Oleh: triy | September 2, 2008

Heronimus Zebua : Untuk Makan Saja, Lumayan Bang

Heronimus Zebua

Heronimus Zebua

Tri Yuwono | Medan

“Jangankan untuk membeli-beli sesuatu, bisa makan untuk sehari saja saya sudah beruntung. Asal halal, kerja apapun akan saya lakukan. Membantu tugas kuliah kawan-kawan atau bahkan kerja di bangunan bukan masalah bagi saya. Tujuan saya hanya satu, bisa mencari tambahan uang kuliah dan untuk biaya makan sehari-hari”

Ungkapan di atas dikatakan Heronimus Zebua, mahasiswa Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian saat di temui Global, Jumat (23/11) di Kampus USU. Kondisi kedua orang tuanya yang hanya buruh pabrik, mau tak mau membuat Heronimus kerja keras dalam mewujudkan cita-citanya.

Pemuda kelahiran Gunung Sitoli, 10 Februari 1984 ini mengisahkan, keberhasilannya lulus pada tahun 2004 dalam testing PMP (Pemanduan Minat dan Prestasi) yang di adakan oleh USU, membuatnya merasa bahagia.Namun kebahagian tersebut hampir saja sirna, setelah kedua orangtuanya mengatakan tak sanggup untuk membiayai pendidikannya.

”Saya kemarin masuk USU kan lewat jalur PMP, karena kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan hampir membuat impian saya untuk merasakan bangku kuliah tak terwujud. Beruntung ada seorang guru (pak HR Gea), yang terus memberi motivasi saya. Dari situlah dengan nekad saya ke Medan,” papar alumni SMA Pemda 2 Nias ini.

Dengan bekal uang 700 ribu rupiah yang di dapat dari beasiswa murid Teladan. Heronimus mengurus segala perlengkapan masuk kuliah di USU. ”Saat tiba di Medan, uang itu hanya tersisa berapa ratus ribu lagi , karena di pakai untuk ongkos di perjalanan,” ujarnya lagi.

Sampai di USU, ia sempat terduduk lemas setelah mendengar biaya administrasi yang harus ia bayar mencapai 2 juta lebih. Kebimbangan dalam hatinya kembali muncul, apakah ingin di teruskan atau berhenti sampai di situ. Keinginan hatinya untuk bisa belajar di perguruan tinggi, akhirnya menepis kebimbangan hatinya.

”Waktu mendengar itu, saya mengaku terus terang kalau saya tidak ada uang sebesar itu. Kemudian saya di suruh untuk ke Birek (Biro Rektor)melaporkan hal itu. Lewat sebuah perjanjian(selama dua bulan-red) akhirnya saya diperbolehkan untuk mengikuti perkuliahan,” kisah Heronimus yang mengaku pada waktu itu tinggal dengan pamannya di daerah Kampung Durian.

Dua bulan berlalu, namun uang juga belum di dapatnya. Keputusan untuk berhenti kuliah kembali berada di benaknya. Ia mencoba berpikir bagaimana mendapatkan uang tersebut, akhirnya kerja menjadi kuli bangunan dengan upah 15 ribu sehari ia lakukan. Tapi hasilnya masih kurang memuaskan, jangankan untuk biaya uang kuliah, untuk biaya makan sehari-hari saja pas-pasan.

Seorang senior di Jurusannya yang melihat Heronimus merenung di Kampus, bertanya apakah ia mengalami masalah?. Namun, karena ia memang tidak ingin menyusahkan orang lain, ia jawab tidak. Karena desakan dari seniornya, akhirnya ia mengaku kalau ia tidak ingin melanjutkan kuliah lagi karena tidak sanggup membayar uang kuliah.

Dengan diam-diam hari itu juga, ia diajak seniornya untuk masuk ke kelas, di dalam kelas seniornya tersebut mengatakan bahwa Heronimus membutuhkan bantuan untuk biaya kuliah.“Saya nggak nyangka kalau abang itu(seniornya-red) mengatakan hal itu kepada teman-temannya, setelah seminggu, saya diberinya uang hampir 1 juta yang berasal dari sumbangan kawan-kawannya. Uang itulah yang kemudian saya gunakan untuk mencicil uang kuliah,’ paparnya sambil mengingat.

Pindah-Pindah Tempat Tinggal, Ingin Berkumpul Dengan Keluarga

Tahun pertama masuk kuliah harus di lalui Heronimus dengan perjuangan yang berat. Kecerdasannya dalam mengikuti mata kuliah membuat dia mendapatkan beasiswa PPA(Peningkatan Prestasi Akademik). Meskipun kecil, tapi dari beasiswa inilah ia merasa terbantu. Paling tidak ia tak memikirkan masalah biaya kuliah.

Tapi bukan berarti perjuanganya berhenti di situ, karena ia juga butuh biaya untuk kebutuhan sehari-hari terutama untuk makan dan tempat tinggal.“Kalau untuk masalah makan, kadang makan tiga kali sehari kadang juga tidak makan. Tapi saya bersyukur juga karena punya kawan yang baik, paling tidak bisa numpang untuk tinggal di kos-kosannya, kalau seandainya saya tidak berada di tempat paman,“ Ujar Heronimus.

Untuk menunjang aktivitasnya sehari-hari, sepeda warna putih dijadikan teman setianya kemanapun ia pergi. Dalam satu hari ia biasa keliling Medan hingga jarak 30 km dengan sepeda kesayangannya tersebut.”Sepeda inilah teman saya tiap hari, kalau saya nginap di rumah paman yang ada di daerah Krakatau atau di daerah yang lain saya selalu memakai sepeda ini. Karena untuk naik angkot kan ngeluarkan biaya lagi,” terang Heronimus.

Saat ini Heronimus mengaku sangat ingin bertemu dan berkumpul dengan keluarganya. Pasalnya, sejak ia pindah ke Medan pada tahun 2004 silam, ia tak pernah lagi berkumpul dengan keluarganya.”Sampai sekarang saya belum pernah ketemu dengan ayah, ibu dan saudar-saudara saya. Terakhir ketemu saat masih di Nias sekitar tiga tahun yang lalu,” ingat anak ke empat dari enam bersaudara ini.

Seperti halnya Heronimus yang merantau ke Medan, sejak saat itu, ayah dan ibu serta dua orang saudaranya juga merantau ke Padang untuk bekerja di buruh pabrik. Satu saudaranya lagi berada di Jakarta, sementara kedua adiknya di asuh oleh saudara ayahnya yang berada di Nias.

“Ayah dan ibu pindah ke Padang dengan membawa kedua saudara saya. Sementara saudara yang lain juga jauh dari saya. Terus terang saya sangat rindu dengan mereka. Mau ke Nias saat liburan itu tidak mungkin, karena pada waktu liburan lah saya bisa mencari uang dengan bekerja,” sebut putra pasangan Baziduhu Zebua dan Mariani br Zilywu.


Responses

  1. Q slut ma prjuangan lo!

  2. Q slut ma prjuanganny!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: