
Segaaarrrrr
Selama tinggal sekitar 9 tahun lebih di Medan. Belum sekalipun saya mendengar nama danau ini. Kesohoran dan keindahan Danau Toba saja yang ada di benak pikiran saya. Hingga kemudian, seorang kawan di kantor menunjukkan foto-foto eksotis berlatar belakang pemandangan yang menakjubkan.
“Nama danau ini adalah Danau Linting,” sebutnya. Penasaran dengan keindahannya, Saya pun tergoda untuk melihatnya secara langsung danau mungil nan eksotis ini. Berbekal peta singkat, bersama dengan kawan-kawan dari Kampus USU, saya pun sepakat untuk mengunjungi danau ini.
Cuaca panas Kota Medan bukan halangan untuk terus memacu sepedamotor dengan kencang. Butuh waktu sekitar dua jam untuk sampai ke Danau Linting. Mengambil titik kumpul dari Kampus USU, kami pun bergerak menuju Titi Kuning, melewati Delitua, Patumbak, Desa Siguci, hingga sampai ke Desa Sibunga-bunga Hilir.
Karena ini baru pertama kalinya kami datang kesini. Beberapa kali kami harus bertanya kepada warga sekitar. Ironisnya, beberapa warga di seputaran Delitua justru kurang mengetahui keberadaan danau ini. Padahal daerah ini menjadi salah satu akses jalan masuk menuju Danau Linting. Rasa penasaran untuk mengetahui keindahan Danau Linting sempat memudar dalam khayalanku.
Berhubung keinginan untuk melihat keindahan danau ini begitu menggoda, perjalanan pun kami lanjutkan kembali.”Mau ke danau ya dik. Jalannya ke kiri, kalau ke kanan terus itu jalan menuju objek wisata Si Biru-biru,” ujar salah seorang pengendara sepedamotor yang melihat kami kebingungan mencari jalan menuju rute danau.

Para gadis-gadis narsis..........
Rasa penasaran itu kini mulai terjawab. Yang terbayang dalam benak saya saat itu adalah cepat sampai dan cepat-cepat berendam dalam danau. Namun, hampir 45 menit perjalanan, tempat yang kami tuju tak kunjung sampai.
Yang tak membuat saya bosan, rute antar desa di kawasan ini cukup menyenangkan. Meski di beberapa titik jalan masih terdapat aspal berlubang, namun hamparan hijau pepohonan yang menghiasi sisi jalan ini memberikan suasana segar dan nyaman.
Belum lagi dengan kondisi jalan yang naik-turun, kemudian berkelok tajam menyuguhkan aksi menantang bagi siapa saja yang melewatinya. Bahkan tak jarang adrenalin langsung terpacu untuk mempercepat laju sepedamotor di saat jalanan sepi. Di beberapa rute jalan ini, saya sempat menikmati sejenak menjadi ’Raja Jalanan’. Memacu sepedamotor dengan kencang, sambil sesekali memencet klakson keras-keras, sebelum tikungan kembali menghadang perjalanan kami.
Setelah berjalan hampir 45 menit, akhirnya sampai juga di Desa Tiga Juhar. Desa yang sekaligus menjadi pasar pekanan. Menurut warga di sekitar daerah ini, hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai di Danau Linting.
Jalanan setelah pasar ini makin tidak stabil, menurun dan menanjak. Hamparan kebun-kebun penduduk silih berganti dengan hutan-hutan sekunder menjadi pemandangan selama perjalanan.
Lapisan Bukit Barisan yang terbentang makin terlihat jelas di depan. Daerah ini merupakan salah satu kawasan yang dilalui oleh gugusan dataran tinggi yang menyatukan Pulau Sumatera. Meski terbentang dengan kokohnya, sesekali bukit tersebut menghilang ditelan jalan yang berkelok. Karena itulah, klakson kendaraan menjadi hal wajib saat melintasi jalanan ini.
Jalan Menuju Simalungun
Karena berpedoman pada waktu, kami tak menyadari jika perjalanan sudah terlampau jauh. Rasa kaget dan sedikit ”ngeri” langsung menyeruak dalam hati, ketika jalan yang kami lalui tiba-tiba berubah menjadi jalan batuan. Parahnya lagi, di bawah sana terlihat jembatan/titi yang bergoyang-goyang diapit pegunungan. Firasat jika perjalanan ke danau salah jalan, ternyata benar.
”Udah kelewatan dik. Sekitar 10 menit lagi, balik dari sini. Kalau yang di bawah itu jembatan Titi Gantung STM Hulu,” ujar Parlindungan, seorang pengemudi kendaraan pengangkut batu.
Parlindungan menjelaskan, jembatan itu memiliki panjang sekitar 150 meter dan melewati lembah. Dalamnya sekitar 200 meter. Sementara itu di bawahnya terdapat sungai yang mengalir deras dengan batu-batu besar di dalamnya. Jika kita menyeberang jembatan ini kita akan menuju ke arah Simalungun. Jembatan ini merupakan jembatan terpanjang di Sumut yang menghubungkan Deliserdang dan Simalungun.
Kami pun kemudian memutuskan untuk kembali. Akhirnya, setelah kurang dari 10 menit perjalanan, sampai juga saya melihat keeksotisan danau ini. Danau ini terletak di puncak bukit di Desa Sibunga-bunga Hilir, Sinembah Tanjung Muda (STM) Hulu, Kabupaten Deliserdang, Sumatera Utara.
Danau Linting sendiri hanya berjarak 49 km dari Medan. Konon, jalan ini termasuk dalam proyeksi pelebaran untuk menghubungkan Seribu Dolok dengan Lubukpakam dalam rangka proyek agropolitan di Sumatera Utara.
Menyimpan Misteri

Danau Mungil yang Masih Menyimpan Misteri
Jalan tanjakan berjarak sekitar 10 meter menjadi penghubung antara jalan besar dengan danau yang kami tuju. Hm… itulah yang kami cari. Sebuah danau mungil yang ukurannya hanya sekitar satu hektar.
Luarbiasa! Setelah sejenak memandang sebentar, saya mencoba untuk mendekat di bibir danau. Nyanyian burung-burung kecil yang hinggap di pohon beringin, menambah syahdu suasana danau ini.
Itu masih belum seberapa. Saat kaki ini masuk ke dalam air, tidak ada rasa dingin, kendati area ini merupakan kawasan pegunungan. Yang ada justru rasa hangat yang menjalar ke seluruh tubuh. Kesegarannya benar-benar menjadi obat rasa lelah setelah melakukan perjalanan cukup jauh.
Satu hal yang bisa saya tangkap saat melihat suasana di danau ini adalah nuansa romantis. Ya… dengan keindahan warna airnya yang berwarna biru pekat (berbeda dengan warna air danau lain), plus pegunungan yang menghiasi sisi sebelah kanan-kirinya, tempat ini menawarkan keromantisan bagi para pengunjung yang datang.
Dari puncak bukit di pinggir danau ini, saya bisa leluasa melepaskan pandangan ke berbagai arah. Saya pun tak puas-puas memandangi permukaan Danau Linting ini. Meskipun ukurannya mungil, namun para penduduk di sini belum ada yang berani mengatakan secara pasti berapa kedalaman danau ini.
“Dulu pernah ada yang mengukur kedalaman danau ini, tapi hasilnya nggak bisa ditentukan berapa dalamnya. Sepertinya dalam sekali danau ini,” ujar seorang penduduk, saat dimintai keterangannya.
Karena itulah, warga sekitar selalu mengingatkan para pengunjung yang datang untuk berhati-hati jika berenang di danau ini. Pasalnya, sudah beberapa kali danau ini menelan korban.
Melihat dari karakteristik Danau Linting, sepertinya danau ini dulunya adalah kawah atau juga sebuah retakan dari peristiwa vulkanik. Hal ini melihat dari beberapa hal yang bisa ditemui di danau ini. Seperti kandungan belerangnya yang cukup tinggi, serta kedalamannya yang masih menjadi misteri hingga saat ini.
Matahari yang sudah mulai terbenam, membuat kami memutuskan untuk kembali ke Medan. Selain perjalanan cukup jauh, kami menghindari perjalanan di tengah kegelapan malam. Sebelum kaki ini melangkah pulang, saya sempatkan sekali lagi untuk memandang sekaligus membasuh muka air Danau Linting berwarna biru pekat yang menyegarkan.
ehmm….. seperti lukisan. Saya asli daerah Tiga Juhar, tinggal di lereng-lereng kaki Danau Linting tapi sekarang lagi melanjutkan kuliah magister saya di Universitas Indonesia. Saya alumni dari Universitas Sumatera Utara. Thanks udah ‘melukiskan’ Danau Linting begitu indah. Udah lama tidak pulang kampung. Green Green Grass of Home. Mudah-mudahan Danau Linting seperti yang anda ‘lukis’kan.
komentar saya, coba ‘lukisan’ anda itu ditampilkan semuanya. not only the good view but also the bad view. So our goverment know about it and pay attention to this great lake.
sekali lagi, terima kasih udah me’lukis’kan Danau Linting sedemikian indah.
salam sahabat
Oleh: Makmur Salpator Perangin-angin on Juni 23, 2009
at 1:39 pm
oke. thank atas komentarnya. Saya sebenarnya juga baru mengetahui keberadaan danau nan eksotis ini. Apalagi yang terakhir kemarin, ketika saya dan kawan-kawan datang lagi kesana. hari hujan. uap panas dengan kepulan asap terlihat menawan saat mata ini terus memandangnya. keelokan alam yang saat ini masih belum juga terlihat pemerintah setempat……
Oleh: triy on Juni 23, 2009
at 3:42 pm