Oleh: triy | September 2, 2008

Amran Situmorang : Hanya Tiga Setengah Tahun, Saya melihat Indahnya Panorama Dunia

Amran

Amran

Hujan rintik-rintik tak menyurutkan langkah Amran Situmorang untuk bertemu Global di Kampus USU, Padang Bulan (15/11). Pagi itu, Setelah Global menunggu hampir limabelas menit di Fakultas Sastra, sebuah becak motor yang ditumpangi seorang pemuda masuk di halaman Jurusan Etnomusikologi USU.

Dengan menggunakan tongkat kesayangannya, Global mencoba menghampiri pemuda kelahiran 3 Juni 1985 ini. Meskipun kedua matanya tidak melihat, namun senyumnya memperlihatkan keramahannya.”Maaf ya agak lama, soalnya di angkot tadi jalannya macet,” katanya.

Sambil duduk di lantai, Amran mulai menceritakan kebiasaannya pergi ke kampus. Setiap hari ia berangkat dari tempat kos nya yang terletak di Jalan Setia Budi Gg Rahmat No 30 A Tanjung Sari Medan. Keinginan kuatnya untuk menimba ilmu seolah mengalahkan segala kekurangan yang di alaminya. Semuanya dilakukan dengan niat yang ikhlas.

“Sejak tidak tinggal lagi di Yayasan, saya mulai belajar hidup mandiri. Jadi, kalau mau pergi kemana-mana pun sendiri, termasuk saat mau ke kampus. Biasanya dari tempat kos saya naik angkot, dan setelah sampai di sumber(kawasan di USU-red), kemudian naik becak,” terang Amran.

Amran mengaku, sebenarnya sejak masih kecil ia tidak mengalami kebutaan pada kedua matanya. Namun, ketika usianya memasuki tiga setengah tahun, penyakit campak menyerangnya. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak memungkinkan untuk membawa Amran berobat, membuat Amran harus merelakan kedua matanya tidak bisa melihat.

Sejak saat itu Amran tidak bisa lagi menikmati keindahan dunia. Kedua orangtuanya pun hanya pasrah melihat kondisi yang di alami oleh Amran. “Selama ini saya tidak pernah mengeluh mengenai kondisi yang alami, saya yakin Tuhan itu maha adil. Keluarga saya juga hanya bisa pasrah dan berdoa saja. Namun, saya berprinsip bahwa saya juga sama dengan orang biasa yang normal,” ucap anak ketiga dari sembilan bersaudara pasangan M. Situmorang dan L. Sihotang ini.

Di tengah kepasrahan yang dialami oleh keluarganya pada waktu itu, sebuah Yayasan dari Medan yang bergerak di bidang sosial memiliki niat untuk membawa Amran ke Medan. Setelah seminggu kedua orangtuanya berpikir, akhirnya mereka sepakat jika Amran di bawa ke Medan.

Pindah Ke Medan

Setelah meninggalkan kampung halamannya Desa Parlilitan, Kabupaten Humbang (sekarang Tapanuli Utara-red), Amran kemudian di bawa ke Medan oleh Yayasan Karya Murni Medan Johor. Di sinilah ia memulai hidup baru bersama dengan anak-anak yang memiliki nasib yang sama dengannya.

“Dari sini saya mulai belajar semuanya. Belajar membaca dan menulis braile, belajar bersosialisasi dengan teman-teman dan yang paling utama adalah belajar hidup mandiri jauh dari kedua orangtua,” terang Amran yang mengaku sangat berterimakasih atas bantuan Yayasan Karya Murni.

Di yayasan sini jugalah Amran bisa menyelesaikan jenjang pendidikannya dari mulai taman kanak-kanak hingga sekolah menengah pertama(SMP). Karena dianggap sudah bisa mandiri, bersama dengan tiga orang temannya dari yayasan, Amran melanjutkan sekolah menengah atas(SMA) di SMA Raksana Medan. Hidup bersosialisasi dengan dunia luar pun mulai dijalani Amran.

“Sejak SMA saya sudah tidak tinggal di yayasan lagi, tapi masih tetap di bantu oleh pihak yayasan. Sejak itu saya mulai belajar mengenal dunia luar. Kebetulan ada dua orang teman yang berasal dari yayasan yang sekolah di SMA Raksana, jadi paling tidak saya ada teman saat pergi maupun pulang sekolah,” tutur Amran.

Kekurangan yang dimilikinya tidak menyurutkan langkah Amran untuk terus belajar. Buktinya, prestasinya di sekolah cukup membanggakan. Posisi sepuluh besar selalu di sandangnya. Meskipun, tak jarang ia menerima perlakuan kurang mengenakkan dari teman-temannya. Justru dari situ Amran semakin terpacu untuk terus belajar.

Masuk USU Bagai Mukjizat, Lihat Pengumuman SPMB Sampai Jam 4 Pagi

Bisa masuk menjadi mahasiswa Universitas Sumatera Utara(USU), sebelumnya tak pernah terbayang dalam benak Amran dan keluarganya. Pasalnya, dari delapan saudaranya, sampai saat ini hanya dia yang bisa mengenyam pendidikan tinggi.

“Hal ini menurut saya dan juga keluarga seperti sebuah mukjizat, karena sebelumnya tidak terbayang bisa menjadi mahasiswa USU. Untuk menyekolahkan anak-anaknya saja, kedua orangtua saya harus banting tulang menjadi petani di kampung,“ papar Amran.

Keikutsertaannya dalam ujian SPMB pada tahun 2004 silam juga bukanlah keinginannya. Karena pada waktu itu ia memiliki keinginan untuk langsung membantu kedua orangtuanya. Namun, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Ajakan kedua kawannya yang dulu sama-sama satu sekolah, membuat Amran mengurungkan niatnya untuk tidak melanjutkan pendidikan.

“Tak ada sedikitpun saya terpikir untuk kuliah, tapi karena ajakan dari kawan akhirnya saya coba juga. Karena memang tidak berpikir kesitu, jadi waktu menghadapi SPMB tidak ada sedikitpun persiapan saya. Kemudian semua urusan pendaftaran ditangani oleh pihak yayasan,“ terang pemuda yang juga jago bermain piano ini.

Perasaan bahagia dan syukur tak terbendung lagi. Setelah semalaman Amran bersama dengan kawan-kawannya mendengarkan dengan seksama pengumungan ujian SPMB yang dibacakan di radio. Walaupun, hingga jam setengah empat pagi, tak satupun nama mereka di sebut. Namun, sekira pukul empat pagi Amran tidak percaya jika namanya dibacakan oleh sang penyiar, kalau ia lulus di Jurusan Etnomusikologi USU.

“Perasaan saya waktu itu antara senang dan sedih. Senang karena saya bisa lulus dan sedih karena kedua kawan saya yang mengajak saya justru tidak lulus. Pilihan saya ada dua, satu di Unimed dan satu lagi di sini(USU-red). Dan ternyata yang lulus di sini,“ ingat Amran.

Jadi Panutan Para Junior, Kebanggaan Departemen Etnomusikologi USU

Kegemarannya bermain musik sejak masih di yayasan, membantu Amran dalam mengikuti mata kuliah di Jurusan Etnomusikologi. Meskipun secara lansung ia tidak bisa melihat bagaimana bentuk dan warna alat musik. Namun, beberapa alat musik seperti gitar dan piano mahir dimainkannya.

Di Jurusan Etnomusikologi, Amran juga termasuk mahasiswa berprestasi. Hal ini bisa dilihat dari nilai Indeks Prestasi Komulatif nya (IPK) selama ini.“Bagi saya pendidikan adalah segalanya, meskipun cara belajar saya berbeda dengan teman-teman yang normal. Dan saya bersyukur, saya masih bisa mengikuti mata kuliah dengan baik,“ ujar pemilik IPK 3,19 ini.

Prestasi inilah yang membuat teman-teman dan juga para junior serta dosen-dosen kagum kepadanya.“Bang Amran adalah panutan bagi saya dan juga teman-teman dalam belajarr. Saya sendiri banyak belajar dari dia, walaupun hasilnya tidak sempurna dia,“ ungkap Cikal, adik kelas Amran.

Ungkapan senada juga diungkapkan oleh Junaidi, mahasiswa Jurusan Etnomusiokologi angkatan 2006, menurut Junaidi, Amran adalah mahasiswa yang patut dijadikan teladan bagi mahasiswa lainnya. Kekurangan pada fisiknya tidak membuatnya malas untuk belajar.

“Terus terang saya sangat kagum kepadanya, meskipun tidak bisa melihat tapi dia bisa bermain musik sangat bagus. Dia memiliki kelebihan di bandingkan dengan orang lain, termasuk saya. Sepertinya kekurangan yang dimilikinya tidak terlihat karena kelebihannya,“ jelas Junaidi.

Sementara itu, Dra. Frida Deliana, M.Si selaku ketua Departemen Etnomusikologi, mengaku bangga dengan prestasi yang dicapai oleh Amran selama menjadi mahasiswa.“Yang saya kagumi dari Amran adalah dia tidak memiliki rasa minder terhadap lingkungan sekitarnya. Maka dari itu banyak teman-temannya yang suka membantu dia,“ ungkap Frida.

Frida menambahkan, Amran juga merupakan salah satu mahasiswa yang mengharumkan nama Jurusan.“Keterampilannya bermain musik sangat luar biasa, bahkan beberapa kali bapak Rektor mengundangnya ketika USU sedang mengadakan acara,“ sebutnya bangga.

Pingin Punya Piano Sendiri, Cita-Cita Jadi PNS

Musik sepertinya telah menjadi teman hidup bagi Amran. Gitar, satu-satunya alat musik yang ia miliki selalu menjadi temannya di saat sedih dan gembira. Ia mengaku tanpa ada gitar itu, sepertinya dunia ini semakin hampa.“Gitar itulah yang membuat saya terhibur, kalau lagi kesepian saya selalu memainkannya di kos bersama dengan kawan-kawan atau sendirian,“ ujar Amran.

Dari beberapa alat musik yang pernah ia pelajari, Amran mengaku sangat menyukai alat musik piano. Sayangnya, mahalnya harga piano membuat Amran hanya bisa membayangkan saja keinginannya untuk memiliki piano.

“Semua alat musik saya suka, tapi yang paling saya suka adalah piano. Tapi karena harganya yang mahal, sepertinya tidak mungkin saya bisa membelinya, mungkin kalau suatu saat ada uang saya akan membelinya,“ ujarnya lagi.

Saat di tanya Global apa cita-citanya, dengan tegas Amran menjawab ingin menjadi PNS. Oleh karena itulah, saat ini ia selalu belajar bagaimana caranya bisa masuk menjadi seorang PNS kelak.“Mungkin kalau Tuhan memberikan kesempatan, saya ingin pergi ke Jawa dan mencoba ikut tes PNS. Soalnya kan disana ada PNS khusus tunanetra,“ terang Amran.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: