Aku Hari INi

Aku Hari INi

Ya… begitulah cara menikmati sebuah hidup. Begitupun Aku Hari Ini. Aku yang masih butuh proses dalam setiap langkah, aku yang masih belum bisa menghilangkan sifat egois, aku yang masih mau menang sendiri. Tetapi, ternyata aku sadar jika itu semua tak ada artinya mengekang seseorang untuk menuruti apa yang kita harapkan.

Begitu banyak sudah pengalaman yang kulalui. Dan ironisnya justru aku terjebak dalam sebuah hedonisme diri sendiri. Bagaimana egoisnya aku ketika tidak mau menerima pendapat orang lain. Ketika ingin menang hanya untuk kepentingan diri sendiri. Ketika ingin berontak saat emosi tak bisa ditahan lagi. Jiwa muda memang masih sangat aku kendalikan dalam menjalani hidup.

Hari ini benar-benar hari yang melelahkan, hari yang penuh dengan tanda tanya. Sebuah keputusan yang ia ambil akan dapat mempengaruhi hari-hariku nanti. Aku benar-benar tidak dalam posisi yang baik. Aku ibarat prajurit yang hanya menunggu aba-aba dari atasan. Tapi aku tahu semuanya butuh proses. Proses yang memang harus dijalani.

Dan ternyata aku memang tak bisa mengubah pendapat orang lain. Tak bisa mempengaruhi orang lain. Karena orang lain juga memiliki pendapat untuk bisa kita dengar. Sebuah kehidupan yang tidak sama dengan kita. Tuhan sudah memberikan jalan masing-masing kepada kita.

Tapi, tetap saja, jiwa mudaku kadang tak bisa mengalahkan langkahku untuk belajar sedikit dewasa. Begitu susahnya belajar menjadi dewasa. Belajar untuk bisa mengontrol emosi. Kendati emosi yang ada dalam diriku jarang kuluapkan dalam sebuah tindakan. Hanya bisa kurenungi saja. Emosi dan kedewasaan merupakan satu paket dalam menjalankan kehidupan. Nah, sekarang untuk mencapainya itu sulitnya minta ampun. Paling tidak perubahan akan tetap ada. Perubahan sedikit yang bisa memberi keadaan lebih baik lagi.

Oleh: triy | Februari 15, 2009

Capek, Tapi Puas

Aku Hari Ini

Aku Hari Ini

Akhirnya…setelah lama tak kumpul rame-rame, akhirnya malam minggu kemarin bisa kumpul dengan jurnalis-jurnalis handal Medan. He…he… dan intinya satu lagi, kita mengadakan event akbar. Reuni Akbar Suara USU 2009 yang rencananya akan diadakan pada Juli nanti. Sebuah acara yang sudah dinantikan banyak alumni Suara USU.

Pertemuan yang tak hanya membawa sebuah kabar damai, namun juga memberikan sebuah ide-ide segar dalam sebuah lingkungan kekeluargaan. Tak terasa tempat menimba ilmu yang paling utama di Kampus USU, kini telah melahirkan jurnalis-jurnalis handal. Meskipun tidak semuanya, namun sebagian besar, alumninya sudah menjadi orang-orang yang insyaallah sukses meniti karir di dunia jurnalistik.

Bahkan, sejak kuliah dulu. Aku selalu menjadikan Suara USU sebagai tempat utama belajarku, diluar kampus kuliahku yang hanya jadi embel-embel belaka. Kemana aku harus mencari hiburan tatkala hati terselimuti oleh gumpalan sinar hitam, Suara USU lah jawabnya.

Dan pagi tadi, bersama dengan anggota dan alumninya, aku ikut main futsal. Capek sih, tapi puas. He…he… kemenangan sepertinya tinggal menunggu waktu. Maklumlah, soalnya aku baru bergabung dalam pertandingan pertama ini. yang pasti hari ini capek dan bahagialah.

Oleh: triy | Februari 12, 2009

Menuju Jatim 1 Pada 2028

Aku Hari Ini

Aku Hari Ini

Menyaksikan acara pelantikan Gubernur dan Wagub Propinsi Jawa Timur pagi sontak membuat darah mudaku menggelora. Ntah kenapa… ada terbersit dalam hati kecilku untuk juga terjun ke dunia politik. dunia yang sebenarnya sangat kurang aku sukai.

Tapi, setelah berdiskusi dengan beberapa kawan seoraganisasi dulu. keinginan itu pun semakin menggebu. Jatim 1, Sumut 1 dan Sumbar 1, pada 2028 nanti harus kita pegang yah. begitu ceritanya. memang hanya berawal dari guyonan, tapi semakin lama hal tersebut semakin menaikkan tensi darahku.

Yup… Jatim 1-2028. seorang kawan yang sekarang ada di Jakarta sudah dari pagi sibuk bertanya tentang hal itu. Khofifah atau Pak De Wo sih try. begitu katanya, setelah dia melihat aksi unjuk rasa di jakarta.He…he… pikirku. Tapi, ya sudahlah.

Satu yang membuatku optimis adalah jika semua keinginan yang memang sudah ada dalam hati kecilku, hati nuraniku itulah yang akan terjadi. Dan Jatim 1 2028 sekarang ini sudah mulai merasuki hati nurani kecilku.

He…he….

Oleh: triy | Februari 11, 2009

Ternyata Lima Presiden Indonesia Pernah Ditipu

Namanya juga penipu. Siapapun bisa jadi korbannya. tak tanggung-tanggung rek, presiden kita pun juga pernah ketipu. Oalah…. ada-ada saja. Nggak percuma mantan Presiden Habibie jago teknologi, soalnya dialah satu-satunya presiden yang belum pernah kena tipu. Pingin tahu cerita penipu ulung ini. nih dia ceritanya.

Sejumlah ilmuwan menilai Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) ‘tertipu’ dalam kasus blue energy (energi biru). Seorang pria asal Nganjuk, Joko Suprapto, mengaku bisa memproduksi minyak mentah dari air. Dari biang minyak itu bisa dihasilkan bahan bakar sekelas minyak tanah hingga avtur.

Presiden SBY yakin itu merupakan sumbangan Indonesia bagi dunia, di tengah makin meroketnya harga minyak. Sementara, negara dibikin pusing tujuh keliling oleh dampak dari kenaikan itu. Karuan saja, sejumlah pihak, termasuk para ilmuwan, menyesalkan informasi yang belum valid bisa diterima oleh SBY. Kabarnya Joko kini dilaporkan ke polisi.

Penipu ‘masuk Istana’ ternyata punya sejarah yang cukup panjang. Baiklah kita mulai pada tahun 1950-an, pada masa pemerintah Presiden Soekarno. Ada seseorang yang mengaku Raja Kubu — suku anak dalam di Jambi. Tidak tanggung-tanggung, dia memberi gelar dirinya Raja Idrus dan istrinya Ratu Markonah.

Pasangan ’suami istri’ itu, entah bagaimana prosesnya, mendapat pemberitaan pers, termasuk foto-foto keduanya. Maka, sejumlah pejabat negara memberikan penghormatan luar biasa pada ‘raja’ dan ‘ratu’ tersebut.

Rupanya ada seorang pejabat yang menghubungi Presiden Soekarno dan kemudian memperkenalkannya. Di Istana, ’suami-istri’ yang sebenarnya adalah penarik becak dan pelacur itu sempat diterima sebagai tamu kehormatan di Istana Merdeka. Mereka juga diberi uang, menginap dan makan gratis di hotel-hotel mewah. Termasuk mengunjungi Kraton Yogyakarta dan Surakarta.

Kedok penipuan mereka terbongkar saat berjalan-jalan di Jakarta. Ada seorang tukang becak yang mengenali ‘Raja’ Idrus, teman seprofesinya di Tegal. Sedang sang ‘maharani’ juga terbongkar berprofesi sebagai pelacur kelas bawah di kota yang sama. Konon, keduanya bertemu di sebuah warung kopi di Tegal. Kemudian sepakat untuk menjalankan aksi penipuan itu. Keistimewaan Markomah selalu memakai kaca mata hitam baik siang maupun malam. Rupanya sebelah matanya picek.

Pada masa Soeharto, di era 1970-an, juga terjadi penipu kelas kakap. Penipunya bernama Cut Zahara Fona, asal Aceh. Meski tidak tamat SD, dia memiliki ide jenius. Dia, yang selalu mengenakan kain batik, mengklaim bahwa janin yang ada diperutnya bisa berbicara dan mengaji.

Karuan saja, kabar itu menggegerkan masyarakat, apalagi diberitakan secara luas di surat kabar dan majalah. Konon, tiras sebuah harian ibukota terdongkrat naik, karena tiap hari membuat berita tentang ‘bayi ajaib’ di perut Cut Zahara.

Masyarakat yang banyak berdatangan pun rela untuk nguping di perutnya yang dilapisi kain untuk mendengar ‘bayi ajaib’ itu berbicara atau mengaji. Bukan hanya rakayat biasa, ada juga pejabat yang meyakininya. Termasuk Wakil Presiden Adam Malik yang mengundang Cut Zahara ke Istana Wapres. Bahkan, Menteri Agama KH Mohamad Dachlan termasuk orang yang meyakininya. Untuk meyakininya, ia menyatakan bahwa Imam Syafi’ie selama tiga tahun berada di kandungan ibunya.
Cut Zahara Fona dan suaminya pernah diperkenalkan oleh Sekdalopbang (Sekretaris Pengendalian Pembangunan) Bardosono kepada Presiden Soeharto dan Ibu Tien Soeharto. Perkenalan ini dilakukan di Bandara Kemayoran setelah keduanya tiba dari lawatan luar negeri. Tapi, rupanya Ibu Tien termasuk orang yang kurang yakin terhadap ‘bayi ajaib’-nya Cut Zahara Fona. Apalagi wanita Aceh itu menolak ketika hendak diperiksa di RSCM.

Konon, Ibu Tienlah yang menggeledah dan mendapatkan bahwa bicara dan mengaji itu hanya berasal dari tape recorder kecil yang disisipkan di perut Cut Zahara. Kala itu memang belum banyak perekam suara sekecil milik Cut.

Meskipun kedoknya terbongkar, ‘bayi ajaib’ tersebut bukan hanya mendapat perhatian masyarakat Indonesia, tapi juga dunia internasional. Hingga ada permintaan dari Pakistan agar Cut dan suaminya berkunjung ke sana. Bahkan, ada yang meramal ‘bayi ajaib’ itu, bila lahir akan menjadi Imam Mahdi.

Setelah tidak terdengar kasus Istana pada masa Presiden BJ Habibie, yang memang pendek masa jabatannya, pada masa Presiden Abdurahman Wahid (Gus Dur) kembali terjadi penipuan yang mengaitkan Istana Negara. Pelakunya adalah Soewondo, yang biasa keluar masuk Istana karena jadi tukang pijat Gus Dur.

Orang yang dianggap ‘dekat’ dengan orang nomor satu di Indonesia itu berhasil menipu Yayasan Dana Kesejateraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (BULOG) dan dituduh membobol uang yayasan hingga Rp 35 miliar. Soewondo sempat kabur, namun kemudian ditangkap polisi di kawasan Puncak, Jawa Barat. Pengadilan memvonisnya 3,5 tahun penjara.

Kasus tersebut sempat menyita perhatian khalayak dan menjadi senjata pamungkas bagi lawan-lawan politik Gus Dur, yang membantah telah memerintahkan pencarian dana itu. Namun, akhirnya Gus Dur lengser juga dari jabatannya gara-gara kasus yang dikenal dengan istilah Buloggate tersebut.

Pada masa Presiden Megawati, skandal ‘penipuan’ kembali terjadi. Kali ini yang diperdaya adalah Menteri Agama Kiai Said Agil Almunawar. Menteri yang bergelar profesor dan hafidz Alquran ini memimpin penggalian situs di Batutulis Bogor yang diyakini memendam harta karun yang nilainya dapat untuk membayar seluruh utang negara.

Menurut Said Agil, Presiden Megawati mengetahui rencana penggalian situs bersejarah yang konon peninggalan Kerajaan Pajajaran itu. Sayangnya, harta karun yang dicari hanya pepesan kosong. Said Agil sendiri kini masih ditahan dalam kasus tuduhan korupsi uang haji.

Moga-moga penghuni Istana yang menjadi lambang kebanggaan bangsa, negara dan rakyat Indonesia, itu tidak lagi menjadi korban penipuan

Oleh: triy | Februari 11, 2009

Panas banget Kota Medan Hari ini

Aku Hari Ini

Aku Hari Ini

Ntah kenapa dalam dua hari ni cuaca Kota Medan begitu panas. Kalau sudah begini, rindu juga akan hujan. dingin dan tenang. Hm… bukan itu saja sih, sebenarnya rindu juga dengan seseorang yang ada di sana.

Dari sejak keluar rumah mau ke kantor tadi, rasa panas belum juga berakhir. belum lagi tadi sudah sempat keliling-keliling jalanan Kota Medan. Huh… jadi ingat sama Kota Malang. Kesejukan dan semuanya yang ada di sana begitu menggoda hati untuk sekedar singgah. Kapan lagi ya bisa kesana?

Hm… tadi aku terlambat datang rapat dengan bos. Pas sudah sampai di kantor, eh rapat sudah hampir selesai. Tapi, nggak apa-apalah, yang penting tadi keluar juga karena urusan kerjaan.

Sebenarnya hati ini sudah cepat-cepat pingin pulang dari kantor. pingin menikmati pulau kapuk yang dalam beberapa hari ini selalu kurindukan keberadannya. tapi, karena kerjaan belum siap. Ya… terpaksalah  nunggu  dulu…..

Oleh: triy | Februari 10, 2009

Cengengkah AKu…?

Aku hari Ini

Aku hari Ini

Melihat tayangan di sebuah televisi swasta siang tadi yang mengisahkan cerita tukang koran yang sakit dan tak bisa bekerja, lantas meminta tolong kepada orang-orang yang dijumpainya. Tapi tak satupun dari mereka mau membantu, hingga kemudian bertemu dengan seorang ibu tua penjual jamu gendong, membuat hatiku bergidik dan tak terasa air mata sedikit menetes. Cengengkah aku…

Belum lagi, sebuah cerita Suara Hati untuk diterbitkan besok yang sedang ku edit semakin membuatku hatiku trenyuh. Berprofesi sebagai supir angkutan, seorang bapak diduga terserang tumor tepat di sebelah pipinya. Awalnya, ia anggap sepele, benjolan tersebut diduga sebagai jerawat. Tapi, lama-kelamaan berubah menjadi besar. Hingga akhirnya ia tak bisa apa-apa, selain mengeluh karena rasa sakit yang luarbiasa. Hatiku benar-benar trenyuh melihatnya. Terbayang oleh ku, seandainya aku berada di posisi seperti itu. Waallahu A’lam…

Meski begitu, hari ini aku cukup senang. Yah, paling tidak kemarin malam aku bisa memimpikan dia. Kendati hanya mimpi, namun sudah bisa membuat hatiku senang. Lantas, balik lagi aku bertanya dalam hati. Cengengkah aku…

Apa sih sebenarnya defenisi cengeng. Apakah juga berkaitan dengan hati. atau sekedar peluap emosi. Hm… untuk yang satu ini, ntar deh kutanya sama dokter psikologiku. He…he…

Oleh: triy | Februari 9, 2009

Innalilllahi Wainalillahi Rojiun

Aku Hari Ini

Aku Hari Ini

Duka masih juga menyelimuti diriku. Begitupun dalam dua hari ini. Satu kabar datang dari Palembang kemarin malam. Dan satu lagi datang dari seseorang yang pernah menjadi inspirasi dalam hidupku beberapa waktu lalu. Sebuah pesan sms darinya memberitahu kabar duka, jika salah satu orangtua dari kawan dekatku telah meninggal dunia.

Tak berapa lama. Puluhan sms masuk dengan pesan yang sama. Setelah koordinasi dengan kawan-kawan yang lain. Akhirnya diputuskan jika besok siang, kita rame-rame datang ke rumah duka.Semua yang hidup di dunia akan kembali kawan.

Buntu nih mau nulis apalagi. Yang pasti dalam seminggu ini duka itu masih saja menggelayuti diriku.

Oleh: triy | Februari 8, 2009

Jangan Pernah Bohongi Hati Nurani

Aku Hari Ini

Aku Hari Ini

He…he… yah walaupun belum sembuh total. Tapi, syukurlah kondisi tubuhku dah mulai sehat hari ini. Hm… sebelum aku berangkat ke kantor. Aku sempatkan untuk mendengarkan lagu-lagu kesukaanku. Lagu yang menurut kawan-kawanku lagu “jadul”. Biarin pikirku, yang penting kan aku bisa menikmatinya.

Yah, nggak tahu kenapa. Dibandingkan dengan musik yang sekarang ini lagi ngetren, aku lebih interest dengan musik-musik jaman dulu. Ebit G Ade, Iwan Fals, Franky n Jane, Panbers, The Mercys, Ratih, Rita, Dian, Rinto Harahap, Rafika, Kantatatakwa, dll. Selain lagu-lagu enak didengar, lagu-lagu ini memang tak pernah bisa mati. Itulah kenapa aku suka dengarin lagu-lagu lama. Baik yang dari dalam maupun dari luar.

Jujur, meskipun aku sering jalan sama kawan-kawan dan karaokea-an. Rata-rata lagu-lagu mereka aku nggak tahu. Karena memang aku kurang suka. Hanya segelintir saja yang bisa kuikuti. Itupun kadang hanya reff-nya. Mau bagaimana lagi, orang dasarnya sudah dari hati.

Hati memang nggak bisa dibohongi. Dan itulah Aku. Kalaupun sekarang ditanya lagu baru siapa yang paling aku suka. Jawabannya The Panas Dalam. Grup band asal Jawa Barat ini memang luar biasa. Masuk dalam jalur indie, grup band ini memiliki ciri khas tersendiri. Menggabungkan tema cinta, sosial bahkan agama. The Panas Dalam memang sangat luar biasa.

Lagi-lagi, hati memang tak bisa dibohongi. Jika hati nuraniku bisa merasakan roh lagu tersebut, aku pasti menyukainya.

Oleh: triy | Februari 6, 2009

Segarnya Green Tea Latte di Starbuck Coffe

Tri Yuwono | Global | Medan

Menyeruput segarnya greentea latte

Menyeruput segarnya greentea latte

Tak hanya menawarkan sajian kopi yang nikmat, Starbuck Coffe juga selalu memberikan sensasi minuman yang selalu bisa menggoyang lidah. Kreasi-kreasi baru selalu dicoba untuk memanjakan para pencinta kuliner.

Di awal tahun ini misalnya, mengkombinasikan rasa buah dan kopi, terciptalah minuman yang membuat lidah enggan untuk berhenti menyeruputnya. Green tea lattle dan vanilla black tea latte inilah dua menu baru yang bisa Anda nikmati.

Campuran green tea powder, susu serta simple syrup yang dicampur karamel plus es batu memberikan sensasi rasa minuman satu ini begitu menyegarkan. Bagi Anda penggila kopi, bisa juga mencampurkan kopi di dalamnya. Rasanya… hm… segarrr.

Begitupun dengan vanilla black tea latte-nya. Paduan black tea concentrate, susu plus vanilla syrup benar-benar membuai lidah yang meminumnya. Mau disajikan panas atau dingin, rasanya tetap saja nikmat.

“Kedua menu baru ini merupakan kreasi kami sendiri. Terserah pengunjung, mau panas atau dingin. Atau bisa juga dicampur dengan kopi,” ungkap Syahrizal Barus, staf karyawan outlet Starbuck Coffe saat ditemui Global di Swissbell Hotel kemarin.

Menyeruput minuman di Starbuck tak lengkap jika tak ada camilannya. Jangan khawatir, beragam kue lezat nan nikmat bisa menjadi teman setia Anda di sini. Sembari nongkrong, menikmati sensasi beragam kreasi minuman kopi memang sangat mengasyikkan.

Harga memang sebanding dengan kualitasnya. Dengan mengeluarkan kocek dari mulai 30 ribuan, Anda sudah bisa menikmati sensasi rasa segar green tea lattle dan vanilla black tea latte. Sayangnya, khusus untuk kedua minuman ini hanya bisa dinikmati pada Januari hingga Februari saja.

“Setiap bulan kita memang mengeluarkan produk baru. Makanya untuk menu baru ini, hanya sampai Februari nanti. Setelah itu kita akan membuat menu lain lagi.,” terang Rizal menutup pembicaraan.

Tri Yuwono | Global | Medan

Udang montok nan nikmat

Udang montok nan nikmat

Mengunjungi Pulau Kampai, sebuah pulau yang terletak di seberang daerah Pangkalansusu, Langkat, kurang afdol jika tak menikmati kelezatan hasil lautnya. Ikan, kepiting laut dan udang misalnya. Apalagi jika disantap saat masih dalam keadaan hangat-hangat plus ditemani tiupan angin pantai yang mengelilingi pulau imut ini. Huh…. semakin menambah kenikmatannya.

Untuk mencapai pulau ini dibutuhkan waktu sekitar tiga jam dari Kota Medan. Sampai di Pangkalansusu, kapal-kapal ukuran sedang siap mengantar perjalanan Anda menyeberang ke Pulau Kampai. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam untuk mencapai Pulau Kampai.

Perut keroncongan langsung terobati saat sepiring udang goreng, ikan dan kepiting plus nasi hangat terhidang di sebuah pondok makan yang letaknya persis di tepi Pantai Berawai.”Kita buka setiap hari. Biasanya yang paling ramai hari Sabtu dan Minggu,” ujar si pemilik pondok.

Hm… gorengan udang nan montok begitu terasa nikmat. Rasa asin dan gurih bercampur menjadi satu. Tambahan sambal kecap dan nasi hangat menjadi paduan yang serasi. Jika tak suka udang, ikan dan kepiting laut bisa menjadi santapan yang tak kalah lezatnya.

Olahan kepiting laut yang dibuat dengan beragam bumbu-bumbu khas pantai benar-benar membuai lidah yang menyantapnya. Irisan cabe hijau dan merah yang dimasak bersamaan kepiting memberikan citarasa pedas dalam menu satu ini. Namun, ini jugalah yang membuat kepiting ini benar-benar gurih dan nikmat.

Sluurp…… sum-sum kepiting langsung keluar dari sela-sela tulang kakinya, begitu mulut menyedotnya. Rasa gurih pun langsung menyeruak lidah. Di sinilah letaknya kelezatan binatang bercapit ini.

Masalah harga jangan khawatir, hanya dengan mengeluarkan kocek mulai dari 50-an ribu rupiah, Anda sudah bisa menyantap kelezatan ikan, kepiting atau udang. Nah, jika Anda hobi makan dan jalan-jalan, Pulau Kampai ini layak Anda kunjungi. Apalagi dengan sajian makanannya. Maknyus……

« Newer Posts - Tulisan Sebelumnya »

Kategori