpulkan, untuk tambahan biaya sekolahnya.

”Sampai rumah sih kadang nggak pasti jumlahnya, soalnya kan dikurangi untuk biaya angkot atau beli-beli minuman kalau lagi haus. Bersihnya, biasanya hanya 10 ribu saja. Sebagian di simpan, sebagian lagi di kasih sama ibu, untuk beli-beli sesuatu,” tegas Joni.

Cita-cita Pingin Jadi Dokter

Ada satu motivasi yang besar dari dalam hati Joni dan Junus untuk memutuskan bekerja sendiri. Mereka berdua tidak ingin pendidikannya terputus hanya gara-gara kedua orang tuanya tidak sanggup membiaya sekolahnya. Menjadi penyemir sepatu menjadi jalan baginya untuk menempuh cita-cita yang saat ini sudah terpatri dalam pikirannya.

Sejak masih kecil, keduanya mengaku memiliki keinginan menjadi seorang dokter. Inilah alasan kenapa mereka berdua rela bekerja, meskipun seharusnya usia seperti mereka belum pantas untuk menanggungnya. Masa-masa bermain pun, harus terenggut oleh keadaan.

”Nanti kalau sudah besar, Saya ingin menjadi dokter. Bisa mengobati keluarga dan orang lain yang sakit. Makanya, kata guru-guru di sekolah, untuk menjadi dokter harus rajin belajar biar pintar,” seru Joni, yang menyempatkan belajar sebentar setelah pulang bekerja.

Senada dengan sang kakak, Junus, sang adik pun punya cita-cita dan keinginan yang sama dengan sang kakak. Menjadi seorang dokter sepertinya sudah melekat dalam pikirannya saat ini.”Sama bang, kalau sudah besar nanti Saya ingin menjadi dokter.Bisa membantu orang yang sakit,” ujarnya dengan polos.

Bukan perkara mudah bagi Joni dan Junus menaklukkan kerasnya kehidupan ini. Namun, motivasi dalam dirinya telah mengalahkan segala rintangan yang menghadang di depannya. Keinginan yang kuat dalam dirinya, menjadi modal baginya untuk mencapai cita-cita yang sudah diidam-idamkan sejak kecil.

“Kalau Saya bisa mendapatkan uang yang banyak, Saya akan melanjutkan sekolah yang lebih tinggi. Dan masuk kuliah nanti, pingin menjadi seorang dokter. Habis itu, Saya bisa mengobati orang lain,“ serunya menceritakan profesi yang di idolakannya.

Nggak Pernah Mengenal Malu di Sekolah

Beban berat bukan hanya di pikul Joni dan Junus saat bekerja saja, tetapi juga di sekolah. Tak jarang, kawan-kawan sekolahnya mengejek pekerjaan yang Ia lakukan. Namun, mereka berdua mengatakan tidak pernah menghiraukan ejekan dari kawan-kawannya.

”Sering juga di ejek-ejek sama kawan-kawan di sekolah. Tukang semir sepatu-tukang semir sepatu, begitu katanya. Tapi, Saya tidak pernah memperdulikannya. Pernah lah sekali-sekali marah,“ terang Joni sambil menirukan ejekan yang dilontarkan kawan-kawan sekolahnya.

Beruntung baginya, karena ayah dan ibunya tetap memberikan motivasi, walaupun secara langsung sebenarnya ayah dan ibunya tidak memaksa mereka untuk terus bekerja menjadi tukang semir sepatu.

“Kata ibu sih, kalau mau bekerja ya bekerja, asal jangan bekerja yang tidak-tidak. Biarkanlah kawan-kawan mengejek, yang penting apa yang kita dapat itu bukan dari hasil mencuri,“ jelas Joni yang selalu mengingat petuah-petuah yang diberikan ibundanya.

Petuah inilah yang selalu dijadikan pedoman hidup bagi Joni dan Junus dalam bekerja. Tak hanya di sekolah, rasa malu dan gengsi saat bekerja ketika di lihat-lihat oleh orang banyak bukan lagi sebagai halangan baginya untuk mencari tambahan uang sekolah.

Semua dilakukannya untuk menyambung dan mencari kehidupan yang lebih baik. Profesi dokter, sepertinya bak pekerjaan seorang pahlawan baginya. Tak heran, saat ditanyai Global, baik Joni maupun Junus selalu menyebut kata-kata dokter beberapa kali.


Responses

  1. salam kenal mas,
    aku mau tanya kira2 mereka di bandaranya sebelah mana ya mas? makasih sebelumnya


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: