Oleh: triy | September 2, 2008

Dede Richo Idol : Ku Tebus Kesalahanku Dengan Prestasi

Richo Idol

Richo Idol

Tri Yuwono | Medan

Sebuah gitar usang menjadi teman setia Dede Richo atau sekarang lebih akrab di panggil dengan Richo Idol. Remaja kelahiran 23 September 1989 ini mengaku tak pernah bisa lepas dari kegiatan yang saat ini dilakukannya, yakni bernyanyi. Tiap malam, bersama dengan puluhan pengamen jalanan, Ia menembus dinginnya malam untuk mengais rezeki ditemani gitar usangnya.

Jejeran warung kopi yang terletak di dekat Rumah Sakit Elizabeth Medan menjadi tempat nongkrongnya. Di sini pulalah, bakat terpedamnya dalam bernyanyi di pertunjukkan. Impiannya melambung tinggi, setelah Ia dinobatkan menjadi wakil Kota Medan untuk mengikuti kontes Indonesian Idol di Jakarta. Meskipun, selanjutnya dia harus gagal di babak sembilan besar. Richo tetap optimis dalam menyongsong masa depannya.

“Menyanyi adalah kegemaran Saya sejak masih kecil. Apapun Saya lakukan untuk memenuhi hobi Saya ini. Bahkan, kemudian Saya berani mengorbankan pendidikan Saya hanya untuk mengikuti hobi. Walaupun, di kemudian hari Saya menyesal melakukan tindakan itu,” ungkap Richo mengawali cerita saat di temui Global di rumahnya, Jalan H.M Yamin Gg Ketoprak No 6 Medan kemarin.

Sesekali tersenyum Richo menceritakan awal dirinya dalam menghadapi perjalanan hidup. Suka duka dalam kehidupan pernah di rasakannya. Rasa menyesal jelas terlihat di mata Richo, ketika di tanya Global tentang lika-liku dalam kehidupannya. Tapi Richo memiliki jiwa besar, Ia mau mengakui kesalahan-kesalahan yang telah di perbuatnya.

“Saya dulu orangnya bandel. Sekolah hanya sampai kelas 2 SMA. Tapi, menyesal tidak ada gunanya lagi. Inilah hidup, Saya mengaku salah. Kenapa harus meninggalkan pendidikan Saya. Tapi, setelah sedikit banyak mengerti arti kehidupan sesungguhnya. Saya tetap bersyukur, karena Saya masih di beri kesempatan untuk menunjukkan prestasi Saya,” ujar Richo yang mengaku berhenti sekolah di Bandung ini.

Richo mencoba untuk tegar dalam menjalani hidup. Sekembalinya dari Bandung, Ia pun mencoba bertahan hidup di Medan. Meskipun orang tuanya mengaku marah dengan keputusan Richo, tapi menurut Richo kedua orang tuanya tetap memberikan motivasi.

Demi bertahan hidup, Richo tidak bergantung sepenuhnya kepada kedua orang tuanya. Ia mencoba mencari pekerjaan sendiri, dari mulai jualan rokok, roti donat, gula-gula kapas, mengamen hingga menjadi penyiar atau nge-MC di acara-acara kecil-kecilan dilakoninya.“Walaupun Saya pernah jualan di jalanan, Saya juga pandai jadi pembawa acara lho…,” tambahnya seraya tersenyum.

Tahu Lolos Indonesian Idol Dari Handphone Kawan Dekat

“Kalau kamu sudah menentukan jalan hidupmu, lakukan dan jangan pernah menyesal. Kalau ingin menjadi penyanyi, jangan hanya menjadi seorang pengamen saja, tapi tunjukkan kalau dirimu bisa lebih dari itu.”

Ungkapan di atas yang di sampaikan oleh sang bunda tercinta, Umi Milana atau lebih akrab di sapa Mami Ella bagaikan sebuah ilham yang dapat membuka hati Richo. Richo pun mencoba menuruti saran sang bunda. Di ajang Indonesian Idol ke empat (yang dimenangi oleh Rini), Richo mencoba mendaftar menjadi peserta. Tapi, Ia gagal total. Bukan pujaan yang Ia dapatkan, tapi ejekan dari dewan juri.

“Setelah mama bilang begitu, Saya sadar dan menyesal, tapi kemudian juga termotivasi. Saya pun berpikir tidak ingin mengecewakan mama. Mama selalu memberikan support kepada Saya. Walau keikutsertaan Saya yang pertama sangat mengecewakan mama,” terang Richo dengan suara agak serak.

Rasa frustasi sempat muncul dalam diri Richo setelah gagal mempersembahkan prestasi buat sang bunda. Setahun berikutnya, dengan niat untuk menebus kesalahan kepada kedua orang tuanya. Diam-diam Richo mendaftar kembali di ajang Indonesian Idol ke lima. Richo harus bersaing dengan 10 ribu peserta yang berasal dari daerah sumatera bagian utara.

Registrasi dengan nomor 212054 yang tersemat di dadanya, menjadi cambuk baginya untuk bisa mengalahkan ribuan peserta. Seleksi ini belum berhenti, ada beberapa tahap lagi yang harus dilaluinya. Ratusan ribu peserta yang berasal dari Indonesia mencoba beradu bakat untuk mendapatkan tiket masuk 10 besar. Dan ternyata, dari 10 besar tersebut Richo adalah salah satunya.

Richo pun mengaku tidak memiliki firasat apapun saat dirinya terpilih menjadi wakil Kota Medan. Seperti biasa, malam itu bersama dengan kawan-kawan sesama pengamen. Richo mengamen di warkop Elisabeth. Ketika sedang nongkrong, Robi salah seorang kawannya memberikan ucapan selamat kepadanya, dan mengatakan bahwa dia lolos audisi.

“Kan Saya tidak memiliki handphone, jadi kemarin pas pendaftaran nomor kontaknya memakai nomor HP kawan Saya. Pertama saat di kasih tahu Saya tidak percaya. Tapi, setelah Saya hubungi lagi panitia yang ada di Medan, ternyata kabar itu betul,” seru Richo yang baru beli HP setelah ikut Indonesian Idol ini.

Mendengar hal itu, Richo kemudian bilang kepada sang bunda yang saat ini tinggal di Pulau Bintan, bahwa dirinya berhasil masuk dan akan mengikuti seleksi di Jakarta. Setitik harapan terbentang dihadapannya. Rasa bersalahnya sedikit demi sedikit mulai terobati.

“Waktu itu Saya tidak tahu harus berkata apa lagi. Mama juga saudara-saudara yang lain merasa terharu. Saya pun mencoba untuk tampil baik dan tidak ingin mengecewakan mereka. Saya ingin menebus kesalahan yang telah Saya buat sebelumnya dengan prestasi ini,” ujar anak ketiga dan empat bersaudara ini.

Janjikan Pengamen di Warkop Elizabeth Gitar

Meski dirinya sudah menjadi salah seorang artis, bukan berarti Richo lupa dengan lingkungan yang membesarkan namanya. Sekembalinya dari Jakarta setelah tereliminasi di babak sembilan besar, Richo pun hanya menunggu hasil akhir siapa yang menjadi next Indonesian Idol, seraya menunggu dirinya dipanggil kembali ke Jakarta sesuai dengan kontrak yang telah disepakati oleh piahk panita.

Selama menunggu inilah, sesekali dirinya menyempatkan diri untuk berkunjung di tempat biasa Ia mengamen. Sebelum berangkat ke Jakarta, Richo mengaku sempat berjanji untuk membelikan satu buah gitar baru bagi kawan-kawannya.

’’Kawan-kawan pengamen di sini adalah bagian dari hidup Saya. Makanya, sebelum berangkat kemarin, Saya sudah berjanji kepada kawan-kawan, kalau Saya masuk 10 besar semua pengamen yang ada di sini akan Saya belikan gitar baru semuanya,’ papar Richo yang memperkirakan ada sekitar 30-an pengamen di tempatnya mangkal.

Selain sederhana, sosok Richo memang bersahabat. Meski, dirinya sudah bisa di bilang artis, bukan berarti melupakan kawan-kawan lama dan tempat nongkrongnya sehari-hari. Beberapa kali Ia berjanji untuk tidak melupakan kawan-kawan ngamennya, jika suatu saat nanti dirinya sudah terkenal.

Namun sayangnya, lanjut Richo, karena hadiah dari pihak panitia hingga saat ini belum Ia terima, terpaksa janji untuk membelikan gitar masih belum kesampaian.“Beruntung Saya punya kawan-kawan seperti mereka, karena mereka mau mengerti. Tapi, Saya tetap akan menepati janji saya untuk memberlikan gitar jika nanti hadiahnya sudah Saya terima,“ paparnya.

Usut punya usut, Richo mengaku gitar yang akan Ia berikan kepada para kawan-kawannya adalah sebagai kenang-kenangan darinya, jika suatu saat dirinya tidak bisa tinggal lama di Medan lagi.

“Hanya gitarlah yang menurut Saya selalu dekat dengan kawan-kawan pengamen di sini. Jadi, dengan gitar yang Saya berikan satu persatu nanti, Saya berharap kepada kawan-kawan, bahwa Richo yang sekarang tidak akan pernah berubah, seperti juga Richo yang dahulu. Tidak ada sebutan artis, Saya tetap pengamen, mungkin hanya tempatnya saja yang berbeda,“ terangnya.

Aku Ingin Melanjutkan Sekolah Lagi

Penyesalan memang selalu datang terlambat, tapi bukan berarti peluang untuk mendapatkan yang lebih baik tertutup.Kenyataan ini juga dialami oleh Richo. Keputusannya untuk keluar dari sekolah ketika kelas 2 SMU, membuat penyesalan dalam dirinya. Karena itulah, jika masih diberikan kesempatan, Richo akan melanjutkan pendidikannya yang terputus dua tahun lalu.

‘’Kalau menyesal ya pastilah. Saya waktu itu hanya berpikir jangka pendek saja, tapi tidak memikirkan jangka panjangnya. Baru sekaranglah Saya menyesalinya. Walaupun sudah terlambat, Saya tetap memiliki keinginan untuk bisa melanjutkan sekolah lagi,’’ ujarnya sambil beberapa kali mengusap keningnya.

Meskipun terlambat, Richo tetap optimis dalam menyongsong masa depannya. Ia selalu mencoba untuk tegar dalam menghadapi kerasnya kehidupan. Proses hidup telah dijalaninya dengan berbagai suka dan duka. Menyesal masih tetap selalu dirasakanya, tapi Ia tidak ingin keadaan seperti ini berlarut-larut.

’Yang berlalu biarlah berlalu, Saya ingin mencoba kehidupan yang baru. Pelajaran hidup telah banyak Saya rasakan dan pelajari. Masih ada jalan panjang ke depan yang harus Saya lalui. Saya nggak mau menyerah begitu saja. Tuhan pasti memberikan jalan yang terbaik bagi Saya,’ seru penyuka musik aliran rock ini.

Salah satu yang membuat Richo punya motivasi besar untuk bisa mewujudkan cita-citanya menjadi seorang penyanyi tak lain adalah dukungan yang besar dari keluarganya. Meskipun terpisah jauh dari ayah dan ibunya, tapi Richo masih memiliki abang dan adik yang selalu mensupportnya selama tinggal di Medan.

‘Kalau ibu dan ayah selalu memberikan motivasi bagi Saya biasanya hanya lewat telpon. Karena tempat tinggal kita kan saling berjauhan. Biasanya, kakak dan abang yang setiap saat mengingatkan Saya jika salah. Mereka semua adalah bagian yang tak terpisahkan dalam hidup Saya,’ jelas Richo didampingi abangnya Riki, seraya menutup pembicaraan.

Iklan

Responses

  1. wah di masukin blog juga yah…..??????

    • kak richo mnta almt e-mailnya ya….

  2. hi…..
    alamat e-mailnya dong…!
    aq ngefans bgt sma qm..

  3. hahaha…nih anaka kan bandel banget waktu smp…..ashhole….mantap my man


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: