Oleh: triy | September 2, 2008

Jangankan Pesta, Biaya Hidup Saja Pas-pasan

tak ada biaya

tak ada biaya

Tri Yuwono | Medan

Rasa cemas dan takut jelas terlihat di wajah Rahmad Prayoga. Sesekali ia memerhatikan tim dokter yang keluar masuk ruangan Puskemas dari sebuah kaca jendela yang berada persis di sebelahnya. Pantas saja Yoga, begitu ia dipanggil, kelihatan cemas, karena siang itu anak lelaki berusia 11 tahun ini sedang menunggu giliran untuk dikhitan.

Tak jauh berbeda dengan Yoga, Nurdaim (12 tahun), yang duduk persis di belakangnya juga terlihat tampak tegang. Bahkan, Nurdaim yang didampingi ibunya beberapa kali sempat keluar masuk pintu depan Puskesmas. Yoga dan Nurdaim adalah 2 dari 54 anak yang akan dikhitan di Puskemas ini.

“Takut sih sedikit, soalnya tadi melihat kawan-kawan yang lain ada yang menangis setelah habis disunat. Tapi, katanya sakitnya cuma sebentar saja. Habis itu tidak sakit lagi, karena itulah Saya berani disunat,” ungkap Yoga yang mendapat nomot urut ke-45 ini.

Senada dengan Yoga, Nurdaim pun mengaku agak takut saat melihat beberapa kawannya yang sudah disunat ada yang menangis. Padahal, ia mengaku sudah menyiapkan diri sejak beberapa hari yang lalu dengan banyak istirahat. “Nggak ada persiapan khususnya, kata ibu cuma disuruh istirahat saja, biar nanti kalau disunat tidak terasa sakit,” seru Nurdaim.

Nurdaim yang tahun ini akan masuk SMP ini mengaku, sebenarnya sudah setahun lalu dirinya meminta kepada ibu dan ayahnya untuk dikhitankan. Namun, karena kondisi ekonomi keluarganya pas-pasan, membuat dirinya harus menunggu waktu untuk dikhitan, walaupun Ia sesekali harus menanggung malu karena diejek beberapa kawan-kawannya.

“Kata ayah dan ibu nanti saja, kalau sudah punya uang. Soalnya, waktu itu katanya belum ada uang untuk biaya sunat. Uangnya digunakan untuk makan sehari-hari dan untuk biaya sekolah Saya,” jelas Nurdaim dengan polos.

Meskipun agak merasa takut dan cemas, baik Yoga maupun Nurdaim mengaku siap, jika siang itu harus dikhitan. “Siaplah Bang, soalnya nanti kalau menunggu tahun depan. Malulah diejek kawan-kawan. Masak sudah besar belum disunat,” ujar Yoga menambahi.

Bersyukur

Kegiatan sunat massal ini ternyata membawa berkah bagi para orangtua yang mengikutkan anaknya untuk dikhitan di sini. Pasalnya, jika dilakukan sendiri, biaya yang harus mereka keluarkan lumayan banyak. Padahal, rata-rata pendapatan mereka sehari-hari hanya cukup untuk makan keluarga sehari.

“Bersyukur jugalah ada kegiatan seperti ini. Sangat meringankan kami dari keluarga yang kurang mampu. Soalnya, kalau dihitung-hitung biaya untuk mengkhitankan anak bisa mencapai ratusan ribu, itu belum termasuk biaya yang lain, seperti mengadakan pesta ataupun syukuran,” jelas Harni, orangtua Nurdaim.

Warga Gang Cita Pasar 5 No 7 Padangbulan ini menceritakan, karena kurangnya biaya untuk mengkhitankan sendiri anak-anaknya. Hanya anak yang ketigalah, yang diadakan pesta saat dikhitan. Khitan anak pertamanya juga dilakukan saat acara sunat massal, sementara anak yang kedua dibiayai oleh kakeknya.

“Apalagi di zaman sekarang ini, bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari saja, Saya sudah bersyukur. Suami Saya kerjanya tidak tentu, jadi nggak terpikir sedikitpun untuk mengadakan acara besar-besaran untuk khitan anak Saya. Nggak ada biaya untuk itu,” papar Harni.

Alasan Harni juga didukung Ima, Ibunda Yoga. Wanita berusia 45 tahun ini merasa bersyukur dengan adanya kegiatan seperti ini. Pasalnya, Ia mengaku tidak sanggup jika harus mengkhitankan sendiri anaknya. Mahalnya biaya pengobatan menjadi alasan utama baginya. “Kalau dikhitan sendiri ke dokter, biayanya kan mahal. Jadi, lebih baik ikut aja kegiatan sunat massal seperti ini,” serunya.

Bisa Untuk Biaya Sekolah Anak-anak

Baik Ima dan Harni mengaku jika kegiatan ini sangat membantu alokasi anggaran biaya rumah tangganya. Karena, di tahun ini mereka berdua juga sedang dipusingkan dengan biaya sekolah anak-anaknya. Bahkan, mereka berdua harus tutup lubang gali lubang membiayai anak-anaknya sekolah. Karena, pada tahun ini baik Yoga maupun Nurdaim akan masuk SMP.

“Karena ini gratis, jadi biaya yang sebelumnya sudah Saya alokasikan untuk Yoga sunat bisa digunakan untuk biaya sekolahnya. Soalnya, bulan depan dia sudah masuk SMP. Dan pasti biaya sekolahnya tambah banyak dibandingkan SD,” jelas Ima.

Ima melanjutkan, sebenarnya bukan hanya Yoga saja yang membutuhkan biaya untuk sekolah. Karena beberapa anaknya lagi juga masih membutuhkan biaya untuk sekolah. ” Ada tiga lagi anak Saya yang masih sekolah,” ujar Ima yang mengaku tinggal di Jalan Sedap Malam No 16 Pasar VIII Padangbulan ini.

Kondisi serupa juga dialami oleh Harni, dari keempat anaknya, dua anaknya lagi kini juga masih duduk di bangku sekolah. Sehingga biaya untuk sekolah anak-anaknya, lebih ia prioritaskan dari pada biaya pengeluaran lainnya, termasuk untuk mengkhitankan Nurdaim, putra terkecilnya.

“Yang pasti kita sangat terbantu dengan adanya kegiatan seperti ini, karena ke depannya masih banyak lagi biaya yang harus dikeluarkan, terutama buat anak-anak Saya yang masih sekolah. Kalau nggak ada kegiatan seperti ini, pasti kita akan mengeluarkan uang yang tidak sedikit,” jelas Harni bersyukur.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: