<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Triy's Weblog &#187; Human Interest</title>
	<atom:link href="http://triy.wordpress.com/category/human-interest/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://triy.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Mon, 03 Aug 2009 13:34:34 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='triy.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/296ba7a63706f9e89a87594e1b973570?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Triy's Weblog &#187; Human Interest</title>
		<link>http://triy.wordpress.com</link>
	</image>
			<item>
		<title>TPI Boyo : Virus HIV Aids Itu Telah Menyadarkanku</title>
		<link>http://triy.wordpress.com/2008/12/10/tpi-boyo-virus-hiv-aids-itu-telah-menyadarkanku/</link>
		<comments>http://triy.wordpress.com/2008/12/10/tpi-boyo-virus-hiv-aids-itu-telah-menyadarkanku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Dec 2008 08:49:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triy.wordpress.com/?p=1051</guid>
		<description><![CDATA[
Tri Yuwono &#124; Global &#124; Medan
Jika waktu bisa kembali ke masa lalu. Saya ingin sekali melihat terakhir kali wajah ayah saya sebelum meninggal. Dia adalah pahlawan bagi saya. Saya ingin meminta maaf kepadanya.
Begitulah ungkapan TPI Boyo, salah seorang pengidap HIV Aids saat ditemui Global kemarin. Seperti juga dengan kondisi orang yang sehat. Boyo, begitu ia [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=1051&subd=triy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal"><strong></p>
<div id="attachment_1055" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><strong><img class="size-medium wp-image-1055" title="img_658481" src="http://triy.files.wordpress.com/2008/12/img_658481.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Semua Hanya Tuhan yang Tahu" width="300" height="224" /></strong><p class="wp-caption-text">Semua Hanya Tuhan yang Tahu</p></div>
<p>Tri Yuwono | Global | Medan</strong></p>
<p class="MsoNormal">Jika waktu bisa kembali ke masa lalu. Saya ingin sekali melihat terakhir kali wajah ayah saya sebelum meninggal. Dia adalah pahlawan bagi saya. Saya ingin meminta maaf kepadanya.</p>
<p class="MsoNormal">Begitulah ungkapan TPI Boyo, salah seorang pengidap HIV Aids saat ditemui Global kemarin. Seperti juga dengan kondisi orang yang sehat. Boyo, begitu ia akrab disapa, fisiknya masih kelihatan sehat dan bugar. Tapi di balik itu, tersimpan sebuah rahasia Tuhan yang tak bisa ia hindari. Kematian.</p>
<p class="MsoNormal">Boyo mengisahkan, sudah hampir lima tahun ini tubuhnya digerogoti virus HIV yang sampai kini belum ada obatnya.”Kalau Tuhan memutar waktu ke belakang, saya ingin melihat ayah saya terakhir kalinya. Tapi, itu tidak mungkin. Saat ini yang bisa saya lakukan adalah bagaimana bisa berbuat baik kepada orang lain,” ucapnya dengan suara yang tegas.</p>
<p class="MsoNormal">Kondisi keluarga yang mengalami masalah di saat dirinya masih duduk di bangku sekolah membawa Boyo ke dunia yang tak pernah ia pikirkan sebelumnya. Ia terlibat ke dalam dunia hitam. Awalnya hanya sekedar mencoba, selanjutnya ketagihan mengkonsumsi narkoba.</p>
<p class="MsoNormal">“Awalnya sih hanya ingin menghilangkan rasa kesal saja. Tapi malah ketagihan. Dari mulai konsumsi ganja sampai kemudian ke putaw. Pingin melepaskan diri saja dari masalah yang ada saat itu,” jelas Boyo mengenang masa lalunya.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Pindah ke Bandung</strong></p>
<p class="MsoNormal">Selesai menyiapkan sekolahnya di Medan, Boyo pun kemudian pindah ke Bandung. Di kota kembang ini, kehidupan yang dialaminya justru bertambah. Pergaulan bebas ala anak muda Bandung menyeretnya ke dalam dunia hitam yang lebih dalam. Ia sudah ketergantungan dengan barang haram ini.</p>
<p class="MsoNormal">Perkenalannya dengan seorang model, sebut saja namanya DV, yang sekarang ini menjadi salah seorang artis papan atas Indonesia. Membuat dirinya mulai kenal dengan jarum suntik. Dari biasanya yang hanya mengkonsumsi narkoba dengan menghisap, kemudian beralih ke suntik.</p>
<p class="MsoNormal">“Nggak usah disebutkan siapa dia. Saat ini sudah jadi artis. Di Bandung keadaan saya bertambah gawat. Sampai kemudian saya dibawa pulang kembali oleh ayah. Bahkan kuliahpun saya tak tamat,” paparnya.</p>
<p class="MsoNormal">Sebelumnya, sang ayah tidak mengetahui jika kondisinya semakin memprihatinkan. Hingga pada suatu hari, ayahnya ingin memberikan kejutan dengan datang diam-diam di kost yang disewanya. Namun yang dilihat sang ayah, bukan Boyo yang sedang membaca buku kuliah. Tapi, sebuah kamar kosong yang sudah tak ada isinya lagi.</p>
<p class="MsoNormal">Saat membuka pintu kost, Boyo melihat sang ayah duduk terpaku di tempat tidurnya. Tak ada kata-kata, yang ada hanya linangan air mata.”Saya nggak tahu kalau ayah saya datang dari Medan. Semua yang ada di kamar sudah saya jual semua untuk beli narkoba, termasuk sebuah mobil Escudo,” kenangnya.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Masuk Rehabilitasi, Jual Gas dan Blender</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong></strong>Sekitar tahun 1999, setiba di Medan, ia masuk pusat rehabilitasi. Hanya tiga bulan ia mampu bertahan.”Di Medan saya kuliah lagi di UMSU. Tapi itupun nggak sampai selesai. Sekitar tiga bulan saya berhenti mengkonsumsi narkoba,” ujar anak bungsu dari tujuh bersaudara ini.</p>
<p class="MsoNormal">Pada tahun itu, ia sampai enam kali bolak-balik masuk rehabilitasi. Keluarganya sangat mencemaskan perilakunya. Sang ayah pun kemudian jatuh sakit. Tapi, dirinya masih belum bisa berubah total. Kebiasannya mengkonsumsi barang haram masih dilanjutkannya.</p>
<p class="MsoNormal">Menginjak tahun 2001, sebuah peristiwa pahit menyadarkan dirinya. Sang ayah yang menderita kanker paru-paru stadium tiga dipanggil sang kuasa. Ia merasa terpukul. Dengan langkah yang tak punya arah, ia pulang ke rumah setelah beberapa bulan kabur dari rumah.</p>
<p class="MsoNormal">“Sebelum ayah meninggal, saya sempat kabur dari rumah. Karena nggak ada uang lagi, saya jual semua barang yang ada di rumah. Termasuk gas dan blender. Dari situlah, saya dihajar abang. Saya pun kabur. Tapi dari situ jugalah saya menyesal. Saya belum sempat melihat ayah terakhir kalinya,” seru Boyo.</p>
<p class="MsoNormal">“Apalagi kata abang, pesan ayah sebelum meninggal adalah agar semua saudaranya menjaga dirinya. Ayah ternyata masih sayang sama saya. Itu yang nggak akan pernah saya lupakan,” tambahnya.</p>
<p class="MsoNormal">Dua tahun berikutnya, ia mencoba memeriksakan dirinya. Hasilnya? Darah yang ada di tubuhnya dinyatakan positif HIV. Mendengar hal itu, keluarganya syok. Ia pun menyesali segala perbuatannya. Ada satu titik cahaya terang yang menyinari hatinya. Ia mencoba bangkit dan mencoba untuk terus bertahan.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Tahanan Pertama di Rutan Labuhan Deli yang Mengidap Aids</strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong></strong>Sepak terjang kehidupan Boyo sepertinya penuh dengan lika-liku. Tak hanya pernah menjadi pecandu narkoba, tapi ia pernah kena tuduhan curanmor. Hingga dirinya harus mendekam di Penjara. Bahkan, ia tercatat sebagai tahanan pertama yang mengidap HIV Aids. Yang selanjutnya di bebaskan.</p>
<p class="MsoNormal">“Sebenarnya masa tahanan masih dua bulan lagi. Di bulan keempat, penyakit saya ketahuan. Seisi rutan pun tahu kalau saya adalah pengidap Aids,” ungkapnya.</p>
<p class="MsoNormal">Tak hanya itu, Boyo juga menjadi pasien pertama pengobatan terapi Metadon yang dilakukan di RS Adam Malik. Dengan melakukan terapi dan menjalankan hidup sehat, keadaan Boyo masih tetap segar bugar.</p>
<p class="MsoNormal">“Banyak orang yang bertanya kepada saya. Kok bisa berumur panjang. Apa rahasianya? Saya hanya menjawab hidup sehat, berpikir positif dan berdoa. Itulah yang saya lakukan. Sampai sekarang ini setiap jam 10 pagi saya harus minum metadon, untuk memperkuat tubuh saya,” jelasnya.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Jangan Pernah Coba-coba Narkoba</strong></p>
<p class="MsoNormal">Sejak di vonis positif HIV, Boyo mengalami perubahan 360 derajat. Ia tak pernah lagi bersinggungan dengan narkoba. Ia pun mulai aktif di organisasi yang bergerak di HIV Aids. Dari mulai di Center For Drugs User, Medan Plus sampai di Cordia Caritas Medan, tempatnya mengabdikan dirinya saat ini.</p>
<p class="MsoNormal">Dari sinilah ia ingin menyadarkan masyarakat, terutama generasi muda untuk menghindari narkoba. Selama berbincang-bincang dengannya, Boyo selalu mengatakan jangan pernah bersinggungan dengan narkoba. Sekali masuk, sulit untuk keluar.</p>
<p class="MsoNormal">“Saya sebenarnya bersyukur dengan ini. Kalau tidak kena HIV Aids, mungkin nasib saya lebih buruk lagi. Buat semuanya, tolonglah jangan sekali-kali mencicipi narkoba. Itu barang sesat. Nggak akan pernah bisa membahagiakan. Hanya sesaat saja. Lakukan hal-hal terbaik,” jelasnya.</p>
<p class="MsoNormal">Ia pun tak canggung untuk membantu setiap masyarakat yang terlibat dengan barang haram ini. Bahkan, beberapa pasien HIV Aids yang sudah kritis keadaannya dengan telaten selalu dibimbingnya.</p>
<p class="MsoNormal">”Saya ingin membalas semua kelakukan buruk saya dengan kebaikan. Itulah yang berharga dalam diri saya. Karena saya tidak tahu kapan Tuhan memanggil saya. Kapan saja saya sudah siap untuk itu. Meskipun begitu, saya ingin Tuhan memberikan kesempatan untuk melihat anak pertama saya nikah kelak. tapi, itu semua saya serahkan kepada Tuhan,” pungkasnya menutup pembicaraan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong> </strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triy.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triy.wordpress.com/1051/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triy.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triy.wordpress.com/1051/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triy.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triy.wordpress.com/1051/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triy.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triy.wordpress.com/1051/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triy.wordpress.com/1051/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triy.wordpress.com/1051/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=1051&subd=triy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triy.wordpress.com/2008/12/10/tpi-boyo-virus-hiv-aids-itu-telah-menyadarkanku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e380040e3ad28fe9ee63051d5a819ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triy.files.wordpress.com/2008/12/img_658481.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">img_658481</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Si Teng : Meski Buta, Demi Bertahan Hidup Saya Tetap Jualan</title>
		<link>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/si-teng-meski-buta-demi-bertahan-hidup-saya-tetap-jualan/</link>
		<comments>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/si-teng-meski-buta-demi-bertahan-hidup-saya-tetap-jualan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 05:54:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triy.wordpress.com/?p=590</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)
Keriput di wajahnya mengisyaratkan jika ia tidak muda lagi. Terpaan sinar matahari merubah warna kulitnya menjadi lebih kehitaman. Sisa-sisa kekuatan di tubuhnya masih terlihat. Dari kejauhan, sekilas tak ada yang istimewa dengan penampilannya. Tapi sesungguhnya, dibalik sisa energi kekuatan di masa muda, tersimpan kekuatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=590&subd=triy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_591" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/foto-utamasi-teng-3.jpg"><img class="size-medium wp-image-591" title="foto-utamasi-teng-3" src="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/foto-utamasi-teng-3.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Si Teng" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Si Teng</p></div>
<p class="MsoNormal">(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)</p>
<p class="MsoNormal">Keriput di wajahnya mengisyaratkan jika ia tidak muda lagi. Terpaan sinar matahari merubah warna kulitnya menjadi lebih kehitaman. Sisa-sisa kekuatan di tubuhnya masih terlihat. Dari kejauhan, sekilas tak ada yang istimewa dengan penampilannya. Tapi sesungguhnya, dibalik sisa energi kekuatan di masa muda, tersimpan kekuatan besar dalam dirinya untuk menjalani kehidupan.</p>
<p class="MsoNormal">Dia adalah Yunus. Usianya hampir mendekati 60 tahun. Biasanya warga di sekitar rumahnya memanggilnya dengan sebutan Si Teng. Saat Global mendatangi kediamannya di Jalan Binjai Km 12 Ladang Baru Gg Pipa kemarin, Si Teng sedang ditemani oleh Misna, sang istri tercinta</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Rumah Si Teng sangat sederhana. Hanya ada beberapa barang berharga tersimpan di dalamnya. Salah satunya adalah sebuah sepeda onthel tua yang terparkir persis di sebelah pohon rindang yang berada di depan rumah sederhananya</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Beginilah keadaan saya. Sepeda itu adalah harta yang tak ternilai bagi saya. Karena selalu menemani saya selama 20 tahun untuk mengais sedikit rejeki demi keluarga,” ucapnya mengawali cerita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Si Teng mengaku, sejak usia empat tahun, dirinya sudah buta karena penyakit krumut atau muncul bintik merah yang disertai kondisi suhu badan yang panas. Karena tidak ada biaya untuk berobat, Si Teng pun hanya menjalani pengobatan ala kadarnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sayangnya, bukan kesembuhan yang ia dapat, matanya justru tidak bisa melihat sama sekali. “Biaya untuk pengobatan tidak mencukupi. Jadi kemudian dilakuan pengobatan ala kadarnya. Tapi, justru kondisi mata saya semakin bertambah parah,”tutur Si Teng.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Penderitaan tak hanya dialami oleh Si Teng, salah satu anaknya yakni Paiman juga mengalami keterbelakangan mental. Dari mulai sejak kecil, hingga usianya hampir mendekati 30 tahun, Paiman<span> </span>tidak bisa berbicara dan melakukan apa-apa. Praktis kehidupan Paiman sangat bergantung kepada orangtuanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Saya itu sedih melihat dia. Dan saya nggak tahu harus bagaimana, jika sampai saya itu meninggal duluan, anak saya siapa yang akan megurusnya,” ungkap Misna, yang selalu setia merawat Paiman.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Paiman agak sulit berjalan. Bicaranya juga tidak jelas. Karena penyakitnya inilah, Paiman sejak kecil sudah sangat penakut dan malu dengan siapa saja orang baru yang melihat dirinya. Termasuk jika ada anggota keluarganya yang datang menemuinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Meski pemalu, bukan berarti Paiman pendiam. Jika keinginannya tidak terpenuhi, Paiman akan marah besar.“Saya suka sedih bila harus mengingat semuanya, apalagi bila Paiman sedang marah, barang yang ada di rumah seperti piring dang gelas yang ada di rak piring, akan diguncangnya sampai jatuh dan pecah,” tambah Misna lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Menurut Misna, sudah beberapa kali Paiman menjalani pengobatan. Mulai dari dokter hingga dukun tradisional. Namun, hasilnya tetap nihil.“Saya sudah mengobati kemana-mana anak saya ini, bahkan harus rela tanah dan sawah saya untuk dijual. Tapi sampai sekarang belum sembuh juga.”</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Saat Jualan Pernah Masuk Parit</strong></p>
<p class="MsoNormal">Cacat pada kedua matanya ketika masih anak-anak telah merenggut keinginannya untuk melihat indahnya dunia. Ada sedikti rasa iri jika Si Teng melihat orang lain yang dianugerahi Tuhan dengan keadaan normal. Seiring dengan berjalannya waktu, perasaan itu ia kubur dalam-dalam di lubuk hatinya. Karena ia menganggap hal tersebut tak ada gunanya.</p>
<p class="MsoNormal">Si Teng percaya jika Tuhan itu maha adil. Ia mencoba menerima keadaan ini dengan penuh hati. Hidup menurutnya adalah pilihan yang tidak bisa ditawar oleh setiap orang. Berlarut-larut dalam kesedihan tak akan pernah bisa menjamin keluarganya dapat hidup lebih baik. Semuanya butuh proses dalam menggapainya.</p>
<p class="MsoNormal">“Ujian setiap orang itu kan berbeda-beda. Mungkin Tuhan menguji saya dengan cara seperti inilah. Siapa yang tidak ingin melihat indahnya dunia. Saya juga ingin sekali. Tapi, mau bagaimana lagi, beginilah keadaan saya,” ungkap Si Teng.</p>
<p class="MsoNormal">Di tengah keterbatasan fisik yang dialaminya. Tak berarti Si Teng menghabiskan waktu berdiam diri di rumah. Ia masih memiliki tanggungan menghidupi keluarganya. Meski beberapa anaknya sudah ada yang berkeluarga, namun ia tak mau untuk berpangku tangan dengan anak-anaknya.</p>
<p class="MsoNormal">Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, Si Teng pun kemudian berjualan. Bermodalkan sebuah sepeda onthel tua. Setiap hari ia menyusuri jalan yang jaraknya hampir mencapai 4 km lebih untuk menjajakan dagangannya. Agar tidak tersesat saat di jalan, ia mencoba menggunakan perasaan untuk melangkahkan kedua kakinya.</p>
<p class="MsoNormal">“Saya jualan. Karena nggak ada modal yang besar, saya hanya jualan kerak nasi dan juga kelapa. Biasanya sih jualannya dimulai dari rumah kemudian melewati Desa Ladang Baru, Desa Kebun Baru, Komplek Perumahan Cina sampai Perumahan Villa Palem Kencana. Baru kemudia balik kembali ke rumah,” papar Si Teng sambil yang sesekali menggeserkan kakinya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Semangat bekerja Si Teng sangat luar biasa. Sepertinya kekurangan kondisi fisiknya bukan menjadi penghalang. Lihat saja bagaimana ia harus memanjat sendiri pohon kelapa, ketika mengambil buah kelapa yang akan dijualnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Tanpa menggunakan alas kaki, kelapa-kelapa itu langsung diletakkan di bagian belakang sepedanya. Barulah ia berkeliling desa untuk menjualnya.”Sudah terbiasa nggak pakai sandal. Jadi, ya nggak panas saat jalan di bawah sinar matahari,” ujar Si Teng.</p>
<p class="MsoNormal">Apabila orang normal saja bisa jatuh saat berjalan. Apalagi bagi dirinya yang tidak bisa melihat. Ia benar-benar menggantungkan perasaan setiap pergi dan berangkat bekerja. Bahkan, konsentrasi jualannya harus terpecah. Karena, biasanya saat sedang berjalan menjajakan dagangan, ia selalu menghitung langkah kakinya sebagai tanda sudah sejauh mana ia melangkah.</p>
<p class="MsoNormal">Perjuangan yang dilakukan Si Teng benar-benar sangat berat. Sayangnya, masih ada saja orang-orang jahil yang selalu mengganggunya. Tak jarang karena ulah orang-orang jahil tersebut, Si Teng harus menerima akibatnya. Masuk ke parit. Ya, masuk parit atau juga<span> </span>menabrak kayu adalah hal yang sering dialaminya.</p>
<p class="MsoNormal">“Kalau lagi jalan. Kadang ada orang atau anak-anak yang bilang, ke kiri terus, atau ke kanan. Padahal, arah itu adalah parit. Sempat beberapa kali dagangan saya jatuh semuanya. Setelah saya salah jalan, kemudia saya masuk parit,” ujarnya dengan suara pelan.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Pingin Jualan Sendiri di Rumah, Tapi Tak Ada Modal</strong></p>
<p class="MsoNormal">Sayangnya, susah payah perjuangan Si Teng setiap hari berjualan keliling dari desa ke desa, pendapatan yang ia terima tak sebanding dengan peluh keringatnya. Belum lagi jika ia mengalami hal-hal yang tak terduga. Masuk ke parit dan dagangan berserakan semua misalnya. Untung tak didapat, justru rugi yang ia terima.</p>
<p class="MsoNormal">Permasalahan kondisi fisiknya yang tak normal dan juga kesehatan tubuhnya yang sudah semakin tua, membuat Si Teng harus pintar-pintar menjaga kesehatan. Kesehatan baginya adalah hal utama, demi menghidupi keluarganya. Jika, ia sudah merasa sakit. Siap-siap kepulan asap dapur rumahnya tak setinggi biasanya.</p>
<p class="MsoNormal">“Saya kan sudah tidak muda lagi. Kalau sudah merasa capek, bagusan saya istirahat. Takut kalau jadi sakit. Bukan apa-apa, soalnya kalau sudah sakit, bisa mempengaruhi kehidupan keluarga,” ungkapnya.</p>
<p class="MsoNormal">Oleh karena itulah, dalam beberapa tahun terakhir ini, ia dan keluarga memiliki keinginan untuk bisa membuka usaha kecil-kecilan di rumahnya sendiri. Namun, keinginan tersebut sejauh ini masih belum juga bisa ia laksanakan. Modal yang ia kumpulkan selama ini dengan berjualan, belum juga mencukupi untuk membuka usaha kecil-kecilan.</p>
<p class="MsoNormal">“Keinginan saya adalah pingin punya usaha sendiri. Seperti kedai kecil-kecilan lah. Kalau sudah ada usaha di rumah kan saya tidak perlu jualan lagi. Sejak usia bertambah tua, badan ini sudah nggak bisa lagi dipaksakan untuk berjualan. Sampai sekarang ini belum jadi buka kedai, modalnya belum cukup,” seru Si Teng.</p>
<p class="MsoNormal">Keinginan Si Teng memang tak muluk-muluk. Bisa berjualan di rumah sudah menjadi berkah baginya. Kondisi yang telah membuat dirinya harus melakukan hal seperti ini. Karena, dari dalam lubuk hati sanubari terdalamnya, ia juga ingin hidup normal seperti juga<span> </span>layaknya orang hidup.”Kalau memang ada yang mau membantu memberikan modal, saya sangat bersyukur,” pungkasnya.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triy.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triy.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triy.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triy.wordpress.com/590/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triy.wordpress.com/590/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triy.wordpress.com/590/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=590&subd=triy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/si-teng-meski-buta-demi-bertahan-hidup-saya-tetap-jualan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e380040e3ad28fe9ee63051d5a819ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/foto-utamasi-teng-3.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">foto-utamasi-teng-3</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Meskipun Cacat, Saya Ingin Hidup Mandiri</title>
		<link>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/meskipun-cacat-saya-ingin-hidup-mandiri/</link>
		<comments>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/meskipun-cacat-saya-ingin-hidup-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 05:50:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triy.wordpress.com/?p=587</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)
Pelan-pelan asal selamat. Kata pepatah itu memang benar. Buat apa cepat-cepat jika akhirnya tak selamat. Dan ini pulalah yang terjadi pada Dedi. Anak keempat dari sebelas bersaudara ini harus menanggung beban yang cukup berat, setelah dirinya terlibat dalam sebuah insiden kecelakaan yang menyebabkan salah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=587&subd=triy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_588" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/hl-foto-utamaok.jpg"><img class="size-medium wp-image-588" title="hl-foto-utamaok" src="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/hl-foto-utamaok.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Dedi" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Dedi</p></div>
<p>(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)</p>
<p class="MsoNormal">Pelan-pelan asal selamat. Kata pepatah itu memang benar. Buat apa cepat-cepat jika akhirnya tak selamat. Dan ini pulalah yang terjadi pada Dedi. Anak keempat<span> </span>dari sebelas bersaudara ini harus menanggung beban yang cukup berat, setelah dirinya terlibat dalam sebuah insiden kecelakaan yang menyebabkan salah satu kakinya harus diamputasi.</p>
<p class="MsoNormal">Penyesalan memang sudah terlambat. Tapi, apapun yang terjadi semuanya tidak bisa lagi diulang kembali. Sejak saat itu, hari-hari indahnya sebagai remaja seolah terkubur oleh perjalanan waktu. Lantas, apakah permasalahan sudah berhenti sampai di situ. Jawabannya belum. Mahalnya biaya pengobatan telah membuat keluarga Dedi frustasi</p>
<p class="MsoNormal">“Setelah kejadian itulah saya baru menyesal. Seandainya saya bisa bersabar sedikit, mungkin kejadian seperti ini tidak akan pernah terjadi. Semuanya telah berlalu. Meskipun awalnya frustasi, perlahan saya mulai belajar untuk mengembangkan kreatifitas yang saya miliki,” ujar Dedi saat ditemui Global di rumah sederhana di Jalan Ayahanda Gang Buku Lorong Gereja, Medan kemarin</p>
<p class="MsoNormal">Menggunakan kaus oblong, Dedi memepersilahkan Global masuk ke dalam rumahnya. Tak ada yang nampak berharga di dalam rumahnya. Yang ada hanya perabotan sederhana, dengan dinding rumah dari kayu dan atap seng yang sudah mulai menua dimakan usia. Bahkan tak jarang jika hujan datang, seng-seng ini memberikan celah air hujan masuk ke dalam rumahnya.</p>
<p class="MsoNormal">“Tinggal inilah peninggalan dari orang tua saya. Hampir semuanya habis untuk biaya pengobatan. Ya bocor semualah kalau hari lagi hujan. Soalnya kan atap-atapnya sudah pada banyak yang bolong,” tambah Dedi.</p>
<p class="MsoNormal">Dedi mengaku, peristiwa tragis yang telah merenggut kaki kanannya sepertinya tidak akan pernah terlupakan dalam ingatannya. Trauma pun kadang menghinggapi pikirannya, ketika dirinya diajak untuk naik sepedamotor. Masih terbayang jelas dalam pelupuk matanya, detik-detik peristiwa tragis tersebut.</p>
<p class="MsoNormal">Menurutnya, kejadian itu berawal ketika dirinya bersama dengan seorang kawannya sedang mengendarai sepedamotor dengan kecepatan lumayan tinggi. Pada saat itu, posisi sepedamotornya persis berada di belakang becak. Karena tak sabar, ia pun memacu sepedamotornya mendahului becak yang ada di depannya. Naas, ternyata sebuah mobil sedan yang datang dari arah berlawan juga melaju dengan kecang. Brak…brak… kecelakaan pun tak terhindarkan lagi.</p>
<p class="MsoNormal">“Saya terpental dari atas sepedamotor, sementara kawan saya melompat dan jatuh. Setelah itu saya sudah tidak ingat-ingat apa-apa. Sampai sekarang yang saya ingat adalah ketika tabrakan lagi kambing itu,” seru Dedi sesekali menggeserkan tubuhnya</p>
<p class="MsoNormal">Selama empat bulan, ia harus menginap sementara di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Beruntung, pemilik mobil sedan yang menabraknya bertanggungjawab dengan mengganti rugi seluruh biaya pengobatan Dedi selama berada di rumah sakit.”Untungnya pemilik mobil itu mau memberikan ganti rugi. Kalau nggak, mungkin keluarga saya lebih parah lagi,” tambahnya.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Demi bertahan hidup, akhirnya kakiku diamputasi</strong></p>
<p class="MsoNormal">Memiliki satu kaki tak pernah terpikir dalam benak Dedi sebelumnya. Selama satu bulan menjalani pengobatan di rumah sakit, belum ada tanda-tanda jika salah satu anggota tubuhnya harus ia relakan untuk dihilangkan selamanya. Dan itu adalah anggota tubuh yang paling vital, yaitu kaki.</p>
<p class="MsoNormal">Awalnya, ia dan keluarga memiliki harapan besar untuk sembuh. Namun harapan itu sepertinya tinggal lah harapan. Karena sesuatu yang tidak ia inginkan akhirnya harus terjadi. Tulang paha bagian atas lututnya mengalami patah tulang. Tak ada jalan lain untuk bisa sembuh. Dan dokter pun sudah memfonisnya dengan tindakan amputasi, untuk menyelematkan dirinya.</p>
<p class="MsoNormal">“Kecelakaan yang saya alami ternyata sangat parah. Tidak hanya tulang paha yang patah, kulit sekitaran bagian yang luka telah mengalami pembusukan dengan lubang luka mengangah lebar. Dan salah satu hal yang bisa menghentikan rasa sakit itu kata dokter adalah dengan jalan amputasi,” ungkap pria berusia 34 tahun ini.</p>
<p class="MsoNormal">Kabar itu bukan saja mengguncang dirinya, tapi juga keluarganya. Dedi pun bahkan memiliki pikiran, jika masa depannya sepertinya harus berhenti sampai di sini. Usaha untuk menyelamatkan kakinya terus diupayakan oleh keluarga. Salah satunya adalah dengan beralih dengan pengobatan tradisional. Sayangnya, usaha ini justru membuat sakitnya bertambah parah. Akhirnya, putusan amputasi pun diterimanya.</p>
<p class="MsoNormal">“Karena bertambah parah, saya pun akhirnya harus rela memiliki satu kaki. Bingung dan menyesal sepertinya tidak ada gunanya lagi. Karena waktu itu, saya nggak tahu harus berbuat apa untuk masa depanku. Otomatis cita-cita untuk bisa membantu ekonomi keluarga pupus sudah dengan adanya persitiwa kecelakaan itu,” tegas Dedi.</p>
<p class="MsoNormal">Penderitaan keluarga Dedi tak juga berhenti, setelah dirinya menerima kenyataan pahit dengan diamputasi kakinya. Sang ibu tercinta, yang menjadi sandaran dan motivator hidupnya meninggalkan dirinya untuk selama-lamanya setelah menderita penyakit jantung. Sang ayah yang sekarang ini sudah tua dan saudara-saudaranya lah kini yang menjadi tumpuan hidupnya.</p>
<p class="MsoNormal">“Pasrah sepertinya bukanlah jalan yang baik. Karena saya juga ingin bisa membantu keluarga. Saya ingin seperti yang lain, bisa bekerja sendiri. Seharusnya saya bisa menjadi pengayom keluarga, tapi justru saya sekarang untuk hidup sehari-hari saja masih tergantung dengan saudara,” ujar Dedi.<strong><span style="font-size:16pt;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-family:&quot;">Pingin Buka Usaha, Tapi Tak Ada Biaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Praktis, selama sakit Dedi jarang keluar rumah. Pekerjaanya sebagai karyawan di sebuah perusahaan percetakan berhenti. Pengalaman bekerja itulah yang sekarang ini menjadi harapan terakhir Dedi untuk bisa hidup mandiri.</p>
<p class="MsoNormal">Beberapa kali ia harus gigit jari. Pasalnya, dengan kondisi fisik yang serba terbatas, Dedi mengaku sangat sulit untuk mencari pekerjaan. Modal pernah bekerja di sebuah percetakan, sebelum dirinya harus menerima kenyataan seperti ini, sekarang ia coba kembali. Sisa-sisa kreatifitas yang pernah ia miliki diasahnya kembali. Semua itu ia lakukan untuk satu tujuan, bisa hidup mandiri.</p>
<p class="MsoNormal">“Terus terang saya sebenarnya merasa malu dengan kondisi seperti ini. Memang semuanya Tuhan yang mengatur, tetapi saya juga ingin hidup normal. Syukur kalau saya bisa membantu keluarga saya, atau minimal bisa hidup tanpa belas kasih mereka,” serunya.</p>
<p class="MsoNormal">Sayangnya, nasib baik hingga kini belum berpihak kepadanya. Dedi mengaku tidak memiliki modal yang cukup untuk membuka usaha kecil-kecilan. Ada keinginan darinya untuk meminjam uang dari bank atau yang lainnya, namun katanya dibutuhkan persyaratan yang cukup banyak. Sehingga, ia pun harus menunda keinginannya untuk membuka usaha sendiri.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>“Salah satu yang menjadi masalah sekarang ini adalah masalah modal. Soalnya, saya kan tidak memiliki apa-apa. Mau minjam kesana-kemari, banyak sekali persyaratannya. Karena itulah saya berharap ada orang yang mau membantu untuk memberikan modal kepada saya,” harap Dedi.</p>
<p class="MsoNormal">Membuka usaha percetakan meskipun skala kecil memang membutuhkan<span> </span>biaya yang lumayan besar. Dedi mengakui hal itu. Tapi, itu sebenarnya bukanlah keinginan utamanya. Yang terpenting saat ini baginya adalah bisa membuka usaha yang bisa menghasilkan, minimal bagi dirinya sendiri.</p>
<p class="MsoNormal">“Memang besar modalnya. Tapi, saya juga tidak ingin memaksakan. Yang penting bisa hidup mandiri saja. Kalau pun ada sedikit modal, membuka kios jajanan pun jadilah. Dari situ kan nantinya saya bisa ngumpulkan uang. Mana tahu kalau suatu saat ada rezeki, saya bisa membuat usaha percetakan sendiri yang sudah saya impikan sejak dulu,” paparnya dengan nada semangat.</p>
<p class="MsoNormal">Sebelum menutup pembicaraan dengan Global, Dedi berharap agar pengalamannya tidak ditiru oleh orang lain. Karena kejadian seperti itu menurutnya dapat terjadi oleh siapa saja. Dalam beberapa percakapannya dengan Global, Ia mengaku menyesal dan selalu mengingatkan untuk selalu sabar ketika berada di jalan raya. Kecelakaan tidak hanya menguras ekonomi keluarga, tapi juga dapat merusak masa depan.</p>
<p class="MsoNormal">“Sebelum anda menyesal, lebih baik anda selalu berhati-hati. Kejadian seperti ini semoga dapat menjadi pelajaran bagi yang lain. Pelan asal selamat, daripada cepat tapi tak selamat,” pungkasnya memberikan kata nasehat.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triy.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triy.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triy.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triy.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triy.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triy.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triy.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triy.wordpress.com/587/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triy.wordpress.com/587/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triy.wordpress.com/587/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=587&subd=triy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/meskipun-cacat-saya-ingin-hidup-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e380040e3ad28fe9ee63051d5a819ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/hl-foto-utamaok.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">hl-foto-utamaok</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bung Jon : “Kadang Kalau Perut Lapar, Saya Tahan Saja”</title>
		<link>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/bung-jon-%e2%80%9ckadang-kalau-perut-lapar-saya-tahan-saja%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/bung-jon-%e2%80%9ckadang-kalau-perut-lapar-saya-tahan-saja%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 05:43:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triy.wordpress.com/?p=584</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)
Suara langkah kursi roda terdengar perlahan mendekati. Dari kejauhan nampak seorang penyandang cacat kaki duduk di atas kursi roda. Lelaki itu bernama Misnan atau biasa dipanggil dengan “Bung Jon”. Usianya sekitar 47 tahun. Bung Jon tinggal di Jl. Juanda Gang Buku Sei Sekambing. Karena [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=584&subd=triy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_585" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/foto-hl-utamamisno.jpg"><img class="size-medium wp-image-585" title="foto-hl-utamamisno" src="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/foto-hl-utamamisno.jpg?w=300&#038;h=224" alt="Misno" width="300" height="224" /></a><p class="wp-caption-text">Misno</p></div>
<p>(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Suara langkah kursi roda terdengar perlahan mendekati. Dari kejauhan nampak seorang penyandang cacat kaki duduk di atas kursi roda. Lelaki itu bernama Misnan atau biasa dipanggil dengan “Bung Jon”. Usianya sekitar 47 tahun. Bung Jon tinggal di Jl. Juanda Gang Buku Sei Sekambing. Karena kondisi tubuhnya yang cacat, setiap hari Jon hidup dari belas kasihan warga sekitar tempat tinggalnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Sebenarnya cacat ini sama sekali tidak saya inginkan, tapi apa yang mau dikata. Nasi sudah menjadi bubur,” ungkapnya<span> </span>sedih saat ditemui Global di kediamannya, Selasa (9/9) sore kemarin. “Siapa sih yang ingin hidup cacat? Sungguh sangat menyedihkan. Tidak bisa bergerak bebas, ataupun hanya sekedar kumpul-kumpul dengan kawan-kawan,” tambah Jon mulai bercerita.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Jon bercerita, jika dahulu ia tergolong anak yang lumayan bandal. Cacat yang diperolehnya terjadi saat dirinya bersama dengan kawan-kawan sepermainannya berencana memancing ikan di Sungai Sei Sekambing. Musibah terjadi, bukannya ikan yang didapat, justru kecelakaan yang ia alami.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Saat itu umurnya baru 12 tahun, melihat kawan-kawannya asyik berenang. Jon pun tak mau kalah. Sebelum tubuhnya meloncat ke sungai, dari arah belakang Jon didorong oleh temannya hingga masuk ke dalam sungai. Karena air di sungai dalam keadaan dangkal, ia pun jatuh. Tubuh, lutut, ataupun pergelangan kakinya mengalami luka yang sangat parah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">“Setelah jatuh, saya dibantu oleh kawan-kawan langsung pulang ke rumah. Tapi, sayangnya karena kondisi keuangan keluarga yang nggak punya, saya hanya di rawat sama dukun pijat saja. Dengan obat-obatan tradisonal dan di urut sama dukun saja pengobatannya,” ungkap Jon</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Satu bulan sudah musibah itu terjadi. Namun, kakinya tak kunjung menampakkan hasil yang positif. Rasa <span> </span>nyeri bahkan mulai terasa, hingga kemudian kakinya tidak bisa digerakkan dengan sempurna. Masalah finansial menjadi kendala, pengobatan Jon pun terpaksa dihentikan. Hari semakin hari, kaki Jon pun akhirnya benar-benar mengalami lumpuh total.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Ketika itu ia masih tinggal bersama dengan keluarga. Namun karena tidak cocok dan sering ribut. Jon pun memutuskan untuk tinggal sendirian. Sejak saat itulah ia tinggal sendiri. Karena kondisi inilah, ia hanya bisa mengharap belas kasih orang lain. Jangankan untuk pakaian, untuk makan pun kadang susah. Bahkan, kadang ia harus menahan lapar karena tidak ada orang yang membantunya.”Lapar, ya tetap saya tahan,” tambahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Dapat Bantuan Kursi Roda, Tegar Hidup Sendiri</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Pada tahun 2008, kawan-kawannya mendaftarkan Jon di organisasi orang cacat Indonesia. Setelah itu Jon pun mendapat bantuan kursi roda. Bantuan ini sangat berarti baginya. Beberapa kali ia sempat mengucapkan rasa syukur atas bantuan ini. Namun sayangnya, saat ditanya tentang keluarganya, Jon enggan berbicara banyak.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Sebelum memiliki kursi roda. Jon sangat jarang sekali keluar rumah. Ia hanya bisa berdiam diri di dalam rumah. Tidur dan melamun adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukannya.”Saya sangat bersyukurlah dengan diberikannya kursi roda ini. Dengan kursi saya bisa menikmati kembali dunia luar setelah beberapa tahun terkurung di rumah,” ujar Jon.</p>
<p class="MsoNormal">Perjalanan hidup yang dijalani Jon bukanlah hal mudah. Jutaan orang jumlah penduduk di dunia ini, seolah tiada arti baginya. Gubuk dengan ukuran tak lebih dari 4 X 4 meter menjadi saksi bisu bagaimana Jon menjalani kehidupan sehari-harinya. Semua itu dilalui Jon dengan sebuah kehampaan.</p>
<p class="MsoNormal">Sayangnya, lagi-lagi Jon tertutup saat Global mencoba mengorek kehidupan keluarga dan saudara-saudaranya yang lain. Dari raut wajahnya nampak tersirat suatu rahasia yang terus selalu disimpannya. Hanya dia saja yang tahu. Orang-orang lain yang sering menjenguknya ditutup untuk mengetahuinya.</p>
<p class="MsoNormal">Jon sepertinya masih bertahan dengan kekuatan batinnya. Hanya kursi rodalah yang selalu menemani dirinya sehari-hari. Begitulah Jon. Meskipun hidup sendirian, Jon mengaku tetap tegar menerimanya. Jon tak pernah menyalahkan siapa pun. Karena ia percaya jalan hidup seseorang semuanya telah diatur dan digariskan oleh Yang Maha Kuasa.</p>
<p class="MsoNormal">“Nggak ada yang perlu disesali dalam kehidupan yang telah saya lalu selama ini. Gimana ya, semua itu kan ada yang mengatur. Biarlah Tuhan yang menentukannya. Mungkin saat masih kecil atau remaja saja, dengan kondisi seperti ini saya agak minder kalau bergaul dengan orang lain,” jelasnya sambil sesekali mengingat kenangan saat dirinya masih bisa berjalan dan bermain-main dengan kawan-kawannya.</p>
<p class="MsoNormal">Kenangan bermain-main ketika masih kecil, sepertinya masih membekas dalam benak Jon. Pasalnya, Jon begitu semangat saat Global mencoba mengajak cerita tentang masa kecilnya ketika cedera kaki belum menimpanya.</p>
<p class="MsoNormal">“Namanya ya anak kecil. Sukanya kan bermain-main saja. Bedalah anak sekarang dengan anak dulu seperti di jaman saya. Anak sekarang kan seringnya lebih suka bermain-main, tapi kalau seumuran saya dulu harus membantu orang tua. Lagian belum banyak mainan seperti sekarang ini,” papar Jon</p>
<p class="MsoNormal">Manusia adalah makhluk sosial, dimana satu sama lain saling membutuhkan. Tidak ada manusia yang bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Kendati sampai sekarang ini Jon masih bisa hidup sendiri, tapi dalam hatinya yang terdalam ia tetap mendambakan bantuan orang lain. Apalagi seseorang yang bisa menjaga, menemani dan merawatnya.</p>
<p class="MsoNormal">“Saya nggak mau munafik. Saya juga pingin sekali punya seorang istri yang tak hanya merawat dan menjaga saja, tetapi juga selalu setia menemani saya. Siapa sih orang yang bisa hidup sendiri tanpa ada orang lain, pasti nggak ada kan,” jelasnya.</p>
<p class="MsoNormal">Sayangnya keinginan seperti itu, kata Jon, ibarat mimpi di siang bolong. Ia mengaku cukup tahu diri dengan keadaannya.”Hm… saya percaya kalau jodoh, rezeki dan maut semuanya yang mengatur yang di atas. Tetapi, sebagai manusia, saya juga ingin mendapatkannya seperti juga dengan orang lain,” tegas Jon dengan suara yang agak sedikit pelan.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Tak Bisa Tidur Kalau Hari Hujan</strong></p>
<p class="MsoNormal">Cuaca panas dan semilirnya angin menemani Global saat mengunjungi rumah Jon yang terletak di Jalan Juanda Gg Buku Sei Sikambing Medan. Saat melintasi kawasan ini, terlihat sebuah gubuk kecil yang beratapkan seng di atasnya. Siapa sangka jika gubuk tersebut merupakan rumah yang ditempati oleh masyarakat sekitar kawasan ini.</p>
<p class="MsoNormal">Suara gemerisik seng jelas terdengar saat angin bertiup kencang. Ini menandakan jika seng yang sudah berwarna usang ini tidak kuat lagi menancap di atap rumah tersebut. Bukan itu saja, rumah mungil itu juga terlihat mengikuti kemana arah bertiupnya angin. Jika angin menuju ke barat, rumah inipun agak sedikit condong ke barat, begitupun sebaliknya.</p>
<p class="MsoNormal">Itulah rumah milik Jon. Sejak ditinggal oleh kedua orangtuanya dan menjadi seorang yatim piatu, rumah ini menjadi peneduh baginya dari panasnya sengatan sinar matahari, dinginnya udara malam serta derasnya hujan yang mengguyur membasahi bumi. Di rumah inilah ia menumpahkan segalanya.</p>
<p class="MsoNormal">“Kalau misalnya ada hujan atau angin saat siang hari saya tidak terlalu takut. Tapi, kalau itu terjadi pada malam hari, barulah saya takut. Soalnya saya di sini kan sendirian. Kalau sudah hujan pada malam hari, beberapa atap di atas pada bocor semua. Jadi kalau mau tidur, nyari yang nggak kena bocoran air hujan lah,” ujar Jon.</p>
<p class="MsoNormal">Oleh karena itulah, Jon sangat berharap agar ada orang yang mau membantu dirinya untuk memperbaiki kondisi rumahnya. Minimal kebocoran saat air hujan turun bisa teratasi, sehingga ia pun bisa tidur nyenyak. “Jika sudah hujan malam hari, saya nggak bisa tidur nyenyak sampai pagi. Apalagi hujannya deras. Semuanya jadi basah semua di kamar ini,” terangnya menutup pembicaraan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triy.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triy.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triy.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triy.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triy.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triy.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triy.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triy.wordpress.com/584/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triy.wordpress.com/584/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triy.wordpress.com/584/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=584&subd=triy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/bung-jon-%e2%80%9ckadang-kalau-perut-lapar-saya-tahan-saja%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e380040e3ad28fe9ee63051d5a819ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/foto-hl-utamamisno.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">foto-hl-utamamisno</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cacat Fisik&#8230; Bukan Alasan Buat Saya Untuk Hidup Mandiri</title>
		<link>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/cacat-fisik-bukan-alasan-buat-saya-untuk-hidup-mandiri/</link>
		<comments>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/cacat-fisik-bukan-alasan-buat-saya-untuk-hidup-mandiri/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Sep 2008 05:38:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triy.wordpress.com/?p=581</guid>
		<description><![CDATA[(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)
Suara mesin las terdengar keras menggema di ruangan bengkel yang terletak di kawasan Jalan Sei Kambing, Gatot Subroto, Medan. Menggunakan kacamata las, beberapa pekerja nampak terlihat serius menyambung sebuah pipa besi. Tak jauh dari situ, seorang lelaki yang fisiknya terlihat cacat memegang sebuah besi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=581&subd=triy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_582" class="wp-caption alignleft" style="width: 302px"><a href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/asrol-1.jpg"><img class="size-full wp-image-582" title="asrol-1" src="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/asrol-1.jpg?w=292&#038;h=235" alt="Asrol" width="292" height="235" /></a><p class="wp-caption-text">Asrol</p></div>
<p>(Tulisan merupakan kolaborasi dengan Yuni, Wartawan Harian Global yang menjadi ujung tombakku)</p>
<p class="MsoNormal">Suara mesin las terdengar keras menggema di ruangan bengkel yang terletak di kawasan Jalan Sei Kambing, Gatot Subroto, Medan. Menggunakan kacamata las, beberapa pekerja nampak terlihat serius menyambung sebuah pipa besi. Tak jauh dari situ, seorang lelaki yang fisiknya terlihat cacat memegang sebuah besi sesekali memerhatikan anak buahnya yang sedang bekerja.</p>
<p class="MsoNormal">Pria itu adalah Asrol, ia adalah pemilik bengkel tersebut. Setiap hari ia selalu menghabiskan waktunya dengan bekerja di bengkel. Tak ada sedikitpun terlihat rasa minder dalam diri Asrol, meskipun kondisi fisiknya tidak seperti kebanyakan orang. Begitupun saat Global menemuinya beberapa hari yang lalu. Setiap ungkapan yang keluar dari mulutnya, sangat terlihat jika dirinya memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">“Beginilah saya. Sejak menginjak masa remaja dan mengerti arti hidup saya tidak pernah mengeluh tentang kondisi fisik saya. Semuanya saya serahkan kepada Tuhan. Dia yang menciptakan saya seperti ini, saya harus mensyukurinya,” ungkap Asrol mencoba membuka percakapan.</p>
<p class="MsoNormal">Sambil kedua tangannya memegang sebuah besi, pria berusia 32 tahun ini mencoba mengingat-ingat masa lalunya, kemudian menceritakan lika-liku perjalanan hidupnya kepada Global. Menurutnya, masa kanak-kanak adalah masa yang paling sulit dilaluinya. Pada masa itu ia benar-benar berada di titik terbawah dalam hidupnya.</p>
<p class="MsoNormal">Sejak usianya memasuki dua tahun, Asrol sudah kehilangan kedua orangtua yang sangat dicintainya. Meski hidup tanpa kedua orangtua, ia tetap masih bisa bersyukur karena memiliki seorang kakak yang selalu menjaga dan merawatnya.”Waktu itu saya nggak tahu harus bagaimana lagi. Untunglah ada kakak yang merawat saya. Dialah tulang punggung saya,” ujar Asrol.</p>
<p class="MsoNormal">Kendati masih memiliki kakak yang selalu merawatnya, tapi kondisi itu sepertinya tidak cukup baginya untuk menikmati kebahagiaan di masa kecil seperti anak-anak sebayanya. Tak jarang Asrol harus menerima ejekan dari para teman-temannya. Inilah salah satu hal yang sampai saat ini tidak pernah bisa ia lupakan. Karena dari sinilah semua pelajaran tentang hidup didapatnya.</p>
<p class="MsoNormal"><span>“Namanya anak-anak, kalau diejek kan pasti sakit hati dan pingin marah. Itulah kenapa, saya dulu saat masih kecil jarang bermain di luar rumah. Soalnya malu diejek sama kawan-kawan. Tapi, lama-kelamaan saya sudah kebal dengan ejekan. Dan mencoba mengambil hikmahnya saja,” tambah Asrol.</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong>Ditolak Sekolah di Palembang</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Penyakit folio yang ia derita dari sejak berusia enam bulan, membuat Asrol harus melupakan impiannya untuk bisa menikmati masa kecilnya. Tak hanya itu, kondisi ini diperparah dengan tingkat IQ-nya yang berada di bawah sandart orang kebanyakan. Hal ini dirasakan semakin menambah beban baginya dalam mengarungi kehidupan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Cobaan demi cobaan sepertinya tak pernah lepas dari kehidupan Asrol di waktu kecil. Asrol tak hanya ditolak oleh teman-teman di lingkungan tempatnya tinggal saja, tetapi ia juga beberapa kali ditolak untuk menuntut belajar di sekolah. Alasannya cuma satu, karena ia dianggap memiliki cacat fisik dan keterbelakangan mental.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sedih dan kehilangan rasa percaya diri dialami oleh Asrol ketika itu. Ia bahkan tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ia sempat berpikir, bahwa dunia ini sepertinya sudah benar-benar tidak menerimanya lagi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>”Perasaan saya waktu itu nggak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata. Saya hampir putus asa untuk menjalani hidup. Nggak mungkin kan saya hanya menggantungkan saudara saya saja untuk hidup,” papar Asrol sambil sesekali menghela nafasnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Seperti halnya saat dirinya diejek oleh kawan-kawan di lingkungan tempat tinggalnya, pengalaman tersebut kemudian dipelajarinya, hingga kemudian ia menemukan sebuah <span> </span>prinsip hidup yang sampai sekarang ini selalu dipegangnya. Apa itu?. Asrol menyimpulkan, jika kondisi cacat yang dialaminya bukan halangan dalam menggapai cita-cita yang tersemat dalam dirinya, yaitu bisa hidup mandiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Mungkin dari situlah saya bisa menyempurnakan hikmah hidup yang selama ini saya alami. Keterbatasan ini bukan alasan buat saya untuk berkembang. Saya yakin bisa melakukan segala hal yang ingin saya lakukan. Bahkan, tidak hanya untuk diri saya sendiri, tapi mungkin juga orang lain,” jelas Asrol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Sejak saat itu, Asrol mulai menemukan kembali arti hidup dan kepercayaan dirinya yang sebelumnya hampir hilang dalam dirinya. Ia juga mulai berpikir bagaimana menjalani hidup untuk masa depannya kelak. Ia terus belajar memupuk rasa percaya dirinya. Karena ia beralasan, membangun percaya diri adalah salah satu modal dalam menghadapi kehidupan yang akan dijalaninya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Awalnya saya mulai belajar dari lingkungan keluarga. Saya banyak belajar bagaimana tetap menjaga kepercayaan diri. Karena saya tahu, dengan kondisi seperti ini pasti banyak orang yang akan mengejek saya. Seperti juga kawan-kawan dulu,” ujar Asrol beralasan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Pindah ke Medan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Keinginan untuk menuntut ilmu dan mengubah kehidupan yang ia rasa tidak bahagia saat masih kecil, mengilhami dirinya untuk selanjutnya pindah tempat tinggal. Selama tinggal di Palembang, ia merasa tidak pernah diberi kesempatan belajar menuntut ilmu. Pasalnya, tidak ada satupun sekolah yang sudah didaftarnya mau untuk menerima dirinya sebagai murid sekolah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Akhirnya, setelah melihat berbagai pertimbangan dan keputusan keluarga. Asrol pun kemudian berlabuh dan menjejakkan kakinya di Kota Medan. Pada waktu pertama kali tiba di Medan,  ia mengaku bersumpah untuk bisa “menaklukkan” Kota Medan. Berbagai cara ia lakukan untuk bisa masuk sekolah di Medan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Nasib baik mulai menaungi Asrol. Akhirnya, ia diterima untuk menuntut ilmu di sebuah sekolah swasta di Medan. Tapi, ia harus terlebih dahulu melewati beberapa tes, sebelum diterima menjadi muridnya. Semangat dan rasa percaya diri yang selalu dijadikan prinsipnya, mengantarkan Asrol diterima untuk mengikuti pelatihan di Sekolah Luar Biasa (SLB) selama kurang lebih satu bulan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Syukurlah akhirnya saya diterima di sekolah tersebut. Di sekolah itu jugalah saya banyak belajar bagaimana hidup mandiri. Sebagai orang yang menderita keterbatasan fisik, saya tidak boleh banyak menggantungkan bantuan kepada orang lain terus. Saya harus bisa hidup mandiri,” tegas Asrol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Meski ia mengaku kalau tingkat kecerdasannya di bawah standart. Namun, ketika masuk sekolah SD, Asrol berhasil melewati dua kelas tanpa harus mengikuti pelajaran. Karena ia berhasil lulus kualifikasi yang diselenggarakan oleh pihak sekolahan. “Saat masuk SD dulu saya langsung naik kelas 3, jadi nggak perlu ikut lagi pelajaran kelas 1 dan kelas 2,” sebutnya bangga.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span>Belajar Ikut Organisasi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Usaha dan semangat Asrol untuk bisa hidup mandiri dan bergaul dengan orang lain patut diacungi jempol. Untuk mendukung keinginannya tersebut, pada tahun 1996, dirinya bergabung dalam oraganisasi Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI). Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. Guru kesenian yang mengajak dirinya untuk masuk kedalam organisasi ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Setelah beberapa bulan bergabung di PPCI. Asrol mendapat kepercayaan dari kawan-kawannya untuk menjadi pengurus organisasi, yang mana ia mendapat tugas memotifasi dan memberikan pengarahan kepada juniornya yang di PPCI untuk bisa mengembangkan keahliannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>“Karena tugas saya mendampingi junior di bidang keterampilan. Makanya, sebelum menjadi pengurus, saya digembleng dahulu tentang keterampilan seperti belejar ilmu perbengkelan dan menjahit. Barulah setelah itu, saya diangkat untuk masa bakti 5 tahun,” seru Asrol.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span>Setelah selesai menyelesaikan amanah sebagai pengurus di PCCI. Asrol mencoba membuka usaha sendiri yang modalnya diambil dari uang tabungannya saat masih menjadi pengurus di PPCI. Untuk menunjang usahanya tersebut, ia pun memodifikasi sepedanya untuk keperluan transportasi. Bengkel milik saudaranya yang terletak di kawasan Jalan Gatot Subroto, Medan, kini telah dipegang sendiri oleh Asrol. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span><span> </span>“Meskipun hasil sedikit, yang penting itu adalah hasil jerih payah kita sendiri. Dan selagi kita bisa atau mampu kenapa tidak kita coba. Bukankah tuhan itu menciptakan manusia dengan kekurangan, pasti juga dengan kelebihan yang luar biasa. Akhirnya saya bisa kok hidup mandiri,” paparnya menutup pembicaraan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span> </span></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triy.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triy.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triy.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triy.wordpress.com/581/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triy.wordpress.com/581/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triy.wordpress.com/581/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=581&subd=triy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triy.wordpress.com/2008/09/25/cacat-fisik-bukan-alasan-buat-saya-untuk-hidup-mandiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e380040e3ad28fe9ee63051d5a819ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/asrol-1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">asrol-1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Candu itu Bernama Playstation</title>
		<link>http://triy.wordpress.com/2008/09/05/candu-itu-bernama-playstation/</link>
		<comments>http://triy.wordpress.com/2008/09/05/candu-itu-bernama-playstation/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 16:11:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triy.wordpress.com/?p=318</guid>
		<description><![CDATA[Game Playstation kian diminati di setap kota. Kesempurnaan teknologi grafis menjadi daya pikatnya. Memacu adrenalin para gamer.
Suara tembakan, ledakan dan raungan pesawat menghajar ruangan seluas tak lebih 20 meter persegi itu. Sumbernya adalah perangkat suara yang terpasang di samping 23 komputer di warung game Eleven Playstation Two, di bilangan Jalan Jamin Ginting Medan. Bising sekali.
Tapi, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=318&subd=triy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_319" class="wp-caption alignright" style="width: 310px"><a href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/gotta.png"><img class="size-full wp-image-319" title="gotta" src="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/gotta.png?w=300&#038;h=263" alt="game oh game" width="300" height="263" /></a><p class="wp-caption-text">game oh game</p></div>
<p>Game Playstation kian diminati di setap kota. Kesempurnaan teknologi grafis menjadi daya pikatnya. Memacu adrenalin para gamer.</p>
<p>Suara tembakan, ledakan dan raungan pesawat menghajar ruangan seluas tak lebih 20 meter persegi itu. Sumbernya adalah perangkat suara yang terpasang di samping 23 komputer di warung game Eleven Playstation Two, di bilangan Jalan Jamin Ginting Medan. Bising sekali.</p>
<p>Tapi, bagi para pengunjung, itulah musik yang mengiringi tarian jari-jari mereka di atas keyboard dan lototan mata mereka di depan komputer. Tiap beberapa saat, muncul teriakan berbarengan. Nadanya selalu terbelah dua. Ada yang puas, ada pula yang gemas.</p>
<p>Bukan cuma di warung game Eleven Playstation Two para penggemar game- lazim disebut gamer-bisa memanjakan hobinya. Di pojok-pojok lain di Kota Medan, bahkan di wilayah lain di luar Kota Medan, warung-warung penyedia game ini telah pula menjamur. Namun secara umum, kehadiran mereka paling jamak dijumpai di kawasan kampus, seperti di kawasan Jamin Ginting, Padang Bulan, Jalan Sisingamagaraja.</p>
<p>Kemunculan mereka bagian dari evolusi dari gerai-gerai warung telekomunikasi (wartel) yang sudah lama mewabah. Saat demam internet melanda, para pengusaha sibuk mendandani wartelnya dengan unit komputer plus modem. Nah, ketika permainan game model ini mulai merekah, mereka juga mengantisipasinya dengan memperbanyak unit komputer yang kemudian dipasangi game dan membuat jaringan lokalnya.</p>
<p>Agar makin yahud, beragam fasilitas ditawarkan. Makin gede modal pengusaha, makin sip pula fasilitasnya. Apalagi permainan game yang ada sekarang ini cukup beragam, sehingga gamer dapat memilih permainan yang mereka sukai. Dan yang paling ngetren bagi para gamer adalah Gota, Counter Strike, Winning Eleven atau Championship Manajer.</p>
<p>Gota adalah permainan strategi perang, permainan ini dapat dilakukan sekitar sepuluh orang, di mana setiap tim terdiri dari lima orang, sehingga permainan ini membutuhkan paling tidak sepuluh komputer.</p>
<p><img class="bbcode" style="float:right;margin-left:5px;" src="http://www.harian-global.com/e107_images/newspost_images/051106_candups2.jpg" alt="" /> Permainan yang membutuhkan waktu yang lumayan lama ini, menjadi idola para gamer, karena dipermainan ini para gamer bisa menerapkan kerjasama tim dalam menyusun strategi untuk mengalahkan lawannya.</p>
<p>Selain Gota, yang juga menjadi pavorit adalah Counter Strike, permainan perang-perangan ini membutuhkan skill dan strategi gamer untuk dapat memenangkan pertarungan.</p>
<p>Game jaringan ini adalah pengembangan terbaru jenis permainan video. Prinsip bermainnya sama. Hanya, yang dilawan bukan cuma mesin pintar, tapi bisa juga pemain lain di komputer lain. Mereka bisa pula bermain keroyokan, melawan program komputer atau pun kelompok pemain lain. Para pemain dihubungkan lewat jaringan komputer lokal. Agar pemain tak tersendat urusan teknis, minimal dibutuhkan komputer minimum prosesor Pentium III dan sejumlah perangkat pendukung lainnya.</p>
<p>Jenis permainan komunal ini mulai muncul sekitar lima tahun lalu. Saat itu yang pertama populer adalah game Starcraft. Seiring dengan teknologi grafis komputer yang kian canggih, judul game yang ditawarkan kian beragam dan dahsyat. Penggemarnya makin lama makin bertambah.</p>
<p>Namun, daya pikat utama tak lain sifat keroyokan yang dimiliki game jaringan. Bertanding dalam sebuah tim, para pemain bisa mengatur berbagai siasat untuk memorak-porandakan kelompok lain.</p>
<p>Ini yang bikin asyik. Sudah begitu, kalau menang, mereka bisa langsung jumawa meledek kelompok lawan. Bahkan Game Ragna Rock Medan (RNRM) dapat menghasilkan uang dengan cara menjual setiap level yang dimiliki kepada pemain lain.</p>
<p>Dan yang tak kalah serunya adalah, game Championsip Manajer. Game sepak bola ini menuntut kita untuk menjadi seorang manajer sepak bola yang andal. Tehnik dan strategi menjadi modal utama untuk bisa memenangkan setiap pertandingan. Mimpi untuk menjadi seorang manajer sepak bola klub-klub tenar, seperti AC Milan, Inter Milan maupun Barcelona seolah menjadi kenyataan.</p>
<p>Tak aneh bila para gamer begitu dimanjakan dengan beragam macam game-game baru yang mutakhir. Tak aneh kalau di sejumlah game station, gamer keasyikan bermain. Di warung-warung penyelia game pengunjung tak pernah surut. Apalagi ada game center yang buka 24 jam penuh. Pengunjungnya selalu datang-pergi hampir tiada selanya, dari anak-anak muda sampai lelaki dewasa.</p>
<p>Diperkirakan, ada ratusan lebih pusat permainan yang menyediakan games menarik di Medan. Warung Eleven Playstation Two, yang terletak di kawasan Padang Bulan ini misalnya. Warung game ini buka dari pukul sembilan pagi hingga pukul tiga dinihari tak pernah sepi tiap harinya. Waktu padat dimulai pukul 5 sore. Bahkan pada malam Minggu, misalnya, sampai ada daftar tunggu agar semua pelanggan beroleh kesempatan bermain di tempat ini.</p>
<p>Menurut Robby, pemilik game station ini, yang datang bermain mulai umur 5 tahun hingga orang berusia 30-an. Pengunjung terbanyak tentu remaja. Mereka boleh datang kapan saja, sekalipun pelajar yang masih memakai seragam sekolah. Rata-rata mereka menghabiskan waktu lima jam di tempat ini.</p>
<p>Mungkin lima jam sehari bagi orang yang tak menggemari game dinilai sebagai pemborosan waktu. Bagi pecandu, rentang waktu itu masih saja dirasa kurang. Ibaratnya, bila tempat permainan tidak tutup, mereka pasti tahan tetap bermain.</p>
<p>Lihat saja Putra, 16 tahun. Siswa kelas I SMA Dwi Warna merupakan penggemar berat jenis game Counter Strike (CS) dan Rag Na Rock Medan (RNRM).. Ia mengaku dalam seminggu, bisa bermain lima hari. Ia biasa datang bersama teman-temannya. Permainan ini sudah ia minati sejak dua tahun lamanya. &#8220;Kalau sehari saya tidak bermain game, rasanya kurang lengkap. Mungkin karena sudah menjadi hobi dan kebiasaan, sehingga sulit untuk ditinggalkan &#8221; ujar remaja berambut hitam cepak ini.</p>
<p>Ia bermain game biasanya sepulang dari sekolah, dari pukul dua siang sampai sembilan malam. Sehari ia merogoh kocek Rp15.000. Darimana duitnya? Ya uang saku, wong namanya juga anak sekolah.</p>
<p>&#8220;Kalau sudah bermain begini saya lupa untuk pulang. Pernah, saking asyiknya bermain Ibu saya datang menjemput,&#8221; ujar anak kedua dari empat bersaudara ini terkekeh sendiri.</p>
<p>Pengalaman Sanjaya lain lagi. Saking candunya terhadap playstation, mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Medan ini, mengaku betah berhari-hari di pusat permainan itu.</p>
<p>&#8220;Saya biasanya bermain seharian penuh. Bahkan saya pernah punya pengalaman bermain sampai tiga hari berturut-turut. Kalau capek paling tidur di kursi lalu bangun untuk makan. Setelah itu, ya, main lagi,&#8221; cerita Sanjaya saat ditemui di salah satu rental di kawasan Padang Bulan, Medan.</p>
<p><img class="bbcode" style="float:left;margin-right:5px;" src="http://www.harian-global.com/e107_images/newspost_images/051106_candups3.jpg" alt="" /> Bagi Sanjaya bermain game telah menjadi hobi yang sangat sulit dilepaskan. &#8220;Sulit bagi saya untuk lepas dari permainan ini. Bahkan kecanduan bermain game lebih besar dari pada kecanduan rokok,&#8221; akunya.</p>
<p>Perasaan serupa juga dialami oleh Edo, 21 tahun. Ia mengaku candu permainan game itu sangat sulit dihilangkan. &#8220;Sulit ya kalau kita udah kecanduan, bisa berhari-hari kita bermain game, sampai lupa makan, bahkan kuliah pun terbengkalai,&#8221; ujar mahasiswa USU jurusan Agribisnis saat ditanya mengenai hobinya ini.</p>
<p>Sebagai anak kos, baik Sanjaya maupun Edo harus memutar otak demi kelangsungan hobi mereka itu. Dalam sebulan biasanya mereka menyiapkan anggaran khusus antara Rp 200 ribu &#8211; 300 ribu untuk bermain game, lebih besar daripada biaya makan mereka Rp200 ribu. Padahal kiriman orangtua mereka cuma Rp500 ribu per bulan. Untuk menutupi kekurangannya itu terkadang mereka tak segan-segan berutang kepada penjaga rental.<br />
Sayangnya, demi hobi itu, Sanjaya rela mengorbankan pendidikannya. Belajar pun jadi malas. Tak aneh kalau nilai akademiknya melorot drastis. &#8220;Sejak kecanduan main game, saya jarang mengikuti kuliah. Baru masuk kuliah seminggu sebelum ujian,&#8221; ujarnya</p>
<p>Berbeda dengan Edo. Demi hobi itu ia melakukan penundaan kegiatan akademik (PKA) di kampusnya. &#8220;Semester ini saya tidak pernah kuliah. Saya mengambil program PKA. Habis keenakkan main game sih,&#8221; cerita Edo penggemar game Gota, jenis permainan yang mengandalkan strategi berperang ini.</p>
<p>Tak beda jauh dengan Putra yang sering bolos sekolah demi bermain game. Bahkan tak jarang ia menggunakan uang sekolahnya hanya sekadar untuk melepas candu untuk bermain game itu.</p>
<p>&#8220;Ibu sampai marah karena saya memakan uang sekolah untuk bermain game. Tetapi saya tidak peduli dan saya tetap bermain game setiap hari &#8221; kata pelajar berbadan kurus ini.<br />
Sejatinya, bentuk permainan seperti ini dapat dijadikan selingan sebagai sarana alternatif anak-anak atau remaja dalam mencari hiburan di luar rumah. Ibarat minum obat, kalau sesuai dengan takarannya tentu akan baik bagi anak-anak dan remaja. Namun fakta yang terjadi justru kebalikannya.</p>
<p>&#8220;Mereka boleh saja bermain game, tapi di waktu liburan atau waktu yang tidak mengganggu rutinitas mereka sebagai pelajar,&#8221; ujar Juwairiah Sag, Wakil Kepala Sekolah SMP Negeri 12 Binjai.</p>
<p>Menurutnya, game yang banyak digandrungi anak usia sekolah ini cenderung berdampak negatif. &#8221; Si anak menjadi malas untuk belajar, sehingga prestasi mereka di sekolah terus melorot. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana masa depan mereka kelak,&#8221; ujar Juwairiah.</p>
<p>Untuk menangani masalah tersebut, Juawairiah serta guru yang lain sebenarnya sering menggelar razia di beberapa warung game yang berdekatan dengan sekolah dimana ia mengajar. &#8221; Kami sering menemukan anak sekolah bermain game saat jam belajar berlangsung. Meski sudah mendapat sanksi, tetap saja mereka kembali bermain, &#8221; ungkapnya.</p>
<p>Memang tak bisa dipungkiri, banyak di antara pelajar dan mahasiswa yang pola bermain game berlebihan, sehingga mengabaikan kewajiban mereka sebagai pelajar. &#8220;Jika main game sudah prioritas utama, hingga lupa yang lain, ini sudah buruk,&#8221; ujar Ferry Novliadi, S.Psi, M.Si dosen Psikologi USU.</p>
<p>Sebenarnya, kata Ferry, kecenderungan anak-anak atau remaja bermain game merupakan hal wajar di era globalisasi saat ini. Game itu sendiri punya dampak positif untuk mengasah kecerdasan berpikir anak. Namun kalau itu sesuai dengan proporsinya. Bila berlebihan, penggila game ini cenderung asosial.</p>
<p>&#8220;Penggila game yang kelewat batas akan cenderung asosial. Enggan bergaul dengan sekelilingnya. Mereka bahkan akan lebih egois karena asyik dengan dunianya sendiri. Yang paling dikhawatirkan mereka melakukan tindakan yang negatif seperti menggunakan uang sekolah atau uang kuliah, atau bahkan tindakan kriminal lainnya, &#8221; ujar Ferry.</p>
<p>Selain kontrol orang tua, Juwairiah berpesan agar pengelola warung game tidak mengizinkan anak berseragam sekolah untuk bermain game. Sementara Ferry mengimbau agar pihak aparat kepolisian dapat berperan aktif dengan merazia pusat permainan yang banyak dikunjungi anak sekolah yang sering meninggalkan waktu jam pelajaran.</p>
<p>Dedy Ardiansyah-Hendra Mulya-Tri Yuwono &gt;&gt; Global</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/triy.wordpress.com/318/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/triy.wordpress.com/318/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triy.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triy.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triy.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triy.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triy.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triy.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triy.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triy.wordpress.com/318/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triy.wordpress.com/318/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triy.wordpress.com/318/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=318&subd=triy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triy.wordpress.com/2008/09/05/candu-itu-bernama-playstation/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e380040e3ad28fe9ee63051d5a819ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/gotta.png" medium="image">
			<media:title type="html">gotta</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.harian-global.com/e107_images/newspost_images/051106_candups2.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.harian-global.com/e107_images/newspost_images/051106_candups3.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Kekonyolan Kakek Bercucu Tiga</title>
		<link>http://triy.wordpress.com/2008/09/05/kekonyolan-kakek-bercucu-tiga/</link>
		<comments>http://triy.wordpress.com/2008/09/05/kekonyolan-kakek-bercucu-tiga/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Sep 2008 16:05:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triy.wordpress.com/?p=314</guid>
		<description><![CDATA[
Orangtua mana yang tak hancur hatinya mendapati masa depan putri kecilnya direnggut secara paksa. Apalagi pelakunya adalah tetangga sendiri, seorang kakek yang memiliki tiga cucu.
Usman alias Wak Buyung, 53 tahun, tak bisa tenang menghadapi sisa hidupnya. Ayah 11 anak ini menghadapi tuduhan melakukan perkosaan terhadap bocah ingusan berusia 6 tahun, yang tak lain tetangganya sendiri. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=314&subd=triy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><blockquote>
<div id="attachment_315" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/korban-melapor.jpg"><img class="size-full wp-image-315" title="korban-melapor" src="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/korban-melapor.jpg?w=200&#038;h=150" alt="korban melapor" width="200" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">korban melapor</p></div>
<p>Orangtua mana yang tak hancur hatinya mendapati masa depan putri kecilnya direnggut secara paksa. Apalagi pelakunya adalah tetangga sendiri, seorang kakek yang memiliki tiga cucu.</p>
<p>Usman alias Wak Buyung, 53 tahun, tak bisa tenang menghadapi sisa hidupnya. Ayah 11 anak ini menghadapi tuduhan melakukan perkosaan terhadap bocah ingusan berusia 6 tahun, yang tak lain tetangganya sendiri. Korban pun mengalami pendarahan. Kekonyolan kakek bercucu tiga itu berlanjut.</p>
<p>Ia juga dituduh mencabuli anak-anak tetangganya sendiri yang masih bau kencur. Awal November lalu, masyarakat Belawan pun gempar.</p>
<p>&#8220;Setidaknya ada delapan anak-anak yang mengaku telah menjadi korban pencabulannya. Tapi kami yakin masih ada lagi yang jadi korban. Mungkin mereka takut atau malu. Kalau kami siap menerima malu, yang penting pelakunya ditangkap dan dihukum,&#8221; ujar Lela, salah satu orang tua korban yang melakukan visum di RSU dr Pirngadi Medan, 4 November lalu.</p>
<p>Sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik pasal 5 ayat (b) dan UU Perlindungan Anak No 23 Tahun 2002, mengenai anak-anak dibawah usia 16 tahun yang menjadi korban kejahatan susila, maka dalam laporan ini identitas pelaku sengaja kami samarkan. Untuk kakak adik E (13) dan T (2) menjadi Mawar dan Tania, F (Bunga, 6 tahun), SL ( Anggrek, 5 tahun) M (Melati, 7 tahun).</p>
<p>Sedangkan untuk adik kakak S (7) dan N (8) menjadi Delima dan Anyelir dan P (Ros, 7 tahun). Keseluruhan korban susila tersebut merupakan tetangga dekat pelaku.</p>
<p>Kasus pencabulan terhadap anak-anak yang masih berusia dua sampai dengan 13 tahun ini terbongkarnya pada Kamis 25 Oktober lalu. Ketika salah satu korban, kita sebut saja namanya Bunga, mengalami pendarahan pada alat vitalnya akibat pemerkosaan. Akibat pendarahan itu, bocah berusia enam tahun ini sempat dirawat selama tujuh hari di salah klinik di Belawan.</p>
<p>Lela, (34) salah seorang tetangga korban, awalnya merasa prihatin melihat kondisi Bunga. Dia merasa ada yang tidak beres atas penderitaan Bunga. Ia mencoba mencari tahu penyebab pendarahan bocah tersebut. Setelah melakukan introgasi, baru Bunga mengakui bahwa ia korban pencabulan,Wak Buyung, tetangga mereka sendiri. Dari pengakuan tersebut pula, kecemasan Lela bertambah.</p>
<p>&#8220;Ia mengaku kalau dirinya bukan satu-satunya korban Wak Buyung. Teman-temannya yang sering bermain ke rumah pelaku juga pernah dicabuli,&#8221; aku Lela yang ketika itu langsung mengingat kepada kedua anaknya Bunga (13) dan Delima (2) &#8211; keduanya merupakan nama samaran.</p>
<p>Tanpa pikir panjang, ia langsung beranjak ke rumahnya dan mengintrogasi kedua putrinya itu. Namun kedua anaknya tidak ada yang mengaku.</p>
<p>&#8220;Awalnya mereka tak mau mengaku. Setelah saya bujuk-bujuk pakai uang, anak saya yang paling kecil baru mengakuinya. Kakaknya, Bunga pun, akhirnya ikut mengakui bahwa mereka juga telah menjadi korban pencabulan,&#8221; ujar Lela.</p>
<p>Betapa hancur hati Lela begitu mendengar pengakuan kedua putrinya itu. Bagaikan petir di siang bolong, ibu dua anak ini tak mampu menahan tangis. Emosinya seketika membuncah. Ia pun langsung mendatangi rumah Wak Buyung, yang tak jauh dari rumahnya. &#8221; Saat itu juga saya datang ke rumah Wak Buyung. Mulanya dia menolak mengakui telah mencabuli anak saya. Tapi setelah mendengar kesaksian anak saya, akhirnya ia mengakuinya,&#8221; ujar Lela.</p>
<p>Yang membuat Lela geram, pelaku datang ke rumah bersama istrinya dan meminta maaf, ketika itu mereka berharap masalah itu jangan dilapor ke polisi. &#8221; Orangtua mana yang tak geram anaknya dicabuli,&#8221; kata Lela menahan emosi.</p>
<p>Selidik punya selidik, ternyata, tidak hanya Lela saja orang tua yang merasa tersayat hatinya menjadi korban tindakan amoral yang dilakukan Wak Buyung. Ny Lien, 27 tahun, orang tua Delima (8) dan Anyelir (7) ternyata juga merasakan hal yang sama. Dua bocah kakak beradik yang tinggal di lingkungan yang sama itu ikut menjadi korban nafsu setan Wak Buyung.</p>
<p>&#8220;Keluarga pelaku memang tidak beres. Masak sudah bersalah seperti itu, mereka hanya minta maaf, seolah-olah itu hanya kesalahan kecil. Orang tua mana sih yang tidak geram melihat hal seperti itu,&#8221; jelas Lien memendam dendam.</p>
<p>Pada Jumat (3/11) lalu, keluarga korban ramai-ramai membawa anak-anaknya ke Rumah Sakit dr Pirngadi. Dari keterangan pihak keluarga korban, ternyata para korban itu dinyatakan telah menjadi korban pencabulan. Namun yang paling parah akibat perbuatan cabul yang dilakukan oleh Wak Buyung adalah Bunga, karena alat kelamin bocah ingusan itu telah rusak.</p>
<p>&#8220;Yang paling parah anak saya. Karena ia satu-satunya korban perkosaan. Yang lain kan cuma korban pencabulan. Akibatnya anak saya sampai mengalami pendarahan,&#8221; ungkap Agus, ayah Bunga sedih.</p></blockquote>
<blockquote><p><strong class="bbcode bold">Siapakah Gerangan Wak Buyung</strong><br />
Banyak warga yang tidak mengira Usman alias Wak Buyung merupakan pelaku dari pencabulan di Jalan Selebes Gangg II Belawan. Sosoknya yang pendiam dan sayang pada anak-anak ini termasuk orangtua yang disegani tetangga di lingkungan itu.</p>
<p>Keseharian lelaki berusia 53 tahun ini adalah sebagai pekerja di pelabuhan Belawan. Sesekali pria kurus tinggi ini turun ke laut bersama nelayan lain untuk mencari ikan. Dari hasil pernikahannya dengan Warni itu, ia memiliki sebelas anak dan dianugerahi tiga orang cucu.</p>
<p>Begitu kasus ini mencuat, mau tak mau banyak warga yang menduga bahwa kakek tua ini memiliki kelainan seksual. Benarkah?</p>
<p>Di mata tetangganya, sosok Wak Buyung dikenal penyayang terhadap anak-anak, terbukti setiap hari banyak anak-anak yang bermain ke rumahnya. Bahkan sebelum kasus ini terungkap, para tetangga malah sering menitipkan anak-anaknya ke rumah Wak Buyung. Tapi entah setan dari mana yang memasuki pikirannya, sehingga Wak Buyung tega melakukan perbuatan yang tidak sepantasnya dilakukan oleh seorang kakek.</p>
<p>&#8220;Kami tidak menduga kalau Wak Buyung melakukan perbuatan bejat itu. Karena orangnya termasuk pendiam, dan kelihatannya sayang kepada anak-anak. Makanya banyak anak yang main ke rumahnya. Saya berharap Wak Buyung dihukum sesuai dengan undang-undang yang berlaku,&#8221; ungkap Nelly, salah seorang tetangga Wak Buyung.</p>
<p>Anak-anak yang menjadi korban pencabulan itu memang kerap menjadikan rumah Wak Buyung sebagai tempat bermain. Sebenarnya rumah itu sangat sederhana dan berada dalam gang yang sempit. Rumah berukuran sekitar 8&#215;10 meter itu juga berdempetan dengan rumah warga lainnya. Namun karena dikenal sayang pada anak-anak, tak heran kalau rumah itu sering dikunjugi. Namun siapa yang menduga kalau akhirnya Bunga dan teman-temannya menjadi korban pencabulan sang pemilik.</p>
<p>Informasi yang berhasil di himpun Global menyebutkan, pelaku diduga telah lama melakukan tindakan pencabulan terhadap anak di bawah umur itu. Karena 2 tahun sebelumnya, kelakuaan itu sudah pernah dilakukannya.</p>
<p>Menurut warga sekitar, korban pertamanya tak lain adalah cucu besannya sendiri, namun besannya tidak mau melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Merasa tindakannya itu tidak mendapat tanggapan, ia pun nekad berbuat kepada delapan orang anak tetangganya sendiri. Dalam melakukan aksinya, para korban umumnya diancam bunuh namun ada pula yang diiming-iming uang.</p>
<p>Namun tidak semua korbannya takut menerima ancaman tersebut. Bunga yang menjadi korban perkosaan, tetap mengadukan perbuatan yang tak sepantasnya ia terima ke orangtuanya. Lalu orang tua Bunga mencoba membicarakan hal tersebut kepada Warni, istri pelaku. Namun tidak ditanggapi. Merasa didiamkan begitu saja. akhirnya orang tua bunga mengadukan tersangka.</p>
<p>Untuk melanjutkan perjuangannya mencari keadilan, Lela dan orang tua korban lainnya mengadu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Sumut.</p>
<p>&#8220;Kami meminta bantuan kepada KPAID agar kasus ini dapat selesaikan sesuai dengan hukum, dan kami berharap pelaku dapat dihukum seberat-beratnya. Kelakuan dia itu tidak mungkin lagi dimaafkan,&#8221; ungkap Lela orang tua Mawar kepada Global, di Kantor KPAID Sumut, Jalan Diponegoro, Medan .</p>
<p>Sementara itu, Ketua KPAID Sumut, Drs. Mhd Zahrin Piliang, Msi mengatakan, pihaknya akan memfasilitasi dan merujuk pengacara untuk mendampingi para korban. &#8220;Kita juga akan tetap melakukan pengawasan sampai sejauh mana penegakan hukum terhadap perlindungan anak di Sumut, khususnya pada kasus pencabulan ini,&#8221; ujar Zahrin.</p>
<p>Rencananya, Jumat kemarin(10/11), pihak kepolisian akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, namun sayangnya pemeriksaan ini tidak jadi dilakukan. &#8220;Sebenarnya Jum&#8217;at kemarin kita dari pihak korban akan ke Poltabes, tapi harus tertunda,&#8221;ungkap Affan Ramadeni SH, yang dipercayakan menjadi kuasa hukum korban bersama ketiga rekannya, Nur Alamsyah SH, Abu Bakar SH dan Mazwindra SH.</p>
<p>Akibat perbuatannya ini, pelaku dapat dijerat UU Perlindungan Anak No 32 Tahun 2002 Pasal 82, yaitu setiap orang yang dengan sengaja melakukan kekerasan/ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak untuk melakukan/membiarkan dilakukan perbuatan cabul, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan paling singkat tiga tahun serta denda maksimal Rp 300 juta dan paling sedikit Rp.60 juta.</p>
<p>Wak Buyung kini mendekam di sel Poltabes Medan. Ia diamankan polisi dari amukan emosi warga yang nyaris membakar rumahnya. Bahkan saat keluarga korban menggeruduk ke rumahnya, ia lari lewat pintu belakang dan menyelamatkan diri dengan menyeberangi sungai menggunakan rakit. Benarkah Wak Buyung melakukan semua tuduhan itu? Warga yang berada di lingkungan tersebut masih ada yang tidak percaya kalau lelaki tua itu sampai melakukan aksi kejahatan tersebut.</p>
<p>Di mata salah seorang warga, yang enggan menyebutkan identitasnya, aksi-aksi kejahatan yang dilakukannya hanya rekayasa dari keluarga-keluarga korban. &#8221; Saya tidak yakin dia seperti itu. Berita itu dibesar-besarkan saja. Itu hanya rekayasa,&#8221; ujar warga yang tidak merinci maksud dibalik ucapannya itu. Sayang, pihak keluarga korban juga enggan memberi keterangan. Sejak kejadian itu, kediamaan mereka selalu sepi. Pintu rumah mereka tertutup rapat. Tidak satu pun dari pihak keluarga yang bisa memberikan keterangan.</p>
<p>Sementara itu, Kanit RPK Poltabes Medan, Iptu Sitiani SH juga enggan untuk memberikan komentar mengenai kasus pencabulan ini. &#8220;Kami kurang berwenang untuk memberikan informasi mengenai kasus ini,&#8221; ungkap Sitiani saat ditemui Global.</p></blockquote>
<p>Dedy Ardiansyah-Hendra Mulya-Tri Yuwono &gt;&gt; Global</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/triy.wordpress.com/314/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/triy.wordpress.com/314/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triy.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triy.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triy.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triy.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triy.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triy.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triy.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triy.wordpress.com/314/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triy.wordpress.com/314/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triy.wordpress.com/314/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=314&subd=triy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triy.wordpress.com/2008/09/05/kekonyolan-kakek-bercucu-tiga/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e380040e3ad28fe9ee63051d5a819ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/korban-melapor.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">korban-melapor</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mengenang 3 Tahun Bencana Tsunami, Antara Percaya dan Tidak</title>
		<link>http://triy.wordpress.com/2008/09/03/mengenang-3-tahun-bencana-tsunami-antara-percaya-dan-tidak/</link>
		<comments>http://triy.wordpress.com/2008/09/03/mengenang-3-tahun-bencana-tsunami-antara-percaya-dan-tidak/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Sep 2008 00:02:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triy.wordpress.com/?p=80</guid>
		<description><![CDATA[Tri Yuwono &#124; Medan
Tiga tahun sudah, keluarga Sutari Hariyadi (57 tahun) dan Meri (55) kehilangan salah satu putri tercintanya. Bencana tsunami yang memporakporandakan sebagian wilayah Aceh dan Sumut pada 26 Desember 2004 silam telah mengambil korban salah satu anggota keluarganya.
Sejak kejadian tersebut, Agusnita Heriyanti, putri pertama pasangan Sutari dan Meri tak terdengar lagi kabarnya. Gadis [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=80&subd=triy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_81" class="wp-caption alignleft" style="width: 164px"><a href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/071230_nita.jpg"><img class="size-full wp-image-81" src="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/071230_nita.jpg?w=154&#038;h=180" alt="Nita, Kalau Masih Hidup Pulanglah?" width="154" height="180" /></a><p class="wp-caption-text">Nita, Kalau Masih Hidup Pulanglah?</p></div>
<p>Tri Yuwono | Medan</p>
<p>Tiga tahun sudah, keluarga Sutari Hariyadi (57 tahun) dan Meri (55) kehilangan salah satu putri tercintanya. Bencana tsunami yang memporakporandakan sebagian wilayah Aceh dan Sumut pada 26 Desember 2004 silam telah mengambil korban salah satu anggota keluarganya.</p>
<p>Sejak kejadian tersebut, Agusnita Heriyanti, putri pertama pasangan Sutari dan Meri tak terdengar lagi kabarnya. Gadis kelahiran 23 Agustus 1982 ini hilang bersama ratusan ribu korban tsunami lainnya. &#8220;Saat itu kejadiannya kan pada hari Minggu, sebelumnya Nita (panggilan Agusnita) bilang biasanya kalau Minggu dirinya tak pernah ke mana-mana, paling di kos saja,&#8221; ujar Meri saat ditemui Global di kediamannya Jalan Sei Bilah No 117 Medan kemarin.</p>
<p>Alasan itulah yang membuat keluarga Sutari tak memiliki perasaan was-was saat bencana besar tersebut terjadi. Namun, beberapa jam pascakejadian, desakan para anggota keluarga untuk menghubungi Nita membuat Sutari dan istrinya mulai merasa cemas. Karena handphone Nita sejak saat itu sudah tidak bisa hubungi lagi.</p>
<p>&#8220;Biasanya kata Nita, setiap Minggu dirinya hanya di rumah saja. Bersih-bersih rumah dan istirahat. Jadi, waktu kejadian tersebut saya dan keluarga perasaannya ya biasa-biasa saja. Apalagi kosnya Nita kan agak jauh dari daerah pantai,&#8221; terang Meri mengawali cerita.</p>
<p>Menurut Meri, Nita adalah adalah anak pertama dari dua bersaudara. Sejak tamat dari Fakultas Kesehatan Masyarakat USU pada 2003 silam, Nita memutuskan untuk bekerja di sebuah perusahaan farmasi, Deksa. Setelah menjalani masa training selama dua minggu di Jakarta, Nita memilih Aceh sebagai tempat kerjanya.</p>
<p>&#8220;Dulu kata Nita, dia katanya ditawari untuk memilih kerja di tiga kota, yakni Batam, Riau dan Aceh. Dan dia ternyata memilih Aceh. Menurutnya, selain pernah studi banding ke Aceh, teman-temannya banyak yang dari Aceh. Makanya dia memilih Aceh daripada ke dua kota tersebut,&#8221; ungkap Meri.</p>
<p>Setelah segala urusan selesai, Agustus 2004 Nita langsung pindah ke Aceh. Nita kemudian menyewa kos di daerah Daut Bereh, Gg Metro Banda Aceh.</p>
<p>Beberapa hari menjelang perayaan Lebaran, Nita kembali ke Medan untuk merayakan Lebaran bersama dengan keluarga. Ternyata itulah kali terakhir, Meri dan keluarga melihat Nita.</p>
<p>&#8220;Pas saat Lebaran, sebelum kejadian tersebut Nita sempat pulang untuk ngerayakannya di sini. Habis itu dia balik lagi ke Aceh. Tanda-tanda kalau dia bakal pergi selamanya waktu itu memang tidak ada, sikap Nita juga biasa-biasa saja. Tapi ternyata itulah terakhir kalinya keluarga melihat Nita,&#8221; kenang Meri.</p>
<p><strong class="bbcode bold">Misteri Surat Berwarna Hijau</strong></p>
<p>Dua minggu sebelum tsunami datang, Meri mengatakan bahwa ia mendapat telepon dari Nita, katanya dompetnya hilang. Surat-surat penting yang ada di dalamnya hilang semuanya. Termasuk itu KTP, SIM, STNK dan beberapa kartu lainnya. Karena itulah Nita berniat pulang ke Medan untuk mengurusnya.</p>
<p>Namun, sepertinya Tuhan berkehendak lain. Beberapa hari setelah kehilangan dompet, sebuah surat yang ditulis di atas kertas berwarna hijau datang ke rumah keluarga Sutari. Surat yang dikirim oleh seseorang bernama Andi itu isinya mengenai penemuan dompet.&#8221;Surat inilah yang mengatakan bahwa dompet Nita yang hilang ditemukan,&#8221; sebut Meri yang masih menyimpan surat ini sebagai kenangan.</p>
<p>Karena dompet dan surat-surat berharga yang hilang sudah kembali, Nita mengurungkan niatnya untuk kembali ke Medan. Dan memutuskan tanggal 3 Januari 2005 baru pulang ke Medan.&#8221;Mungkin karena dompetnya sudah ketemu, dia menunda jadwal untuk balik ke Medan. Hanya beberapa hari saja sebelum tsunami dia sebenarnya sudah mau balik ke Medan,&#8221; papar Meri.</p>
<p>Harapan memang tinggal harapan, tetapi Tuhan yang menentukan. Keinginan untuk berkumpul dengan keluarga pada awal tahun baru pupus. Setelah pihak keluarga mendengar kabar Nita ikut menjadi korban tsunami. Kertas berwarna hijau yang dikirim oleh Andi, seseorang yang tak dikenal keluarga Nita seolah menjadi petunjuk akan kemana Nita pergi.</p>
<p>&#8220;Seandainya surat ini tidak datang, mungkin kejadian ini tidak akan menimpa salah satu anggota keluarga saya. Tetapi, semuanya saya serahkan kepada Allah. Anak kan sebagai titipan, kalau Allah sudah berkehendak, kita juga ikhlas mengembalikannya,&#8221; seru Meri yang masih kelihatan tegar didampingi suaminya.</p>
<p><strong class="bbcode bold">Harta Benda Kembali, Namun Raga Tidak</strong></p>
<p>Kejelasan kalau Nita menjadi korban tsunami datang dari seorang sahabat Nita asal Aceh yang bernama Adek. Seminggu setelah kejadian tersebut, semua barang-barang milik Nita dibawa oleh Adek ke Medan. Meskipun kata Meri, sebelumnya Adek belum pernah ke rumah Nita, namun insting dan nuraninya membawanya ke Medan.</p>
<p>&#8220;Kalau tidak salah, seminggu setelah tsunami, ada seseorang yang mengaku kawannya Nita bernama Adek. Sempat kaget juga melihat dia membawa segala barang-barang milik anak saya. Dari mulai sepedamotor, beberapa pakaian, surat-surat berharga juga handphone semuanya dibawa ke Medan,&#8221; ungkap Meri.</p>
<p>Dari Adek inilah, keberadaan Meri terakhir kali sedang berada di mana terjawab. Menurut penuturan Adek, kata Meri, pagi sebelum tsunami datang, Nita bersama dengan tiga orang kawannya, salah satunya Adek pergi ke daerah Pantai Ulele untuk menikmati suasana pagi. Dari ketiga orang tersebut, Adek merasakan tanda-tanda yang aneh setelah melihat pantai yang biasanya tenang, tiba-tiba airnya surut hingga beberapa meter dari garis pantai.</p>
<p>Melihat kejanggalan ini, Adek mengajak sahabatnya termasuk Nita untuk cepat-cepat naik. Namun, ajakan Adek kurang diperhatikan oleh Nita dan satu kawannya lagi. Karena menurutnya, air seperti ini sudah biasa. Apa yang dipikirkan oleh Adek ternyata menjadi kenyataan, air yang sebelumnya tenang tiba-tiba berubah. Ombak besar yang datang dari pantai menghancurkan segala yang ada di sekitar pantai.</p>
<p>Di sinilah terakhir kali, Adek melihat kedua sahabatnya. Berbekal kemampuan berenang, Adek selamat dari amukan gelombang besar tersebut.&#8221;Kata si Adek, beberapa menit sebelum datang tsunami, dia sudah memperingatkan Nita dan teman satunya lagi untuk cepat naik. Tapi, katanya, mereka berdua menganggap pasang air laut itu sudah biasa. Jadi mereka tetap bermain-main di situ,&#8221; ujar Meri menirukan Adek.</p>
<p>Penuturan Adek inilah, yang meyakinkan sekaligus memperjelas keluarga Sutari bahwa anak gadisnya menjadi korban tsunami. &#8220;Melihat cerita dari Adek, ya kita hanya pasrah den menyerahkan segalanya kepada Allah. Paling tidak kita sudah tahu bagaimana kondisi terakhir Nita. Walaupun yang pulang hanya barang-barangnya saja,&#8221; tambah Sutari.</p>
<p><strong class="bbcode bold">Hampir Menjadi Korban Banjir Bandang di Bahorok</strong></p>
<p>Dibandingkan dengan putri keduanya (Devi-red), menurut Sutari dan Meri sosok Nita memang lebih dikenal pemberani dan berjiwa petualang. Hal ini dibuktikan dengan kegiatan Nita yang sudah berkeliling di beberapa kota di Indonesia, termasuk mengikuti beberapa olah raga ekstrem seperti arung jeram.</p>
<p>&#8220;Walaupun orangnya agak pendiam, tapi dia orangnya pemberani. Sedikit bandel lah dibandingkan dengan adiknya. Karena ia termasuk pintar, makanya kegiatan seperti studi banding sering diikutinya. Ke Jakarta, Yogya dan beberapa kota lainnya sudah pernah disinggahinya,&#8221; seru Meri.</p>
<p>Kepintaran Nita, kata Sutari dan Meri sudah terlihat sejak kecil, keinginan kuat untuk belajar membuat Nita yang kala itu masih berumur kurang dari lima tahun sudah di masukkan sekolah dasar(SD). Hingga menginjak SMU, Nita selalu mendapat peringkat di kelasnya.</p>
<p>&#8220;Kemarin waktu mau masuk USU, dia mendapatkan peluang masuk jalur PMP dari sekolahnya di SMU Darma Pancasila Medan, namun tidak lulus. Baru lewat jalur SPMB dia diterima di USU,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Beberapa minggu setelah Nita dinyatakan menjadi korban tsunami. Sutari dan Meri sempat mendengar cerita yang mengejutkan dari beberapa kawan Nita. Menurut kawan-kawannya, Nita hampir saja juga menjadi korban banjir bandang yang terjadi di Bahorok.</p>
<p>Kegiatan arung jeram yang diikutinya hampir saja merenggut jiwanya, setelah banjir bandang menghancurkan tempat di mana ia sedang melakukan arung jeram bersama dengan kawan-kawannya.&#8221;Terus terang saya sendiri tidak tahu kalau Nita hampir menjadi korban dalam bencana banjir bandang di Bahorok. Soalnya dia tidak pernah cerita mengenai hal itu. Dari kawannya saya tahu itu, itupun setelah Nita tidak ada,&#8221; papar Meri.</p>
<p><strong class="bbcode bold">Berharap Keajaiban</strong></p>
<p>Meski kejadian tsunami sudah tiga tahun terjadi, namun Sutari dan Meri masih optimis jika Nita masih hidup. Setiap kali salat dan berdoa, Meri mengaku selalu melihat bayang-bayang Nita. Ikatan batin antara ibu dan anak membuat optimisme sendiri bagi Meri. Namun, kendati begitu, Meri dan keluarga menyerahkan sepenuhnya kepada Allah.</p>
<p>&#8220;Kalau dibilang optimis itu masih ada, kita kan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita keluarga semuanya ikhlas dan menyerahkan semuanya kepada Allah. Tapi, dalam batin saya setiap selesai salat dan berdoa, sepertinya bayang-bayang Nita selalu ada,&#8221; terang Meri.</p>
<p>Keoptimisan Meri semakin besar, setelah dirinya mendengar kabar dari beberapa orang yang dirasa pintar, yang mengatakan Nita sebenarnya masih hidup. Namun, ia tetap berpegang teguh terhadap realitas yang ada. Selalu menjalankan ibadah adalah cara yang ditempuh keluarga dalam menghadapi musibah ini.</p>
<p>Hal inilah yang membuat rasa tenang Sutari dan Meri, setiap selesai beribadah rasa kehilangan akan perginya Nita berganti menjadi rasa ikhlas. Sutari dan Meri sadar, jika semua yang ada di dunia tidak ada yang kekal. Tidak ada yang harus disesali, semuanya sudah ada yang mengatur.</p>
<p>&#8220;Yah&#8230; walaupun harapannya tipis, tapi kita selalu berdoa. Semuanya kan Allah yang mengatur, apakah Nita masih ada atau tidak itu semuanya hanya Allah yang tahu. Kita serahkan saja semuanya kepadanya. Beribadah adalah salah satu jalan terbaik untuk ini,&#8221; jelas Meri lagi.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/triy.wordpress.com/80/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/triy.wordpress.com/80/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triy.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triy.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triy.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triy.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triy.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triy.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triy.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triy.wordpress.com/80/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triy.wordpress.com/80/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triy.wordpress.com/80/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=80&subd=triy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triy.wordpress.com/2008/09/03/mengenang-3-tahun-bencana-tsunami-antara-percaya-dan-tidak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e380040e3ad28fe9ee63051d5a819ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/071230_nita.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Nita, Kalau Masih Hidup Pulanglah?</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekelumit Ceria dari Para Pemulung</title>
		<link>http://triy.wordpress.com/2008/09/02/sekelumit-ceria-dari-para-pemulung/</link>
		<comments>http://triy.wordpress.com/2008/09/02/sekelumit-ceria-dari-para-pemulung/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 23:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triy.wordpress.com/?p=77</guid>
		<description><![CDATA[Tri Yuwono &#124; Medan
Bukan wangi parfum yang tercium di hidung, tapi bau asap dan busuk yang terasa. Bukan pakaian bersih dan berkelas yang terlihat, tapi pakaian kotor dan lusuh yang nampak. Bukan juga pemandangan indah dengan pepohonan nan hijau bak daerah pegunungan, meski terlihat barisan gundukan berjejer, tapi itu adalah tumpukan berton-ton sampah warga Medan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=77&subd=triy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_78" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/080127_pemulung1.jpg"><img class="size-full wp-image-78" src="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/080127_pemulung1.jpg?w=200&#038;h=150" alt="TPA Pancur Batu, &quot;surga&quot; bagi para pemulung" width="200" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">TPA Pancur Batu, </p></div>
<p>Tri Yuwono | Medan</p>
<p>Bukan wangi parfum yang tercium di hidung, tapi bau asap dan busuk yang terasa. Bukan pakaian bersih dan berkelas yang terlihat, tapi pakaian kotor dan lusuh yang nampak. Bukan juga pemandangan indah dengan pepohonan nan hijau bak daerah pegunungan, meski terlihat barisan gundukan berjejer, tapi itu adalah tumpukan berton-ton sampah warga Medan. Seperti inilah pemandangan yang terlihat di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPA) Pancurbatu, di mana ribuan pemulung menggantungkan nasib.</p>
<p>Selama sehari semalam, tempat ini bisa dikatakan tak pernah sepi. Truk-truk pengangkut sampah setiap berapa menit silih berganti membuang muatannya. Di saat itu pula, ribuan pemulung mengerubutinya. Tak jarang rebutan dan perkelahian antar pemulung pun terjadi, demi mendapatkan sampah-sampah yang bisa untuk dijual kembali.</p>
<p>Melihat mereka menggantungkan nasib dari sampah membuat hati kadang merasa memilukan. Bayangkan, diantara ribuan pemulung yang ada di TPA Pancur Batu ini, ratusan diantaranya adalah anak-anak yang kebanyakan putus sekolah. Tangan-tangan kecil mereka aktif membongkar tumpukan sampah yang jumlahnya berton-ton. Inilah potret kecil kehidupan para pemulung di kawasan ini.</p>
<p><strong class="bbcode bold">Mamak Susi:</strong></p>
<p>Sebagian besar para pemulung di TPA Pancur Batu ini mengaku, faktor ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan adalah penyebab mereka bekerja menjadi pemulung. Bahkan, banyak diantaranya yang membawa keluarganya di tempat ini untuk bekerja bersama-sama, salah satunya adalah keluarga mamak susi.</p>
<p>Ibu lima orang anak berusia 48 tahun ini adalah salah satu pionir ribuan pemulung yang menggantungkan nasibnya mencari rezeki dari sampah-sampah. Sejak TPA pertama kali dibuka oleh pemerintah pada sekitar tahun 1987, ia sudah bekerja di sini.</p>
<p>&#8220;Pertama kali saya cari sisa-sisa sampah di sini, saya dibilang sama orang-orang di sini kalau saya orang tak waras karena jadi pemulung. Prinsip saya adalah asalkan yang saya cari itu halal, saya akan melakukannya. Di sini saya kan tidak mencuri, apalagi korupsi. Jadi, apa yang dikatakan oleh orang-orang itu saya anggap seperti angin lalu saja,&#8221; ujar Mamak Susi sambil tersenyum.</p>
<p>Ternyata jejak Mamak Susi diikuti penduduk di lingkungan sekitarnya. Termasuk juga dengan orang-orang yang pernah mengejeknya. Menurut Mamak Susi, pertama kali TPA ini di buka hanya ada sekitar puluhan orang saja yang menjadi pemulung. Tapi kini, lanjutnya, pemulung sudah mencapai ribuan orang.</p>
<p>&#8220;Tahun-tahun pertama di sini, pemulung jumlahnya hanya sekitar puluhan saja. Kalau sekarang sudah mencapai ribuan pemulung. Bahkan, ada yang satu keluarga semuanya jadi pemulung. Termasuk saya, hampir semua anak saya kerjanya juga di sini,&#8221; sebut Mamak Susi yang tinggal di Desa Baru Gang Dame Pancur Batu.</p>
<p><strong class="bbcode bold">Tak Pernah Kena Penyakit</strong></p>
<p>Selama kurang lebih 20 tahun menjadi pemulung, Mamak Susi dan keluarganya mengaku tak pernah mengalami sakit. Walaupun TPA yang dijadikan tempat mencari nafkah, kondisinya sangat tidak layak karena kotor.</p>
<p>&#8220;Syukurlah, hingga sampai sekarang, kami sekeluarga tidak pernah terkena penyakit. Paling-paling hanya penyakit biasa, seperti demam dan flu saja. Soalnya, kalau kita lihat tempat seperti ini kan tidak layak untuk dijadikan sebagai tempat kerja,&#8221; ujar nenek lima orang cucu ini.</p>
<p>Mamak Susi menambahkan, binatang-binatang yang dianggap orang menjijikkan dan mendatangkan penyakit, seperti ulat, cacing serta lalat justru dijadikan teman-temannya. Ia mengatakan, kalau binatang-binatang itu juga memiliki nasib yang sama dengannya, yakni menggantungkan nasib dari sampah-sampah ini.</p>
<p>&#8220;Udah biasalah dikerubuti binatang-binatang seperti itu. Saya percaya, kalau binatang-binatang itu tak akan pernah mengganggu kami. Soalnya kita di sini sama-sama mencari sesuatu yang sama untuk hidup. Saya mencari uang, binatang-binatang itu mencari makanan,&#8221; ucap Mamak Susi.</p>
<p>Bekerja menjadi pemulung bukanlah pekerjaan yang mudah, bau busuk dan asap yang pengap selalu jadi teman setia para pemulung, kadang juga membawa dampak bagi kesehatan. Tak bekerja berarti hilang uang untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk itulah Mamak Susi memiliki kiat sendiri untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit.</p>
<p>&#8220;Biasanya kami ke sini dari jam 9 pagi hingga 6 sore, sebelum dan sesudah bekerja saya dan keluarga selalu minum puding yang kita buat sendiri. Paling dengan tambahan telur dan obat-obatan tradisional saja yang kami minum,&#8221; seru Mamak Susi.</p>
<p>Selain itu, kata Mamak Susi, ia dan keluarganya juga membatasi waktu bekerja di TPA. Walau pada malam hari, truk-truk sampah masih banyak yang datang. Tapi Mamak Susi tak mau memaksakan diri untuk terus bekerja. Kesehatan menjadi alasannya.</p>
<p>&#8220;Kalau menurut saya, lebih baik bekerja pada siang hari saja. Kalau malam hari itu risikonya sangat besar. Soalnya, banyak pemulung yang bekerja pada malam hari yang terkena penyakit paru-paru basah. Makanya, saya tak terlalu memaksakan untuk bekerja malam hari. Rezeki itu sudah ada yang mengatur kok,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Tak hanya malam hari saja, Mamak Susi meliburkan diri dari bekerja, di waktu hari hujan, Mamak Susi juga tidak terlalu memaksakan diri. Pasalnya, katanya, ancaman keselamatan selalu membayangi para pemulung jika hujan datang.&#8221;Wah kalau hari sudah mau hujan, lebih baik tidak usah bekerja. Takut kalau kena petir, karena sudah banyak yang menjadi korbannya.&#8221;</p>
<p>Rezeki Tak terduga, Saat Ini Jualan Susah<br />
Menjadi seorang pemulung juga harus memiliki insting yang kuat. Pasalnya, di antara tumpukan berton-ton sampah, kadang terdapat barang-barang yang memiliki nilai jual yang lumayan tinggi. Salah satunya adalah barang-barang antik.</p>
<p>&#8220;Kalau mau cari sampah di sini, kita juga harus punya naluri. Soalnya di bawah tumpukan-tumpukan sampah banyak tersimpan barang-barang yang antik dan memiliki harga jual tinggi. Selain itu, di antara pemulung di sini dulu juga pernah mendapatkan uang dolar yang kalau dirupiahkan jumlahnya ratusan juta,&#8221; terang Mamak Susi.</p>
<p>Mamak Susi pun mengaku kalau dirinya juga sering menemukan barang-barang antik yang biasanya berasal dari Cina. Seperti sabuk, guci dan barang-barang lainnya. Pertama kali menemukan, dulunya ia menganggap kalau barang-barang seperti itu tidak bisa dijual lagi. Tapi, setelah di beritahu kalau barang tersebut bisa dijual. Satu demi satu temuan ia kumpulkan dan ia jual di daerah Sambu.</p>
<p>&#8220;Kalau mau menjual hasil memulung ini kan biasanya seminggu sekali, sekalian lah ngumpulkan barang-barang yang antik. Baru kemudian dijual ke tempat penjual yang mau untuk membeli. Lumayanlah harganya kalau untuk barang antik bisa mencapai ratusan ribu rupiah,&#8221; sebutnya.</p>
<p>Namun, saat ini dirinya mengaku sangat susah kalau mau menjual barang-barang bekas, jika dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu. Soalnya, tidak semua barang-barang yang ia dapat di TPA bisa dijual kembali.&#8221;Kalau dulu, selain plastik, kita masih bisa jual bahan-bahan dari atom, seng dan lainnya. Tapi, sekarang yang laku kebanyakan bahan-bahan yang terbuat dari plastik saja,&#8221; keluh Mamak Susi yang didampingi Inur, putri kelimanya yang juga bekerja di TPA.</p>
<p><strong class="bbcode bold">Jeffri;</strong></p>
<p>Lain lagi dengan Jeffri. Bocah berusia duabelas tahun ini mengaku sudah tak sekolah lagi. Pasalnya, sejak ibunya meninggal belum ada setahun yang lalu, ia memutuskan untuk mencari uang saja. Dalam sehari ia bisa mengumpulkan 10-20 kilo plastik. Plastik ini lalu dijemurnya lagi, untuk kemudian dijual seharga Rp 1.400 per kilonya. Plastik ini baru bisa dijual biasanya setelah dikumpulkan dulu selama seminggu. Agar uang yang didapat lebih banyak.</p>
<p>Jeffri nampaknya sosok pendiam. Ia tak begitu banyak bicara, namun dengan badannya kecil itu, dengan ligat ia memilah-milah sampah yang sudah dipulungnya. Badannya tampak kumuh karena setiap hari bergelut dengan sampah. Namun meski demikian, Jeffry sendiri tampak baik-baik saja.</p>
<p>Ketika ditanya, apakah ia pernah sakit karena setiap hari berada di sekitar pembuangan sampah yang kondisi lingkungannya tak sehat itu, ia pun menjawab dengan malu-malu, &#8220;Enggak pernah sakit, bang,&#8221; katanya.<br />
Jeffry adalah anak kedua dari lima bersaudara. Ayah Jeffri bekerja sebagai tukang sebuah bengkel di Pancur Batu. Namun, Jeffry tak menjawab apakah memang ayahnya tidak mampu lagi menyekolahkan dia, sehingga ia memulung di TPA ini.</p>
<p>Menurut, penjelasan Mak Susi sendiri, anak-anak yang memulung di TPA ini sebenarnya bukan karena alasan ekonomi saja. Mak Susi beranggapan, sebagian anak memulung di sini sebenarnya bukan karena orangtua mereka tak sanggaup menyekolahkan mereka. Tapi, &#8220;dasar sudah ketagihan sama uang,&#8221; ujarnya.</p>
<p>Anggapan Mak Susi barangkali benar adanya. Ketika ditanya kepada Jeffry, apakah ia ingin sekolah lagi, ia menjawab diam. Tanda diam itu memang bukan berarti tidak. Namun, Jeffry yang hanya sempat sekolah di bangku kelas dua SD itu, tampak tak begitu peduli lagi ketika disinggung soal sekolah.</p>
<p>Jeffery hanya satu di antara banyak anak-anak yang menulung di TPA. Ia bersama anak-anak lain seharian standby menunggu &#8220;pasokan&#8221; sampah yang diangkut petugas Dinas Kebersihan Kota Medan. Mereka seakan-akan tak peduli lagi dengan dunia luar. Dan mereka tampak asyik dengan dunia mereka, dunia yang lebih mengutamakan nafkah dari pada makna pendidikan.</p>
<p>Dalam seminggu anak-anak pemulung di sini, kalau pasokan sampah sedang banyak-banyaknya, bisa menghasilan uang sebesar Rp 200 &#8211; 300 ribu. Dengan jumlah uang sebesar itu, maka wajarlah jika anak-anak di TPA ini ketagihan, sehingga lupa dengan dunia luar mereka, termasuk pendidikan.</p>
<p>Inilah sebuah fenomena yang terjadi dengan anak-anak kita, yang konon mereka adalah generasi penerus bangsa ini.</p>
<p><strong class="bbcode bold">Hamdan: Untuk Persiapan Biaya Menikah</strong></p>
<p>Cita-cita tinggi sejak kecil untuk menjadi dokter adalah impian yang tak pernah terwujudkan oleh Hamdan. Pemuda berusia 26 tahun ini mengaku, kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, membuat impian untuk menjadi seorang dokter hanya bisa dikhayalkan saja.</p>
<p>&#8220;Dokter, itulah cita-cita saya sejak kecil dulu. Tapi sejak tamat SMA, akhirnya saya sadar kalau untuk mendapatkan pendidikan itu bukan hanya bermodalkan semangat saja, tetapi juga harus memiliki uang. Di sinilah yang membuat cita-cita langsung terkubur,&#8221; ungkap Hamdan saat di temui Global di TPA kemarin.</p>
<p>Hamdan menceritakan, menjadi pemulung sudah dilakukannya sejak ia masih duduk dibangku sekolah dasar (SD). Setiap hari, sehabis sekolah, bersama dengan ibu dan saudaranya ia pergi ke TPA mencari barang-barang yang bisa dijual untuk membiayai sekolahnya.</p>
<p>&#8220;Sudah hampir 20 tahun saya menjadi pemulung di sini. Sejak usia 3 tahun ayah saya kan sudah tidak ada, jadi hanya tinggal ibu saja. Itulah setiap hari, kerja saya mencari barang-barang yang bisa untuk dijual lagi. Sekalian dikumpulkan untuk membiayai uang sekolah sendiri. Mengharap dari orangtua itu tidak mungkin,&#8221; papar pemuda yang berhasil menamatkan sekolah hingga jenjang SMA ini.</p>
<p>Waktu masih sekolah, ejekan &#8220;pemulung&#8221; pun kerap dialami Hamdan. Namun, ia tetap menerimanya dengan setulus hati. Karena, ia mengaku dari sampah lah ia bisa mengenyam pendidikan hingga SMA.&#8221;Seringlah di ejek sama kawan-kawan, kalau saya seorang pemulung. Tapi mau gimana lagi, saya hanya bisa menerima saja. Dari sini jugalah saya bisa sekolah sampai SMA,&#8221; tutur Hamdan.</p>
<p>Kini, semenjak tamat dari SMA beberapa tahun yang lalu, sebagian penghasilan disisihkannya untuk ditabung. Tabungan ini rencananya akan digunakan Hamdan untuk tambahan biaya menikah tahun depan.&#8221;Sehari biasanya saya dapat 30 ribu dari sini, sebagian dari penghasilan itu saya tabung. InsyaAllah tahun depan nanti saya akan menikah,&#8221; jelas Hamdan yang tinggal di Desa baru No 44 Pancur Batu.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/triy.wordpress.com/77/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/triy.wordpress.com/77/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triy.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triy.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triy.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triy.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triy.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triy.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triy.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triy.wordpress.com/77/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triy.wordpress.com/77/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triy.wordpress.com/77/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=77&subd=triy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triy.wordpress.com/2008/09/02/sekelumit-ceria-dari-para-pemulung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e380040e3ad28fe9ee63051d5a819ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/080127_pemulung1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">TPA Pancur Batu, &#34;surga&#34; bagi para pemulung</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mereka “Ngelem” karena Lapar</title>
		<link>http://triy.wordpress.com/2008/09/02/mereka-%e2%80%9cngelem%e2%80%9d-karena-lapar/</link>
		<comments>http://triy.wordpress.com/2008/09/02/mereka-%e2%80%9cngelem%e2%80%9d-karena-lapar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Sep 2008 23:56:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>triy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Human Interest]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://triy.wordpress.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[Tri Yuwono &#124; Medan
Anak miskin kota sering menjadi korban. Karena kehidupan ekonomi yang terbatas, tak jarang di antara mereka yang turun ke jalan. Mencari uang , awalnya demi perut dan keperluan sekolah atau lainnya, hingga demi kenikmatan yang membuat mereka lupa akan masa depan mereka. Tapi sebenarnya itu bisa dicegah sebelum terlambat. Jawbanya, yang pasti [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=74&subd=triy&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><div id="attachment_75" class="wp-caption alignleft" style="width: 210px"><a href="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/080210_suarahati3.jpg"><img class="size-full wp-image-75" src="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/080210_suarahati3.jpg?w=200&#038;h=150" alt="Catur, Koordinator SKA-PKPA bersama anak-anak" width="200" height="150" /></a><p class="wp-caption-text">Catur, Koordinator SKA-PKPA bersama anak-anak</p></div>
<p>Tri Yuwono | Medan</p>
<p>Anak miskin kota sering menjadi korban. Karena kehidupan ekonomi yang terbatas, tak jarang di antara mereka yang turun ke jalan. Mencari uang , awalnya demi perut dan keperluan sekolah atau lainnya, hingga demi kenikmatan yang membuat mereka lupa akan masa depan mereka. Tapi sebenarnya itu bisa dicegah sebelum terlambat. Jawbanya, yang pasti adalah dengan &#8220;kepedulian&#8221;.</p>
<p>Jecky (18 tahun), kini sudah mahir memainkan keyboard dan sedikit bisa bernyanyi. Dengan teman-temannya yang tergabung dalam grup band yang mereka beri nama &#8220;Flowrenz&#8221;, mereka bahkan telah membuat rekaman. &#8220;Isinya cuma tiga lagu kok, bang,&#8221; katanya merendah. Tapi semua lagu mereka ciptakan sendiri. Dengan modal kemampuan mereka bermusik itu, Jacky dengan grupnya bisa tampil di berbagai acara.</p>
<p>Seandainya enam tahun yang lalu, Jacky tidak ikut bergabung dalam aktivitas di SKA-PKPA (Sanggar Kreativitas Anak-Pusat Kajian dan Perlindungan Anak), yang tak jauh dari lokasi di mana ia sering menghabiskan waktunya di Terminal Pinang Baris, barangkali akan lain pula ceritanya. Barangkali, bermain keyboard atau menciptakan lagu hanyalah akan menjadi mimpi. &#8220;Beruntung aku bisa gabung dengan sanggar ini,&#8221; ujarnya, setelah menghentikan permainan keyboardnya.</p>
<p>&#8220;Di sini aku bisa belajar banyak hal. Aku juga main musik dengan teman-teman sesama anak jalanan,&#8221; ujarnya. Ya, paling tidak Jacky, anak kedua dari dua bersaudara ini, telah memiliki skill yang bisa dipergunakannya kelak. Sehebat-hebatnya, jadi musisi profesional karena mereka juga diperlengkapi dengan studio musik.</p>
<p>Lain lagi dengan Rahmad (22). Lelaki yang kini dianggap senioran di kalangan pemain musik di SKA-PKPA ini, tak menyangka ia akan memiliki kemampuan memainkan perkusi atau drum. &#8220;Aku kerja nyapu-nyapu mobil angkot yang lagi parkir,&#8221; katanya. Itu delapan tahun lalu, ketika anak keempat dari lima bersaudara ini sering menghabiskan waktunya di terminal Kampung Lalang.</p>
<p>Kini, sekalipun Rahmad hanya mampu menamatkan sekolahanya sampai kelas dua STM, setidaknya ia kini telah memiliki pekerjaan tetap sebagai buruh di sebuah pabrik plastik Binjai. &#8220;Tapi, sebenarnya cita-citaku ingin jadi pemain musik. Karena sudah sempat menyukainya selama di sanggar ini,&#8221; ia mengharap sambil tersenyum.</p>
<p>Bagi Rahmad sendiri, SKA &#8211; PKPA ibarat rumah keduanya. Kalau ada waktu senggang, sepulang bekerja atau di hari libur, ia akan datang ke studio musik PKPA latihan bersama teman-temannya. &#8220;Daripada waktu kosong sia-sia,&#8221; katanya.</p>
<p><strong class="bbcode bold">&#8220;Ngelem&#8221;</strong></p>
<p>Jacky dan Rahmad hanyalah dua contoh anak yang barangkali bisa dikatakan selamat dari nasib yang sering menimpa banyak anak-anak jalanan di Medan. Bukan hal baru lagi, bahwa tak sedikit anak jalanan yang telah menjadi korban. Mereka sering terlibat dalam kekerasan atau pelecehan. Hingga kehilangan arahan, sehingga tak sedikit di antara mereka juga yang terjerumus ke dunia yang sama sekali tak mereka inginkan dan seharusnya tidak terjadi pada mereka. Semisal, menjadi pecandu lem kambing. Di kalangan anak jalanan, istilah ini biasanya disebut &#8220;ngelem&#8221;.</p>
<p>&#8220;Wah, kalau ngelem, sampai sekarang ini aku belum kena-lah, Bang. Teman-teman memang banyak yang sudah kena, bahkan lebih parah lagi sampai makai narkoba. Tapi, aku masih bisa jaga diri,&#8221; ujar Jacky lelaki kelas 3 SMU ini.</p>
<p>Jacky rupanya juga masih menyadari arti pentingnya pendidikan demi masa depannya. Maka, ia tak ingin merusaknya. Terlebih-lebih karena ia mendapat arahan dari kakak-kakak pembina selama aktif beraktivitas di PKPA. Ia pun tak pernah melupakan aktivitas belajarnya di sekolah. &#8220;Kalau bisa, sebenarnya aku ingin kuliah setelah tamat. Tapi kalau tidak bisa, aku nanti mau tes tentara,&#8221; katanya. Namun rupanya Jacky tak bisa mengharap banyak. &#8220;Soalnya, ekonomi orangtuaku pas-pasan. Mudah-mudahanlah nanti bisa, siapa yang tahu masa depan,&#8221; katanya lalu memainkan sebuah lagu pop anak muda dengan keyboardnya.</p>
<p>Sama halnya dengan Rahmad, &#8220;Mudah-mudahan tidak sampai kena,&#8221; katanya. Ia beruntung, selama bergabung di PKPA ia mendapat arahan dari kakak pembina yang baik, katanya. Terutama, kakak Ardiansyah Daulay yang dengan sabar mau mengajari mereka bermain musik dan mengusulkan agar di PKPA juga disediakan studio musik. &#8220;Sehingga tak sempat ke hal negatif,&#8221; katanya lagi.</p>
<p>Di PKPA Pinang Baris sendiri, ada 150 anak yang resmi terdaftar. Mereka diberi arahan, pendidikan dan keterampilan. Anak-anak ini mayoritas berasal dari keluarga miskin kota yang kehidupan ekonominya lemah. Selain itu, tak sedikit di antaranya merupakan penduduk transit, yaitu pendatang tidak menetap yang datang dari luar Kota Medan. Mata pencaharian mereka biasanya tak jelas.</p>
<p>Nah, anak-anak mereka inilah yang sering menjadi pengisi jalanan liar. Mereka bekerja apa saja yang penting bisa dapat uang, seperti menyemir, mengamen, mengemis. Sedang, orangtuanya tak mampu lagi memberi arahan dan bimbingan pada mereka. Dan tak jarang, akibat kurangnya arahan tadi, mereka terjerumus menjadi pecandu lem, yang awalnya hanya sekadar coba-coba.</p>
<p>Bagaimana dengan anak yang ada di sekitar Pinang Baris? &#8220;Sejauh pengamatan kami sejauh ini, ada lima anak yang terindikasi kecanduan lem,&#8221; ujar Catur Muhammad Sarjono, Koordinator SKA-PKPA. Kondisinya memprihatinkan. Badanya kurus, matanya masuk ke dalam, wajahnya pucat dan suka ngomel-ngomel tak karuan.</p>
<p>Kata Catur, belum pasti dari mana anak-anak ini tahu ngelem. Namun yang pasti, alasan kuatnya untuk menghilangkan rasa lapar. &#8220;Mereka menghirup lem agar lapar mereka hilang,&#8221; katanya. Namun, lama-lama jadi kecanduan. Setelah kecanduan, akibatnya justru parah. Proses penyembuhannya pun tak sebentar.</p>
<p><strong class="bbcode bold"><span style="color:#ff0000;">&#8220;CM Sarjono: Jangan jual lem pada mereka&#8230;&#8221;</span></strong></p>
<p>Ya. Anak adalah generasi bangsa, generasi kita, maka jangan biarkan mereka terjerumus ke hal-hal negatif. Bagaimana jadinya, kalau sudah sejak usia dini saja mereka sudah masuk ke dalam dunia yang semestinya bukan dunia mereka. Karena sejatinya, masa kanak-kanak merupakan masa yang sangat rentan terhadap hal-hal negatif yang dapat mempengaruhi jiwa psikologinya kelak.</p>
<p>Ungkap Catur, melihat banyaknya anak-anak yang terjerumus ke dalam hal-hal negatif, terutama terhadap anak-anak jalanan dan anak miskin di Kota Medan. &#8220;Melihat perkembangan sekarang ini, sungguh sangat menyedihkan. Banyak anak-anak, terutama mereka yang masuk dalam kategori miskin, harus memperjuangkan nasibnya dengan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan di usia yang masih belia, seperti mengamen dan menyemir sepatu. Padahal pekerjaan seperti ini dapat mempengaruhi psikologis mereka nantinya. Apalagi mereka adalah para generasi bangsa ini,&#8221; papar Catur.</p>
<p>Pantas saja Catur merasa miris melihat kondisi anak-anak saat ini, pasalnya mereka (sebagaian besar anak jalanan, pengemis maupun penyemir sepatu -Red), ketika bekerja banyak yang terjerumus ke dalam hal-hal negatif, seperti &#8220;ngelem&#8221;. Harga lem kambing yang relatif murah serta di jual bebas di pasaran, membuat anak-anak mencoba untuk memakainya sebagai pengganti narkoba yang harganya lebih mahal.</p>
<p>&#8220;Ngelem yang dilakukan oleh anak-anak ini banyak kita jumpai di hampir kawasan yang menjadi tempat mangkal mereka di wilayah Kota Medan ini. Kalau mau beli narkoba kan harganya mahal, makanya mereka menggunakan lem kambing sebagai penggantinya. Dengan uang hasil pekerjaannya, mereka bisa leluasa membeli lem kambing yang memang banyak di jual di pasaran,&#8221; seru Catur saat di temui Global di Sekretariat SKA-PKPA di Jalan TB Simatupang/Pinang Baris Gang Wakaf II No 3 Medan.</p>
<p>Lebih jauh Catur menambahkan, banyaknya penjual lem kambing yang menjual secara bebas kepada anak-anak agar ditindak secara tegas, karena menurutnya, para penjual lem kambing tersebut sebenarnya sudah mengetahui kalau lem tersebut akan dipakai untuk ngelem oleh anak-anak.</p>
<p>&#8220;Para penjual itu sebenarnya sudah tahu, kalau lem kambing yang di jual itu nantinya akan digunakan untuk ngelem. Tapi, mereka hanya mencari untung saja. Tidak memikirkan hal-hal yang akan terjadi selanjutnya. Maka dari itulah, hendaknya pihak berwajib menetapkan aturan mengenai penjualan lem kembing kepada masyarakat yang akan membelinya. Hal ini sebagai upaya untuk mencegah anak-anak agar tidak ngelem lagi,&#8221; harap Catur.</p>
<p><strong class="bbcode bold">Perhatikan mereka, pak!</strong></p>
<p>Kenikmatan sesaat saat ngelem ternyata memberti dampak yang sangat berbahaya bagi kesehatan. Catur mencontohkan, beberapa anak yang pernah bergabung di sanggar SKA-PKPA juga pernah mengalami hal serupa. Bahkan, akibat dari ngelem, beberapa anak di antaranya ada yang mengalami stres dan gila.</p>
<p>&#8220;Dulu pernah ada anak yang stres dan gila gara-gara ngelem. Saat di tanya nggak nyambung, hampir mirip dengan orang yang sakau lah. Ini membuktikan bahwa lem kambing yang banyak di pakai oleh anak sebagai obat penenang, karena memang setelah menghirup bau lem ini perasaan kita bisa melayang-layang dan tanpa beban, bisa menimbulkan dampak yang sangat berbahaya bagi anak-anak,&#8221; tutur Catur.</p>
<p>Melihat realita inilah, SKA-PKPA mencoba untuk melatih anak-anak, yang sebagian besar anak jalanan dan anak miskin kota agar dapat menyalurkan kreativitas mereka. Sehingga, diharapkan mereka tidak terlalu jauh terjerumus ke dalam lagi.</p>
<p>&#8220;Kita dari Sanggar Kreativitas Anak (SKA) mencoba untuk membantu mereka untuk bisa mengembangkan bakatnya, seperti bermain musik, main bola serta juga membantu tugas-tugas sekolahnya. Hal ini juga sebagai upaya, agar mereka tahu mana yang baik dan buruk saat bekerja,&#8221; ungkap Catur.</p>
<p>Di sanggar ini ada beberapa program kreativitas yang dapat dipilih anak-anak sesuai dengan hobi yang diinginkan. Dari mulai bermain sepakbola, musik, tari hingga pelatihan jurnalistik. Bahkan, khusus untuk program sepakbola dan musik, anak didik SKA-PKPA ini banyak menorehkan prestasi.</p>
<p>Ternyata tidak sia-sia tempat seperti SKA ini menjadi pilihan bagi anak-anak untuk bisa menyalurkan bakatnya disela-sela pekerjaannya mencari uang. Kantor SKA sendiri telah menjadi rumah singgah atau rumah kedua bagi mereka untuk mengisi waktu luangnya. Disini ada sekitar 200 lebih anak jalanan yang merupakan penduduk miskin kota yang sering ngumpul-ngumpul sekaligus belajar.</p>
<p>Kurangnya perhatian pemerintah terhadap nasib anak-anak di akui oleh Catur. Karena itu, ia berharap agar pemerintah mau memerhatikan nasib anak-anak jalanan seperti mereka. &#8220;Kalau bisa pemerintah jangan hanya mencari keuntungan saja, seperti membangun mal-mal, tetapi juga memerhatikan nasib anak-anak, terutama anak-anak yang kurang mampu,&#8221; harap Catur tegas.</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/triy.wordpress.com/74/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/triy.wordpress.com/74/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/triy.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/triy.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/triy.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/triy.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/triy.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/triy.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/triy.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/triy.wordpress.com/74/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/triy.wordpress.com/74/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/triy.wordpress.com/74/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=triy.wordpress.com&blog=1576987&post=74&subd=triy&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://triy.wordpress.com/2008/09/02/mereka-%e2%80%9cngelem%e2%80%9d-karena-lapar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/9e380040e3ad28fe9ee63051d5a819ad?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">triy</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://triy.files.wordpress.com/2008/09/080210_suarahati3.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Catur, Koordinator SKA-PKPA bersama anak-anak</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>