AKU dilahirkan di sebuah desa kecil di punggung Gunung Wilis, Kabupaten Nganjuk. Salah satu kabupaten yang terletak di Jawa Timur. Aku hidup di tengah keluarga yang bahagia. Hidup di sebuah desa yang tenang dari kebisingan dan gempuran arus globalisasi memang mengasyikkan. Meskipun cukup sederhana.
Seperti halnya dengan bocah-bpcah kecil lainnya, hari-hariku kulai dengan main-main dan belajar. Pagi sekolah SD, sorenya ngaji di sebuah mushola yang letaknya sekitar 100-an meter dari rumahku. Malam pulang, belajar di rumah. Habis itu kadang balik kembali ke mushola. Maklum dulu saat masih SD sering tidur di mushola. Biar paginya bisa ikut ngaji.
Masa-masa SD bagiku adalah yang paling sangat menyenangkan. Meski di desa belum ada listrik, tv masih hitam-putih, tapi tetap saja memberikan sebuah rasa tenang yang amat luarbiasa. Sayangnya itu tidak bertahan lama. Ketika aku mulai masuk di kelas 6 SD, kenangan pahit harus aku alami. Karena penyakit, Ayah tercinta menghembuskan nafas terakhir. Padahal saat itu, hanya berselang sekitar dua minggu, kakak pertamaku akan melangsungkan pernikahan. Aku masih ingat bagaimana sedihnya kakak dan bunda waktu itu. Semuanya sudah dipersiapkan. Tapi, mau bagaimana lagi. Itulah kehendak yang di Atas.
Sejak saat itu, hanya Bunda-lah yang selalu menemaniku sehari-hari. Karena sang kakak di bawa suaminya, dan seorang kakak laki-lakiku kerja ke luar kota. Tiap malam aku selalu diberi nasehat dan dongeng-dongeng yang selama ini selalu aku ingat.
Tamat dari SD, aku melanjutkan sekolah menengah pertama(SMP 2 Nganjuk). Karena sekolah tersebut tempatnya di kota. Tiap hari aku pulang-pergi dari desa ke kota. Saat kemarin kawan-kawan di kantorku bercerita tentang kampung mereka masing-masing, Aku pun juga teringat bagaimana perjuangan mau sekolah dulu.
Jarak dari desa ke sekolah lumayan jauh. Sebenarnya ada yang dekat, cuma kualitasnya masih rendah, itu menurutku. Aku sendiri sebenarnya nggak mau untuk melanjutkan sekolah. Karena dari awal cita-citaku adalah bisa masuk di Pesantren Gontor Ponorogo. Tapi karena melihat latarbelakang keluarga yang sudah tidak memungkinkan lagi. Aku ambil juga kesempatan untuk sekolah di SMP.
Selepas Subuh, atau sekitar jam setengah lima pagi, dengan beberapa kawan yang kebetulan sekolah di kota, kami biasa berangkat bersama-sema. Menusuri jalanan berbatu yang menurun dan berkelok. Bercanda dan bernyanyi-nyanyi. Maklum hari masih pagi. Apalagi yang aku lewati adalah hutan. Di sebelah kiri jurang dengan paduan pohon jati dan sawah, sementara yang sebelah kanan dinding batuan gunung. Belum lagi harus selalu waspada kalau ada binatang. Butuh waktu sekitar setengah jam untuk turun bukit. Setelah sampai di sebuah desa dengan dua rumah(mungkin inilah desa di Indonesia yang jumlah rumah penduduknya paling sedikit). Bersama dengan kawan-kawan aku menunggu angkutan yang akan membawa ke kota.
Jika jalanan sepi dan penumpang banyak, angkutan bisa membawaku dengan waktu hanya 45-an menit. Tapi kalau lagi macet, atau nunggu penumpang, jarak waktu ke sekolah bisa sampai 1 jam lebih. Jam setengah tujuh pagi harus sampai di sekolah. Karena jam segitu pelajaran pertama di sekolah sudah di mulai.
Jam pulang sekolah adalah waktu yang paling aku tunggu-tunggu. Biasanya sekolah bubar jam 1 siang. Kalau lagi ada tambahan pelajaran, lebih baik ditunggu di sekolah. Tapi kalau nggak ada, perjalanan pulang dimulai. Waktu pulang emang yang paling mengasyikkan. Apalagi kalau sudah sampai mau naik gunung kembali ke desa.
Rasa takut adalah saat hari hujan yang diserta petir. Bahkan sempat beberapa kali harus pulang sampai jam 9 malam gara-gara hujan deras. Berteduh di hutan di bawah pohon-pohon jati. Karena itulah, kalau pulang sekolah aku biasanya tunggu-tungguan dengan kawan. Belum lagi jalanan di hutan ini dikenal angker. Dulu pernah ada sebuah truk yang jatuh ke jurang dan sopirnya tewas di tempat. Belum lagi beberapa kali di hutan ini juga sering terjadi ‘begal’ atau penculikan. Tapi di sinilah juga kerinduanku semakin memuncak kalau sudah inget dengan masa lalu. Dari beberapa sms yang aku terima dari temen-temenku beberapa waktu lalu, kawan-kawan itu ternyata udah banyak yang menikah. Kurang ajar, padahal dulu kita udah janji kalau mau nikah bilang-bilang. Ironisnya, cuma aku yang belum nikah. He..he.he… adoh… kapanlah rek iso nyusul sampeyan-sampeyan.

Darah-darah Muda
9 Mei yang Tak Pernah Terlupakan
Tiada yang lebih menyedihkan bagiku selain pada hari Senin tanggal 9 Mei tahun 2000. Masih inget dalam benakku. Saat itu aku sedang ujian Ebtanas di hari pertama. Dua bulan persiapan dengan les tambahan dan belajar rajin semuanya berantakan. Semuanya musnah dalam sekejap. Rumus-rumus dan semua hapalan yang kuhapal hilang dan lenyap semuanya.
Jam 11 siang. Ujian pelajaran Fisika. Waktu masih ada sekitar 20-an menit. Soal-soal yang belum aku kerjakan ada sekitar 10-an soal lagi. Perasaan ku dari pagi memang sudah deg-degan. Tiga orang pengawas ujian matanya tak pernah lepas dari setiap sudut ruangan. Beruntung saat itu aku duduk di dekat jendela, dimana di sampingku sebuah taman dengan kolam renang dan beberapa suara burung yang ada di dua sangkar. Sehingga membuatku lebih rileks, meskipun aku nggak tahu jawaban yang kujawab betul atau salah. Karena emang aku paling benci dengan pelajaran hitung-menghitung. Kecuali hitung uang. Kalau orang Medan bilang, hajar terus coi…
“Waktu tinggal 20 menit,” ujar seorang pengawas yang sedang asyik membaca koran. Tok…tok…tok… seorang pria berjenggot, kurus mengetok pintu ruangan ujian. Aku tahu dia adalah bapak wakil kepala sekolah. Dari awal dia masuk, perasaanku kok agak aneh. Tapi aku juga nggak tahu kenapa. Aku cuma bisa berhayal.
Bapak itu langsung mendekat ke pengawas. Sambil berbisik sebentar, kemudian langsung memanggil namaku. Semua mata yang ada di kelas tertuju kepadaku. Aku juga nggak tahu kenapa. “Kamu bawa aja kertas ujiannya,” ujarnya. Aku pun mengikuti langkahnya menuju ke kantor. Tak ada percakapan selama jalan. Aku lirik, bapak itu hanya menundukkan kepalanya saja. Sebelum masuk ke dalam ruangan guru, bapak wakil kepala sekolah mendongakkan kepala sambil tersenyum kecil. “Sabar ya dik,” serunya lagi. Aku yang mendengar itu, nggak mengerti apa-apa. Dan hanya menebak-nebak saja.
Saat kaki ini melangkah ke dalam ruangan kantor. Aku melihat dua orang yang sudah aku kenal. Sambil meneteskan air mata, dia cuma bilang, “Sabar ya tri,’ terangnya. Setelah pamit dengan bapak wakil kepala sekolah, aku di ajak langsung ke parkiran. Kertas ujian yang masih kupegang kuserahkan langsung ke kepala sekolah.
Sampai di perjalanan suasana hening. Pikiranku benar-benar dalam tingkat imajinasi yang tinggi. Sekitar 1 kilometer setelah mobil yang kutumpangi meninggalkan sekolah, seorang perempuan yang memang sudah kukenal mendekat dan mencoba merangkulku.”Sing duwe Allah, kabeh uwong-uwong iku balik ke Allah. Sing sabar yo tri,” ucapnya sambil menangis. Aku terdiam sampai beberapa detik. Nggak bisa bilang apa-apa. Mulut ku seperti terkunci. Seketika itu juga, aku meneteskan airmataku. Bundaku telah tiada untuk selama-lamanya. Nggak tahu lagi apa yang harus kulakukan. Salah seorang yang paling aku cinta telah tiada, menyusul Ayah yang lebih duluan.
Dan yang lebih kusesali lagi, aku tak sempat melihat wajah Bunda untuk terakhir kalinya. Karena pada hari itu, hujan lebat dan waktu sudah sore. Sementara aku baru sampai rumah sekitar jam 5 sore. Masih menggungkan celana pendek lengkap dengan baju sekolah, aku langsung menuju pusara Bunda. Tertunduk dan menangis. Tanpa ada satupun kata yang terucap. Badan ini serasa lemas dan tak berdaya lagi. Hampir setengah jam, aku hanya duduk terpaku di depan pusara Bunda yang tempatnya di sebelah pusara Ayah. Dan aku sekarang benar-benar menangis jika ingat itu semuanya.
Praktis, ujian Ebtanas yang sudah aku persiapkan jauh hari tidak lagi dalam konsentrasiku. Semua pelajaran yang aku pelajari hilang semuanya. Yang terpikir adalah tentang sebuah proses kehidupan. Aku benar-benar kehilangan kompas untuk menelusuri jalan kehidupan.
Maju Wajib, Mundur Pengecut

Saat Aku masih SMP
Meskipun aku harus kehilangan dua orang yang aku cintai di saat usiaku masih remaja, aku mencoba untuk bangkit. “Maju wajib, mundur pengecut,” kata seorang penjual sayuran di pasar Nganjuk, tempatku mangkal kalau mau ke sekolah benar-benar memotivasi diriku untuk bangkit dari keterpurukan ini.
Karena tidak ada lagi keluarga yang di kampung, aku pun dibawa kakak pertamaku ke Medan. Dari Kota Nganjuk, akupun hijrah ke sini. Sebuah perubahan yang sangat fantastis tentunya. Hidup dibawah lingkungan homogenitas beralih dalam lingkungan heterogenitas.
Tiga tahun aku menjalani sekolah di SMA 14 Medan. di sini aku banyak belajar bergaul dengan anak-anak Medan yang katanya keras-keras. Syukurlah aku bisa “menjinakkan” mereka. Yah, boleh sombong dikit kan. He.h.e.he…. Paling tidak posisi sebagai ketua kelas pernah kusandang.
Bahkan di masa itu juga aku mulai mengenal istilah pemberontakan. Biasalah mungkin masih darah-darah muda yang gampang terbakar emosi. Aku pernah memimpin gerakan terselubung terhadap salah seorang guru. Semuanya berawal dari ketidakpuasan. Apakah karena mungkin aku yang egois atau karena sebuah kebersamaan, aku justru memimpin untuk melakukan itu semua.
Alhasil, setahun penuh warga di kelasku tidak pernah belajar yang namanya matematika. Semua nggak ada yang bisa disalahkan. Maafkan kami pak guru. Maklum lah kami waktu itu masih butuh bimbingan. Sekali kena panas, langsung kepanasan. Dari situ juga aku mulai belajar untuk mengendalikan diriku. Susah memang. Darah muda mudah mendidih jika terpancing dengan sesuatu yang panas.
Belajar Karakter, Siap Lepas Landas
Selepas SMA, akupun mencoba meraih impian masuk ke perguruan tinggi. Sayangnya apa yang aku pilih gagal, kandas dan tak berbekas. Tak ada satupun impianku terwujud. Tapi, syukurlah Allah masih menyayangiku. Ibarat kata pepatah, banyak jalan menuju ke Kota Roma. Dan itulah yang terjadi dalam hidupku. Pasalnya, aku justru terdampar di jurusan yang benar-benar jauh dari angan-anganku. D-3 Kesekretariatan Fakultas Ekonomi USU.
Semua yang sudah terjadi tidak mungkin bisa diulangi kembali. Aku jalani kehidupanku sebagai mahasiswa baru. Tetapi siapa sangkat, justru dari jurusan inilah darah mudaku semakin bergejolak dan menjadi pemberontak. Aku pun mulai aktif diberbagai organisasi mahasiswa. Bayangan waktu masih sekolah tentang apa itu demo, barulah aku rasakan di sini. Dorongan dengan polisi atau bahkan kejar-kejaran dengan satpol PP seperti saat demo di Kantor DPRD Sumut lama-kelamaan sudah menjadi hal biasa buatku.
Namun, itu tidak bertahan lama. Seiring perjalanan waktu, aku mulai menemukan pelabuhan cita-cita yang sejak kecil aku idam-idamkan. Jurnalis. Ya jurnalis, dari sinilah Allah menunjukkan jalan buatku untuk melangkah dan terus melangkah. Aku dipertemukan dengan Suara USU. Sebuah organisasi kampus yang bergerak di bidang penerbitan. Suara USU telah memberikan begitu banyak pengalaman yang kelak menjadi modal dalam diriku.
Setamat dari D-3, Aku kembali melanjutkan kuliahku di Program Ekstension Ilmu Komunikasi USU. Sambil bekerja menjadi jurnalis di sebuah surat kabar di Kota Medan. Butuh perjuangan untuk menjalani itu semua. Tapi, alhamdulillah tepat pada bulan September 2008 lalu, atau kurang lebih dua tahun aku menimba ilmu di program ekstension, aku berhasil menamatkannya.
Satu anugerah besar bagiku. Jalan menuju ke Kota Roma memang cukup melelahkan. Tapi paling nggak rasa lelah itu untuk sementara waktu terbayar dengan apa yang aku capai sekarang. Apalagi di usiaku yang masih muda, aku diberi tanggungjawab menjadi Redaktur di dua tempatku bekerja.
Tapi, meskipun begitu, terus terang aku masih belum bisa puas dengan ini semua. Belajar…belajar…dan terus belajar. Itulah yang sekarang ini terus aku lakukan. masih banyak yang ingin aku gapai. Salah satunya bisa menjadi seorang peneliti.
Jika diberi kesempatan untuk bisa kuliah lagi, Arkeologi menjadi pilihan utamaku. Bagiku, arkeologi tak sekedar belajar masa lalu, tetapi lebih dari itu. Saat ilmu berpada dengan kekuasaan Sang Pencipta. Karen semua itu memiliki sebuah arti dan makna yang tak hanya melibatkan aku, tapi juga DIA yang di atas sana. Secara tidak langsung, aku bisa memandang bahwa ciptaan NYA memang benar-benar luarbiasa. Sekali lagi Luar Biasa.
Dan sekarang…? Aku sudah siap untuk tinggal landas. Mengarungi kehidupan dunia. Menuju proses hidup yang satu tingkat lebih tinggi dalam pemikiranku setahun yang lalu. Belajar untuk bersabar dan menerima dengan ikhlas atas semua pemberian-NYA.
Jangan lihat kesuksesanku sekarang, tapi lihat kesuksesanku 20 tahun yang akan datang. Saat aku sudah berkeluarga dan hidup bahagia. Amin……….
Sedikit biodataku :
Nama : Tri Yuwono S.Sos
Tempat/tgl lahir : Nganjuk, 5 Oktober 1984
Pendidikan : 1. SDN Macanan II Nganjuk, Jawa Timur
2. SMP N 2 Nganjuk, Jawa Timur
3. SMA N 14 Medan, Sumatera Utara
4. D-3 Kesekretariatan FE USU
5. Ilmu Komunikasi Fisip USU
6. Arkeologi …UGM/Jerman/Italia/Kairo/Australia/USA/Yunani (Amin)
Organisasi : 1. HMI Fakultas Ekonomi USU tahun 2003
2. Pemerintahan Mahasiswa FE USU tahun 2003
3. Reporter Pers Mahasiswa Suara USU tahun 2004
4. Sekretaris Redaksi Pers Mahasiswa Suara USU tahun 2005
5. Sekretaris Umum Pers Mahasiswa Suara USU tahun 2006
6. Redaktur di Koran Harian Global sampai sekarang
7. Redaktur Majalah Remaja Medan Youngs Magazine
Pendidikan : 1. Pelatihan Jurnalisme Gender Tingkat Nasional di Medan 2004
2. Pelatihan Jurnalistik Tingkat Nasional di UNP Padang 2005

Salam
salam kenal..nice profile..
Oleh: nenyok on September 20, 2008
at 4:16 am
Loh kok jadi pekerjaan kedua?? waduh…
Salam kenal, mas!! Horas !!
Oleh: Zulfi on September 22, 2008
at 4:24 am
profilenya puanjaaaaaaaaaaang bgt mas
salut euy
Oleh: yellashakti on Oktober 2, 2008
at 4:12 pm
Apa SMA 14 Medan sekolahnya kamu itu, yang terletak di jalan pelajar ujung ya?, yang dahulu bernama SMU 13. Bila saja demikian kita se-alumni.
Salam kenal
ijrsh-Bandung
Oleh: ijrsh on Oktober 24, 2008
at 5:48 am
aku salut pada perjuanganmu? salam knl ya dari denok
Oleh: denoksk on Oktober 24, 2008
at 12:13 pm
Salam kenal.
Sukses selalu
Oleh: DenBaguse on Oktober 24, 2008
at 1:54 pm
walah, tri..ini bukan “sekilas tentang aku” lagi namanya… tp, “berkilas2 tentang aku…”
kau terinspirasi dari fenomena yang digarap bang evin dulu, ya, makanya pingin jadi arkeolog…
(semoga sukses, ya, nak… semoga cita2mu tercapai… )
btw, kau sedang nunjuk apa di foto itu?
Oleh: tonggo on November 28, 2008
at 5:12 pm
well, triy. satu dari sekian mahluk suara usu yang kukenal. juga satu dari sedikit alumni suara usu yang memilih hidup mati di media.
anak nganjuk yang sudah mengacak-acak medan. tapi tetap kudu hati-hati. kampak fc berkeliaran di setiap sudut medan. haha..
sukses, triy.
Oleh: ss bono on Desember 1, 2008
at 12:26 pm
salam kenal coy….!!
wong njombang..!
Oleh: addakhil on Desember 2, 2008
at 7:08 pm
tulisannya bagus2 juga….salam kenal dari saya…
Oleh: nickafdhal on Desember 3, 2008
at 11:47 pm
allowa try…
lamo ndak basuo
mari kita berbagi link….
heheheheh…
seeeeeeeeeeep
link kamu dah ada di blog q
^_^
http://roumink.wordpress.com
Oleh: roumink on Desember 5, 2008
at 6:34 am
salam kenal mas………….
Oleh: ceritadanduniaku on Januari 4, 2009
at 7:09 am
salam kenal..
http://whateverisaid.wordpress.com
Oleh: emier2308 on Januari 9, 2009
at 2:40 pm
salam kenal
lukas
Friendster: http://profiles.friendster.com/14722452
Yuwie: http://r.yuwie.com/lukas_ti/
Frenszone: http://www.frenszone.com/?idAff=43547
hp: 0815-9131735
mail: lukas648272@yahoo.com
ym: lukas_ti
Oleh: lukas on Januari 28, 2009
at 2:36 pm
Terimakasih atas saran dan kritiknya yah
Oleh: triy on Januari 28, 2009
at 3:09 pm
kenal orang lukman SIJ yah ?
Oleh: anak medan on Februari 5, 2009
at 5:55 pm
Rupanya seorang aktifis , ahlinya komunikasi, pantes karya-karyanya bagus dan kreatif. Sukses untuk anda.
Regards, agnes sekar
Oleh: agnessekar on Februari 21, 2009
at 11:53 am
Terus berjuang & berkarya mas
http://iwanmalik.wordpress.com
Info Pendidikan & Wirausaha
Oleh: iwanmalik on Februari 21, 2009
at 3:11 pm
mas…tema blognya sebenarnya apa siih??
sekilas saya lihat Full of “Magic”
qqqq
tapi bagus n unik……
Oleh: odeyn on Februari 21, 2009
at 9:46 pm
salam kenal…
terus dengan reportase-nya maz……selamat..arek Jatim
Oleh: mazandrie on Februari 22, 2009
at 12:05 am
salam kenal ti subang
http://tripleeks.wordpress.com/
Oleh: annas on Februari 22, 2009
at 10:38 am
harus bisa menghafal UU Pers.
ok
Oleh: Bungzhu on Februari 22, 2009
at 1:34 pm
Terimakasih atas sarannya mas dan mbak semua….
Insyaallah terus diperbaiki….
he…he…
salam kenal semua
Oleh: triy on Februari 22, 2009
at 6:49 pm
oalah wong nganjuk tah,, aq malang boss,, tak kiro cwex lha jenenge try…ta kiro sulastri . eeee ternyata try yuono lam knl ya mas..
Oleh: swazee on Februari 22, 2009
at 8:37 pm
Salam kenal mas..??
Oleh: Bambang Sriwijonarko on Februari 22, 2009
at 9:47 pm
asw, salam kenal
Oleh: mitsikuri on Februari 23, 2009
at 9:35 am
salam kenal yah sob..
uhmm nice posting,,membuatku terharuuuww (hehehe..lebai saia)
Oleh: gruunliebe on Februari 23, 2009
at 4:49 pm
Salam kenal…
nice post…..
Oleh: wizardy on Februari 24, 2009
at 5:05 pm
salam kenal… tertarik sama “monster-monster” anda
Oleh: wirawax on Februari 25, 2009
at 9:18 am
top markotop!
Profil yang panjang dan huebattt…!
Oleh: cahayasura on Februari 26, 2009
at 11:55 am
Salam kenal mas…
Kirain tdi try itu wanita, yang akan berangkat ke amazon sana u/ bertemu bar-bar yg masih misterius itu. Sy salah rupanya. Hehe sy tingglkan jejak ya mas
Oleh: omeng on April 5, 2009
at 12:24 pm
eh iya tri…. kita kayaknya pernah satu angkot deeeeeee!!! hihihihihihiiiihh….
Oleh: cimotcimotcimot on April 30, 2009
at 5:19 pm
angkot dimana yah…… he..he…..
Oleh: triy on Mei 11, 2009
at 6:10 pm
ya setiap orang punya misteri kehidupan masing-masing, ternyata kita sama-sama anak rantau
Oleh: gustina on Juni 9, 2009
at 2:46 pm
sesama anak rantau. salam kenal juga mbak…..
Oleh: triy on Agustus 3, 2009
at 7:54 pm
maaf menganggu seblumnya, saya ingin bertanya apakah ada punya boneka seperti itu, dan kalo iya waktu anda membelinya apakah ada banyak boneka seperti itu n brpakah harganya, krn kalo blh saya mau mohon pertolongannya? nohon di balas kalo anda telah online
Bram_tyo_boys@yahoo.co.id
Oleh: bram on Juni 9, 2009
at 5:23 pm
hallo slam knal yaw………
mu knal aku add ja igirllz@yahoo.co.id
thanx mga bsa cerita2 yaw
Oleh: intan on Juni 30, 2009
at 5:52 pm
oya aku suka barbie,kmu juga ya\????
wew………..ku liat frofile mu mantapzzzzzzz
Oleh: intan on Juni 30, 2009
at 5:54 pm
Thank u mbak intan. aku suka barbie karena sejarahnya, sampai dia bisa seperti ini. bahkan sudah menjadi fenomena. salam kenal mbak intan
Oleh: triy on Juli 20, 2009
at 5:00 pm
wou……. qw salut dengan parjuangannya loe…yang bgitu gigih dan penuh semangat. dengan tidak menyia2kan masa muda..
good luck buat loe…
Oleh: aisyah on Juli 11, 2009
at 2:38 pm
Thanku mbak. semoga tambah lebih baik……amin
Oleh: triy on Juli 20, 2009
at 6:09 pm
salam kenal
saya minta izin untuk meminjam foto2 cantiknya untuk dipakai di blog saya
http://richmountain.wordpress.com/wisata/rizqi-firdaus-agro-wana-widya-wisata-1/
silahkan mampir juga ke blog saya lainnya :
http://richocean.wordpress.com
terima kasih
Oleh: richocean on September 9, 2009
at 9:10 pm
ok mas…. salam kenal juga
Oleh: triy on September 10, 2009
at 11:25 am
Oke mas… salam kenal juga
Oleh: triy on September 28, 2009
at 6:39 pm
salam kenal bang/ tinggal dimedan soalnya kl di jawa pake mas?
Oleh: duta on Oktober 7, 2009
at 10:05 am
salam kenal juga mas….he..he….
Oleh: triy on Oktober 7, 2009
at 9:43 pm