Oleh: triy | September 2, 2008

Dari Sepatu, Saya Dapat Tambahan Uang Jajan

dari sepatu untuk sekolah

dari sepatu untuk sekolah

Sebuah mobil Hyundai warna hitam nampak terlihat memasuki gerbang pagar Masjid Agung Medan. Pelan-pelan mobil mewah ini mencoba menerobos lalu lalang orang-orang yang akan menunaikan ibadah solat Jumat. Di pandu oleh seorang tukang parkir, mobil berpenumpang tiga orang itu berhenti tepat di sisi halaman luar masjid.

Dengan memakai stelan busana koko warna putih, ketiga penumpang itu turun. Selanjutnya bergegas masuk ke halaman Masjid. Saat sedang asyik melepaskan sepatu, puluhan anak-anak mencoba mendekatinya. Mereka nampak terlihat berbincang-bincang sambil sesekali tersenyum.

Namun, diantara puluhan anak tersebut, hanya Andi yang menampakkan raut muka bahagia. Sementara, yang lainnya berlalu dengan raut sedih. Pantas saja Andi terlihat senang, ternyata Ia berhasil meyakinkan ketiga orang tersebut untuk mau menitipkan sepatu kepadanya.

“Siapa cepat dia yang dapat. Pandai-pandai kita lah bagaimana agar orang mau menitipkan sepatunya kepada kita,” ungkapnya saat di temui Global di tengah-tengah akan berlangsungnya ibadah Solat Jumat di Masjid Agung Medan kemarin.

Andi mengaku, bekerja menjadi penjaga sepatu sudah dilakoninya hampir lima tahun. Ketika Ia masih duduk di bangku, saat dirinya masuk duduk sekolah dasar(SD). Selain untuk menambah uang jajan, uang hasil dari menjaga sepatu ini di berikannya kepada ibunya. Meskipun uang yang Ia dapat tidak banyak, namun menurutnya uang jajan selama beberapa hari tidak lagi meminta kepada sang ibu.

“Paling dalam sehari bisa dapat sekitar 15 ribu sampai 20 ribu. Soalnya kan ini seikhlasnya, tidak mematok berapa harganya. Kalau orang yang punya sepatu ini ngasih ya diterima, kalau nggak ya tidak apa-apa,” jelas siswa kelas 1 SMP Al Bukhari Medan ini.

Lebih jauh Andi bercerita, sejak ayahnya meninggal beberapa tahun yang lalu. Bersama dengan kakaknya, Ia membantu ibunya untuk mencari tambahan penghasilan keluarga. Untuk menopang biaya kehidupan sehari-hari, ibunya membuka kedai kecil-kecilan di rumahnya.

“Ayah sudah meninggal. Kerja ibu di rumah menjaga kedai. Walaupun tidak banyak yang Saya dapat dari sini, tapi Saya sudah tidak minta uang lagi sama ibu. Paling tidak untuk uang jajan sekolah saja,” seru Andi.

Pencuri Sepatu, Musuh Bagi Andi

Walaupun pekerjaan menjaga sepatu yang dilakoni Andi dan puluhan anak-anak ini nampaknya sepele, namun tetap saja pekerjaan ini memiliki resiko yang tinggi. Pasalnya, ternyata banyak para pencuri memanfaatkan situasi ramainya Masjid ini untuk melakukan aksi pencurian. Jika hal ini sampai terjadi, siap-siap saja Andi menerima akibatnya.

“Pernah sih mengalami hal seperti itu, makanya untuk menjaga ini biasanya kami kerjsama sama kawan yang lainnya. Satu orang mencari orang yang mau menitipkan sepatu, satu lagi menjaga di sini,” ujar Andi.

Andi menceritakan, kejadian itu terjadi saat hari raya korban. Banyaknya masyarakat yang datang ke Masjid, membuat dirinya kesulitan untuk menjaga sepatu yang dititipkan kepadanya. Tak tanggung-tanggung, lebih dari tiga pasang sepatu hilang dari tempat penyimpanannya.

“Ini susahnya, kalau banyak sekali orang yang datang kita harus waspada dan hati-hati. Waktu itu ada beberapa sepatu dan sandal yang dititipkan di sini hilang. Takut juga, karena yang punya sempat marah-marah. Tapi, mau gimana lagi. Paling Saya hanya bisa minta maaf saja, untuk menggantinya Saya tidak sanggup,“ paparnya.

Banyaknya masyarakat yang datang, ternyata bukan jaminan baginya untuk meraup penghasilan banyak. Karena, ramainya kondisi ini banyak juga orang yang memanfaatkan untuk berbuat jahat.“Kadang bingung juga, kalau yang datang sedikit, penghasilan kita juga sedikit. Tapi, kalau yang datang banyak takut kalau ada pencuri yang mengambil,“ tambah Andi yang bercita-cita menjadi pilot ini.

Karena Terpaksa, Lupakan Rasa Malu

Bagi Andi dan Hanafi serta anak-anak lainnya, bekerja seperti ini bukanlah hal yang diharapakannya. Namun, karena keterpaksaan membuat mereka melakukan hal ini. Padahal, anak-anak seusia dia seharusnya tidak berkecimpung seperti ini. Masa-masa mereka adalah masa untuk bermain-main.

’Pekerjaan ini karena terpaksa Bang. Soalnya, minta-minta sama ibu sering kena marah. Katanya tidak ada uang. Lagian untuk biaya hidup sehari-hari saja susah. Terpaksalah kerja seperti ini. Meski dapat sedikit tapi bisa lah untuk biaya tambahan sehari-hari,“ ujar Andi.

Meskipun begitu, Andi dan beberapa kawan-kawannya yang lain mengaku jika bekerja seperti ini bukan pekerjaan mudah. Secara pekerjaan memang mudah, tapi di luar faktor non teknis, seperti di ejek sama kawan-kawan sekolahnya, itu yang masih sangat sulit untuk diterima dengan lapang dada.

’Kalau untuk kerjanya sih tidak sulit, paling cuma nyemir, jualan koran bekas atau jaga sepatu saja. Tapi, yang sulit nerima itu kalau di ejek sama kawan-kawan. Apalagi yang ngejek kawan-kawan sekolah, kan malu Bang. Sempat mau berantam juga sih gara-gara hal seperti itu,“ kata Andi menceritakan.

Di dorong adanya keterpaksaan ini jugalah, rasa malu yang dialaminya pun lambat laun menghilang. Mereka semua sepakat jika pekerjaan yang dilakukannya ini adalah halal. Dengan cap halal ini, tidak ada lagi rasa malu untuk melakukannya.

“Dari pada kita mencuri, kan lebih baik Saya dan kawan-kawan bekerja seperti ini. Ini kan pekerjaan halal, kenapa harus malu. Saat ini kalau ada kawan-kawan yang mengejek, Saya biarkan saja. Yang penting Saya tidak minta lagi uang saya ibu di rumah. Saya bisa beli jajan dari uang Saya sendiri,“ ujar Andi sedikit bangga.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: